
Seketika Arga mendekat ke neneknya dan melihat Ayla menggerakan matanya tiba-tiba.
"Hem.."Ayla sadar dan menatap ruangan kesekeliling.
"Apa ini kenapa ruangan ini. Ruangan ini...perutku.. Arga.. Hah.. mata ini," ucap Ayla dengan bingung dan memegang perutnya juga seketika menatap Arga dan wanita tua disebelahnya. Ayla kembali menangis.
Arga langsung memeluknya. Tidak lama Tim Dokter datang dan masuk kedalam ruangan Ayla. Arga dan yang lainnya menunggu diluar.
Kembali mereka masuk setelah perawat mengizinkan.
"Ternyata Nyonya kembali bisa melihat. Ini adalah kedua kalinya saya melihat keajaiban Tuhan. Saya merasa jika Nyonya sangat di sayang Tuhan."
"Iya Tuan Saya juga terkejut. Obat itu seharusnya tidak bisa di sembuhkan walaupun bisa itu malah membuat efek samping yang fatal jika di oprasi pun juga bisa berakibat fatal." Dokter pribadi Ayla menjelaskan dengan sangat senang dan ikut bahagia atas kesembuhan Ayla.
Tidak lama seorang perawat masuk membawa bayi Ayla. Ini pertama kalinya setelah sepuluh jam berlalu Ayla tidak sadarkan diri.
Seketika Ayla menangis melihat bayinya sendiri dengan mata yang sudah sembuh.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya aku harap semuanya baik-baik saja untuk kalian." Mengusap bayinya dengan ibu jarinya sebisanya.
"Hey kau diam saja siapa nama mereka." Nenek menatap Arga dengan tajam.
" Erlangga Aditya dan Zeline Zakhesa," ucap Arga mengendong Erlangga yang sudah selesai di beri Asi oleh Ayla.
Semua melihat anak pertama Arga yang lelaki dan yang kedua perempuan.
"Bagus sekali Artinya," sahut nenek. Melihat Zeline di gendongan Ayla dan Erlangga di gendongan Arga.
"Angga.. aku panggil Angga ya kak.. dan yang manis ini aku Panggil Zeline." Seketika semua tersenyum dengan ucapan Lalita yang begitu semangat.
*****
Setelah dua hari dirumah sakit kini Ayla bersama kedua anaknya pulang kerumah bersama Arga dengan suasana rumah yang sedikit berbeda bagi Ayla karena hari ini nenek Arga tidak bisa ikut pulang bersama mereka. Nenek harus kembali ke negara asalnya.
Seketika Ayla merasa jika kini dirinya harus lebih banyak berubah untuk kedua anaknya.
Demi Kalian berdua aku akan menjadi ibu yang baik dan setia, batin Ayla.
"Aku gak sabar nunjukin kamar anak kembar ini." Lalita yang heboh ketika mereka sudah sampai di depan kamar Angga dan Zelin.
"Tara.. lihatkan.. Biru dan abu-abu aku yang memilih warna."
"Hem.." Seketika Lalita murung. Melihat Ayla hanya diam dan melihat semua tatanan kamar.
"Enggak suka ya kak."
"Eh.. engga gitu ini bagus kok, makasih ya Lalita. Lihat sayang aunty Lita buat kamar kalian jadi keren." Berucap seakan Angga dan Zeline juga sedang menatap, padahal mereka sedang tidur.
Setelah dari kamar Angga dan Zeline kini mereka pergi ke kamar Arga. Sementara Arga meminta Ayla untuk membawa kedua anaknya tidur di kamar mereka. Angga dan Zeline akan tidur terpisah nanti ketika mereka sudah besar.
"Jadi mereka disini dulu sementara."
"Iya.. kamu bisa mengurus mereka dan aku."
Seketika Arga menarik pingga Ayla yang baru saja meletakan Angga di keranjang bayinya dan Zeline di letakan Lisa di keranjang bayi satunya.
Lisa dan lalita pergi keluar meninggalkan Ayla berdua dengan Arga.
__ADS_1
****
Baru saja Rosa selesai rapat dengan para bawahannya di perusahaan ayahnya yang lama.
Masuk kembali keruangannya dan beristirahat sebentar.
Lalu pergi photosyut di tempat yang kru modelingnya sepakati bersama Rosa.
Pintu ruangan Rosa terketuk.
"Masuk."
"Ini laporan yang ada inginkan." Sambil menyerahkan amplop coklat pada Rosa.
"Kau bisa pergi." Perintah Rosa sebelum membuka Amplop tersebut.
Orang tersebut pergi keluar ruangan Rosa. Lalu Rosa membuka amplop tersebut. Seketika Rosa tersenyum. Menatap isi dari amplop tersebut.
"Keponakanku sudah lahir.. bagaimana jika aku membuat kedua keponakan ku menjadi bayi yang paling beruntung, dengan mengirim mereka ke surga. Dengan cepat."
"Dengan begini Arga akan membenci Ayla. Aku yakin jika Ayla akan ceroboh. Lalu... semua selesai sampai situ."
Rosa begitu senang hingga hal yang sebenarnya Rosa tidak tahu, jika Ayla sudah sembuh dari obat yang membuat Ayla buta selamanya.
Thalita tertawa dengan keras di ruangannya tawanya sangat menyeramkan.
"Kalian bohong.. Kalian Bohong.. Kalian tahu.. Obat itu tidak memiliki penawar. Edward saja tidak akan bisa membuatnya. Kalian tahu itu... Akh... Kurang Ajar."
Seketika Suara bayi menangis terdengar oleh Thalita.
"Bayi sialan." Thalita keluar dari rumahnya dan pergi meninggalkan anak buahnya yang sejak tadi menatapnya.
"Bi Ayla mau keluar sebentar Bibi sama Lalita jaga Angga sama Zeline sebentar."
"Iya Non.. Hati-Hati."
Ayla pergi keluar bersama dengan Lisa dan sekarang mereka sudah menaiki mobil keluar halaman. Setelah Ayla pergi seketika penjagaan di perketat oleh bawahan Dafa dengan cepat.
Sampai di kantor Arga. Ayla langsung turun untuk membawakan sarapan dan akan kembali jika Arga memintanya.
Sampai di ruangan Arga. Ayla melihat Thalita sedang duduk dan menunggu seseorang.
"Permisi." Ayla menatap Thalita
"Eh.. Ayla.. apa kabar.. bagaimana.. Tunggu dulu?"
" Kenapa? anda menunggu siapa?" Seketika Thalita terkejut dan seketika itu juga langsung tersenyum.
"Kau sudah bisa melihat." Seketika tangan Thalita di tahan Ayla ketika akan menyentuh pundaknya.
"Thalita." Ayla tersenyum menatap wajah Thalita.
"Kenapa Ayla." Melipat tanganya menatap Ayla remeh.
"Ada perlu apa kau kemari?" ucap Ayla sedikit ramah. Mengencangkan cengkramannya.
Seketika Thalita menarik tangannya dengan kasar dari cengkaraman Ayla yang seketika membuat tangannya memerah. Thalita tersenyum.melihat tangannya memerah.
__ADS_1
"Hem.. Kau cukup lumayan.. Lumayan Bodoh."
Thalita kembali berdiri di depan Ayla setelah menatap Ayla dari atas sampai bawah dan menatap Ayla dengan remeh. Sambil mengelilinginnya tadi
"Bisakah anda keluar dari ruangan ini." Suara Ayla begitu tegas. Thalita seketika tersenyum.
"Heh... kau mengusirku.. itu tidak bisa ini adalah ruangan Arga dan perusahaannya siapa kamu Ayla," ucap Thalita dengan mendorong bahu Ayla dengan jari telunjuknya.
Ayla menatap jari itu dan tertawa.
"Nona Thalita. Saya adalah Istrinya. Anda? Anda bukan siapa-siapa ingat Anda adalah orang luar dan asing didalam hubungan saya dan su-ami sa-ya!"
"Anda wanita terhormat dan ya.. selamat atas kelahiran anak anda."
Seketika Thalita mengepalkan tangannya. Menatap Ayla kesal.
"Ingat aku tidak akan takut dengan ancamanmu. Aku Thalita dan Kau..kau hanya Ayla yang bodoh. Istri tidaj berguna."
"Hem.. Baiklah jika itu mau mu. Aku akan menunggu semua hal yang ingin kau lakukan. Aku tidak akan takut hanya denganmu," ucap Ayla dengan melangkah sedikit dan menepuk pelan kedua bahu Thalita. Lalu tersenyum
"Heh.. baiklah sekarang kamu sudah berbeda. Tunggu hal yang akan segera datang padamu."
Thalita kembali menggunakan kaca mata hitamnya dan tak lama Arga masuk dan seketika Thalita memberikan berkas itu pada Arga.
"Thalita kau kemari?" ucap Arga datar.
"Iya. Aku hanya ingin memperpanjang kontrak kerja kita. Jika ingin aku juga bisa membuatmu menjadi lebih bahagia bersama ku."
Seketika Ayla melangkah dan mengecup bibir Arga singkat.
Thalita menatap hal itu dengan perasaan yang benar-benar kesal.
"See... aku selangkah di depan Anda. Hem.. bukan selangkah.. dua langkah. Lihat Thalita aku memang bodoh payah dan Heeh.. menurutmu buruk. Tapi, Arga adalah milikku dan Aku istri. Posisimu tudak ada apa-apanya di bandingkan dengan posisiku."
"Maaf Nona sepertinya kerja sama kita berhenti sampai sini dan saya juga tidak akan memperpanjang kontrak kita." Arga berucap dengan begitu santai. Sambil merangkul pinggang Ayla.
Thalita hanya bisa menatapnya dengan tatapan kesal dan pergi dengan merobek kertas kontrak kerja samanya. Membuangnya asal.
"Kamu menggodaku Ayla." Seketika Ayla tersadar. Tapi, terlambat. Arga sudah menarik Ayla hingga duduk di pangkuan Arga sekarang.
"Ah.. Ti-tidak aku tidak menggoda aku hanya mencoba berbuat sedikit berani."
Aku hanya ingin berani dan berubah sedikit untuk bisa menjadi lebih berani tapi, kenapa aku malah mencium Arga, batin Ayla kesal.
"Hem.. coba aku tebak kamu ingin terlihat tidak mudah tertindas bukan?"
"Haah.. aku-aku.. hanya ingin sedikit..."
"Sedikit berani," bisik Ayla.
"Tapi, Arga.. kamu tidak bisa melakukannya karena aku masih belum bisa dan Dokter Hanum enggak mengizinkannya sebelum empat puluh hari. Ingat!"
"Hem.. tidak bisa ya. Tapi, jika hanya seperti ini bisa?"
"Seperti apa.. hmppmm"
Serangan Arga membuat Ayla bungkam dan Arga lebih memilih menci*m Ayla hingga puas sebagai makanan kecil sebelum makan siang dengan nasi dan lauk.
__ADS_1
Karena Arga tidak bisa melakukannya maka Arga hanya menci*umi Ayla hingga puas.
Seketika Arga tersenyum karena Ayla lebih banyak memimpin di permainan kecil mereka.