Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Ten dan istrinya.


__ADS_3

Ayla pergi kekantor siang ini bersama Zeline dan Erlangga karena Arga yang memintanya.


Baru sampai di lift Ayla bersama si kembar bertemu Dila.


"Mereka manis sekali." Dila melirik si kembar.


"Terimakasih." Ayla menjawab sapaan Dila.


Seketika Dila sadar jika si kembar itu adalah anak Ayla.


"Eh.. nyonya maaf." Dila tidak enak hati dan mengangguk tersenyum gugup.


"Tidak apa.. kenapa kamu seperti ketakuan hanya menyapa saja." Ayla berucap dengan ramah.


Sampai Lift di lantai tempat ruangan Arga berada. Ayla keluar lebih dulu bersama kereta bayi. Lalu Dila di belakangnya mengikuti.


Sampai di depan ruangan Arga. Dila membantu membukakan pintu untuk Ayla.


"Terimakasih." Dila mengangguk dengan ucapan Ayla. Setelah Ayla masuk Dila kembali menutup pintunya.


Terlihat lemah.. bisalah aku membuatnya tidak berdaya, batin Dila.


Sampai di ruangan Arga Ayla mendudukan si kembar di tempat bermain di ruangan Arga yang tersedia.


"Ternyata Papa kalian sudah menyiapkannya makannya kalian di suruh datang." Melihat si kembar yang nyaman bermain dengan tempat bermainnya. Kini si kembar sudah mulai melajar duduk tanpa di temani atau di jaga. Hanya perlu di awasi dari dekat.


Terdengar suara pintu terbuka. Ayla menoleh melihat Arga masuk bersama Ten dan istrinya.


Ayla langsung berdiri dan menyambut Ten dan istrinya.


"Oh.. Ayla ada di sini juga bagaimana kabarnya. Maafkan Syena ya.. dia sudah saya hukum dan Farhan juga sudah saya kirim untuk mengurus perusahaan dan saya juga sudah tunangkan dia, Hem...jadi Anda tidak perlu takut untuk di ganggu lagi," ucap Istri Ten dengan menggenggam kedua tangan Ayla. Ayla menatap lembut dan menoleh menatap Arga terkekeh. Kembali menatap istri Ten.


"Haah.. maaf kan saya, tidak perlu berlebihan seperti ini saya jadi tidak enak. Silakan duduk," ucap Ayla. membawa mereka berdua duduk.


Seketika tawa Zeline begitu keras membuat ke empat orang yang sedang berbincang hangat menoleh.


"Ada mereka ternyata di sini. Apa boleh?" Istri Ten menatap Ayla meminta izin.


"Silakan."Ayla membawa Zeline lalu Istri Ten memangkunya. Tidak lama Erlangga juga ingin ikut menyapa Ten dan Istrinya.


"Lihat Pah.. kita seperti nenek dan Kakek sekarang." Istri ten begitu senang memangku Zeline.


Terdengar suara ketukan pintu. Menghentikan pembicaraan mereka yang membahas hal-hal tentang bisnis dan juga si kembar.


"Permisi. Tuan.. ini barang yang anda minta."


Tiba-tiba Aulia masuk membawakan dua bingkisan. Setelah meletakannya di dekat Ten, Aulia mengangguk dan pergi.

__ADS_1


"Ayla.. ini hadiah dari kami untuk si kembar. Juga permintaan maaf karena ulah Farhan.. aku sangat menyayangkan jika bagaimana waktu itu.. Hem.. sudahlah yang penting sekarang mereka hadir di sini dan terlihat sehat. Ini adalah hadiah kecil untuk mereka dan juga untuk si manis Zeline terutama. Erlangga anteng saja ya sejak tadi." Istri Ten memberikan bingkisan paperbag basar itu.


"Telimakasih," ucap Ayla mengikuti suara bayi.


"Sama-sama ganteng," jawab Istri Ten.


Setelah melanjut beberapa menit berbincang lagi Ten dan istrinya pamit pulang.


Kini hanya Ayla, Arga dan si kembar yang tertidur pulas di ruang istirahat.


****


Ayla yang baru keluar ruangan Arga bersama kereta bayinya seketika menghentikan Kereta bayinya di depan meja sekertaris.


"Ehm.. Permisi La.. eh.. kamu," ucap Ayla melihat Dila sendirian di meja sekertaris.


"Kamu baru disini?" tanya Ayla yang menatap Dila.


"Iya Nyonya saya disini sebagai pengganti Larissa, dia tidak bisa bekerja lagi karena alasan pribadi." Penjelasan Dila membuat Ayla mengangguk.


"D-i-l-a. Itu namamu," ucap Ayla dengan mengeja nama Dila di kartu nama yang masih tergantung di lehernya.


"Iya Nyonya, saya," ucap Dila dengan mengangguk ramah tersenyum.


"Ehm.. kalo gitu kamu bisa tolong jagain sebentar si kembar saya mau kedalam, ada barang yang ketinggalan."


"Ah.. iya bisa." Dila mengangguk dan melangkah menghampiri si kembar dan Ayla langsung kembali masuk kedalam ruangan Arga. Langsung mencari dimana barang yang dirinya tinggalkan tadi.


"Hey.. anak menyedihkan. Kalian tahu jika aku di suruh menghabisi kalian." Dila mengusap kepala keduanya turun ke telinga lalu menariknya pelan perlahan jari Dila meraih hidung Erlangga dan menekannya sedikit dengan kukunya.


Sedikit darah keluar dari tekanan kuku yang Dila lakukan di hidung Erlangga. Tatapan mata Erlangga juga sangat tajam menatap Dila.


Seketika Dila meraup wajah Zeline dan menahan hidungnya agar tidak bernafas.


"Rasakan kalian hari ini akan mati dan aku akan pergi dari sini." Dila akan membawa kereta bayi menuju Rooftop.


Seketika Ayla menemukan barangnya di Sofa dekat ranjang di ruangan istirahat. Segera keluar dari ruangan Arga.


"Eh.. ketemu juga Terimakasih ya Dilla," ucap Ayla ketika melihat Dila yang baru bangkit dan berjalan memutari kereta bayi untuk mendoronganya.


"Iya.. Nyonya Sama-sama," ucap Dila langsung mengangguk dan berdiri menyampingi kereta bayi.


Ayla menghampiri anaknya dan terlihat begitu tenang.


"Tidak Rewelkan." Ayla menatap Dila.


"Ah.. Iya.. Tidak Nyonya mereka sangat tenang dan juga terlihat sangat lucu..ketika tidur," ucap Dila sambil mengikuti langkah Ayla dan melihat si kembar yang terbangun dengan mata yang terbuka dan memaikan tangan dan kakinya di gerak-gerakkan.

__ADS_1


Hidungnya... kenapa mereka... aneh. Dan tadi Yang satunya sudah tidak bernafas sepertinya sekarang mereka.. ini aneh.. anak-anak ini, batin Dila.


Berpikir tentang hal yang sudah di lakukannya pada kedua bayi itu tapi, kenapa sekarang kedua bayi itu terlihat baik-baik saja dan bayi yang satunya harusnya hidungnya berdarah.


"Dila, Saya pulang dulu, " ucap Ayla sambil mendorong kereta bayinya. Dila mengangguk lalu Dila membantu membukakan pintu Lift dan mempersilahkan Ayla masuk lalu Ayla menekan lift untuk turun.


"Sialan. Hampir saja aku bisa membunuhnya," gumam Dila. Berjalan kembali ke mejanya dan duduk dengan meraup wajahnya dan berpikir keras.


"Apa yang bisa ku lalukan kau tidak tahu jika mereka anak yang aneh." Pesan Dila terkirin pada Thalita.


Di tempatnya Thalita membuka pesan di ponselnya.


"Mereka bukan anak biasa. Aku sudah mengambil kesempatan untuk membunuh mereka. tapi, mereka langsung baik-baik saja." Pesan Dila kembali terkirim.


"Apa maksudmu aku tidak mengerti," pesan singkat Thalita.


"Kita bertemu di cafe dekat stasiun jam sembilan." Pesan terakhir Dila.


Ayla baru sampai di Mansion setelah beberapa menit dan langsung pergi kekamar bersama si kembar. Mengganti pakaiannya.


Tiba-tiba Mata Ayla tidak sengaja. Melihat setetes darah yang sedikit mengering di kain Erlangga.


Ayla menatap heran dan segera melihat Erlangga memeriksa bagian tubuh dan wajah juga semua badan Erlangga.


"Tidak ada luka. Apa telinganya." Ayla segera mengambil senter dan melihat telinga Erlangga.


"Ini semua aman," gumamnya.


"Bibi! Bi!" Teriak Ayla berlarian menuruni tangga.


"Ada apa Nyonya." Lisa datang bersama Bibi pengasuhnya juga.


"Bi Tolong Telepon dokter Hanum." Seketika Lisa dan Bibi pengasuh terkejut.


Di kamar si kembar kini Dokter Hanum selesai memeriksa kedua bayi itu.


"Semuanya aman mereka tidak terluka. Mereka juga sehat."


"Tapi dok itu Darah di kainnya." Ayla memperlihatkan bekas kain yang ada setetes darah.


"Mungkin itu hanyalah saos atau darah lain yang tidak sengaja jatuh yang penting perhatikan saja kebersihannya ketika habis berada di luar rumah dan bertemu banyak orang."


Dokter tersenyum menatap Ayla.


"Ehm.. Terimakasih Dokter."


Dokter pergi dengan di antarkan Lisa.

__ADS_1


Ayla seketika tersenyum melihat Erlangga tersenyum padanya.


__ADS_2