
Setelah memeriksa kandungannya yang ternyata baik-baik saja, membuat Arga lebih tenang. Seketika mereka berpapasan dengan seorang wanita yang sedang hamil besar.
Sangat cantik dengan rambut hitam bergelombangnya.
"Arga kamu sudah menikah dan dia istrimu, hamil?"
ucap wanita itu langsung tanpa malu.
"Salam kenal." Wanita itu tersenyum memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ayla.
Seketika tangan mereka saling bersebrangan.
Wanita itu terkejut dan langsung tersenyum mengambil tangan Ayla.
"Aku akan pergi ke dalam." Wanita itu melangkah masuk ke dalam meninggalkan Arga dan Ayla.
Kenapa dia kembali lagi... aku sudah melupakannya. Thalita, batin Arga.
Melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Arga dengan telaten menuntun dan membawa Ayla untuk berjalan pelan menaiki mobil ketika sudah di parkiran.
"Sepertinya aku merasa aneh dengan suasana tadi," gumam Ayla.
"Apa yang membuatmu tidak nyaman," ucap Arga.
"Ah.. Tidak apa-apa.. aku tidak masalah."
"Arga .. ah tidak apa-apa." Ayla ragu pada perasaanya jika wanita tadi adalah masa lalu Arfa lainnya. Arga yang pernah Ayla tahu sangat tampan dan juga banyak yang menyukai Arga dalam sekali pandangan mata.
Arga hanya menoleh dan mengusap kepala Ayla. Lalu tersenyum.
Melajukan kendaraannya menuju perusahaan.
Dalam perjalanannya kembali setelah periksa kandungan Wanita yang bertemu Arga tadi, Talita.
Keluar dengan langkah santai dengan perut yang sudah sangat besar.
"Hallo." Menelpon seseorang.
Di tempatnya seorang lelaki yang sudah bersiap di dalam mobil yang melaju.
"Baik Nyonya kami sudah siap hanya tinggal menunggunya melewati jalan ini," ucap pria itu.
"Lakukan tugasmu dengan baik." Sambungan telepon tertutup. Kembali melangkah menaiki mobilnya setelah mematikan ponselnya dan membuang kartunya.
Di jalanan yang cukup padat membuat Arga harus ikut macet ketika melewati lampu merah. Semuanya berjalan tenang .
Tiba-tiba Ayla merasa jika Arga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"A-apa yang terjadi Arga."
Arga tidak menjawab ucapan Ayla seketika mobil bertambah cepat hingga Ayla merasakan jika mobil ini berjalan tidak setenang tadi. Mata Arga tidak lepas dan terus menoleh kesepion luar melihat siapa pengemudinya yang sejak tadi mengikutinya. Tidak terlihat siapa pengemudinya.
Ketika mobil di depannya berhenti mendadak dan Arga harus membanting stirnya ke arah lain.
Dengan santai Arga menabrakan mobilnya sebelumnya mengurangi kecepatannya sedikit. Seketika bagian depan mobil Arga remuk dan hancur menabrak pohon besar.
Arga langsung keluar dari mobil dan menggendong Ayla keluar sebelum mobil meledak.
__ADS_1
"Akh.. Arga."
Suara ledakan yang keras dan menhanguskan mobil Arga.
"Tidak apa tenanglah." Dengan tenang Arga berucap. Arga meletakan Ayla di tempat aman dan menelpon seseorang. Tidak lama setelahnya mobil lain datang dan langsung Arga membawa Ayla naik dan juga mengambil alih kemudi membiarkan bawahan Dafa yang mengurus mobil yang rusak dan hancur tersebut.
Sampai di perusahan Arga langsung menggendong Ayla turun dari mobil hingga di ruangannya, baru Arga menurunkan Ayla di ruang istirahat.
"Istirahatlah."
Ayla mengangguk.
Arga keluar dari ruang istirahat dan memanggil Dafa.
"Selidiki siapa yang melakukan ini. Berani sekali." Arga menatap Dafa dengan tatapan tajamnya. Wajah Arga sudah sangat terlihat menyeramkan. Setenang Arga jika sudah sangat marag bisa membuatnya lebih menakutkan dari seringai iblis.
Dafa mengangguk dan pergi keruangannya tidak lama setelahnya Dafa kembali dengan laporan yang Arga minta.
"Tidak mungkin dia yang melakukannya."
"Tapi, Tuan Anda belum tahu jika dia sengaja muncul kembali dengan alasan apa?"
"Sialan .... Kau lakukan lah aku akan mengurus rapat kali ini dan laporan nanti." Arga pergi keluar ruangannya tak lama Larisa masuk kedalam kamar istirahat Arga untuk menemani Ayla. Perintah Arga sebelumnya.
Di tempatnya Dafa baru saja samapi di Mansion Dhanu.
"Selamat siang tuan Dhanu."
"Siang duduklah Dafa. Ada perlu apa?"
"Tidak Dafa. Mungkin seseorang telah melakukannya dengan sangat rapi," ucap Dafa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya dan meletakan kembali Amplop tersebut.
"Tapi ini adalah hasilnya. Lihatlah apa yang nona Claudia lakukan pada Nyonya Ayla." Dafa berdiri di ikuti Dhanu.
"Kalo begitu saya permisi saya harap anda menjaga nona Claudia dengan baik agar tidak akan menyakiti atau merugikan orang lain lagi. Sebelum Tuan Arga membuat nona Claudia di hukum atas kesalahannya."
Dhanu menatap semua foto dan juga vidio yang terlihat.
Dhanu tidak percaya ini. Melangkah pergi kekamarnya. Melempar amplop coklat pada Caludia yang sedang duduk menikmati buah di pangkuannya.
"Apa ini?"
Claudia membukanya dan melihat semua fakta yang tidak pernah dia lakukan. Membulat dan menatap Dhanu dengan menggeleng.
"Tidak aku tidak pernah melakukan ini, Dhanu percayalah.. aku tidak melakukan ini."
"Aku sudah mengatakan padamu untuk melupakannya sekarang kau melakukannya lagi. Kau tahu aku tidak ingin sampai kau melukai anakku karena ulahmu."
"Apa! apa kamu bilang anak. Dia anakku bukan anakmu. kau selalu mengatakan tidak ingin anak ini terluka, terus aku... aku ibunya apa kau tidak memikirkanku."
"Apa kau ingin tahu yang sebenarnya... adalah aku hanya ingin anak itu saja setelah semua selesai aku akan membuangmu. Sekarang aku akan mengampunimu. Dan aku tidak akan mengeluarkanmu dari rumah ini." Keluar meninggalkan Claudia sendiri di dalam kamar.
"Dhanu.. Berhenti.. Aku tidak bersalah Dhanu kau harus dengarkan aku, aku tidak melakukan ini semua. Dhanu.. aku mohon kau tahu bukan jika aku aku selalu dirumah dan tidak pernah keluar sejak kau menjagaku. Dhanu!"
Claudia lelah dan akhirnya jatuh berlutut di depan pintu yang tertutup.
Dhanu yang sejak tadi mendengar semua ucapan Claudia dari depan pintu kamar hanya diam dan kembali pergi setelah tidak mendengar Claudia mengatakan apapun dan hanya mendengar tangisan.
__ADS_1
"Maafkan aku tidak bisa percaya padamu untuk saat ini."
Dhanu pergi ke ruang kerjanya.
Di kantor Arga. Ayla dan Larissa hanya sibuk berbincang dan Larissa terkejut juga ketika tahu Ayla kembali buta.
"Apa nyonya tidak sedih?"
"Tidak. Aku biasa saja."
"Maaf Nyonya jika saya Tuan Arga mungkin saya akan pergi meninggalkan seorang perempuan yang cacat dan tidak bisa melihat lalu pergi mencari perempuan yang sempurna."
Seketika Ayla tersenyum paksa. Larissa langsung memukul mulutnya karena bicara aneh.
"Saya mengatakan jika saya Tuan Arga Nyonya, Tapi, Tuan Arga adalah suami anda tidak ada yang lainnya. Lelaki seperti Tuan Arga adalah lelaki yang paling setia. Itu terbukti dari perhatian dan ucapannya yang selalu terjadi dan terpenuhi kecuali yang mustahil di lakukan manusia kecuali, Tuhan ikut campur."
"Karena dia tetap manusia bisa bukan."
"Iya nyonya... semoga saja anda selalu hidup bahagia dengan Tuan Arga. Lihat aku saja masih belum menikah hingga berumur dua puluh delapan tahun."
"Waah.. kamu kenapa tidak kencan buta Larissa. aku rasa kamu tidak berumur dua puluh lima keatas melainkan kebawah."
"Nyonya Anda menyindir atau memuji saja.. " Larusaa terkekeh.
"Kamu sekarang bisa santai ya bicara dengaku." Ayla langsung terkekeh bersama Larissa.
" Karena kita sering bertemu."
"Nyonya bagaiman nyonya tahu jika saya yang masuk kekamar ini."
"Suara aku menghafal suaramu ketika Aku masih melihat waktu itu."
"Baguslah.. Nyonya saya akan bekerja di ruangan tuan dan jika Anda bosan anda bisa memanggil saya dari dalam."
"Ah.. Maaf ya Larissa kalo begitu." Ayla meraba tasnya dan mengambil ponselnya.
"Maaf Larisaa tolong telepon Arga." Memberikan ponsel itu pada Larissa.
"Maaf Nyonya apa ini tidak apa-apa."
"Aku percaya padamu Larisaa."
"Baiklah nyonya sebentar." Seketika di ruang rapat Arga melihat ponselnya berbunyi. Karena rapat masih berlangsung Arga keluar untuk menerima telepon Ayla.
"Ehm.. Ha-hallo Arga.. maaf aku mengganggu. Aku meminta Larissa untuk menemaniku didalam ruang istirahat sambil mengerjakan tugasnya bisa?"
"Lakukan sesukamu Ayla. Kantor itu adalah milikmu. Aku tutup dulu." Di tempatnya Arga menjawab dengan nada halus dan lembut.
Ayla masih tetap meminta izin darinya hanya untuk meminta jika Larissa bisa bekerja sambil menemaninya di ruangan istirahat.
"Ah.. baiklah Terimakasih Arga." Telepon langsung terputus.
Arga kembali masuk dan meneruskan rapatnya.
"Silakan Larissa bawa saja pekerjaanmu kemari dan temani aku. Kau juga bisa memutar musik jika kau ingin."
"Ehm baiklah terimakasih Nyonya."
__ADS_1