
Seketika pistol yang diarahkan Syena di kepala Arga kosong tidak terisi peluru sama sekali.
"Tara.. ini jebakan untuk mengulur waktumu sayang."
Seketika Arga menatap Syena tajam dan membola matanya.
"Apa yang kau rencanakan."
"Huh.. Aku hanya mengembalikan yang sedari awal istrimu miliki."
"Ke gelapan." Syena terkekeh.
Arga menatap Syena yang terlihat begitu senang berjalan mengitari Arga dan kembali ke hadapan Arga dengan wajah senangnya.
"Perawat yang aku kirin ke rumahmu pasti sudah datang bersama Dokter pribadi. Membuat satu rumah termasuk dokter tidur nyenyak dan membuat Kegelapan pada istrimu kembali lagi...."
Arga berlari keluar dan menaiki mobilnya dengan cepat. Tidak memperdulikan Syena.
"Dasar buta karena cinta. Istrinya kembali lagi menjadi seseorang yang buta. Eh.. selamat tinggal cahaya. Ayla aku mengucapkannya dari sini. Setelah itu aku bisa membuat Arga jatuh kepelukanku."
" Kalian urus dia obati."
Syena pergi berlalu meninggalkan anak buahnya yang mengurus Farhan.
Di mansionnya Arga baru saja sampai terlihat semua rumah sepi dan penjaga yang tertidur baru saja sadar dan juga ada yang selamat.
Arga melaju masuk setelah turun dari mobilnya. Terlihat semua sedang memeriksa Ayla. Dengan ke adaan segar.
"Ayla."
"Ah.. Arga.. kamu dari mana saja."
Tidak.. Kurang ajar.. Syena. batin Arga.
"Aku sebelah kanan mu Ayla." Lalita dan Lisa hanya menunduk dan juga Dokter yang hanya bisa diam.
"Eh..maaf Arga. Aku."
"Katakan apa yang terjadi padanya." Menatap dokter meminta penjelasan.
Dokter ketakutan meneguk ludahnya kasar dan melihat Ayla. Dengan berusaha berani Dokter mengangkat wajahnya.
"Maaf Tuan kami baru saja sadar setelah kami merasa tertidur beberapa detik setelah Anda pergi dari sini. Saya baru saja memeriksa nyonya yang sudah duduk sadar. Nyonya.. Nyonya.. mengalami gangguang penglihatan dari hal yang sengaja di berikan di mata Nyonya ketika kami semua tidak sadar, obat ini sifatnya permanen terhadap mata nyonya dan ini membuatnya juga tidak bisa di oprasi karena bisa menyebabkan kematian secara langsung. Obat ini sangat jarang di ketahui banyak dokter umum atau Dokter berpengalaman sekalipun, dan saya bisa tahu hal ini karena saya sudah pernah melihat obat ini sekali pada seorang wanita yang pernah datang pada saya dan orang itu adalah ibu anda."
"KAU.. KALIAN SEMUA KELUAR!" seketika Ayla terkejut. Arga sudah di kuasai emosi dan amarah yang meledak-ledak.
"Arga.. tenang dulu jangan marah."
"Ayla," ucap Arga menahan amarahnya.
Semua keluar dari kamar Arga dan menutup pintu.
Ayla turun dari kasur berjalan mendekat perlahan pada Arga. Meraba dada dan bahu Arga.
Ayla tersenyum.
__ADS_1
"Arga aku tidak apa-apa mungkin Tuhan hanya memberikan penglihatan ini sementara dan aku akan belajar lagi untuk bisa beraktivitas normal walau tidak bisa melihat lagi." Arga menatap Ayla yang begitu baik-baik saja dan tidak merasakan sedih sedikitpun.
"Maaf Ayla aku tidak bisa memberikanmu semua hal yang kamu inginkan aku tidak berguna." Ayla langsung memeluk Arga dan menengkannya.
"Tidak kamu tetap suami terbaikku. Kamu tetap terbaik. Arga."
"Kamu tidak bisa sembuh Ayla." Arga geram sendiri karena amarahnya membuatnya lebih mementingkan yang lainnya. Arga menyesal.
"Aku tetap bisa mengurusmu dengan belajar dan terbiasa dengan kondisi awal aku datang kemari."
"Dan aku juga lebih di jaga karena aku tidak bisa melihat. Lihat saja sisi baiknya Arga."
"Ayla kenapa kamu selalu melihat sisi baiknya kenapa kamu tidak melihat kenyataannya. Sekarang katakan apa yang kamu rasakan, panas sakit perih atau apa katakan?" Arga menatap Ayla yang sudah menarik dirinya dari pelukan Ayla.
"Aku tidak merasakan apapun hanya rasa yang sama ketika aku tidak bisa melihat. Gelap dan suara saja yang bisa aku dengar."
"Ayla."
"Sudahlah Arga. Sekarang kau ingin apa aku akan membuatkan sesuatu untukmu."
"Tunggu apa ini mempengaruhi ke hamilanmu." Ayla tersenyum dan menggeleng menjawab ucapan Arga.
"Besok jadwalnya kontrol kandungan kita bisa datang bersama dan memeriksanya."
"Baiklah.."
Arga mengenggam tangan Ayla dan enggan melepaskannya.
Di mansion Farhan dan Syena sedang dalam kedaan satu ruangan kamar.
"Terserah."
"Oiya.. ehm kau tahu.. Ayla kembali buta dan aku merasa senang karena ini ternyata berhasil."
"Kau benar-benar memberikan Ayla obat itu."
"He'em. Kita bisa melakukan apapun dengan Ayla yang buta."
Syena berlalu keluar kamar Farhan dengan mengambil sebotol Wine di rak dekat sudut kamar Farhan.
"Setidaknya itu lebih mempermudah," gumam Farhan.
Seringai aneh menghiasi wajah lebamnya.
Di kamarnya saat ini Ayla duduk dengan memainkan jarinya.
Aku bersyukur karena Tuhan memberikan aku kesempatan untuk bisa melihat sebelumnya dan sekarang aku kembali pada hal sebelumnya dan sekarang aku sudah menjadi Ayla yang dulu. Ayla yang buta dan semua ini sebabnya karena aku istri dari Arga. batin Ayla.
"Tidak masalah Ayla aku akan tetap bersamamu selama kamu hamil kamu akan terus ikut dengaku ke manapun." Seketika Arga yang datang memasuki kamar dan mengusap kepala Ayla.
"Ehm Arga apa ayah akan marah dan membenciku lagi."
Arga tersenyum tanpa Ayla tahu.
"Tidak."
__ADS_1
Ayla menghembuskan nafasnya kasar dan memainkan jarinya. Seketika Arga memegang tangan Ayla dan mengusapnya.
"Jangan pernah merasa kamu sendiri karena aku ada bersamamu walaupun kamu kembali seperti sebelumnya. Rasa cintaku juga tidak akan berubah padamu," ucap Arga.
"Hueek... Arga jijik jangan mengatakan kata cinta aku geli belakangan ini."
"Ini pasti perasaan kamu kan." Ayla mengangguk membenarkan perkataan Arga.
"Iya.. aku juga aneh sebelumnya aku merasa jika itu biasa dan sekarang aku merasa geli."
Arga terkekeh.
"Tidur dan istirahatlah aku akan memenemanimu dan tidak akan kemanapun."
Seketika ponsel Arga berbunyi setelah membantu Ayla berbaring dengan benar dan menyelimuti Ayla.
Keluar ke balkon dan mengangkat teleponnya.
"Iya.." Sahut Edward di seberang sana.
"Bagaimana?" ucap Arga santai.
"Kau bagaiamana-bagaimana bisa!" kesal Edward.
"Aku juga terkejut, bodoh." Kesal Arga.
Edward menjauhkan teleponnya dari telinga.
"Huh. salah lagi awas aja tu bocah," ucap Edward pelan dan menjauh dari ponselnya.
"Semua penawar yang udah di cari di markas Italia semua enggak ada yang cocok sama ciri-ciri obat yang udah di kasih ke istrimu."
"Semua obat yang ku punya semua itu pasti memiliki penawarnya dan ciri-ciri yang kau berikan itu baru dan aku tidak memilikinya."
Seketika telepon tertutup oleh Arga. Edward yang berada di sebrang sana mengumpat karena Arga selalu mematikan ponselnya tanpa sebab dan alasan pasti dan mendadak.
Rosa yang sedang senang dan juga tertawa riang karena tugasnya selesai sampai disini dan selanjutnya adalah urusannya sendiri.
"Akhirnya bebas juga dari kendali orang itu."
Rosa menatap televisinya.
Seketika ponselnya berbunyi dan diangkatnya.
"Bagus.. kerjamu aku akan mengirimnya ke rekeningmu dan juga perusahaan yang ayahmu sedang rintis."
"Ah.. iya.. terimakasih.. "
Seketika seorang perempuan menyeringai di balik telepon yang sudah tertutup.
Rosa menatap ponselnya dan menggeleng.
"Lihat lah Ayla kau tetap tidak akan bahagia walaupun mendapatkan pangeran penguasa asia. Dan juga memiliki masalalu yang begitu misterius. Ayla-Ayla... tidak ada orang kaya tampan dan baik yang tidak akan di incar para perempuan di luar sana apa lagi yang memiliki ikatan masalalu dengan Arga. Akhirnya Kamu merasakan bagaimana rasanya di kucilkan Ayla. Kau juga mengucilkan aku ketika aku buta. Ini balasannya. Rasakan."
Rosa berbicara dengan membayangkan wajah Ayla yang menangis sedih ketika tahu dirinya kembali buta.
__ADS_1