Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Pergi bersama Thalita


__ADS_3

Kembali dari pantai Ayla dan Arga baru saja selesai membersihkan tubuhnya di kamar mandi dan sekarang Ayla pergi kedapur untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Arga pergi keluar sengaja untuk mengurus urusannya.


Awalnya Ayla melarang karena perasaannya tidak enak sekarang dengan terpaksa Arga keluar dengan izin paksa dari Ayla.


"Thalita berhentilah untuk mengikuti dan menggangguku." Arga yang sudah sangat kesal berucap sedikit santai. Tempat mereka cukup jauh dari pelanggan cafe lainnya.


"Mudah bagimu bicara berhenti. Kau dulu sering mencapakanku. padahal aku selalu ingin dekat denganmu." Thalita berucap santai sambil meminum jusnya dengan sedotan dan mengaduknya lalu menyendok kueh ke dalam mulutnya.


Cafe saat ini, Arga dan Thalita bertemu.


"Aku sering menyimpan segalah tentangmu memberikan semua yang aku miliki hingga aku memiliki..." Thalita menatap Arga dengan menghentikan ucapannya.


"Ingat kau memiliki bayi karena masalahmu bukan aku. Aku sama sekali tidak pernah menyentuhmu." Arga menatap Thalita dengan wajah datar tanpa ekspresi. Minuman yang panas sama sekali tidak di sentu Arga hingga dingin.


"Kau bohong, kau bohong Arga," ucap Thalita dengan melerakan sendok kasar.


"Dasar wanita gila! kau tahu rekaman cctv waktu itu membuktika jika kau yang berusaha menjebakku, ingat!" ucap Arga santai dan mengetuk kepalanya dengan satu jari telunjuk dan menatap Thalita.


Thalita menatap tidak percaya dan tersenyum remeh. Meminum jusnya dan menatap Arga dengan santai.


"Aku tahu jika istrimu buta dan aku tidak bisa diam saja melewatkan kesempatan ini bukan."


Lihat aku akan membuat istri kesayangamu menjadi tidak berdaya bersama bayinya. batin Thalita.


"Berhenti sampai disini Thalita aku tidak bisa membuatmu celaka. Jangan memaksaku untuk bertindak kasar padamu," ucap Arga tanpa ekspresi.


"Hahah.. kau terlalu baik dan polos Arga Aku akan mencoba membuatmu menderita dengan membawa istrimu jauh dari mu."


Seketika Arga menghembuskan nafasnya. Mendekati Thalita dan berbisik di samping wajah Thalita.


"Dengar baik-baik, kau tidak tahu bagaimana diriku ketika kau melakukan kesalah pada istriku, jangan pernah berpura-pura tidak tahu tentang peringatanku ini."


Menarik kembali dirinya dan duduk seperti semula di tempatnya.


Thalita tersenyum. Thalita tidak mengerti dengan ancaman Arga sebenarnya.


Tidak mungkin Arga akan melukai wanita setauku Arga selalu pilih kasih dalam menyiksa lawan, ini membuatku bisa leluasa berbuat bukan, batin Thalita.


Memilih cara lain di kepalanya untuk bisa menyingkirkan Ayla dari hidup Arga.


"Silakan aku tidak takut.. Justru aku sangat takut jika sampai kau yang tersakiti karena rencanamu sendiri." Dengan percaya dirinya Thalita menantang Arga.


Thalita bangkit dari duduknya pergi meninggalkan Arga disana.


Dalam perjalanannya Arga pergi ke tempat dimana Dafa memintanya segera datang. Sebuah rumah mewah yang terlihat sepi. Ketika mobil Arga masuk kedalam halaman seketika itu juga dua orang lelaki berjas hitam tib-tiba datang membuat aneh jika orang ada orang yang melihatnya. Karena setahu mereka rumah itu selalu sepi.


Kedua orang itu mengangguk dan mempersilahkan Arga masuk.


Di tempat lainnya Thalita ternyata datang ke Mansion Arga.

__ADS_1


"Tolong-Tolong... Aku.. hiks.." Ayla yang mendengar suara tidak asing segera pergi dan memeriksanya bersama Lalita.


"Kak Thalita," gumam Lalita seketika matanya menatap Ayla lalu Thalita.


"Tolong hiks.. kamu istri Arga bukan.. Ayla.. iya kamu Ayla."


"Eh i-iya kenapa?" ucap Ayla yang terkejut ketika tangannya di tarit sedikit kecang dan di genggam.


Rasanya aku mengenal suara wanita ini. Tapi, dimana... ah.. rumah sakit Dia.. siapa, batin Ayla.


"Ayla.. Tolong aku aku mengandung anak dari Arga sebenarnya, aku yang pernah bertemu denganmu di rumah sakit waktu itu dan aku di ancam Arga untuk tidak mengatakannya padamu. Ayla kumohon percaya.. apa kau tidak kasihan dengan bayi ini ketika lahir tidak memiliki Ayah... Ku mohon Ayla..."


"Kak Thalita berhentilah berpura-pura. Atau kakak akan mengalami hal buruk nantinya." Lalita berucap tajam menatap dengan menunjuk Thalita.


Wajah Thalita terlihat begitu sedih dan tangis itu terlihat nyata dengan air mata dan ingus yang sangat memperlihatkan jika Thalita begitu sedih.


Thalita dia Thalita.. wanita yang memeriksakan kandungannya bersamaan denganku waktu itu.. tidak mungkin aku percaya Arga tidak mungkin berbohong, batin Ayla ....


Lihat saja apa yang bisa kau lakukan ha.. aku akan membuatmu pergi dari rumah ini dengan hal yang cukup mengesankan buatku... Ayla yang polos, batin Thalita.


"Kak Thalita lebih baik kakak..."


"Thalita.. namamu Thalita bukan...mari duduk dulu." Seketika Ayla menyela ucapan Lalita yang belum selesai.


"Lita minta Bibi bawakan air putih." Lalita mengangguk dan pergi. Ayla dan Thalita duduk di sofa dengan nyaman.


"Bagimana dengan kandunganmu sehat.. Berapa usianya."


Ayla sedikit luluh.


"Usia kandunganku hampir melahirkan nanti di dua minggu yang akan datang."


"Baguslah semoga semuanya berjalan lancar." Ayla menatap Thalita dengan senyuman.


Seketika tangan Ayla di bawa Thalita untuk menyentuh perutnya.


"Apa ini, dia bergerak," ucap Ayla dengan begitu senang.


Kenapa aku jadi tidak tega aku merasa kasihan... Arga apa benar kamu melakukan semua ini... yang Larissa ucapkan waktu itu membuatku.. tidak.. semoga aku salah dan Arga benar-benar jujur padaku, batin Ayla.


Di temapatnya saat ini Arga keluar dari rumah mewah itu dengan tergesah gesah.


"Kenapa kalian membiarkan Thalita masuk Haah..." Arga memarahi semua anak buahnya termasuk Dafa yang ikut mengantarkannya keluar.


"Sial.. "


Menaiki mobilnya dan melaju cepat meninggalkan rumah mewah tersebut.


Di mansion Arga saat ini, Ayla dan Thalita masih berbincang. Seketika Thalita merasa jenuh.

__ADS_1


"Ayla mari ikut aku aku ingin kamu mencoba salah satu jajanan di pinggir jalan sore ini."


"Tapi aku tidak bisa pergi tanpa Bibi dan Lalita."


"Maaf kak Thalita. Kak Ayla tidak bisa pergi sembarang."


Thalita tersenyum ramah dan memegang tangan Ayla.


"Aku mohon Ayla ini ke inginanku dan bayi ini Aku hanya sekali mengajakmu."


Ayolah aku ingin kau ikut denganku dan aku akan membawamu jauh dari Arga. Batin Thalita.


"Ehm.. Baiklah. Aku akan membawa ponsel nanti? jangan khawatir." Lalita paham dengan apa yang Ayla ucapkan.


"Dengan sopir kami!" ucap Lalita.


"Aku saja sendiri bersama Ayla aku akan membawanya kembali setelah selesai."


Lalita sebenarnya menatap tidak percaya. Kenapa Thalita ingin berdua dengan Ayla.


Lalita mengangguk mengiyakan tapi, hatinya sebenarnya tidak.


"Baiklah ayo kita pergi sekarang jika sudah hampir dingin aku tidak bisa keluar lagi. Cuaca di luar sangat berangin dan dingin." Ayla berdiri dan mengajak Thalita untuk pergi sekarang dengan tongkatnya dan Thalita bersamanya saling menuntun Ayla tersenyum karena Thalita membantu menggenggam tangannya tak lama Lisa datang membawa pakain yang biasa Ayla kenakan untuk keluar.


"Hati-hati Ayla," ucap Thalita ketika Ayla memasuki mobilnya.


Thalita memutari mobilnya dengan santai dan memasuki mobilnya. Melajukan mobilnya meninggalkan halaman mansion Arga.


Di jalanan Arga terhambat karena macet. Mengulur waktu yang cukup lama.


Seketika ponsel Arga berdering dengan nama Thalita.


"Halo."


"Kak. Kakak dimana Kak Thalita mengajak Kak Ayla keluar." Lalita menjauhkan ponselnya dari telinganya bersiap jika Arga mengamuk.


"Tidak bisa kah kau mencegahnya apa ya kau lakukan Ayla tidak boleh pergi. Kenapa di tidak izin padaku." Arga sudah emosi


"Maaf kak. Kak Ayla sendiri mengatakan iya dan malah mengajak Kak Thalita untuk pergi sekarang."


"Awas kau .. uang jajan mu aku potong."


"Haah.. Kak.. jangan dong akan aku lagi usaha.. masa di tutup.. kakak.. tuuut.. tut..."


Haah.. miskin-miskin uang jajan di potong mulu dah kayak asuransi karyawan... batin Lalita sedih.


Arga memukul stir mobilnya.


Mobil yang melaju sudah sangat jauh dari mansion Arga.

__ADS_1


Thalita memulai rencana dengan membuang ponsel Ayla ketika Ayla lengah.


__ADS_2