
Mobil yang Ayla dan sopir kendarai tiba-tiba berhenti.
"Kenapa pak," Ayla bertanya pada Sopir yang tiba-tiba keluar mobil.
Kembali lagi sopir itu datang.
"Nyonya sepertinya bannya bocor dan bengkel jauh dari sini."
"Yaudah kalo gitu kita dorong aja pak." Ayla segera turun dan membantu Sopir untuk mendorong mobil.
"E..eh.. jangan! Nyonya, bisa-bisa saya di bunuh Tuan kalo anda membantu saya mendorong mobil."
Ayla kembali menegakan tubuhnya dari posisi mendorong mobil dan menatap Sopir.
"Lah terus gimana? Saya gak bisa naik taksi saya kan gak tahu jalan." Ayla menyengir memperlihatkan deretan giginya.
Tak lama taksil lewat sopir Ayla menghentikan taksi tersebut.
"Udah Nyonya naik saja nanti Saya kasih tahu alamatnya ke sopirnya." Sopir tahu Ayla bingung menatapnya memberhentikan mobil taksi.
"Ini gak apa-apa pak. Nanti kalo bapak sendirian gimana?" Seketika Sopir tersenyum dan menyerahkan bekal yang Ayla bawa untuk makan siang Arga yang di ambilnya dari dalam mobil.
"Nyonya sangat baik. Saya merasa tidak enak... Maafkan saya Nyonya besok lagi saya akan memeriksa kendaraan sebelum mengajak nyonya keluar, maaf kan saya Nyonya," jelas sopir itu lalu tersenyum.
"Ah.. baiklah tidak masalah itu pak, terimakasih ya."
"Oiya pak bayar taksinya gimana saya kan gak pernah naik taksi."
"Aduh maaf Nyonya saya lupa ngajarin ya, gini aja nyonya tingg liat di deket radio taksi biasanya ada tulisan nominal harganya atau tanya dengan sopirnya." Ayla mengangguk, melangkah masuk seketika kembali menegakkan tubuhnya.
"Maaf pak saya minjem duit bapak dulu boleh. Saya gak ada uang tunai dan isi tas saya gak pernah ada dompet." Sopir mengangguk.
"Terimakasih pak," ucap Ayla ketika sopir memberikannya uang tunai untuk naik taksi.
Sudah duduk didalam taksi Ayla membuka jendelanya.
"Pak nanti Arga yang gantiin ya uangnya.. maaf ya pak ngerepotin. Hati-hati pak."
"Iya nyonya sama-sama, nyonya juga hati-hati."
Taksi melaju meninggalkan sopir di pinggir jalan bersama Mobilnya.
Tak berapa lama Ayla sampai tapi di sebrang jalan tidak di depan kantor, karena taksi tidak di izinkan masuk ke halaman prusaahan ataupun depan terotoarnya.
"Berapa pak?" Tanya Ayla.
"Segini bu," menunjuk nominal yang terlihat di argo taksinya.
Ayla tersenyum dan memeberikan dua lembar pecahan ratusan.
"Makasih ya pak." Ayla langsung turun tapi sopir taksi menghentikannya lagi.
__ADS_1
"Bu kembaliannya."
"Buat bapak aja."
"Terimakasih bu." Ayla mengangguk dan segera turun dari mobil. Taksi berlalu meninggalkan Ayla.
Menengok kanan kiri untuk menyebrang. Cuaca juga berawan dan tidak terlalu panas.
Arga baru saja kembali dari metting di luarnya. Turun dari mobil, seketika pandangannya tak sengaja melihat Ayla yang akan menyebrang jalanan.
"Kau bawa Istriku masuk," ucap Arga pada salah satu petugas keamanan yang sedang berjaga. Mengarahkan Perintahnya pada Ayla.
Penjaga itu mengangguk. Segera pergi untuk menjemput Ayla yang akan menyebrang.
Baru beberapa langkah Arga akan memasuki Lobi Seketika suara rem kendaraan terdengar nyaring dan hampir semua pegawainya berhamburan keluar untuk melihat suara gaduh yang ditimbulkan kendaraan besar tersebut.
Arga menatap kesekeliling lalu menoleh kebelakang.
Ayla..batin Arga.
Berlari keluar, sampai di pinggir jalan Arga melihat semua orang berkerumun dan sopir truk tadi juga turun dari kendaraannya.
Arga melangkah untuk melihat, kenapa orang berkerumun disana.
"Kamu gak apa-apa?"
"Makasih aunty."
"Aunty ndak apa-apa?" tanya bocah perempuan tadi dengan polos.
"Gak apa-apa." Seketika terdengar teriakan dan orang-orang yang mengerubung tadi mempersilahkan wanita paruh baya itu lewat.
"Sayaang...kamu kok gak bisa diem sih. Oh ya ampun .. Terimakasih mbk... terimakasih. Anda gak apa-apa ada luka mb.. maaf ya mbk maafin anak saya." Ayla mengangguk dengan tersenyum.
"Lain kali dengerin ibu kamu." Wanita paruh baya tersebut tersenyum dengan ucaoan Ayla pada Anaknya.
"Lain kali jaga anak mu dengan baik." Suara berat Arga membuat semua orang menoleh kearahnya. Seketika wanita tadi langsung tidak enak.
"Maaf Tuan."
"Ya udah Bu makasih ya perhatiannya.. lain kali hati-hati." Ayla tersenyum pada wanita paruh baya tersebut. Wanita itu mengangguk dan tersenyum, langsung pergi membawa putrinya dan seketika Arga mengangkat Ayla. Melangkah meninggalkan tempat kecelakaan.
"Eh.. Arga.. makan siang.. yah.. gimana ini. Arga aku pulang ajalah makan siangnya tumpah." Ayla seketika teringat bekal yang di bawanya.
"Tapi, itu wadah bekalnya lumayan.. maahal Arga.. Itu di ambil dulu wadah makannya nanti buat bawa lagi gak ada.. Arga.."
"Diam."
Ayla langsung Diam dan tidak berani bicara.
"Arga aku akan turun saja aku gak terlalu sakit."
__ADS_1
Tatapan mata Arga mengarak ke lift Ayla yang mengerti menekan tombol lift dan lift terbuka lalu menekan lagi Lift tertutup.
"Arga aku minta maaf...Kamu gak jadi makan siang. Arga jangan marah.. jangan diemin aku.. aku gak tahan Arga.. Hiks..hiks..hiks..."
Sampai keluar dari lift Ayla masih menangis dengan menyembunyikan wajahnya di dada Arga mengalungkan tangannya di leher Arga.
*Lucu sekali.. Aku tidak bisa marah padamu Ayla.. Batin Arga.
Arga gak bicara sama sekali.. sekarang gimana ini aku bakalan dimarahin.. batin Ayla*.
"Arga maaf aku tadi gak sengaja ngeliat anak kecil yang nyebrang sendirian dan gak liat jalan pas mau nyebrang ada mobil truk spontan aku lari dan keseleo, untung anak itu gak kenapa-kenapa." Ayla langsung menjelaskan semuanya tanpa Arga minta.
Sampai di ruangannya Arga meletakan Ayla perlahan di sofa dan menelpon Larisa untuk mengobati Ayla.
Tak berapa lama Larisa masuk dengan mengetuk pintu dan Arga menunjuk Ayla dengan dagunya.
"Nyonya apa yang terluka?" Larisa langsung menghampiri Ayla dan berlutut di depan Ayla.
"Ah.. hem.. tidak ada tidak masalah."
"Nyonya berbohong." Larisa tersenyum dan membuka kotak p3k.
"Maaf Nyonya bisa di buka dulu outernya." Ayla mengangguk dengan terpaksa melakukannya.
Perlahan terlihat sikut Ayla yang lecet parah dan beberapa barut luka tipis dan kecil.
"Maaf nyonya sedikit sakit." Larisa yang tahu Ayla meringis ke sakitan sejak tadi.
Selesi Larisa mengobati luka Ayla. Sekarang pergelangan Kaki Ayla yang terlihat sedikit membiru.
"Maaf Nyonya bisa letakan kaki anda di pangkuan saya." Perlahan menahan sakit Ayla memberikan kakinya pada Larisa yang sudah berpindah duduk di sofa.
"Memangnya kamu bisa?" tanya Ayla yang mulai merasakan sedikit nyeri ketika tangan Larisa mulai menyentuh kakinya.
"Tenang saja nyonya saya sering melakukan ini sebagai ekskul pmr di sekolah dulu jadi dah gak baru lagi, udah kenyang ama beginian waktu sekolah..." menjawab dengan banyak, sambil mengalihkan perhatian Ayla.
".. Akh.." Ayla menggerakan kakinya dan tersenyum takut.
"Kalo gitu saya permisi Tuan Nyonya." Larisa keluar dari ruangan Arga membawa semua peralatan P3knya.
"Uh.. sembuh.. Wuuah.. hebat banget dia sekertaris cantik bisa urut. Yang kemaren sekertaris juga kan ya Aulia.. Wuaah keren sekertaris dua dah gak perlu dokter sama istri, Enak banget jadi Arga.. Suamiku punya dua sekertaris perempuan yang hebat." gumam Ayla. Menggerakan kakinnya dan menghentak-hentakannya pelan sambil duduk lalu berdiri.
"Hem.." Seketika Ayla menoleh ke asal suara. Meringis dan duduk kembali bersandar pada sofa.
Arga memberikan segelas Air pituh pada Ayla.
"Em...makasih." Meletakan gelas tersebut di atas meja setelah meminumnya.
Arga menatap Ayla dari kaki yang sudah tidak seberapa terlihat kebiruan. Sikut Ayla yang di perban dan lecet kecil di bagian tangan lainnya.
Arga Menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
"Hampir saja," gumam Arga.