Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Pindah


__ADS_3

Ayla pergi kerumah Ayahnya untuk menjenguk Rosa tapi, yang membuka pintunya bukalah Bibi Artnya.


"Permisi apa Ayah masih ada di rumah?"


"Eh.. Maaf anda siapa ya.. Ayah?"


Terdengar teriakan dari dalam.


"Siapa sayang."


"Oh.. kamu, Saya Rey.. saya yang membeli rumah ini Dan orang yang dulu tinggal di rumah ini orang tua mu bukan?" ucap Lelaki itu.


"Iya."


"Mereka sudah pindah dan aku tidak tahu. Aku membelinya pada seorang lelaki asing sepertinya bukan dengan pemilik rumah sebelumnya. Barang-barang itu baru kemarin kami bereskan," ucap Lelaki itu menunjuk tumpukan kardus di depan gerbangnya.


Mama ayah dan Kak Rosa pindah.. kenapa aku tidak tahu, batun Ayla.


"Oh maaf yaa.. saya kira ini masih rumah orang tua saya."


"Iya tidak masalah Nyonya," sahut lelaki itu.


"Saya permisi." Ayla pergi dari rumah itu menaiki mobilnya.


Apa ke kantor ayah ya.. tapi, Aku tidak tahu tempatnya, batin Ayla.


"Pak kantor Arga." Sopir mengangguk mengemudikan mobil mengarah pergi ke kantor Arga.


Sampai di depan Ayla langsung tun dan melangkah cepat menuju ruangan suaminya.


Dengan tidak sabar Ayla menekan lift.


"Ahk.. naik tangga saja."


Ayla pergi ke ruangan tangga darurat dan menaikinya sampai lantai di mana ruangan Arga.


Berjalan cepat, lupa dengan kehamilan mudanya.


Beberapa menit kemudian Ayla sampai di lantai ruangan Arga. Membuka pintu dan keluar.


Berjalan melewati kedua meja sekertaris Arga.


"Nyonya kenapa.." ucap mereka berdua pelan.


Saling berpandangan dan bingung.


Mengetuk pintu Arga tidak ada sahutan Ayla membuka pintunya tapi, terkunci.


Ayla pergi ke ruangan Dafa.


"Nyonya," ucap Dafa. Ayla hanya berlalu saja melewati Dafa.


Di ruangan Dafa langsung tersambung dengan ruangan Arga.


Membuka pintu yang jarang di gunakan dengan sedikit kasar.


"Arga.... Astaga.." Ayla terkejut melihat apa yang Arga sedang lakukan. Syena yang hampir bangkit dari duduknya seketika menyeringai menatap Ayla.


"Ayla.." sahut Arga santai.


"Hay nyonya Marvelino.. apa kabar? kita bertemu lagi," ucap Syena. Melangkah mendekat dari sofa menuju Ayla.


Melangkah mendekati Ayla.


Tersenyum


"Nyonya Marvelino... kau menganggu waktu kami," ucap Syena dengan seringainya.


Ayla tersenyum dan mengangguk. Menghampiri Arga.


"Hem.." Ayla menatap Arga yang fokus dengan Dokumen di depannya. Arga yang duduk di ruang kerjanya.


"Boleh bicara denganmu dulu sebentar," ucap Ayla. Menghampiri Arga dan mengelus bahu Arga. Syena tampak kesal.


"Jangan sebenatar lama sekalian saja." Tanpa mengalihkan tatapannya dari Dokumen di depannya.


"Semua sudah aku baca dan akau juga sudah menanda tanganinya." Memberikan pada Syena.


Seketika Ayla tersenyum dan mengangguk.


Syena juga mengangguk dan pergi dengan perasaan kesal yang di tutupinya didalam senyumannya.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak bisa masuk tadi?" ucap Ayla kesal.


"Duduklah." Arga menarik Ayla kedalam pelukannya.


Duduk di pangkuan Arga.


"Kau datang tepat waktu Ayla dia hampir saja merayuku," ucap Arga dengan wajah pura-pura sedihnya.


"Oh ya.. lupakan itu yang penting milikku tidak berkurang," ucap Ayla menatap Arga.


"Katakan dimana Ayah dan mama juga kak Rosa. Kanapa mereka menjual rumahnya?" ucap Ayla.


Arga mengedikkan bahu menatap Ayla.


"Ini pasti ulahmu kan kamu kan yang membuat mereka pindah mengakulah.. Kenapa?" ucap Atla menatap Arga.


"Tidak Ayla bukan aku yang melakukannya." Arga masih kekeh dengan jawabannya.


"Baiklah antarkan ke kantor Ayah hari ini Sekarang," ucap Ayla.


"Untuk apa?" ucap Arga.


"Ini," ucap Ayla sambil mengusap perutnya.


"Tidak penting!" kembali melakukan akti vitasnya bekerja. Masih dengan memangku Ayla.


"Arga! Apa maksudnya tidak bisa. Mereka keluarga ku dan aku juga ingin memberikan mereka kebahagian yang aku rasakan juga. Ini cucu mereka," ucap Ayla.


"Baik. Ayo pergi," ucap Arga.


Ayla seketika senang dan bangkit dari duduk Arga tapi, tidak bisa. Melihat ke bawah ternyata pinggangnya di tahan Arga.


"Apa.. ayo jalan sekarang," ucap Ayla.


"Kamu habis menaiki tangga, bukannya Lift." Seketika Ayla terdiam kaku dan bingung beralasan apa.


"Hem.." Arga menatap Ayla lebih dekat.


"Maaf," ucap Ayla lemah menunduk takut.


"Haah.. apa lelah?" tanya Arga. Ayla menggeleng.


"Apa kaki mu sakit?" tanyanya. Ayla menggeleng.


"Aku gak pake sepatu waktu di lantai lima sampai depan pintu lantai ruanganmu Aku baru pakai lagi.. Maaf Arga.. Maaf aku enggak akan ngulangin lagi," ucap Ayla menunduk ketakutan.


Seketika Arga bangkit dari duduknya membawa Ayla ke ruangan istirahat.


"Tunggu sebentar." Ayla diam tidak bergerak menunggu Arga.


Membawa baskom berisi Air dan waslap. Ayla melihat Berlutut di depannya dan membersihkan kakinya.


"Arga.. jangan!"


"Diam." Seketika Ayla diam tidak bicara lagi takit dengan tatapan Arga. Takut juga karena membuat kesalahan.


Arga bangkit keluar ruang istirahatnya dan mengambil sepatu Ayla tadi.


Masuk kembali lalu memakaikannya.


"Ingin melkukannya lagi, Aku akan menemanimu," ucap Arga.


"Enggak-enggak. Maaf Aku salah," ucap Ayla menunduk.


"Ayo." Ajak Arga menggandeng tangan Ayla membawanya pergi untuk melihat kantor ayahnya.


****


Sampai Ayla di kantor Ayah bersama Arga.


"Ini kantor Ayah," ucap Ayla. Melangkah masuk dan menghapiri resepsionis. Baru saja di suruh menunggu seketika semua diam melihat siapa yang datang.


"Tuan." ucap Seorang karyawan pada Arga.


Ayla menoleh.


Arga..batin Ayla.


"Kenapa di suruh menunggu, di pitrinya." Seketika Ayla menatap semua karyawan.


Dan menarik Arga.

__ADS_1


"Arga kamu bilang apa... merekakan enggak ada yang tahu!"


Seketika dari lift keluar Rico dengan asistennya.


"Ayah.. Ayah.." Ayla berlari menghampiri Rico.


"Ayla...Arga," gumamnya.


"Ayah kenapa ayah pindah kenapa Ayah enggak ngabarin Ayla apa ayah.."


"Ehm.. gini Ayla Ayah hanya ingin pindah dan sekarang hari terakhir kita bertemu dan kamu hiduplah bahagia dengan Arga." Seketika Rico berjalan menjauh meninggalkan Arga dan Ayla.


"Tapi, Ayah Ayla punya kabar gembira.. Ayla.. sudah,"


"Ayla pulanglah ini sudah sangat sore ayah juga ada urusan untuk sekarang," ucap Rico segera pergi.


Sejak tadi Arga menatap Rico dengan tatapan intimidasi.


Rico tahu Arga sudah memperingatinya dan sekarang Rico harus mencari tempat aman untuk pergi menjauh sementara.


Di dalam mobil yang melaju.


Ayla hanya diam tak ingin bicara apa pun.


Arga hanya tersenyum dan kembali fokus pada kendaraannya sesekali menoleh kearah Ayla.


Ayah tidak ingin tahu.. kenapa.. apa aku begitu buruk.. mama.. bibi. Mereka pergi...batin Ayla.


Seketika air mata Ayla jatuh dan lanhsung di hapusnya.


Terus seperti itu hingga tangan Arga mengusap kepala Ayla lembut.


"Apa yang ingin di lakukan sekarang, hem?" ucap Arga.


"Tempat tinggal Bibi Art," ucap Ayla.


Arga mengangguk.


Membelokan stirnya kekiri. Beberapa menit kemudian mereka sampai di kontrakan sederhana.


"Arga kamu tahu?" ucap Ayla menatap tempat di depannya dan menatap Arga lagi.


"Iya," sahut Arga santai.


Melangkah mendekati teras. Arga mengetuk pintu.


"Iya sebentar," suara dari dalam seketika Ayla mata berbinar senang.


Pintu terbuka.


"Silakan ada apa ya.. oh Nona!"


Seketika Ayla memeluk Bibi Artnya.


"Bibi..."


"Heh.. ya ampun.. masuk maaf ya adanya."


Bibi Art Ayla seketika akan pergi ke belakang dan langsung di cegah Ayla.


"Kita enggak bisa lama-lama bi. Ayla cuman mau bilang.


Makasih ke Bibi," ucap Ayla.


"Haah.. untuk apa Nona," ucap Bibi Artnya kembali duduk dan mendengarkan Ayla.


"Bibi Ayla hamil." Seketika Wajah tua itu tersirat kebahagian yang sangat.


"Ya ampun nona.. Syukurlah.. baik-baik ya nona. Jangan terlalu lelah dan semoga di beri kelancaran dalam masa kehamilan hingga melahirkan," ucap Bibi Art begitu senang.


"Amin... makasih bi," sahut Ayla.


"Tapi, sayang Mama ayah dan Kak Rosa enggak bisa denger kabar ini" ucap Ayla .


"Yang sabar ya Non.. Tuan dan Nyonya pasti akan sayang sama Nona suatu saat itu pasti... Berdoa saja Nona." Bibi Art tersenyum.


"Hem.. klo gitu kami pamit ya bi.. jaga kesehatan. Nanti kalo bibi butuh sesuatu bibi bisa bilang ke Ayla." Memberikan nomor teleponnya.


"Eh.. nona ini apa?"


"Sedikit bantuan untuk Bibi, Kalo bibi mau bibi bisa jadi temen Ayla di rumah," ucap Ayla.

__ADS_1


Waktu hampir senja tidak terasa mereka sudah berlalu pergi meninggalkan kontrakan Bibi Art Ayla.


__ADS_2