Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Genap setahun


__ADS_3

Acara yang sedikit mewah tanpa mengundang banyak tamu. Hanya beberapa kenalan dan juga keluarga dekat datang bersama anak-anak mereka.


Ayla dan si kembar terlihat begitu serasi dengan acara yang sekarang membuat Angga dan Zelin seperti raja dan ratu.


"Lihat sini," ucap Lalita mengambil gambar keduanya di depan kueh tar yang mewah.


Sebenarnya Ayla ingin pesta kecil seperti dirinya dan orang rumah juga pelayan yang menikmati hari jadi si kembar yang genap setahun.


Tapi, Arga minta untuk di meriahkan hanya untuk keluarga terdekat bersama anak-anak mereka datang.


Arga datang dengan membawa hadiah yang di bantu Aulia dan Dila.


Dafa juga memberikan bingkisan kecil untuk Zeline dan juga Angga.


"Papa akan melihatmu seperti bayangan papa kelak nak." Arga mengecup kening Angga.


"Cantik dan sangat sulit di dapatkan.. Semoga kamu selalu menjadi perempuan terbaik." Mengecup kening Zeline.


Acara potong kueh dan juga menikmati hidangan sedang berlangsung. Si kembar juga senang bermain dengan Aulia dan Dila. Seketika Lalita meminta izin untuk pergi karena temannya menelpon.


Lalu Ayla yang pergi untuk mengambilkan kueh yang Angga jatuhkan. Semua sibuk Ayla tidak bisa memanggil pelayan lainnya. Jadilah Ayla yang mengerjakannya sendiri.


Perlahan satu persatu pergi untuk hal yang ingin mereka lakukan sekarang Dila yang menjaga mereka berdua dengan santainya Dila mengeluarkan sebuah benda tajam dan juga sebuah tisu.


"Lihat kemari anak cantik. Semuanya sedang pergi sekarang hanya kita bertiga. Bagaimana jika kita bermain untuk melancarkan tugasku dan menyelesaikan tugasku."


Dila memberika tisu yang membungkus benda tajam itu pada Zeline dan seketika Zeline menerimanya dan memainkannya. Dila langsung pergi dari sana meninggalkan keduanya sendiri.Tidak lama setelah Dila pergi Ayla datang dan melihat Zeline sedang memainkan garpu yang terdapat kueh.


Di bawah meja jauh dari tempat si kembar dan Ayla berada benda tajam itu ada di sana.


Seketika Zeline tersenyum ketika Arga mengangkatnya dan memangkunya. Lalu Angga yang kini ada di pangkuan Ayla.


Dila yang baru saja kembali dan melihat dari kejauhan apa yang Zeline pegang juga melihat wajah Arga dan Ayla. Semua baik-baik saja.


Seketika mata Dila melihat benda yang dia berikan pada Zeline ada di bawah meja dan bersih dari darah warna tisu juga masih putih.


Dila menggeleng dengan wajah piasnya.


Menghubungi seseorang dan memasuki Toilet. Dila menelpon Thalita.


"Kau yang bodoh.. aku kali ini melihatnya sendiri Anak kembar itu anak yang aneh. Aku sudah katakan padamu bukan di cafe dekat stasiun." Kesal Dila, menatap wajahnya di depan cermin.


"Hey.. hey. tenanglah.. kau berisik sekali. Iya aku tahu. Bagaimana apa anak itu mati." Sahut Thalita di sebrang sana dengan santai.

__ADS_1


"Thalita bodonya dirimu aku harus menjelaskannya berapa kali. Aku akan pergi dan terserah padamu. Jika sudah begini aku bukan berhadapan dengan anak biasa tapi aku berhadapan dengan sosok istimewa." Kesal Dila bicara di telpon. Thalita hanya tersenyum sambil melihat warna kukunya yang cantik dan juga perawatan kakinya yang pelayan sedang kerjakan.


"Hahaha."


"Kau lucu sekali Dila..Dila."


"Jika begitu. Berarti kau meminta nyawa keluargamu yang melayang dan menggantikan kerugian yang kau buat." Thalita dengan santai mengingatkan perjanjian mereka.


Dila berdecak menatap wajahnya di depan cermin.


"Baik.. Besok aku akan menyelesaikannya besok."


"Terserah.. aku hanya menunggu bagaimana kamu selesai dan segara aku mendapat hasil kerjamu."


Memutus sambungan Telepon Dila oleh Thalita.


"Lihat saja kali ini aku akan gagal dan kau akan ketahuan." Dila berdecak kesal didepan layar ponsel yang sudah berwarna hitam.


Di tempatnya sekarang Thalita sedang duduk di pinggir ranjang menatap ponselnya. Lalu tersenyum. Menatap kedepan.


Di tempat lainnya.


"Rosa aku mengatakan untukmu melakukannya dengan benar jika salah aku akan menambah hukumanmu," ucap Edward.


Dengan memundurkan tubuhnya perlahan hingga kembali membentur tubuhnya di sandaran ranjang.


"Kau tidak akan mendapatkan ponsel ataupun menghubungi orang luar. Belajarlah menjadi istri yang baik. Tidurlah aku akan tidur di tempat lajnnya."


Edward melangkah pergi meninggalkan Rosa yang kesal sendiri.


Haaah.. ini neraka buatku.. mana ada wanita yang bisa hidup tanpa belanja dan bersenang-senang. Akh... Edward.. kesalaha.. benar benar kesalah aku menjadikannya alat untuk memintanya membangun prusahaan ayah yang baru. Akh Sial.. sial..malah sekarang ini aku tidak bisa bebas...batin Rosa.


Dila dan Aulia berpamitan pulang dan tak lama setelah itu Datang Emilio dan Utami untuk memberikan ucapan selamat.


Wajah Luis Lalita dan Arga sudah tidak nyaman dengan kehadiaran Utami dan Emilio.


"Senang bertemu dengan mu Luis." Emilio memberikan tangannya untuk berjabatan tangan.


Menggantung di udara seperti tidak dianggap. Terkekeh menatap tangannya menariknya kembali.


"Mau apa kalian datang." Ayah Arga mematap dengan wajah datar dan tidak suka.


"Tenang Luis aku hanya ingin datang dan menengok cucuku." Utami berjalan menghampiri kedua anak tersebut yang masih dalam pengawasan Ayla.

__ADS_1


"Ayla.. apa mereka sangat sehat? "


"Iya." Ayla menatap Utami biasa saja.


"Baguslah. Hem.. mata abu-abu dan mata coklat yang indah. Tampan seperti ayahnya manis seperti ibunya." Utami berjongkok di depan keduanya.


"Haay.. apa kabar kalian apa kalian nyaman dengan kedua orang tua kalian.. Jika kalian bosan kalian bisa bermain denganku." Utami kembali berdiri dan Menatap Ayla remeh.


Lalita tidak menatap Wajah Utami sama sekali. Hingga suara tembakan memekakan telinga.


Dafa segera membawa Ayla Lalita dan si kembar menjauh.


"Kalian selalu membawa masalah."


"Ups maaf mantan suamiku. Aku hanya memberikan sedikit kembang api dan satu ruangan ini akan terbakar. Jangan salahkan aku ya.. karena ini semua adalah kau penyebabnya."


Seketika Ledakan membaut Arga menoleh kebelakang melihat Ayla dan si kembar dalam gendongan Lalita dan Ayla dalam bahaya. Tamu undangan juga sudah di bubarkan. Dafa yang baru saja akan keluar bersama Aulia dan Dila tidak jadi dan sekatang Dafa bersama Lalita dan Ayla juga pengawal linnya untyk melindungi Angga Dan Zeline.


Dila dan Aulia juga berusaha keluar dari sana. Mereka belum sempat keluar karena semu terjadi begitu cepat.


Siapa kedua orang itu, batin Dilla.


Arga berlari menyelamatkan Ayla dan seketika dari arah lainnya tembakan mengenai lengan Ayla.


"Akh.. kakak." Teriak Lalita seketika. Angga yang terkejut langsung menangis kecang bersamaan dengan Zeline yang juga menangis.


Ayla memberikan Angga di gendongannya pada Dafa dan merebut pistol di tangan pengawal mereka yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri.


Melihat Ayla memegang kedua pistol tanpa bergetar ketakutan membuat Dafa dan Lalita saling berpandangan.


"Cepat pergi." Ayla membawa mereka menjauh.


Aku tidak bisa takut sekarang jika aku takut dan menangis Angga dan Zeline dalam bahaya, batin Ayla.


Seketika Ayla melepaskan beberapa tembakan hingga semuanya aman dan tak sengaja mata Ayla melihat alat yang sangat Asing.


"Dafa Lalita kalian bawa mereka pulang dan jaga mereka. Jangan pergi meninggalkan mereka sebelum aku atau Arga yang menemui kalian di rumah."


Sampai di parkiran mobil Ayla langsung menyuruh untuk segera pergi membawa Angga dan Zeline untuk segera Aman.


Sudah jauh Mobil meninggalkan Parkiran. Seketika dari jauh Dila datang.


"Maaf Nyonya saya tidak bisa menyianyiakan kesempatan ini." Seketika Dila melepaskan tembakannya.

__ADS_1


__ADS_2