Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Permainan dengan kejutan Thalita


__ADS_3

Ayla duduk di kursi dekat jendela balkon angin malam dan udara dingin masuk ke dalam kamarnya.


Arga yang masih sibuk diruang kerjanya saat ini. Jadi Ayla hanya sendirian saja di kamarnya.


Sambil memakan buah yang tadi Lisa bawakan untuknya. Juga salad sayuran yang tidak lama sudah habis.


Ayla dua kali lebih cantik malam ini entah kenapa itu terlihat sangat sempurna. Bahkan kecantikan Ayla malam ini membuat Arga bisa kembali dengan cepat ke kamar. Tanpa Ayla ketahui Arga sebenarnya sudah duduk di kasur memandang Ayla yang barus habis memakan salad sayurnya dan sekarang memakan buah segar di pangkuannya.


"Ayla." Arga sengaja bersuara karena tiba-tiba Ayla mengeluarkan air matanya. Arga merasa sakit hanya setetes air mata Ayla yang keluar di depan matanya.


"Haah.. Arga kamu baru masuk.. hem.."


Arga memberikan Ayla minum dan memandang wajah Ayla. Ayla segera mengusap dan menghapus air matanya


"Kamu menangis," ucap Arga.


"Hem.. Tidak hehe.. ini hanya kantuk aku terbiasa tidak menguap dan jadi seperti ini berkaca-kaca ya."


"Jangan sedih Ayla." Arga datar berucap pada Ayla yang sedang meminum air.


"Haah.. Tidak.. kok.. ini makan buah kamu mau?" Ayla menyerahkan buah itu ke depan padahal Arga ada di sampingnya.


Arga tersenyum dan mengambil satu potong dan memakannya. Mengambil gelas kosong itu dari tangan Ayla.


"Jika sudah selesai jangan langsung tidur." Arga berlalu meninggalkan Ayla yang mengangguk.


Arga melanjutkan pekerjaannya di kamar. Arga sengaja berpindah tempat karena Arga ingin memandangi wajah Ayla sambil mengerjakan oekerjaannya dan saatnya juga tepat. Ayla terlihat bersedih dan Arga ada di kamar ini untuk menemani Ayla.


Seketika ponsel Arga berbunyi.


Arga pergi ke luar balkon untuk mengangkat telepon itu. Sedangkan Ayla baru saja duduk di kasurnya.


"Iya." Sahut Arga pada Dafa.


"Tuan semuanya ternyata tidak bisa kita sangka jika itu perbuatannya." Langsung ucap Dafa tanpa berbasa basi lagi. Arga mengerutkan keningnya. menatap kedepan dengan mencengkram pagar pembatas teras balkon.


"Kenapa itu bisa berbeda?" Datar suara Arga terdengar oleh Dafa.


Di sebrang sana Dafa meneguk ludahnya kasar.


Semoga dia tidak menilai jika aku salah mencari informasi, batin Dafa.


"Semuanya sudah saya kirim melalu surel dan juga semua tentang hal yang Tuan Dhanu temukan."


Seketika telepon terputus sepihak oleh Arga. Dafa menatap layar ponselnya kosong.


Menghembuskan nafasnya kasar.


Di tempatnya Arga segera membuka surel yang Dafa kirimkan.


"Betapa bodohnya dia bertindak," gumam Arga.


Terlihat semua hal yang dikirim Dhanu dan apa yang Dafa temukan seperti editan.


Arga melangkah ke dekat telpon di kamarnya menelpon Lalita dan Lisa untuk menemani Ayla.

__ADS_1


Arga langsung keluar sempat sebelumnya Arga mengecup kening Ayla.


"Arga." Menoleh menatap Ayla.


"Aku sebentar saja. Lisa dan Lalita menemanimu disini."


"Kakak." Suara Lalita membuat Arga menoleh dan Ayla tersenyum.


"Jaga mereka dengan baik atau jatah internetmu akan aku batasi juga jajanmu," ucap Arga tegas menatap Lalita.


"I-iya." Meninggalkan Lisa dan lalita yang mengangguk ketakutan.


Ancamannya selalu saja uang jajan.. huh miskin-miskin, batin Lalita.


Di lantai bawah Arga memanggil Dafa dari teleponnya tak lama Dafa datang dengan beberapa bawahannya yang sudah di kumpulkan.


Arga menyiapkan pistolnya untuk menembak seseorang.


Memandang semua orang yang Dafa bawa. Berdiri di hadapan mereka semua.


"Siapa yang bisa membayar kalian lebih besar dari pada aku." Menatap semua bawahan Dafa


"Berani kalian membuatku celaka dan juga hampir membunuh istri dan anakku. Siapa katakan!" Mengangkat pistolnya di depan wajah seorang lelaki.


Wajah Arga sudah terlihat dua kali lebih menyeramkan dari biasanya terlihat Dafa saja tidak berani berbuat apapun jika Arga sudah sangat marah.


"Kau.."


"Apa aku kurang memberikan uang padamu. Berapa lama kau bekerja padaku."


"Heh.. Kau bilang maaf tidak.. Tidak akan pernah aku melakukannya."


Seketika suara tembakan di lepaskan Arga. Beruntung kamar Ayla sudah di tutup pintunya dan Lisa juga sudah mengerti situasi dan membuat suara tembakan dari luar tidak terdengar sampai ke dalam kamar Ayla.


Seketika semua menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.


Inilah Tuan Arga yang misterius bisa tenang bisa seperti tidak terduga.. kejam dan jahat, batin Dafa.


Orang yang sudah berlutut dan berteriak kesakitan karena kakinya di tembak Arga.


Orang yang sebelumnya di todong senjata oleh Arga tidak merasakan apa pun.


Seketika menoleh dan melihat teman di sebelahnya yang kini tengah meringis kesakitan karena peluru dari pistol Arga. Dia terkejut.


"Katakan siapa yang menyuruhmu melakukan ini?"


Arga sudah menatapnya dengan tajam dan mencekik leher lelaki didepannya.


"Heh.. aku tidak akan memberitahu mu." Tertawa keras didepan wajah Arga. Dafa sudah meneguk ludahnya kasar.


Orang yang di cekik Arga tertawa tapi, semua yang melihat itu lanhsung merasa menahan nafas dan berdoa semoga diri mereka tidak ada yang mati sekarang.


"Oiya.." Seringai aneh terlihat begitu menyeramkan di wajah Arga.


Dafa menghampiri Arga dan membisiki sesuatu di telinga Arga.

__ADS_1


"Hahah.. dasar payah lemah dengan seorang wanita lemah. Pantas kau mudah untuk di tipu!" ucap orang itu mencaci dan menilai Arga langsung di depan Arga. Tanpa takut sedikitpun dan ketika Dafa sedang berbisik di telinga Arga.


Tatapan mata Arga sudah sangat tajam seperti menusuk orang yang menertawakannya.


"Maafkan aku." Seketika Arga mencekik orang itu hingga kehilangan nafas dan tak sadarkan diri di tempat itu.


Dafa segera melakukan tugasnya.


Arga berdiri dan melangkah.


"Bersihkan bekas darah itu jangan sampai Ayla mencium baunya," dengan tegas Arga memberi perintah para pelayan.


Ruangan yang terang dengan seorang wanita yang sedang melakukan perawatan tubuhnya.


"Permainan ini lebih menyenangkan. Aku tahu Syena mempermaikanku aku akan lebih membuatnya terlihat di mata Arga hingga bisa menjauh. Kita lihat siapa yang bisa berdiri disamping Arga. Aku atau Syena. Dan Ayla wanita bodoh itu akan aku singkirkan jauh dari ke hidupan Arga."


"Sudahlah." Seketika semua pelayan yang membantu perawatan Thalita berhenti dan membantu Thalita untuk mandi.


Arga menelpon seseorang dari ruang kerjanya.


Di sebrang teleponnya ternyata Ten yang mengangkat ponselnya.


"Hallo Tuan Arga ada apa?"


"Tuan Ten saya kira sudah cukup putri anda merasakan kebebasannya. Lebih baik anda segera mengurus putri anda sebelum saya bertindak jauh. Saya juga sudah mengirimkan Surel pada Anda."


"Maaf Tuan Arga saya tidak mengerti apa yang anda ucapkan."


"Tuan Ten yang terhormat anda telah di bohongi oleh kedua anak anda. Jangan salahkan saya jika saya bertindak sesuka saya pada kedua anak anda."


Seketika telepone terputus oleh Arga. Ten segera memeriksa semua surel yang Arga kirim dengan tatapan tajam Ten menahan emosinya.


Ten menelpon tangan kanannya untuk mengurus putri dan putranya.


"Tunggu aku hingga kembali ke tanah air. Aku akan membuat perhitungan dengan mereka."


Di seberang telepon tengan kanan Ten menjawab seperlunya dan kemudian telepon tertutup.


"Segera tutup semua akses Tuan muda dan Nona tutup juga semua aktivitas di luar nona dan Tuan muda."


Semua bawahannya mengangguk. Tidak lama di Mansion Ten. Farhan dan Syena datang dengan wajah kesal dan ingin mencacimaki di depan wajah tangan kanan Ayahnya.


"Selamat datang Tuan nona." Sambutan yang begitu tenang di lakukan tangan kanan Ten.


"Aku tidak ingin basa basi.. sekarang buka kartu akses belanjaku dan kembalikan semua barang yang aku punya." Syena kesal dan berucap dengan nada di tekan dan menunjuk wajah tangan kanan Ayahnya.


"Kenapa kau tiba-tiba membawa semua dokumen penting yang ada di perusahaan dan membuatku kembali pulang setelah sampai di bandara. Apa mau mu." Farhan berucap tenang tapi, sebenarnya sangat marah dengan perbuatan tangan kanan ayahnya yang tiba-tiba.


"Maaf Tuan nona semua ini adalah pesan Tuan besar dan anda berdua di minta tinggal di mansion Tuan besar sampai Tuan besar kembali."


"Haah.. Kau gila aku tidak ingin aku akan kembali ke apartemenku." Syena melangkah pergi seketika gerakannya terhalang oleh dua pengawal perempuan.


"Hentikan semua ini kami ingin kembali seperti biasanya jangan pernah larang kami. Kami juga tidak pernah mengganggu mu," ucap Farhan dengan menekan semua kata-katanya.


"Maaf Tuan saya hanya menjalankan perintah. Bawa mereka kekamar dan kunci pintu mereka dari luar." Dengan tenang menghadapi Farhan dan Syena.

__ADS_1


__ADS_2