
"Ayla kamu tahu kalo Arga itu orang yang sangat setia."
"Hem iya kenapa?"
"Tidak... Ayla kamu tahu kalo Arga sudah mencintai seseorang dia akan sangat menyayanginya dan menjaganya seperti berlian. Dulu Arga seperti itu padaku."
Pintar mengarang cerita.. ayo Thalita lakukanlah...batinya.
"Baguslah berarti dia lelaki yang baik." Ayla masih sangat tenang dan juga santai menjawabnya.
"Tapi, karena kesalahan ini yang kami berdua lakukan Arga pergi meninggalkan kami."
"Tapi, sekarang?" ucap Ayla masih tenang.
"Sekarang.. sekarang aku hanya bekerja sebisaku tidak tahu bekerja dirumah dengan daring atau membuat pekerjaan sendiri agar kami bisa hidup."
"Kau tinggal dimana Thalita?" ucap Ayla masih sangat tenang dan santai.
Aku masih percaya dengan Arga, batin Ayla.
"Aku tinggal di rumah yang lumayan untuk menjadi tempat tinggal kami yang baru, kemarin aku pindah di perumahan dekat sini. Dan mobil ini aku dapatkan setelah lima tahun menabung dan juga meminta sedikit uang orang tua," jelas Thalita yang sebenarnya berbohong.
Ayla mengangguk lalu tersenyum.
"Aku doakan semoga kamu biasa menjalani kehidupan yang lebih baik ya setelah anak kamu lahir."
"Terimakasih Ayla.. kamu memang baik. Ternyata Arga berkata benar." Seringai aneh muncul diwajah Thalita. Menghentikan mobilnya di sebuah taman dekat Danau.
"Arga mengatakannya?" ucap Ayla.
Apa dia mulai curiga.. berhasil sajalah... Ayla yang malang aku akan meninggalkanmu di taman ini. Dasar polos.. bodoh, batin Thalita.
"Iya.. kamu tahu kadang kami sering bertemu di luar dia sering menceritakan tentangmu yang begitu baik padanya... kamu juga mau menerima kekurangannya sebagai seorang tidak jauh dari hal mengerikan dan Darah." Thalita keluar dari mobilnya di ikuti Ayla berjalan mencari kursi yang ada di bawah pohon atau kursi kosong di taman.
"Kadang kita bertemu di Cafe resto atau di.. dihotel tapi, tanpa sengaja..." ucap Thalita membuat pembicaraan semakin mengarah untuk membuat Ayla cemas dan khawatir.
Sambil mendudukan diri mereka di kursi. Ayla juga duduk dengan perlahan. Tersenyum mendengar semua penjelasan dan ucapan Thalita.
"Tidak masalah, yang penting aku dan Arga selalu terbuka dia juga sering membicarakan hal itu padaku." Ayla berucap dengan sangat tenang dan di selingi senyuman ramah.
__ADS_1
"Ayla.. bisakah aku meminta sesuatu padamu," ucap Thalita seketika dengan sangat memohon.
"Katakan saja aku akan menurutinya jika aku bisa." Menyambut pertanyaan Thalita dengan senang
Thalita tersenyum menatap Ayla.
"Aku ingin kamu pergi jauh dari kehidupan Arga dan biarkan Arga untuk menikah dan menjadi ayah dari anak yang aku kandung."
Ayla tersenyum dengan tenang menggenggam tongkatnya erat.
"Bagaiamana yaa.. jika kamu menikah dengan Arga secara sirih saja," ucap Ayla. Thalita menatap heran dan berpikir tentang ekspresi Ayla kali ini.
"Kenapa kamu mudah sekali mengatakannya tapi, aku hanya ingin menjadi istri satu-satunya dari Arga dan aku menginginkan kamu untuk pergi." Di buat sangat sedih suara Thalita dan sangat memohon.
Ayla mendengar dengan sangat iba Ayla juga merasa kasihan.
"Maaf Thalita tapi, aku tidak bisa." Suara yang tegas. Seketika Thalita menghembuskan nafasnya kasar.
"Cukup! aku jengah... berpura-pura.. aku akan membiarkanmu disini dan Arga juga tidak akan bisa menemukanmu," ucap Thalita seketika menarik kalung dan mengambil gelang Ayla.
Thalita juga tidak menggambil anting Ayla karena Ayla juga tidak menggunakannya.
"Thalita berikan padaku kembali barang itu," ucap Ayla dengan memohon sedikit pelan.
"Tidak. Tidak akan. Kau sudah cukup bahagia bersama seorang Arga sekarang giliran aku yang merasakan tempat itu selanjutnya. Menjadi istrinya."
Thalita pergi dari sana dan meninggalkan Ayla.
"Thalita.. Thalita kamu dimana." Seketika Ayla berdiri meraba di udara, mendengar sura langkah kaki menjauh dan pergi juga dengan sura mobil yang berlalu.
Heh.. dia pergi... Dunia yang penuh tipuan. Apa tidak ada perempuan baik yang bisa berteman dekat dan tidak beralasan mendekatiku untuk bisa dekat dengan Arga, ketika kita saling dekat sebagai teman perempuan.
Perempuan yang aku temui semuanya menginginkan Arga. Batin Ayla.
Kembali duduk dan memegangi tongkatnya. Seketika Ayla meraba tasnya.
Ponselnya sudah hilang aku sendiri. Aku lelah terlalu sering menjadi perempuan yang selalu di singkirkan. Aku akan bediam saja untuk menunggu.. Menunggu hingga saat bahagia datang. Lucu sekali kisahku ini...
Aku kembali pada diam yang tidak bicara.
__ADS_1
Aku akan kembali menunggu dunia berpihak padaku.
Aku menunggu Cinta yang selama ini aku jaga, batin Ayla sambil mengusap perutnya dan tersenyum menatap kedepan dengan tatapan kosong.
Thalita sudah pergi menjauh dari taman dan sekarang sudah kembali kekediamannya. Sebuah mobil yang mungkin sudah sangat lama berada di halaman rumah Thalita. Turun dari mobil dan melihat lebih dekat mobil siapa.
"Arga.. dia disini." Thalita senang dengan mobil yang dia kenali.
Melangkah masuk seketika tangannya di cekal dan di dorong Arga hingga membentur pintu mobil.
"Katakan diamana istriku, jalang!" ucap Arga dengan suara tegas dan ditekan. Arga sudah sangat emosi saat ini.
"Oh.. maaf mungkin dia sudah di jadikan bahan bergilir preman di jalanan tadi."
Thalita berucap santai dengan menatap wajah Arga yang sudah sangat emosi.
Arga sudah melacak semua gps dan semua hal yang Arga berikan agar jika Ayla pergi jauh Arga dapat mencarinya dengan mudah tapi, Thalita ternyata lebih berbahaya dari dugaan Arga. Karena Thalita sudah mengetahui semua yang Arga lakukan pada kalung gelang dan juga ponsel Ayla.
"Kurang ajar, Thalita. Aku sudah katakan bukan, aku tidak ingin berbuat kasar padamu karena kamu mengandung dan sekarang hamil tua."
"Heh.. kamu tetap sama kamu tidak bisa menyakiti perempuan." Mendorong dada Arga pelan dan berdiri berjalan sedikit berjarak dari Arga.
"AKH... SIALAN, THALITA... KATAKAN APA MAU MU DAN BERITAHU DIAMANA AYLA BERADA ATAU AKU AKAN MENGHABISI BAYIMU." Arga berteriak pada Thalita yang terkekeh menatap Arga.
"Hahah.. Arga... Arga.. kau itu tampan kaya dan juga ck... sudahlah Arga, Ayla itu tidak bisa menjadi istrimu dan hanya aku yang bisa menempati tempat itu. Ingat Arga... kau itu pengusaha muda yang kaya dan bisnismu sudah terkenal se asia. Apa mungkin kau memiliki Istri yang cacat pikirkan tentang harga diri dan juga martabat dirimu di mata publik dan dunia bisnismu." Arga terus menatap kesegala arah dan membuang wajahnya memendam emosinya dari semua ucapan Thalita.
Arga berbalik menatap Thalita. Menghampiri Thalita dengan seringai anehnya.
"Benar.. Harga diri." Thalita tersenyum menatap Arga.
"Martabat.. Martabat dengan harga diri yang harus selalu tinggi dan terlihat sempurna agar baik di pandang semua orang, benar." Thalita semakin senang mendengar ucapan Arga yang terlihat memikirkan semua perkataannya.
"Sayang sekali, Aku tidak pernah berpikir jika Harga diriku sangat penting. Martabat, aku juga tidak terlalu memikirkannya."
"Dengar baik-baik.. Thalita, Aku sangat mencintai Ayla dan tidak akan pernah tergantikan. Aku yakin jika Ayla masih baik-baik di luar sana dan aku akan segera menemukannya."
Seketika Thalita langsung merubah raut wajahnya dan menatap Arga tidak percaya.
Sialan Akh... batin Thalita.
__ADS_1
Arga pergi menaiki mobilnya dan meninggalkan Thalita sendirian di halamannya.