
Kedatangan Ten yang tiba-tiba pagi ini langsung di hadapkan dengan kedua anaknya bersama istrinya di dekatnya. Di ruang tengah.
"Apa kalian gila kenapa kalian membuatku bermasalah dengan Keluarga Marvelino dan terutama Tuan Arga. Kalian tidak mengerti kita masih berada di bawah kekuasan Tuan Arga."
"Kau Syena. Apa papa tidak pernah memintamu untuk tidak terlalu terobsesi. Bukankah Papa sudah katakan juga Arga tidak bisa kau miliki dan Arga adalah suami dari seorang perempuan lain yang sekarang sedang mengandung."
"Papa cukup pah. Syena hanya ingin Arga Papa.. Syena tidak ingin yang lainnya jika papa ingin salahkan jangan hanya Syena tapi, Kakak juga bersalah dia juga membuat istri dari Arga hampir ke guguran."
Seketika tatapan Ten dan Istrinya menatap Farhan yang tenang dengan tatapan tidak percaya.
"Dia juga yang hampir memperkosa istri Arga."
Seketika tamparan di wajah Farhan membuat semuanya menatap bingung bukan Ten ataupun Syena yang melakukannya tapi, ibu tiri Farhan.
"Apa aku salah lagi tidak memperhatikan putraku."
"Cih putra anda menganggap aku putramu."
"Aku sengaja menjauh dan melakukan ini aku pikir kau memang anak lelaki yang baik dan selalu menjadi baik agar kau bisa berpikir aku sengaja menjauh dan melakukan semua hal kejam dengan tidak mengatakan pada dunia jika kau bukan putraku."
"Haah.. Benarkah aku begitu terkejut sekarang." Cibir Farhan.
"Farhan jaga ucapanmu," ucap Ten pada Putranya.
Seketika istri Ten terduruk dan menangis. Seketika itu juga Farhan menatap ibu tirinya dengan tatapan sulit di artikan.
"Kau tahu aku menikahi ayahmu karena permintaan ibumu aku juga ingin kau menjadi lelaki yang baik dengan aku yang menuruti untuk menjauh darimu karena kau yang memintanya."
"Heh.. Anda terlalu baik untuk menjadi seorang ibu bagiku. Asal anda tahu ibuku tidak bisa di gantikan dengan siapa pun di dunia ini termasuk anda. Tidak akan pernah camkan itu."
Istri Ten berdiri menatap Farhan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baik jika itu mau mu Mama akan mengurus kalian di ruamah dan kau Syena. Mama akan membuatmu menjadi seorang perempuan baik. Lihat saja."
__ADS_1
Farhan membuang wajahnya dengan terkekeh kecil. Syena berdecak malas dan melipat tangannya di atas perutnya.
Ten memijit pangkal hidungnya dan mempersilahkan istrinya melakukan apapun yang di inginkan istrinya, ketika istrinya menatapnya dengan tatapan meminta izin.
Seketika telinga Syena dan Farhan di tarik dengan begitu keras hingga rasanya hampir terlepas dari tempatnya.
Mereka berdua menjerit dan menatap siapa yang menarik telinga mereka.
"Mama," ucap mereka berdua dengan bersamaan.
"Bagus kalian kompak. Kau juga Farhan aku senang kau memanggilku Mama walau tanpa sadar. Aku senang sekali." Membawa kedua anaknya untuk segera menjalani hukuman.
Ten menatap ke tiga orang yang sangat menghibur dirinya dari masalah yang hampir membuat Ten kehilang semua aset dan hampir membuatnya berurusan dengan ayah Arga.
Sekarang Farhan dan Syena membersihkan kolam renang yang begitu luas dan dalam dengan menyikatnya menggunakan sikat biasa atau sikat yang memiliki gagang. Kolam renang yang sudah lama tidak di gunakan dan terletak di bagian belakang paviliun pelayan.
"Ini semua karena rencana jelek mu." Kesal Farhan yang terus membersihkan kolam renang dengan melempar dan menendang semua alat bersih-bersihnya.
"Kau yang bodoh bagaimana bisa kita mengerjakan pekerjaan pelayan seperti ini. Kau lihat tanganku menjadi kasar dan merah. Mama aku harus bekerja di studio besok dan harus foto model besok mah." Kesal Syena dengan menatap ibunya memohon.
"Dan bonus setiap sabtu minggu Mama akan mengajak kalian pergi ke panti asuhan dan oanti jompo. Yayasan yang Mama naungi," ucap ibunya tiba-tiba.
"Panti," ucap mereka berdua seketika saling menatap dan menoleh bersamaan ke arah ibunya.
"Agar kalian bisa belajar menghargai orang dan terutama Farhan menghargai perempuan yang sudah beristri dan hal salah mencintai seorang perempuan yang sudah menikah."
"Akh... sialan... Syena kau adik tidak berguna."
"Apa.. apa kau bilang kau lah... kau Kakak tidak berguna ceroboh bodoh ... jelek."
Seketika tumpahan lumpur di tuang diatas lantai kolam renang yang sudah mereka selesaikan dan membuat Syena hingga Farhan membulatkan matanya.
"Jika kalian masih saling bertengkar Mama akan menumpahkan kotoran binatang atau kotoran lainnya."
__ADS_1
Seketika mereka berdua langsung fokus membersihkan dan tenang tanpa ada suara. Mereka tidak ingin membersihkan kotoran lainnya, lumpur saja itu cukup membuat Syena yang seorang model cantik benar-benar menjadi pelayan karena hukuman mamanya.
Tidak bisa Farhan dan Syena melawan karena mereka tidak memiliki apapun untuk melawan mamanya dan juga pengawal ayahnya yang selalu mengawasi mereka berdua.
Di tempatnya Arga sedang piknik bersama Ayla dan Ayah mertuanya di pantai.
"Kakak... Main air di pantai." Lalita seketika menghampiri Ayla dengan pakain setengah basahnya.
"Tidak kau ini bahaya mengajaknya." Arga segera menahan tangan Ayla dari ajakan tangan Lalita.
"Hais.. Kau ini Arga, Kalo begitu dengan Ayah saja ayo Lalita Ayla."
Seketika Arga murung ayahnya kadang berbeda pendapat dengannya.
"Licik."
"Tidak Licik tapi ini taktik merebut perhatian Menantu. Ayah juga ingin Ayla menyayangi ayahmu seperti orang tuanya."
"Arga ayo." Ayla dengan wajah tersrnyum mengajak Arga untuk ikut. Tidak ada sahutan Arga. Ayla meraba di udara seketika mendapatkan bahu Arga.
"Tidak jangan ajak aku." Seketika Arga sudah berada di bibir pantai dengan tarikan Ayla dan ombak laut yang datang ke pantai sedikit sedikit membasahi kaki Arga dan Ayla.
Memandang Ayla dan perut buncit seketika menenangkan bagi Arga.
"Begitu bahagia mereka, Tidak masalah aku akan menunggu waktu untuk bisa mengubah semua kebahagian ini menjadi milikku. Dan Arga.. Adalah milikku juga anak sialan ini adalah perantaranya."
Thalita yang sebenarnya sedang memandangi Arga dan Ayla dari kejauhan dengan semirk aneh.
Tunggu saja waktu yang tepat aku akan membuat Ayla istri kesayanganmu terlantar, batin Thalita.
Thalita pergi dari pantai. Mobil Thalita yang berjalan menjauh seketika Arga juga menatap plat mobil Thalita yang baru saja lewat.
Arga menyeringai aneh menatap mobil yang berjalan berlalu.
__ADS_1
Menatap arah lain di dekat mobilnya Pengawal yang Arga bawa.
Menggoyangkan ponselnya dan mengangguk. Arga juga menjawab dengan anggukan.