
Ayla terbangun di pagi hari dengan tubuh yang remuk. Ayla berusaha bergerak seketika merasakan nyeri yang sama ketika bergerak duduk.
“Selamat pagi sayang.” Ayla menatap ke samping kenapa tidak ada siapapun. Arga berdiri melipat tangan menutupi Ayla dari cahaya lampu.
Di luar memang masih sedikit gelap.
“Arga.. kamu ..Akh..” Arga langsung menyibak selimut Ayla dan seketika Arga tersenyum jahil.
“ARGA.. KENAPA DI BUANG SELIMUTNYA.” Menatap Arga tajam yang di tatap terkekeh geli.
“Santai Ayla... aku udah tahu ini.”
Arga bergerak memeriksa bagian wanita Ayla, Arga menatap hal itu heran sedetik kemudian Arga tersenyum lalu menatap wajah Ayla yang malu.
“Kamu perawan lagi Ayla?” Ucap jahil Arga. Sebenarnya Arga tahu.
Ayla memilih diam karena dia juga bingung kenapa sakitnya seperti pertama kali.
Turun dari ranjang dengan jubah tidurnya.
Arga menelpon seseorang tak berapa lama ketukan pintu terdengar.
Tak berapa lama Arga kembali lagi keranjang membawa salep yang di mintanya dari Dafa untuk mengantarkannya.
"Aku akan pergi ke London tiga hari. Nanti akan ada sopir yang menjemputmu."
"Tenang saja kamu tidak sendiri aku akan menunggumu sampai kamu bisa berjalan lagi." Arga tahu Ayla tidak berani sendirian menunggu sopir menjemputnya di hotel. Terlihat dari raut wajahnya yang sedih.
"Iya... Makasih." Ayla berusaha turun tapi, dengan cepat Arga menggendongnya membawanya kekamar mandi.
Beberapa menit kemudian mereka selesai mandi.
Arga sudah rapi dengan kemeja kerjanya dan dasi. Jas dan lainnya masih belum di pakaianya.
"Makanan apaan ini Arga. Kok roti bau ikan gini."
Arga terkekeh.
"Ini Roti salmon. Mau coba?"
"Hehe.. Engga.. aku minum susu aja sama biskuit ini."
"Kayak kunti ya.. makan biskuit ada kembangnya, enak."
Arga terkekeh lagi.
"Maaf Arga aku gak pernah ketemu makanan kayak gini." Ayla yang malu langsung meminta maaf. Takut Arga akan marah lagi padanya.
"Tidak masalah Ayla.. Lakukan saja apa yang kamu mau aku tidak masalah." Ayla mengangguk malu dan usapan tangan Arga di kepalanya.
__ADS_1
****
Kembali pulang ke mansionnya setelah Ayla lebih baik. Arga juga langsung berangkat dari hotel menuju bandara.
Baru saja mobil berhenti dan Ayla turun dari mobil.
“Ayla,” ucap ibu tiri Arga yang melihat Ayla yang terlihat begitu bahagia.
“Kamu kenapa bisa sesenang ini, Kamu yang membuat Claudia merasa terancamkan kamu yang membuat Claudia pergi kan. Ayla.. Ayla.. kamu gak bisa dibandingin dengan Claudia yang lebih baik.. Kamu itu..ya.. udah gak sekolah gak ada gelar atau latar pendidikan dan keluarga yang baik... dan asal kamu tahu ya Ayla... Arga adalah pewaris keluarga Marvelino dia itu sangat sempurna buat kamu yang tidak terlihat baik sama sekali .”
Marvelino...keluarga, batin Ayla.
Ayla mundur selangkah mengurungkan niatnya menaiki tangga menuju teras.
“Kenapa kamu kaget.. kalo Arga seorang yang paling berpengaruh seasia. Kamu itu perempuan sampah.. gak berguna gak ada yang bisa di banggakan. Males saya kalo ngeliat kamu bahagia gitu. Sekarang lebih baik kamu pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali.” Ibu tiri Arga menunjuk wajah Ayla.
“Tapi, mah," ucap Ayla setelah kembali kesadarannya dari berpikir nama belakang Arga.
“Apa kamu manggil saya mama! Saya gak sudi kamu panggil gitu. Saya memang ngebiarin kamu masnggil saya gitu karena masih di depan Arga sekarang Arga lagi pergi.
Orang tua kamu aja buang kamu kesini karena mereka males ngurus kamu. Sekarang masuk beresin barang kamu.. Akh.. lama.” Ibu tiri Arga sudah tidak sabar dengan jalan Ayla yang pelan.
Ibu tiri Arga melangkah masuk ke dalam kamar Arga dan melempar semua barang-barang Ayla. Ayla yang baru masuk pun menatap itu dengan perasaan sangat sedih Air matanya pun kembali lolos.
Lisa datang dan ingin membantu Ayla memunguti semua pakaian Ayla.
“Lisa berhenti atau saya akan memecat kamu.”
“Maaf Nyonya tapi anda tidak bisa memecat saya.”
Ayla menggeleng mencekal tangan Lisa dan menggeleng sambil menangis Ayla membereskan barang-barangnya yang di lempar terus oleh ibu tiri Arga.
Lisa hanya bisa berdiri dan melihat hal itu. Ayla sudah menolak bantuan Lisa.
“Lebih baik kau keluar dari rumah ini sebelum menderita.” Suara berat itu berasal dari Ayah Arga.
“Papa.” Ayla menoleh melihat Lelaki paruh baya itu keluar dari ruang kerja Arga dan duduk di sofa.
Ayah Arga langsung membuang wajahnya berpura-pura tak mendengar panggilan Ayla.
“Mama...nungguin Arga pulang dulu ya tiga hari ke depan," ucap Ayla dengan memberanikan dirinya padahal Ayla sudah sangat lemah karena perkataan kasar ibu Arga di teras tadi.
“APA!..apa kamu bilang. Siapa kamu bisa minta waktu tinggal disini. Inget ya.. setelah kamu pergi saya akan memberikan perempuan yang lebih baik dan punya masa depan cerah gak kayak kamu gak punya pendidikan, Pura-pura buta.” Ibu Arga turun melangkah menginjak tangan Ayla dengan sengaja.
Ayla menatap Ayah Arga yang berpura-pura membaca koran. Lisa yang menunduk dan pelayan lainnya juga.
Lalita yang melihat itu dari dapur merasakan senang dan akan meminum minumannya seketika gelasnya mengantung, Lalita merasakan sesuatu yang aneh di hatinya, seperti rasa kasihan.
Kok gue kasian ...ah perasaan gue aja. Beruntung kakak lagi keluar urusan bisnis tiga hari di london, batin Lalita sambil meminum minumannya.
__ADS_1
Maaf nyonya saya tidak bisa berbuat apa pun , batin Lisa.
“Terimakasih Bibi karena bibi tidak melakukan apapun. bibi pasti masih bisa bekerja disini jika tidak membantuku..” Ayla memeluk Lisa dan menangis.
Ayla keluar dari Mansion Arga.
Seketika sebuah mobil mewah menurunkan seorang perempuan cantik dan dua orang lainnya seperti orang tuannya.
Ayla menatap hal itu dengan matanya.
Ayla menangis berjalan menunduk dan terus berjalan keluar menyeret kopernya.
Seketika Ayla merasakan lapar karena baru memakan biskuit saja dan juga Ayla tidak membawa uang dan hal lainnya. Ayla hanya membawa pakaian saja. Berjalan kaki di bawah cuaca cerah yang hampir menunjukan pukul sebelas siang. Ayla sudah berjalan cukup jauh dari Mansion.
Semua yang Mama Arga bilang itu semua benar. Aku bukan perempuan baik.. masa depanku juga suram. Tidak pintar.. tidak sekolah.. heh.. dinilai pura-pura buta.. Ayla..Ayla.., Batin Ayla.
Terlihat didepan ada sebuah taman. Ayla menghampiri taman itu dan duduk di kursi yang ada di taman dekat Ayla. Hingga tak terasa cuaca panas berganti berawan gelap.
Tenggorokan terasa sangat kering sejak tadi juga Ayla berkeringat terus.
Angin kencang datang membawa daun-daun kering bertebrangan.
"Mau hujan," gumam Ayla menatap langit gelap diatas.
Tak begitu lama hujan angin datang dan Ayla segera berlari menuju Halte terdekat disekitar taman dan duduk disana hingga hujan reda.
*****
Di luar negeri Arga yang baru saja sampai.
"Maaf Tuan.. Ehm.. Hem.. Lisa.. Lisa melaporkan jika Nyonya Di usir dari Mansion oleh Ibu Anda dan Ayah anda juga ikut campur dengan keputusan ibu anda."
Mendengar Dafa melaporkan tentang perbuatan ibu dan ayahnya langsung diam dan menghembuskan nafasnya kasar.
“Tunda semuanya atau kau! yang urus hal ini aku akan kembali sendiri.”
Dafa memilih mengikuti Arga kembali. Dan meminta asistennya Dafa untuk meminta penundaan jadwal karena ada urusan mendadak yang harus segera Arga urus.
Asistennya Dafa yang menerima laporan tersebut langsung menyampaikan informasi tersebut pada para tamu yang baru saja datang memasuki ruangan rapat.
Ketika para tamu baru saja duduk dan beberapa detik kemudian Asistennya Dafa menjelaskan pesan dari atasannya.
“Selamat pagi Tuan-tuan.. maaf sebelumnya. Karena ada hal yang benar-benar darurat.. Tuan Marvelino menunda pertemuan kali ini. Maaf sekali lagi atas penundaan pertemuan ini.”
“Hem.. Baiklah tidak masalah.. Anda jangan khawatir. Tuan anda selalu bisa diandalkan. Jadi mungkin ini benar-benar keadaan darurat. Lagi pula saya juga harus menghadiri acara lainnya sebelum acara peribadi saya bersama dengan keluarga saya,” jelas seorang dari kelima tamu penting yang hadir semua mengangguk dan tersenyum menyetujui keputusannya.
“Ah.. terimakasih Tuan anda semua bisa memaklumi keadaan Tuan kami,”ucapnya.
Seketika mereka semua berdiri dan saling berpamitan untuk kembali pulang dengan baik tanpa rasa kecewa.
__ADS_1