
Menyelimuti Lalita yang sudah tertidur dikamarnya. Mengusap kepalanya.
"Kasihan," ucap Ayla.
Melangkah keluar kamar Lalita bersama Arga.
"Apa yang terjadi dengannya sebenarnya," ucap Ayla menatap Arga.
Sambil melangkah meninggalkan kamar Lalita.
"Aku tidak tahu?" ucap Arga acuh.
"Dan.. mama," ucap Ayla.
"Aku tidak melihatnya sejak tadi," ucap Ayla lagi.
"Wanita itu sudah pergi, entah kemana sekarang," jawab Arga asal.
"Tidak usah di pikirkan sekarang tidur," ucap Arga.
Ketika Ayla akn bertanya lagi.
*****
Siang hari yang cukup berawan tidak terlalu panas.
Rosa pergi bersama ibunya ke Mal.
"Hahah.. tangkep aku... wuee."
"Eh.." Rosa panik.
"Ih.. sini kamu kamu lari terus aku susah tangkepnya kamu nakal."
"Hati hati nanti jatuh." Seketika ketiga anak kecil itu berhenti dan menatap Rosa.
"Hahah.. Kakak ini Buta.. Hahah."
"Orang Buta-Orang Buta." Sorakan anak-anak tadi membuat pengunjung menatap Rosa.
Leni yang melihat Rosa sedang di olok-olok anak-anak kecil dan menjadi pusat perhatin langsung menghentikan itu. Seketika Leni menyenggol salah satu anak kecil itu hingga terjatuh. Ibu dari anak kecil itu langsung bangun dan mengangkat anaknya untuk kembali berdiri.
"Bu.. biasa aja dong... makannya jangan jadi orang buta kalo engga mau di olok-olok."
"Eh.. situ kalo ngomong di jaga ya.. anak saya buta juga bakal sembuh. Anak situ aja yang nakal," ucap Leni tidak terima dan membela Rosa.
"Halah.. Buta nyusahin Engga berguna," ucap ibu-ibu tadi sambil melangkah pergi.
Sekarang mereka sudah kembali kerumah. Rosa tetap murung setelah dari Mall.
"Maah.. Rosa gak mau tahu pokonya Ayla harus kasih matanya ke Rosa."
"Tapi, kan sayang belum tentu cocok.."
Melempar vas bunga hingga hancur berkeping-keping.
"Rosa gak mau buta mah.. kalo mamah gak cepet cari pendonornya, Mama sama Ayah bukan orang tua baik kalo ngebiarin anaknya buta."
Berjalan pergi ke tangga hingga tersandung dan berdiri kembali meninggalkan Leni yang pusing dengan anaknya.
Di Mansion Arga.
"Nyonya!" panggil Lisa dengan sedikit keras karena Ayla sedang menggunakan Mixer.
Mematikan Mixer tersebut.
"Maaf Nyonya, Nona Lita tidak membuka pintunya sejak pagi," ucap Lisa.
Ayla langsung bergegas ke atas di ikuti Lisa dan pelayan lainnya.
__ADS_1
"Lita.. ini aku Ayla.. buka pintunya Lita."
"Lita kamu engga kenapa-kenapakan, Lita!"
"Engga ada suara bi,"
"Ada kunci cadangan gak bi?"
Di dalam kamar Lalita menangis sambil berdiri di balkon.
Menatap kebawah yang sangat tinggi.
Aku engga berguna Mama papa mereka semua palsu.. aku sendirian.. bodohnya aku kenapa aku harus hidup seperti ini... ini semua salah ini semua harus sempurna... mama pergi, aku engga tahu siapa ayah ku sebenarnya.. Menjijikan aku aku benar benar sangat menjijikan, batin Lalita.
"Lalita.."Suara Ayla dan ketukan pintu terus terdengar.
"Gimana bi ada kunci cadangannya?"
"Engga ada Nyonya pintu ini di buat hanya bisa tertutup dari dalam semua pintu di rumah ini seperti itu.
"Jika di dalam tidak membuka maka yang di luar tidak bisa masuk. Kecuali, yang didalam tidak menguncinya."
"Telpon Dafa bi," ucap Ayla.
Aduh jangan-jangan.. ah engga gak mungkin. batin Ayla.
"Kamu periksa dari luar," ucap Ayla menyuruh seorang pelayan untuk melihat sisi luar kamar Lalita dari balkonnya dan jendela.
Tak berapa lama pelayan lain datang dengan berlarian.
"Nyonya.. itu.. Nyonya.. Ehm.. Nona Lita."
"Nona Lita.. nyonya."
"Iya kenapa ngomong yang jelas saya gak ngerti maksudnya." Ayla langsung panik juga. Perasaannya sudah tidak enak sejak pelayan datang dengan berlarian.
"Nona Lalita ingin lompat dari balkon kamarnya."
Tanpa basa-basi Ayla berlari dari tangga hingga keluar lewat pintu samping dekat dapur berlari ke dekat taman.
Melihat ke atas Ayla syok.
"Lalita kamu bisa cerita ke aku ada apa sebenarnya."
"Kalo kamu kayak gini kamu gak bisa nyelesaiin masalah namanya."
"ENGGAK.. AKU UDAH GAK BISA HIDUP HIDUP AKU UDAH GAK BERGUNA AKU ANAK HARAM MAMA SAMA PAPA PUN GAK MIKIRIN AKU."
"Lebih.. baik aku mati..MATI.
AKU JUGA ENGGA PANTES TERIMA MAAF KAK AYLA.. AKU BURUK AKU JELEK GAK BERGUNA AKU BODOH BISA HIDUP KAYAK GINI."
Di waktu bersamaan setelah Ayla menyuruh Lisa menghubungi Dafa. Saat itu juga ponsel Dafa ada di didekat Arga dan Dafa.
Mengangkat panggilan itu seketika.
"Tuan nona Lita tidak membuka kamarnya dan tidak ada suara.." ucap Dafa.
"Apa lagi yang di buat anak itu."
"Kau kembalilah pulang aku akan mengurus pertemuan ini, pastikan semuanya aman baru kau kembali lagi.
Panggilan itu belum di tutup oleh Lisa. Seketika suara Lalita yang berteriak di dengar Dafa dan Arga.
Seketika Dafa keluar ruangan Arga berlari ke lift dengan cepat.
Arga sudah tak bisa berpikir jernih.
"Apa maksudnya dia bertindak bodoh.. Ayla pasti berusaha menahannya, dasar remaja labil," geram Arga.
__ADS_1
"Metting sialan," umpat Arga.
Segera keluar ruangannya dan memajukan waktu Mettingnya agar ia bisa cepat-cepat pulang.
Tak lama Dafa datang,
Lisa yang menunggu kedatangan Dafa di depan segera membawanya masuk.
Sampai didepan pintu kamar Lalita pintu benar-benar terkunci dan sulit dibuka bahkan di dobrak.
Terpaksa Dafa harus merusak kunci pintu digital itu dari luar.
Di luar Ayla sudah menahan Lalita agar tidak naik ke pagar pembatas.
Pelayan lainnya pun sudah ketakutan kerana Lalita yang hampir mendekati pagar pembatas.
"Semua masalah pasti bisa di selesain dan mungkin semua masalah kamu pasti ada hikmahnya jadi jangan lakuin hal kayak gini," ucap Ayla pada Lalita.
"Sekarang turun ya.. keluar dari situ kita bicara baik-baik ya."
Lalita menggeleng sambil menatap kosong.
Seketika terpeleset dan Ayla sepontan berteriak.
"Nona.. pegang tangan saya. Jangan di lepaskan."
Dafa segera masuk setelah berhasil membuka pintu dan merusak kunci pintu. Baru masuk Dafa langsung berlari dan memegang tangan Lalita erat. Tepat waktu sebelum benar-benar jatuh.
Ayla masih sangat Syok. Berlari naik ke atas dan masuk kedalam kamar Lalita. Memeluknya.
Setelah kejadian itu berlalu sejam kemudian.
Arga datang dangan wajah merah padam.
"Dimana Ayla?"
"Di kamar Nona Lita Tuan."
Melangkah cepat masuk kedalam kamar Lita. melihat pintu yang rusak. Beralih menatap kedua perempuan yang sedang bicara.
"Kenapa kau membuat masalah lagi Hah?" geram Arga.
Ayla langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Arga untuk menenangkannya.
"Tenang Arga.. tidak apa-apa sudah semuanya sudah selesai,"
Mengusap wajahnya kasar.
"Besok jangan bunuh diri lagi dengan lompat dari balkon," ucap Arga.
"Minum Racun pestisida malam hari diam-diam besok paginya kamu sudah tidak bernyawa," ucap Arga lagi.
Seketika Ayla menatap tajam Arga.
Menariknya keluar kamar lalita.
"Bibi.. Bi Lisa."
"Iya Nyonya," sahut Lisa
"Bibi naik keatas tunggu Lita di kamarnya ajak ngobrol atau apa yang penting di temankan," Jelas Ayla.
Menyeret Arga masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
"Arga. Kamu itu kakaknya, gak baik kamu ngomong gitu ke adik kamu yang lagi tertekan."
"Aku gak suka ya sama sikap kamu yang tadi sama Lalita engga-ba-gus!"
Arga langsung diam mengalah tidak ingin menyangkal atau bicara apapun jika Ayla sudah mulai menatapnya dan bicara menasehatinya. Arga luluh.
__ADS_1