
"Bicara atau diam bukankah sama saja."
"Tidak juga jika ingin aku bisa bicara jika tidak maka sama sekali tidak," sahut Arga.
"Mereka semua masih memiliki tempat di hatimu?"
"Iya. Termasuk dirimu." Arga tertegun lalu menatap kearah lain ketika Ayla sengaja menjawabnya.
Jawaban pertama adalah dari hati, batin Arga.
Aduh... mulut emang jeplak aja buat malunya sampe pengen ngilang.. kenapa ngomong gitu sih..batin Ayla.
"Ayla kamu ingatkan jika aku pernah bilang jika kebohongan adalah hal yang paling aku benci."
Ayla mengangguk.
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan?" ucap Arga lagi, menoleh ke arah Ayla sebentar lalu bersandar pada Ayunan.
"Tidak.. tidak ada yang ingin aku katatakan Aku sudah cukup bicara itu bukan hem.."
Arga tersenyum dan menggeleng.
"Tidak aku tidak akan percaya begitu saja."
Ayla tersenyum.
"Istri yang buta untuk tuan Arga itulah Hal yang beberapa hari lalu aku pikirkan, tentang itu aku bertanya-tanya. Kenapa Mama memberikan aku padamu, Ayah yang menyerahkan tanggung jawab pada penghulu untuk menikahkan aku denganmu bukan ayah sendiri."
"Kamu salah, Ayahmu sendiri yang menikahkan kamu denganku."
"Benarkah.. baiklah.. anggap saja saat itu kamu akan menikah kan kakakku bukan aku."
"Kau tahu.. aku ingin membenci mereka tapi, hatiku berkata tidak sedang saat pertama aku bertemu denganmu aku juga belum menemukan jawaban itu kenapa perempuan seperti aku di berikan padamu."
"Berarti kamu tidak bersyukur."
"Tidak nyaman denganku."
Ayla menggeleng lalu tersenyum.
"Tidak, Bukan itu aku...hanya merasa menjadi beban untuk mu dan kamu selalu bisa bersikap baik padaku hingga kamu tidak pernah sekalipun membuat aku menangis. Hem.. kamu cinta pertama untukku juga seseorang yang membelaku pertama kali, seseorang yang paling dekat denganku ketika situasinya berbeda dan sama."
"Yang terpenting kamu selalu percaya denganku." Arga menggenggam tangan Ayla.
"Arga..."
"Iya."
"Terimakasih untuk semuanya sampai sekarang."
"Belum.. jangan sekarang."
"Ayo masuk." Ajakan Arga.
Arga bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dengan menggandenga Ayla yang juga mengikutinya dari samping.
__ADS_1
Masuk ke dalam Arga melihat Ayahnya dari dapur dengan menatapnya.
Mengalihkan pandangannya dan terus berjalan acuh meninggalkan ayahnya menaiki tangga bersama Ayla.
Di kamarnya, Lita yang sejak tadi memperhatikan Ayla dan Arga dari balkonnya hanya bisa tersenyum miring.
Setelah Arga pergi dengan Ayla dari ayunan tersebut, Lita tertawa hambar.
****
Pagi yang begitu cerah setelah hujan datang di waktu subuh sekarang kabut datang bersamaan dengan sinar matahari yang begitu hangat.
"Ayla kamu yang terus mengurusku apa kamu tidak keberatan?"
"Apa itu.. kamu bicara apa.. kamu seperti bukan suamiku.. aku tidak mengenalmu," ucap Ayla sambil menepuk pelan jas Arga lalau terkekeh.
Seketika tangan Arga menarik dagu Ayla menatap matanya. Ayla juga seketika terkejut dengan gerakan Arga. Ayla, seketika itu juga tidak bisa mengontrol sandiwaranya. Tatapan matanya dan Arga seketika bertemu gerakan tatapan Ayla seketika membuat Arga yakin.
*Sudah sembuh ternyata... batin Arga.
Ternyata Dokter itu juga tidak tahu alasannya dan Lisa.. menerima permintaan Ayla, Batin Arga.
Baiklah sekarang aku akan membuatmu terhibur sedikit Ayla. Hukuman untuk kebohonganmu akan berjalan sekarang. Batin Arga*.
"Bukankah semalam aku sudah katakan kalo aku benci di bohongi! Sekarang."
"AYLA.." nada tinggi Arga seketika membuat Ayla menutup rapat matanya.
Menghempaskan wajah Ayla dengan kasar.
Inikah wajah Arga ketika sedang marah, batin Ayla.
"Hah.. Lucu sekali kamu balik bertanya pada ku." Arga terkekeh miris lalu melonggarkan dasinya. Berjalan keluar.
"Aku tahu kamu menyembunyikan ke butaanmu dengan Dokter dan juga Lisa." Ucapan Arga seketika membuat tatapan mata Ayla menatap punggung Arga yang mulai menjauh.
"Da-dari mana kamu tahu?" Ayla mengikuti Arga yang melangkah keluar dari ruang ganti.
"Arga maafkan aku."
Seketika langkah Arga terhenti didepan pintu.
Berbalik menatapa Ayla.
"Aku sengaja menyembunyikannya karena aku ingin, dan belum waktunya kamu mengetahuinya," ucap Ayla menunduk.
"Belum waktuknya apa yang belum waktunya.. kamu sulit untuk mengatakan kejujuran ini padaku."
"Ya .. aku paham kamu masih belum percaya padaku Aku tahu.
Aku sengaja melakukan apapun agar kamu bahagia dan senang sekarang kamu membuatku mengerti."
"ARGA.. AKU MOHON DENGERIN PENJELASAN AKU DULU.. alasan aku belum kasih tahu semuanya ke kamu itu karena belum waktunya."
Ayla berjalan cepat mengejar Arga. Seketika kejadian Ayla terjatuh di tangga terlintas dalam pikiran Arga.
__ADS_1
Arga langsung memelankan langkahnya ketika menuruni tangga.
"Mah liat geh ada yang lagi panas-panasan pagi." Lalita dan ibunya melihat Arga dan Ayla yang saling bertengkar dan tidak baik-baik saja.
"Iya kamu bener... uh sarapan pagi kita seger banget yaa rasanya ini kesempatan bagus buat Mama bertindak."
Ibu tiri Arga pergi dari meja makan dan Lalita juga pergi berlainan arah.
"Arga.. aku mohon dengerin penjelasanku dulu.. aku ngelakuin ini semua karena alasan. Dan kamu belum waktunya tahu."
"Arga aku mohon dengerin aku..."
Ayla terus mengejar Arga hingga Arga melewatkan sarapan paginya dan langsung menaiki mobilnya menjauhi mansion. Ayla yang tidak bisa menggapai Arga seketika menangis dengan terduduk tak lama sentuhan tangan di bahunya terasa.
"Haai kak.. Selamet ya.. semoga Kak Arga awet marahnya."
Ayla berdiri dengan menatap Lalita.
Seketika Lalita menatap Ayla merasakan sesuatu yang berbeda, penglihatan Ayla.
"Wuaah.. udah bisa liat.. pura-pura doang selama ini.. Ck... menyedihkan," ucap Lalita mendorong bahu Ayla pelan dan pergi.
Di perjalannya Arga memijat pangkal hidungnya.
"Berada di sekitarnya.. setiap saat," ucap Arga pada Dafa.
Oh.. Tuan anda melakukannya pada Nyonya..batin Dafa.
"Aku tidak bisa menerima kebohongannya dan aku juga butuh pernyataan cinta darinya," gumam Arga.
Anda menunggu jawaban anda dari nyonya dengan sesuatu yang aneh.. apa kah benar-benar belum di jawab oleh nyonya, batin Dafa.
"Tentang orang yang ingin mendonorkan mata Ayla sudah kamu atasi."
"Iya Tuan sudah.. aku juga sudah memberikan mereka nominalnya dan juga meminta maaf."
Tatapan mata Arga dari sepion menuntut jawaban dari ucapan Dafa.
"Orang yang sebenarnya ingin mendonorkan matanya untuk nyonya memiliki masalah ekonomi dan karena Nyonya sudah sembuh jadi saya memberikan uang itu dan menambahkannya untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga mereka, anggap sedekah. Mereka juga memberikan doa terbaiknya pada Nyonya agar selalu bahagia dengan Tuan."
Arga mengangguk dengan penjelasan Dafa.
"Apa kau mengerti bahasa perempuan yang mengatakan belum waktunya lalu ada alasannya dan menjelaskannya."
Dafa menggeleng.
"Percuma sekali aku bertanya padamu." Kesal Arga kembali menatap ponselnya.
*Lah.. kenapa marah.. kan tuan sudah pernah berpacaran dengan nona Cla.. dan sekarang menjadi suami dari Nyonya Ayla. Anda itu tidak akan pernah belajar dari bahasa perempuan selama ini.. Tuan anda itu tampan dan pintar juga pengusaha terkaya.. tapi, masalah perempuan anda bertanya pada seorang jomblo seperti saya.. batin Dafa.
Huuh.. untung Teman dari dulu kalo bukan.. sudah aku umpati, batin Dafa*.
"Pergilah kerumah sakit dan minta penjelasan detail pada dokter itu," ucap Arga.
Padahal anda sudah menyelidiki sendiri tapi, masih menyuruhku. batin Dafa.
__ADS_1
"Lalu.. apa gunanya kamu jika hanya bekerja di kantor." Seketika Dafa terkejut karena Arga menjawab ucapan batinnya secara langsung.