
Ayla menyambut kepulangan Arga sore ini ketika itu juga Ayla terlihat begitu mencurigakan di mata Arga.
“Kamu kenapa?” Ucap Arga.
“Apa yang di katakan olehmu semuanya dapat di percaya dan sangat di percaya.” Tersenyum menatap Arga.
“Sekarang bersihkan tubuhmu dan kita akan makan malam lalu aku akan bermain sedikit denganmu sayang,” ucap Ayla seketika membuat Arga buingung.
Beberapa menit kemudian.
Arga bingung karna Ayla tidak ada di dalam kamar setelah makan malam berlalu.
Tak lama Ayla keluar dari kamar mandi dengan dres tidur yang panjang sampai mata kaki dan jubah tidur berwarna maroon.
“Baru dari ruang kerja?” Ucap Ayla santai. Menarik Arga untuk duduk.
Arga mengangguk.
Ayla pergi ke sebuah laci, memgambil dan meletakan dua amplop coklat di samping Arga.
“Apa ini,” ucap Arga.
Meletakan ponselnya di nakas dan membuka semua amplop tersebut.
“Kamu memata-mataiku ya.. kamu tahu jika aku ...” Seketika Arga tersenyum dan meletakan Amplop tersebut menatap Ayla.
“Iya aku tahu semuanya.. aku tidak mudah dekat seseorang...
apalagi orang yang akan bekerja sama dengan perusahaan. Aku menyelidiki dulu latar belakangnya. Dan juga semua hal yang menyangkutnya.
Tapi, kamu berbeda Ayla,” jelas Arga.
“Oiya.. lalu foto lain Claudia dan Calysta juga perempuan lainnya dan beberapa orang lainnya kamu itu.. sebenarnya siapa Arga.” Menatap wajah Arga serius. Arga hanya balik menatap Ayla dengan wajah senang dan tersenyum.
“Aku suamimu,” jawab Arga santai.
“Heeh.. aku tahu tapi,” Ayla kembali berdiri dan mengambil sekardus kecil berisikan pistol dan sarung tangan dengan bau amis darah dan juga jaket.
Seketika Arga tersenyum menunduk dan menyugarkan rambutnya memperlihatkan dahinya yang bersih putih dan lebar.
“Sejauh mana kau tahu?” ucap Arga seketika.
“A-aku.. A-aku tahu hanya ini saja.. da-dan.. kenapa wajah kamu menyeramkan begini Arga?” Kesal Ayla. Seketika Arga berdehem.
“Baiklah sudah berapa bulan kita menikah dan sekarang kamu baru mengetahui tentang diriku sebenarnya,” ucap Arga.
“Arga kamu..kamu..”
“Ssstst... jangan bicara dulu biarkan aku yang bicara,” ucap Arga.
“Ya aku memiliki pekerjaan lain dan itu sangat berbahaya... dalam kerja sampingan itu. Kau bisa saling membunuh. Jadi, aku sengaja menyembunyikannya darimu,” jelas Arga.
“Haah.. apa! ...apa-apaan semua ini kenapa kamu ingin melakukan hal itu Arga..
itu-itu buruk itu tidak baik, aku tidak ingin melarangmu tapi, kamu dalam bahaya Arga,” seketika Ayla jatuh dan terduduk dan panik bergai macam pemikiran buruk muncul di kepalanya.
“Ini kenyataanya dan kau harus menerimanya,” ucap Arga santai menatap Ayla.
“Kenapa kamu baik padaku?” tanya Ayla seketika dengan bergetar ketakutan.
“Karena aku mencintaimu... dan menyayangimu semenjak aku tahu jika Orang tuamu menikahkan kita." Ayla menatap Arga.
****
Di tempat yang begitu ramai dengan pria dan wanita yang di penuhi hasrat yang meledak-ledak bersamaan suara dentuman musik yang keras.
__ADS_1
Seketika sunyi karena sebuah meja terbalik karena seorang lelaki yang mirip dengan Ayah Arga.
“Kurang ajar... kapan dia keluar dari Mansion?”
“Malam lalu Tuan, sekarang dia ada dirumah lain di tempat Tuan dan nyonya biasa datangi.”
Sebegitu kuatnya seorang Luis Marvelino mencari informasi tentang istri keduanya yang susah payah aku sembunyikan. Wanita bodoh itu, batin Lelaki bernama Emilio.
Emilio seorang pembisnis sukses usianya di bawah dua tahun dari Luis, ayah Arga.
****
Di dalam kamar Arga, seketika Ayla berdiri menatap Arga.
“Maaf kan aku karena aku terlalu penasaran.” Ayla menunduk melewati Arga. Berlalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Setelah Ayla berlalu masuk kamar mandi dan menatap wajahnya di depan cermin wastafel lama.
Di luar kamar mandi Arga masih duduk tenang di tepi kasur.
Menelpon seseorang.
“Lakukan tugas itu sekarang. Ayla sudah mengetahuinya, Kau bersiaplah untuk selalu waspada mengawasinya,” ucap Arga langsung setelahnya memutus sambungannya dan meletakan ponselnya lagi, lalu tersenyum.
Tak lama Ayla keluar lagi dan berjalan ketakutan mendekati Arga.
“A-arag aku minta maaf karena telah mencurigai dan penasaran,” ucap Ayla.
“Tidak masalah.”
“Apa-apa kamu marah?” ucap Ayla ketakutan.
Arga berdiri dari duduknya dan menatap Ayla yang menunduk.
“Sekarang kau tahu siapa suamimu perlahan semuanya akan terlihat.
Ayla mengangguk mengangkat wajahnya menatap Arga yang seketika tersenyum.
“Aku hanya mencintaimu tidak ada yang lainnya jika sampi suatu saat aku jauh darimu, jangan pernah berpikiran macam-macam aku akan selalu ada di sampingmu walaupun itu hanya bayanganku.
Kamu separuh jiwa ku... aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu. Dan saat ini detik ini aku tidak bisa lagi menerima permintaanmu untuk memamafkan mereka yang sampai melukaimu.”
Ayla menatap Arga.
“Untuk yang lalu aku biarkan untuk kedepannya tidak!” lanjut Arga.
“Tapi, Arga itu menyakitkan,” ucap Ayla menatap ketakutan.
“Ayla... aku sudah lelah mendiami mereka. Sekarang kamu harus bisa menerimanya jika sesuatu terjadi pada mereka.”
“Tapi, jika ...”
“Walaupun itu kedua orang tuamu aku akan menghukumnya,” ucap Arga tegas.
“Tidak.. jangan! permintaanku tetap berlaku untuk memaafkan tapi, jika sudah ke-keterlaluan aku akan melepaskannya dan membiarkan mu melakukannya.”
Arga tersenyum dan melangkah mendekat memeluk Ayla.
Tidak terasa balasan dalam pelukan Arga, Ayla menangis.
“A-arga bagaimana jika kamu di tangkap polisi dan kamu... akan di penjara.. lalu..”
“Sssst... Tidak akan bisa... itu semua bukan aku yang lakukan tapi orang itu sendiri,” ucap Arga.
“Tapi, kamu... jaket... baudarah dan senjata itu?”
__ADS_1
“Itu hanyalah hal biasa yang aku gunakan dan semua itu adalah darahku,” ucap Arga.
Seketika Ayla menarik dirinya dari pelukan Arga.
Arga melepaskannya dan tersenyum.
Membuka kaosnya dan memperlihatkan punggungnya yang penuh luka baru.
“A-arga..” ucap Ayla lemah seketika memeluk punggung Arga dai belakang dan menangis.
“Kenapa aku tidak tahu.. kenapa?” ucap Ayla.
“Saat itu kau juga mencakar luka jahitan ini dan kembali terbuka.”
Seketika Ayla mencari dan mendapatkannya seketika itu juga Ayla mengingat malam pertama mereka dan Ayla malu. Terlihat sudah kering dan samar tinggal luka baru yang hampir kering dan normal.
“Pakai baju mu aku akan tidur.” Merona dan malu begitu terlihat di wajah Ayla.
****
Waktu sudah melewagi tengah malam dan sekarang hampir menunjukan pukul satu dini hari.
Arga terbangun dari tidurnya untuk pergi dari Mansionnya.
Seketika Arga terkejut dengan suara langkah kaki ketika Arga akan meniki mobilnya. Menoleh.
“Kembali dan dengan baik-baik,” ucap Ayla.
“Iya,” Arga tersenyum dan masuk kedalam mobilnya tak lama pria berjas hitam dan wajah datarnya berlarian di sekitar Mansion dan berdiri seperti berjaga.
Ayla menatap mereka dan mengangguk.
Melangkah kembali kekamarnya seketika Ayla teringat Lalita.
Membuka kamarnya dan melihat keadaan Lalita.
Pintu yang bisa Ayla buka tidak di kunci sama sekali.
“Lalita.” Panggil Ayla.
Seketika Ayla melihat Lalita yang tidak ada di kasurnya dan menyalakan lampu untuk memperjelas.
Mendengar suara air di kamar mandi. Ayla menunggu Lalita.
“Loh kak,” ucap Lalita.
“Kamu sudah tahu jika Arga seorang.. yang memiliki pekerjaan bahaya?”
“Maksudnya?” ucap Lalita berjalan menghampiri Ayla.
“Ehm..” Ayla ragu.
“Oh itu... kenapa kakak baru sadar.” Lalita seketika tersenyum kecil dan duduk di samping Ayla.
Ayla mengangguk.
“Tenang kak, Kak Arga itu mencintai kakak dengan tulus aku saja yang adik tiri yang hampir menyukainya juga. Kak Arga memang tampan.”
“Sekarang karena kak Ayla aku akan belajar menjadi lebih baik” ucap Lalita.
“Eh.. Lalita kamu?”
“Iya kak aku memang sudah berubah sejak aku tahu aku adalah orang asing satu-satunya di rumah ini dan aku akan berusaha untuk tidak menyusahkan kalian walaupun aku terlihat lebih buruk.”
“Hey.. hey.. bicara apa.. aku menyayangimu Lalita.”
__ADS_1
“Ya sudah tidur lah aku akan pergi kekamar dan tidur.” Ayla pergi meninggalkan Lalita yang akan kembali tidur.