Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Tidak perlu bicara baik padanya


__ADS_3

"Aku masih belum menyelesaikan ini dari permaianmu," ucap Rosa tiba-tiba. Menatap Farhan yang sedang memainkan permainan judinya.


"Kau menyukai adikku bukan," ucap Rosa.


"Kau baru mengakuinya." Menatap Rosa dan tersenyum meremehkan.


"Tuan Farhan Putra pertama Tuan Ten. Kekayaan mu masih kalah jauh dari Arga tapi, kamu cukup baik dan lumayan jika ku ajak bekerja sama bukan," menatap Farhan dengan senang dan berbinar bahagia tersenyum lebar.


Membuka kartunya dan seketika Rosa menutup mulutnya. Tersenyum menatap Farhan yang kecewa.


"Apa mau mu," ucap Farhan datar.


"Mudah, ehm.. kita minum," ucap Arga.


Di meja tersedia minuman dan ada Sofa nyaman. Farhan dan Rosa saling duduk bersama di satu Sofa panjang.


"Aku ingin kau membawa Ayla jauh dari kebahagiannya."


Seketika Farhan tersenyum miring.


"Heh.. payah. Kau kakak yang aneh. Aku sudah pernah melakukan itu."


" Yaa aku tahu kau sudah melakukan itu dan kau yang hampir mati karena Arga membuatmu kehilangan banyak darah dengan pelurunya, bukan."


"Rosa... pergilah jangan ganggu aku," ucap Farhan mulai kesal.


"Tidak aku akan menunggu jawabanmu hingga kau mengatakan iya."


"Apa urusanmu. Ingin atau tidaknya aku melakukan sesuatu pada Ayla kau juga tidak akan peduli lagi."


"Satu lagi aku tidak suka di atur."


Rosa terkekeh. Menuang wine ke dalam gelas Farhan.


"Kau yakin.. tapi, aku bisa langsung membunuh Ayla jika kau tidak menginginkannya lagi." Seketika Farhan menatap Rosa tajam.


Seketika itu juga wajah Farhan dan Rosa begitu dekat dengan jarak yang bisa membuat mereka saling merasakan hembusan nafas satu sama lainnya.


"Aku ingatkan padamu, JANGAN CAMPURI URUSANKU DAN KAU LAKUKAN SENDIRI URUSANMU." Menekan semua keliamat ancamannya.


"Hem.. tentu.. Aku akan menghabisinya dan kau akan melihatnya mati."


Mendorong Farhan dan pergi dengan senyuman, mengangguk lalu berjalan menjauh.


Di kamarnya dua orang sedang saling diam sejak beberapa jam yang lalu.


Arga menatap Ayla yang sejak tadi diam saja dan setelah makan malam juga.


"Ayla. Aku minta maaf," ucap Arga.


"Iya."


Ayla menatap televisi yang memeperlihatkan adegan film action.


"Ayla..."


"apa?" ucap Ayla yang mulai luluh dan sekarang menatap Arga dengan tatapan kesal.


Mematikan televisi tersebut. Dan mendekat pada Ayla.


"Aku pergi untuk menyelesaikan urusanku dan sekarang aku langsung kembali setelah urusanku selesai."


Ayla mengangguk.

__ADS_1


"Sekarang jangan marah."


"Kalo gitu ponselnya engga di butuhin."


"Kenapa?"


"Kamu enggak ngirim pesan apapun kamu juga engga nelpon aku sama sekali Arga."


"Berguna Ayla nanti aku akan menghubungimu jika situasinya senggang ketika aku keluar kota."


Mengambil ponsel itu dari tangan Ayla dan meletakannya di atas nakas sebelah ponsel Arga.


****


"Kalian semua tidak becus tidak bisa di andalkan.. lihat bagaimana jika Mereka membocorkan semua informasi ini." Emilio kesal berkali-kali lipat akibat rencana yang kembali gagal. Dan anak buahnya yang ditahan oleh Dafa.


"Maaf Tuan."


"DIAM.. DIAM.. SEMUA DIAM ATAU AKU AKAN MENEMBAK KEPALA KALIAN SEKARANG JUGA HAH..."


"Arga marvelino... kurang ajar Akh..." Melempar gelas hingga pejah berkepingkeping di lantai.


Seketika suara mobil dan juga langkah kaki mendekati Emilio.


"Emilo.. berhentilah menganggu putraku.. aku sengaja membiarkan rencamu sore ini. Dan malam ini aku datang untuk memastikan jika rencamu kembali gagal." To the point ayah Arga ketika sudah melihat Emilio dari kejauhan langkahnya memasuki Mansion.


"Haahah.. kau datang.. datang dengan sendirinya.. sudi kakimu menginjak rumah dan lantai yang sebenarnya haram untuk kau injak Luis." Menatap remeh.


Tersenyum menatap Emilio.


"Berusaha bicara baik untuk membuatmu mengerti. Seharusnya contoh sore ini membuatmu mengerti jika kau juga tidak bisa menyentuh menantuku walaupun se ujung kukunya."


"Hah.. Sombong sekali." Membuang wajahnya dan berdiri berjalan menghampiri Ayah Arga.


Terkekeh. Emilio mengerutkan keningnya.


"Tanpa bantuan wanita yang menghipnotis menantuku lelaki itu juga tidak akan bisa membawanya pergi."


"Aku tahu kau memintanya melakukan itu. Dia setuju dan caranya adalah miliknya dan bukan berasal darimu. Itu juga membuktikan jika dia tidak percaya den rencanamu yang payah."


"Kurang ajar.. Luis.. aku tidak terima sejak tadi kau mengolok-ngolokku. Kau lebih dari..."


"Lupakan saja masa lalu itu dan kini kau harus hidup bahagia dengan istrimu sebelum aku membocorkan padanya tentang hubunganmu dengan Utami."


"LUIS!"


"YAA.. Brother.. what.." ucapnya dengan nada mengejek.


"Sudahlah.. kau sudah tua dan aku juga. Kau akan memiliki cucu sekarang. Bertobatlah." Ayah Arga tersenyum berjalan mendekat dan merapikan kerah kemeja Emilio.


"Cih.. Kau yang harusnya meminta maaf padaku dan memberikan warisan itu padaku sekarang juga."


Ayah Arga yang sudah melangkah menjauh seketika menghentikan langkahnya dan mengubah wajahnya menjadi kesal dan murung.


"Nanti ketika kau menjadi lebih baik baru aku akan memberikannya padamu," hanya menoleh ke samping lalu kembali melangkah meninggalkan Emilio.


"Baiklah aku akan melkukan apapun untuk calon cucu dan kau ingin menghasut istriku... lakukanlah aku tidak takut. Jika istriku mengamuk dan marah aku tidak masalah justru senang lagi aku bisa menghabisi ke bahagiaan putramu."


Tetap melangkah pergi meninggalkan mansion dan Emilio yang masih bicara panjang lebar.


*****


Pagi yang cerah dengan embun yang masih menutupi sinar mentari.

__ADS_1


Sibuk dengan Arga dan dan juga sarapan yang sudah selesai di masak.


Sekarang Ayla membantu Arga bersiap dengan dasi dan jasnya lalu sepatu.


Seketika Arga mengajak Ayla untuk duduk tenang. Mengecup pucuk kepala Ayla. Melangkah mengambil sepatunya.


Lalu memakainya di hadapan Ayla.


"Sudah semua, sekarang sarapan dan kau juga harus sarapan yang benar." ucap Arga. Arga mengajak Ayla untuk peegi sarapan bersamanya.


Sampai di meja makan semua sudah berkumpul dan ayah Arag sudah saraoan lebih dulu.


"Ayah maaf lama ya.." Ucap Ayla dengan wajah senang dan cerahnya.


"Wah.. wah kau senang sekali sayang." Ayah Arga mengelus kepala Ayala layaknya putrinya sendiri.


"Ayah minta teh tanpa gula. Panas ya," ucapnya.


Ayla mengangguk pergi ke dapur untuk membuatkannya.


Arga duduk di kursi dekat ayahnya.


"Aku semalam datang ke tempatnya dan mengatakannya dengan baik," ucap Ayah.


"Tidak perlu pak Tua itu tidak bisa di ajak bicara baik."


"Sopanlah sedikit dengan pamanmu."


"Haah.. Paman. Tidak ada gelar paman untuknya dariku karena buruknya perbuatannya pada Bunda dan ayah juga Kakek."


"Lupakanlah tentang itu ayah juga sudah melupakannya. Pamanmu membutuhkan angin segar untuk membuatnya berpikir jernih."


"Hem."


Ayah Arga hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar ketika Arga hanya menjawab dengan dehemen. Tidak lama Ayla datang dengan dua cangkur minuman hangat.


Kopi tanpa gula dan ampas untuk Arga dan teh melati untuk ayah mertuanya.


"Ayla."


"Ayla."


Saling berpandang dan tatapan Ayla pada ayah dan suaminya juga menatap bergantian.


" I-iya.. Kenapa Ayah.. Arga."


Seketika suasana menjadi lebih kaku karena Arga dan ayahnya tidak mau mengalah untuk bisa bicara dengan Ayla baik-baik.


"Iya.. baik-baik.. Ayla akan mengantarkan makan siang untuk Ayah dan juga Arga. Ayla tidak janji tapi, jika Ayla bisa Ayla akan antarkan."


"Lebih baik makan di rumah saja ketika makan siang jadi kak Ayla tidak kelelahan," ucap Lalita seketika.


"Lalita," ucap Arga dan Ayahnya bersamaan dengan tatapan tajam dan pandangan mata yang mengikuti Lalita memasuki dapur.


"Haah.. aku akan pulang kerumah," ucap Arga mengalah.


Ayahnya juga mengangguk.


"Baiklah sekarang hari sudah sedikit lebih panas ini juga sudah pukul tujuh.."


Mengantar sampai teras mencium ke dua tangan lelaki yang akan berangkat bekerja.


"Hati-hati Ayah.. Arga." ucap Ayla.

__ADS_1


Dengan senyuman yang mengembang cerah tentunya.


__ADS_2