
Ayla menatap Dila dengan tatapan yang sulit diartikan. Seringai Ayla terlihat begitu jelas di wajahnya.
Tembakan yang di lepaskan Dila tidak mengenai Ayla. Tapi dirinya sendiri.
Kaki Dila yang berdarah dengan tembakan Arga.
Ketika Dila mengangkat pistol untuk menembak Ayla dan dari jauh Arga sudah bersiap dengan menembak kaki Dila. Seketika Tembakan meleset dan hanya menggores lengan atas Ayla.
"Harusnya kau tidak gegabah." Arga menghampiri Dila dan ketika itu juga Ayla datang dan melihat Dila.
"Sial.. Kalian tahu aku suruhan Thalita. Jika kalian ingin bunuh.. bunuh dan habisi aku saja dan selamatkan keluargaku." Dila menatap Ayla dan Arga dengan tatapan menahan sakit di kakinya.
Arga berjongkok di depan Dila.
"Kenapa kau melakukannya bukannya kau bisa pergi dan menolaknya dengan mudah." Menatap Dila seperti sengat kenal dengan Dila.
"Kau kira siapa aku dan siapa Thalita. Dia mantan istri Edward Anthony. Dan aku hanya hal yang bisa dia injak-injak. Thalita juga... Akh.." Tembakan dari arah lain menembus kepala Dila.
Saat itu juga Dila langsung tidak bernyawa. Dan sebuah mobil mewah dengan seorang wanita di dalamnya.
Thalita. Turun dari mobilnya sambil membawa pistol di tangannya.
"Selamat hari jadi anakmu yang setahun Kukira aku juga harus merayakannya untuk anakku tapi, aku akan memberikan kejutan yang tidak terlupakan untuk si kembar..lebih dahulu."
Seketika Thalita mengangkat pistol di depan wajah Arga. Ayla menatap itu tidak bisa diam saja.
"So...Ayla. kamu sudah bisa menjadi wanita berani bukan."
"Oh.. Ya.. kamu menilaiku dengan cepat ya." Perlahan Ayla membuat peluang untuk mengalahkan Thalita tanpa sadar.
Thalita menarik pelatup pistolnya tersenyum di depan wajah Arga. Seketika tangan berpindah di depan wajah Ayla dan melepaskan tembakan yang meleset. Ayla langsung mengunci tangan Thalita dengan cepat dan membantingkany ke lantai. Thalita terkejut. Tembakan yang meleset membuat Arga menatap istrinya takjub.
Apa yang selama ini istriku kerjakan ketika aku tidak dirumah. Kenapa ... Ck.. Dia Ayla Marvelino aku hampir lupa, batin Arga.
Membenarkan jasnya. Tidak lama semua anak buah Arga datang dan membawa Thalita.
Di dalam sana Utami dan Emilio masih saling berhadapan dengan Ayah Arga.
"Sudah cukup sampai disini aku akan menyudahi perbuatkan aneh kalian." Ayah Arga menekan sesuatu di jam tangannya dan seketika air di dalam gedung keluar dan membasahi setiap tempat.
Emilio panik dan juga Utami.
__ADS_1
"Kenapa.. kenapa kau bisa menyiapkan air sebanyak ini."
"Kau kira aku tidak tahu. Jika kalian membuat perangkap di gedung ini. Jangan salahkan aku Utami jika masa tuamu akan kamu nikmati di dalam penjara."
"Apa.. ini tidak mungkin." Utami menggeleng tidak percaya. Perasaan utami sudah tidak nyaman sekarang berlari keluar seketika semua pengawal Luis datang dan dua orang langsung memegang tangan utami.
"Lepas... Kalian tidak bisa membawaku."
"Kau lihat bagaimana aku bisa membuat semuanya menjadi mudah dan tidak menelan korban. Tidak seperti rencamu yang busuk dengan meracuni ayah Diam-diam," ucap Ayah Arga. Seketika membogem mentah Emilio di wajahnya.
Terus hingga darah keluar di hidung dan sudut bibir juga pelipis Emilio.
"Kau tahu ibu sangat sedih karena ulahmu," ucap Ayha Arga lagi membogem mentah Emilio.
Seketika Ayla dan Arga datang membawa Thalita dengan pengawal mereka.
Thalita yang tidak bisa bergerak karena cekalan kedua pengawal Arga.
Seketika pukulan tangan Ayah Arga di hentikan tangan seorang wanita yang penuh lecet dan darah.
"Ayla."
Seketika Emilio berdiri dan tertawa dengan terkekeh.
"Kau dengarkan nasehat Menantumu yang buta dan anakmu yang payah dan penakut itu." Emilio mengatai Ayla dan Arga.
Seketika Ayla berbalik dan menatap Emilio tajam.
"Berhenti bicara dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna." Ayah Arga mengepalkan tangannya lagi.
Seketika Emilio mengeluarkan senjata dari dalam jasnya mengarahkannya pada Ayla.
Arga maju seketika terhenti dengan isyarat tangan Ayla.
Arga tidak menggubris seketika tembakan lepas begitu saja dan hampir mengenai kaki Arga.
"Jangan sentuh mereka. Jika kalian membenciku maka bencilah aku. Jangan bawa mereka sebagai alasan." Ayla geram pada orang di hadapannya.
"Lihat.. menantu perempuan kesayangan keluarga Marvelino ini. Kau tidak bergantung lagi pada suamimu yang payah dan juga keluarga kaya."
"Sekarang kau lebih baik menikmati surga, Ayla." Tembakan yang terlepas menembus punggung Ayah Arga. Seketika Ayla menatap membulatkan matanya. Ayla berlutut tidak kuat menahan tubuh ayah Arga yang hampir jatuh.
__ADS_1
"Aku sudah katakan untuk tidak membawa orang lain jika urusannya denganku." Ayla menangis menatap Ayah mertuanya. Seketika berdiri dan Arga langsung mencegah Ayla.
Melepas cekalan tangan Arga dengan kasar.
Melangkah mengambil sebuah kursi dan menyeretnya.
Menghajar Emilo dengan kasar dan seperti kesetanan. Ayla menatap Emilio.
"Mau apa kau menghajarku kau tidak Akh.. sial." Seketika Emilio merebut kursi Ayla dan mengarahkan pistol ke wajah Ayla.
"JANGAN REMEHKAN ORANG LEMAH." Seringai aneh Ayla kembali terlihat jelas.
Tendangan berputar Ayla dan hantaman keras dari tendangan Ayla membuat Emilio tersungkur dan tidak bisa bangkit lagi. Seketika para pengawal Ayah Arga langsung menarik Emilio. Seketika itu juga Ayla pingsan.
Darah di lengannya tidak kunjung berhenti.
Gedung yang sudah di beri garis polisi dan juga Thalita Utami dan Emilio di bawa pihak berwajib.
Tahanan yang kini menjadi gelar Thalita juga Emilio dan Utami.
Di rumah sakit setelah tiga hari berlalu Ayla masih berbaring di rumah sakit dengan keadaan yang sangat tidak stabil.
Dan Ayah Arga sudah pulih karena tembakan itu tidak ada apa-apanya untuk tubuh kuat dan terlihat tua itu.
Di tempat lainnya wanita cantik dengan tubuh sangat bagus seperti model memasuki rumah Arga.
"Katakan dimana Ayla sekarang." Teriak wanita itu dan langsung mendapat tatapan tajam Lalita.
"Kenapa datang kemari."
"Aku hanya ingin mengambil milikku. Kau tahu aku baru tahu jika Arga memiliki anak dari seorang wanita buta. Dan aku akan mengambil Arga dan anak nya untukku lalu membuang istrinya." Dengan mudah dan secara terang-terangan Wanita itu mengucapkan semua hal itu dirumah Arga dan di dengar Lalita langsung.
"Rihana kamu itu hanya lah sepupu. Kamu juga tidak akan bisa mendekati kakak apa lagi bicara. Karena sejak dulu kamu selalu di jauhi kakak. Dan aku benarkan kata-katamu yang salah paham tentang Kakak iparku. Kakak iparku yang sekarang sangatlah hebat dan juga. TI-DAK BU-TA. Ingat itu baik-baik."
"Oiya.. bukannya sekarang dia tidak dirumah aku akan melihat calon anak tiriku." Dengan bangganya dan percaya dirinya Rihana masuk dan menaiki tangga arah ke kamar si kembar.
Tak lama sebuah mobil datang dan itu tidak hanya satu.
"Kakak pulang." Lalita langsung berlari keluar dan meninggalkan Rihana yang menatapnya heran.
Ini akan menarik.. aku akan segera bertemu dengan Arga batin Rihana.
__ADS_1