
Baru sampai di rumah Ayla langsung memasuki kamarnya bersama Lisa.
Selesai bersiap Ayla melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Terdengar suara mobil Arga. Ayla tersenyum. Bergerak melangkah seketika Lisa membantu Ayla untuk berjalan dengan menuntun.
Arga yang baru memasuki pintu utama. Melihat Ayla berjalan menghampirinya seketika berjalan menghampiri istrinya membiarkan pelayan yang menyambutnya.
"Arga." Senyum merekah terlihat di wajah Ayla. Arga mengecup kening Ayla.
"Bagaiama dengan jalan-jalannya?"
"Aku mendatangi gedung latihan tekwondo. Aku juga bertemu dengan anak lelaki yang waktu itu menabrakku di rumah sakit."
"Siapa?" Arga menatap heran Ayla.
"Dia Sadewa dan dua temennya Adel dan Faruq."
Sampai di kamar Ayla membantu Arga membuka jas dan dasi. Lalu menyerahkannya pada pelayan dan Lisa memberikan segelas air putih pada Ayla.
"Terimakasih Bi." Setelah Lisa memberikan segelas air lalu kembali pergi bersama pelayan yang sudah menyiapkan semua keperluan mandi Arga.
Semenjak Ayla hamil besar Arga tidak mengizinkan Ayla terlalu lelah apalagi dengan kondisi seperti ini.
"Aku akan mandi." Arga mengusap kepala Ayla dan melangkah pergi.
Ayla mengangguk. Berjalan menghampiri kursi di dekat balkon.
Beberapa menit kemudian. Arga selesai.
"Kenapa? Apa kamu mau bicara sesuatu." Arga berjalan mendekat dan duduk di depan Ayla kursi kecil.
"Tidak ada aku hanya ingin seperti ini."
"Aku tahu kamu ingin anak yang bernama Sadewa di ringankan hukumannya bukan."
"Ka-kamu tahu.. Hem. Iya.. Alasannya karena dia berbuat baik tapi, salah."
"Biarkan saja Ayla.. dia anak yang kuat. Aku tahu dan kenal dia siapa jadi hukuman seberat apapun Sadewa bisa melakukannya. Lagi pula anak-anak itu sudah kelas tiga SMP."
"Ehmm yaa.. baiklah."
"Sekarang lebih baik kita makan saja."
Hari ini Thalita kembali kerumahnya bersama dengan bayinya yang di rawat asistennya.
"Jauhkan dia dariku jika bisa bawa anak itu tinggal dengan para pelayan."
Seketika asisten pelayan Thalita hanya bisa mengangguk dan menatap bayi perempuan itu dengan perasaan yang sangat kasihan.
*****
"Kau harus melakukannya lagi kali ini," ucap Thalita dengan mengangkat cangkir kopinya.
__ADS_1
"Lakukanlah dengan caramu sendiri Thalita. Aku juga akan melakukannya dengan cara ku sendiri," ucap Rosa yang kesal.
Hanya bisa memerintah saja.. aku sudah selesai semenjak dia meminta untuk membuat Ayla buta dan membantu perusahaan Ayah yang baru, batin Rosa.
"Rosa..Rosa. Ck..ck, Kau itu payah kau tidak akan bisa melakukannya sendiri. Kau tidak tahu jika Arga orang yang seperti apa," ucap Thalita meremehkan Rosa. Seketika Rosa meletakan cangkirnya dengan sangat keras.
"Seharusnya yang menekan itu aku bukan kau." Rosa menatap Thalita dengan menunjuknya. Thalita tersenyum menatap Rosa.
"Apa yang kau katakan? Ingat Rosa kau dan Edward masih menggantung tidak pasti jika sampai Edward tahu jika kau masih suka menyakiti Ayla maka dia akan memutuskan hubungannya denganmu." Mengancam Rosa seketika. Thalita tersenyum.
Bodoh aku sudah lebih tahu apapun di bandingkan kau. Itu kelemahanmu. Memangnya aku tidak tahu apa jika Edward dekat denganmu, batin Thalita.
Seketika Rosa menyiram wajah Thalita dengan sekilas.
Rosa kesal karena Thalita memgancamnya menggunakan Edward. Seketika semua menatap Thalita dan Rosa.
"Ingat Rosa. Kau terlalu sombong aku lebih suka bermain dengan Ayla yang polos tapi, sayang Ayla terlalu baik dan berperinsip untuk...tetap baik, tidak menantang. Tidak sepertimu... menggantung dan tidak jelas," ucap Thalita dengan menyindir hubungan Rosa dan Edward.
"Dari mana kau tahu jika aku sengaja mendekati Edward untuk bisnis." Rosa menatap Thalita dengan melipat tangannya.
"Hahha.. Oh ayolah sekarang kau mengaku ya.. ck..ck." Thalita melipat tangannya di atas perut menatap Rosa remeh. Seketika Thalita bangkit dan membawa tasnya. Berjalan kesamping Rosa membungkuk sedikit mendekatkan wajahnya di samping telinga Rosa.
"Edward adalah mantan suamiku." Seketika Rosa menatap Thalita yang tersenyum menatap wajahnya berjalan dengan percaya diri menjauhi Rosa.
Terserah duda atau perjaka jika kaya boleh saja.. batin Rosa.
Di dalam mobil Thalita baru saja menaikinya.
****
Di rumah sakit saat ini Arga dan Ayla berada di ruangan persalinan.
Sangat mendebarkan dan penuh ketakutan.
"Huh..huh.. Akh.. sakit Arga.. Sakit sekali Hiks.. Ayo sayang bantu mama."
"APA YANG KALIAN LAKUKAN. AKAN KU PECAT JIKA SAMPAI TERJADI HAL YANG TIDAK KU INGINKAN. INGAT AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN." Emosi Arga sudah sampai ubun-ubun tidak terkontrol. Melihat Ayla yang terus kesakitan dan wajah penuh keringat dan memerah.
"Bayi pertama sudah keluar. Sekarang kedua ya Nyonya. Ayo sama sepeeti tadi," ucap Dokter.
Seketika Ayla kembali menggenggam tangan Arga yang sejak awal tidak di lepaskannya dan yang kedua kali ini membuat Ayla merasakan sakit yang benar-benar luar bisa berbeda dari pertama yang kedua ini rasanya Ayla harus berhenti di tengah jalan.
Ya Tuhan.. Sayang bantu Mama Nak, batin Ayla.
Akhirnya kedua bayi lahir dengan normal. Persalinan yang normal dan energi yang terkuras cukup banyak. Membuat Ayla seketika kelelahan dan setengah lemas tak sadarkan diri di atas ranjang persalinan .
Arga mencium kening Ayla dan berlalu keluar. Tersenyum lalu memejam kan matanya. Setelah Arga keluar.
Memindahkan bayi ke ruangan yang lebih aman dan Ayla yang di persiapkan tim perawat.
"Selamat Kak Kakak punya dua junior sekaligus."
"Selamat Arga." Ayahnya menepuk bahu Arga dengan senang.
__ADS_1
Sekarang Arga di izinkan masuk hanya sekedar melihat ke dua anaknya dari dekat. Setelah dari sana.
Arga pergi keruangan Ayla.
Seketika Arga menatap heran apa yang terjadi kenapa banyak sekali perawat dan Dokter mengelilingi Ayla.
"Tuan .. " Dokter wanita, Dokter pribadi Ayla menyapa Arga. Semua Dokter dan perawat juga menoleh.
"Sebelumnya kami meminta maaf. Ini adalah hal aneh yang kedua kalinya menimpa Nyonya Ayla."
"Apa yang terjadi?" Suara Arga yang sangat tegas dan menatap Ayla. Para Dokter hanya menunduk takut dan berusaha tenang walaupun sebenarnya mereka sudah sangat ketakutan dengan wajah Arga yang begitu menyeramkan sekarang.
"Nyonya mengalami koma untuk kedua kalinya dilihat dari semua yang kami tahu."
Arga langsung mengepalkan tangannya dan menatap semua Dokter dengan tatapan intimidasi dan Wajah yang sangat tidak bersahabat.
"Seharusnya ini tidak akan terjadi karena semua peroses persalinan lancar dan semua normal. Kami juga tidak tahu apa yang terjadi." Salah satu Dokter memberanikan diri untuk bicara dengan menekan ke gugupannya.
Suara pintu terbuka dan cekalan tangan Ayahnya tiba-tiba.
Arga sedikit melemahkan kepalan tangannya.
"Arga tenang lah." Ayahnya seketika masuk kedalam dan menenangkan Arga. Melemahkan kepalan tangannya. Tapi, percuma Arga langsung keluar dan pergi begitu saja.
"Tuan besar kami benar-benar tidak tahu dengan kejadian yang nyonya Ayla alami ini adalah kejadian di luar kendali kami dan lihatlah semua alat ini semuanya terlihat normal. Termasuk Darah Nyonya yang keluar pasca melahirkan semuanya lancar, Nyonya juga tidak mengalami kekurangan darah sama sekali." Dokter pribadi Ayla menjelaskan dengan cara yang sangat tenang.
Ayah Arga menghembuskan nafasnya kasar. Meraup wajahnya dan menatap para tim dokter tersebut.
"Aku percaya pada kalian karena kalian Dokter terbaik yang mengurus pasien dirumah sakit ini."
Baru sampai di parkiran Arga hampir tertusuk dengan tatapan tajam seorang nenek tua dengan pakaian resminya seperti seorang yang sangat berpengaruh. Melangkah keluar mobil menghampiri Arga.
Seketika tangan tua berkeriput itu menghentikan Arga.
"Anak berandal, ingin kemana? hem.. Jauh-jauh nenek datang untuk menengok cicit dan malah bertemu Ayahnya yang akan pergi entah kemana sekarang masuk lagi kedalam," ucap Nenek pada Arga dan beralih menarik telinga Arga. Menyeretnya masuk ke dalam.
"Berhentilah Nek," ucap Arga datar sebelum semua orang di rumah sakit melihatnya.
"Baiklah.. Baik." Nenek yang tahu jika Cucunya adalah orang yang sangat terpandang langsung melepaskan jeweran telinganya.
Sampai di ruangan Ayla.
Arga menatap Ayla dengan perasaan tidak tega dan Neneknya yang sedang bicara dengan ayahnya.
Seketika Nenek Arga. Melangkah menghampiri Ayla yang sedang tidak sadarkan diri.
"Istrimu sedang mengistirahatkan dirinya. Matanya juga terlihat cantik. Dia sudah sembuh dari obat itu."
Seketika Arga menatap neneknya.
"Tidak mungkin bagaimana nenek tahu jika Ayla sudah tidak buta lagi?"
"Aku nenekmu aku tahu apa yang kedua cicit ku lakukan pada ibunya. Istrimu dan cicitku adalah hal yang paling istimewa yang Tuhan berikan di tengah-tengah keluarga kita. Aku tahu itu ketika bicara lewat vidio call waktu itu."
__ADS_1