Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Bertengkar


__ADS_3

Mentari yang kembali memperlihatkan sinarnya di awal hari untuk para mahluk memulai aktivitasnya di awal hari, tentunya dengan senyuman cerah dan


susana hati yang baik agar semuanya berjalan lancar.


Ayla kini sudah lebih baik dari sebelumnya, sekarang Ayla sedang membantu Arga memasang dasinnya dengan hati-hati. Setelah selesai Ayla membantu memasangkan jasnya. Sambil tersenyum Ayla menepuk pelan bahu Arga seperti menghilangkan debu halus.


Arga tersenyum ketika dasi yang Ayla pakaikan padannya sangatlah rapi, tidak seperti pelayan lainnya atau dirinya sendiri, Arga mengelus bentuk dasi yang rapih tersebut.


"Sudah selesai, apa lagi yang belum?" tanya Ayla dengan tersenyum.


"Sudah semua biar aku sendiri yang memakai sepatunya," ucap Arga.


Ayla di ajak keluar oleh Arga dari ruang ganti dan mendudukan Ayla di kasur.


Sambil mengenakan sepatu dan kaos kakinya Arga menoleh ke arah Ayla yang diam saja.


"Keluarlah jika bosan, aku akan berangkat sekarang sarapan jangan lupa," ucap Arga Ayla mengambil tangan Arga dan menciumnya.


Arga sedikit kaget karena Ayla sendiri yang yang melakukannya tanpa perintah tangan Arga.


"Aku berangkat," Ucap Arga sambil melangkah bersama Ayla keluar kamar dan menuruni tangga lalu melangkah keluar.


Sampai di depan pintu wajah cerah dan senyum Ayla tak pernah luntur sampai Ayla mendengar suara mobil Arga yang mulai menjauh.


Lisa bersama Ayla langsung masuk ke dalam, melangkah keruang makan untuk sarapan.


Lisa mengantar Ayla agar duduk dengan benar di kursi. Setelah Ayla duduk, Lisa mengambilkan sarapan untuk Ayla.


"Terimakasih Bi," ucap Ayla yang sudah mencium harumnya bau Roti tawar polos.


Lisa mengangguk dan pergi kedapur untuk membuatkan susu coklat yang Ayla minta setiap ingin.


"Wah wah... Nyonya rumah, udah sarapan aja, Kak Ayla. Boleh gak kalo Kak Ayla, bantu ini Lita sebentar, kita kekamar aja dulu," ucap Lita dengan ramah, diselingi senyum remeh.


"Iya bantu apa?" ucap Ayla dengan tersenyum. Seketika Lisa datang dan memberikan susu coklat untuk Ayla. Lita mengambil itu dari tangan Lisa sebelum di taruhnya di atas meja.


"Tapi, Non!" ucap Lisa.


"Udah diem kamu!" ucap Lita dengan berbisik dan melotot tajam ke arah Lisa. Lisa masih memperhatikan Lita.


"Kak Ayla berdiri dulu aja," ucap Lita dengan ramah pada Ayla.


Ayla menuruti perkataan Lita dan berdiri. Begitu berdiri Ayla terkejut karena susu hangat tersiram kewajahnya begitu saja, Lita yang melakukannya langsung menjatuhkan gelas itu di depan Ayla.


"Aa.. Nyonya!" teriak Lisa yang terkejut


"Ups... maaf kak gak sengaja," ucap Lita.

__ADS_1


Lisa yang melihat kejadian itu sudah ingin pingsan rasanya, karena Arga pasti akan membuatnya terpojok lagi.


Bagaimana ini Tuan akan marah besar, batin Lisa.


"Aduh... jatoh lagi gelasnya maaf ya kak," ucap Lita sambil melipat tangannya di atas perut, menatap Ayla remeh dengan senyumannya.


"Iya gak apa-apa," ucap Ayla sambil mengusap wajahnya dengan tangannya .


"Klo gitu Kakak bantuin Lita, supaya kak Arga ninggalin kak Ayla gimana kak?" ucap Lita kasar, menjambak rambut Ayla kebelakang dengan keras, rasanya rambut Ayla akan lepas dari kulit kepalanya.


"Nona!" teriak Lisa ketika Lita menjambak keras rambut Ayla.


Lisa sudah menatap miris kearah Ayla. Ayla yang sejak tadi di perlakukan buruk oleh Lita hanya diam saja.


"Dengerin ya kak, Kak Arga itu cuman milik Aku, kak Claudia aja udah pergi karena kesalahannya sendiri, sekarang Kak Ayla yang harus menyingkir, ngerti!" ucap Lita masih menjambak rambut Ayla dengan sangat kencang.


Lisa yang melihat itu tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa pasrah jika Arga benar-benar murka.


Lita melepas cengkraman tangannya di rambut Ayla, mendorongnya ke belakang, jatuh terduduk di kursi. Ayla menunduk menahan sakit dan pusing di kepalanya. Diam adalah hal yang sering Ayla lakukan ketika dirinya dalam keadaan tidak baik.


"Nyonya anda gak papa. Ayo saya bantu mengganti pakaian," ucap Lisa.


Ayla mengangguk berdiri dengan membawa tongkatnya dan berjalan bersama dengan Lisa. Berjalan naik ke tangga pelan, sampai di kamarnya, Lisa membantu Ayla untuk mengganti pakaiannya.


*****


Arga seketika teringat Ayla.


Tak berapa lama rapat selesai Dafa dan Arga kembali keruangannya.


Arga yang langsung duduk di kursi kebesarannya dan Dafa yang baru masuk membawa laporan tentang donor mata Ayla.


"Masih belum ada yang cocok dengan Nyonya tuan," ucap Dafa.


"Apa di seluruh rumah sakit di semua negara tidak memilikinya?" ucap Arga.


"Saya sudah pergi ke rumah sakit terbaik dan mencari orang yang mau mendonorkan matanya tapi, belum ada yang cocok juga, karena seklipun ada mereka tidak bisa mendonorkannya," jelas Dafa.


"Keluar!" ucap arga membentak dafa, suasana hati Arga sedang tidak baik karena terus memikirkan Ayla.


Dafa keluar dari ruangan Arga dengan cepat.


"Kenapa Ayah meninggalakan dua perempuannya di rumah dan bukan membawa mereka bersamanya," gumam Arga dengan menahan emosinya.


Arga sudah tidak bisa melanjutkan pekerjaannya, memilih keluar dari ruangannya dan kembali pulang kerumah untuk memeriksa ke adaan Ayla.


Arga tidak ingin membuang waktu menelpon Lisa dirumah dan lebih memilih berangkat sendiri, mengeceknya sendiri.

__ADS_1


Dafa yang baru menyerahkan kunci mobil pada Arga setelah mengambil mobil di parkiran, hanya menatap heran.


Mobil melaju cepat meninggalkan perusahaannya.


Lagi-lagi aneh, batin Dafa.


Setelah berganti pakaian Ayla duduk di kursi balkon menunggu Lisa membawakan camilannya untuk bersantai.


Sejak kejadian kemarin dan sekarang, Ayla lebih memilih menjauh dari Lita dan ibunya, agar Arga juga tidak marah lagi pada Lita dan ibunya.


Tapi, duagaan Ayla salah, saat ini Arga sudah sampai dirumah berjalan keluar dari mobil dan melihat Lita dengan ibunya sedang asik bersantai di depan tv.


"Kalian berdua kemasi barang-barang kalian dan peegi dari rumahku," ucap Arga datar tanpa ekspresi, menatap kearah ibu dan Lita yang berpura-pura tidak mendengarnya.


"Kalian bereskan kamar Mereka berdua bantu mereka berkemas," ucap Arga pada dua orang pelayan. Arga tahu jika Ibu dan Lita sedang memancingnya untuk lebih marah.


Segera ibu dan adiknya berdiri memerintahkan pelayan untuk berhenti.


"Arga, Kamu apaan sih, Mama dan Lita sengaja nginep disini cuman mau ketemu kamu, kamu itu anak yang," ucap Ibu iri Arga terpotong dengan gerakan Arga yang melangkah maju dan menatapnya tajam.


"Apa menemuiku? Kalian berdua datang kemari hanya ingin mencari cara bukan untuk bersenang-senang saja," ucap Arga dengan datarnya. Tatapannya bergantian menatap ke arah Lita.


"Dan kau Lita pergi dari sini sebelum aku menyuruhmu memakan semangkok sambal tanpa apapun," ucap Arga menatap Lita dengan nada mengancam.


Lita dan ibunya langsung gelagapan, saling menatap, meneguk ludahnya kasar.


Mah aku gak mau pulang, batin Lita.


Ini semua ulah kamu mama jadi harus gimana ini, rencana kamu jelek tau gak, batin Ibunya.


Mah Lita gak mau jauh dari kak Arga, batin Lita.


Mamah gak mau tinggal di apartemen papa kamu yang sempit, mama senang disini, batin Ibunya.


Mereka berdua bicara lewat tatapan mata. Seketika Deheman Arga membuat Mereka menoleh.


"Pulanglah kalian kembali ke Apartemen kalian, aku masih menghormati permitaan Ayla untuk tidak bersikap kasar pada kalian dan hanya mengancam saja. Jika Tidak aku sudah menyeret kalian paksa sejak kemari," ucap Arga sambil berlalu meninggalkan Lita dan Ibunya. Ibu tiri Arga seketika mengepalkan tangannya menahan marah dan berbalik menatap punggung Arga yang perlahan menjauh menaiki tangga ke atas.


"APA UNTUNG NYA SIH KAMU PUNYA ISTRI BUTA, KAMU ITU BODOH YA...MILIH ISTRI, ATAU PURA-PURA BODOH! Di luar sana masih banyak perempuan cantik dan juga berpendidikan dan punya ke sibukan, untuk apa sih nikah dengan Perempuan Buta dan gak berguna," ucap Ibu tiri Arga yang sudah tidak tahan berpura-pura manis di depan Arga. Jika bukan karena desakan ini Ibu tirinya tidak akan mengeluarkan kata-kata kasar ini.


"Kalian masih sama ternyata," ucap Arga datar. sedikit tarikan senyum miring di wajah Arga.


"Seret mereka berdua keluar! Bilang pada Ayah jangan pernah mengantar mereka kemari, atau jika dia marah dan mengancam menghapus namaku dari daftar keluarga, Silakan Aku tidak keberatan," ucap Arga datar pada pelayan, pada Ibu dan Adik tirinya.


"ARGA KAMU... ARGA!" teriak ibu tiri Arga.


Seketika langkah Arga terhenti dan bersamaan itu terikan ibu tiri Arga berhenti, melihat seseorang yang berdiri di depan Arga dengan wajah sedih dan menangis.

__ADS_1


"Arga," suara lembut Ayla.


__ADS_2