Istri Buta Tuan Muda

Istri Buta Tuan Muda
Edward dan Rosa


__ADS_3

Rapat kali ini selesai dengan cepat setelah beberapa orang pergi Edward melangkah menghampiri Arga ke mejanya dan meminta pelayan menyiapkan minuman jus untuk mereka di ruangan VIP.


Duduk berhadapan dengan Arga dan seketika pelayan datang membawakan minuman untuk mereka.


"Katakan apa yang..."


"Kau tahu jika Rosa akan melakukan rencana pembunuhan untuk kedua anakmu." Seketika ucapan Edward yang memotong ucapannya membuat Arga terdiam dan menatap Edward dengan tatapan tajam.


"Bukankah aku meminta mu untuk mengawasinya aku... tidak bisa menghajar perempuan, kau tahu!" Arga kesal dan kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan sedikit kasar.


"Tidak.. bukan itu. Berarti kau sudah tahu jika Rosa akan membuat rencana itu, marah saja. Aku sudah menekannya tapi, aku masih ragu jika dia masih berani dan juga Aku akan menikah dengan Rosa beberapa minggu lagi jangan lupa untuk datang dan ya.. persiapkan makan malam untuk malam ini karena aku akan datang bersama Rosa."


"Kau ... Akh.. bagaimana bisa aku memiliki teman sepertimu.." Arga frustasi dengan sikap Edward yang aneh dan pikiran temannya yang satu ini benar-benar membuat Arga benar-benar heran.


"Kau menyesal?" ucap Edward lalu meminum jusnya. Menatap Arga dengan tatapan santai dan biasa saja.


"Tidak..tidak perlu kau tanya jika sudah tahu jawabannya." Kesal Arga sambil menatap keluar.


"Baiklah bayarkan pesananku, aku harus membawa barang ke rumahmu untuk menengok keponakanku bukan.. sampai nanti." Edward berlalu pergi meninggalkan Arga sendiri.


Edward yang terkenal sangat kaya dan juga orang terkaya ke lima di Prancis meminta dibayarkan minumannya oleh Arga.


****


Waktu malam tiba. Kini Ayla dan Lisa juga Bibi Art pengasuh Ayla juga ikut membantu menyiapkan segala macam makan malam.


Stelah beberapa menit semua menu tersusun rapi. Ayla pergi ke kamar untuk mengganti pakaian. Seketika Ayla terkejut karena Arga belum bersiap sama sekali.


"Apa ini kenapa Kamu belum berganti pakaian. Arga. Kamu kan yang akan kedatangan temanmu dan kamu harusnya sudah rapi. Ini apa.. kamu masih hem." Seketika Arga mengecup bibir Ayla yang mengomel tiada henti. Ayla membulatkan matanya.


"Arga hm." Tehenti lagi dengan kecupan singkat.


"ARGA.. ADA ANAK ANAK." Kesal Ayla. Menahan wajah Arga.


Seketika Arga terkekeh.

__ADS_1


"Baik aku akan berisap tapi kamu harus membantuku." Seketika Ayla berdecak dan tetap melangkah memasuki ruang ganti. Seketika itu juga Arga mengunci pintu ruang ganti dan melakukan Aksinya.


"Astaga ... Arga.. Kamu Akhh.. Arh..Arga.. Stop tamunya akan akanh.. Datang." Seketika Ayla mencubit perut Arga. Hingga Arga berteriak kesakitan.


Ayla menoleh ke cermin besar melihat lehernya yang sedikit terdapat bekas tanda dari Arga dan juga keringat di dahinya bermunculan karena ulah Arga.


"Beruntung aku masih mengontrolmu jika tidak Mereka akan menunggu... Tidak sekarang pakai bajumu." Ayla menghentikan wajah Arga yang akan memakan lehernya.


"Huuh.. Aku harus mandi.." Gumam Ayla pelan seketika Ayla berlari keluar dengan cepat. Arga hanya melihat dan terkekeh.


Tak berapa lama Mereka sudah keluar dari kamar setelah Lalita mengetuk pintu kamar Arga.


"Nah ini dia orang nya.. Wah tenyata dia sangat cantik. Rosa adikmu memang cantik termasuk kamu ya." Sisi hangat Edward lebih mendominasi sekarang, sangat berbeda jika bersama Arga.


"Berhentilah menatap istriku." Arga menutup mata Edward dengan tangannya. Membuat sikembar tersenyum melihat itu.


"Kakak bagaimana kabarnya aku lama tidak melihat kakak?" ucap Ayla menatap Rosa.


Seketika Edward dan Rosa terkejut tapi langsung di sembunyikan dengan deheman.


Tidak mungkin itu adalah obat yang... apa yang terjadi dimana Arga menemukan penawarnya, batin Rosa.


Seketika Rosa langsung mengubah ekspresinya ketika tatapan tajam Edward menusuknya.


Edward kembali menatap semuanya seketika tatapannya jatuh pada Ayla. Seketika deheman keras membuat Edward memutar bola matanya malas.


"Iya iya pencemburu!" ucap Edward segera duduk dan membiarkan para pelayan melakukan tugasnya.


Ini aneh.. penawar itu sama sekali belum aku buat dan efek dari oprasi atau alternatif lain, jika Arga menggunakannya untuk Ayla agar matanya sembuh harusnya langsung terlihat jika itu terjadi, Ayla hanya tinggal nama saat ini tapi, ini apa yang terjadi. Obat itu bahkan baru aku tahu kemarin ketika aku membuatnya di lab Italia. Tidak mungkin Jika Thalita bisa membuat obat itu jika tidak dengan bantuan seseorang hingga obat mematikan itu ia tes pada Ayla. Ini aneh, batin Edward.


Edward masih terus berpikir tetang mata Ayla yang sembuh begitu saja.


"Silakan ayo." Ayah Arga mengajak semuanya untuk menikmati hidangan makan malam.


Setelah mereka selesai. Sekarang semuanya berkumpul di ruang tengah dengan sikembar yang juga masih tenang dalam pangkuan Lalita dan Ayla.

__ADS_1


"Ayla aku membawakanmu ini," ucap Rosa dengan bergetar ketakutan karena Edward selalu memperhatikan.


"Kakak kenapa harus repot-repot. Ini tidak perlu kak." Ayla tersenyum dan Lisa bergerak menerima hadiah itu.


"Aku turut senang karena istrimu sembuh." Edward menatap Arga dan Ayla.


"Terimakasih Tuan Edward," ucap Ayla.


"Tidak usah berterimakasih pada bocah ini. Jangan senyum padanya juga kau tahu dia itu..."


"Hey kau pada yang lebih tua tidak ada sopan-sopannya ya.. aku merasa sakit hati padamu kau tahu Arga."


"Berhentilah mendramatisir keadaan," ucap Arga dengan wajah datarnya merangkul lengan Ayla.


"Hoho.. baik-baik lihat jika kita sedang tidak bersama keluarga." Membenarkan jasnya dan menatap Ayah Arga dan semuanya.


Seketika Edward mengambil tangan Rosa dan memperlihatkan pada Ayla.


"Kakak dan Tuan Edward akan... Oh.. kakak akan menikah dan itu kapan?" ucap Ayla heboh. Tapi Rosa hanya dia kikuk seperti dirinya di perlihatkan jurang kematian.


"Ha-hari ...Hem dua minggu atau jika sudah mendekati hari H nya aku akan mengabarimu yaa." Rosa langsung melancarkan ucapannya ketika genggaman tangan Edward begitu kencang di tangannya.


*Tidak aku harus bisa lepas darinya aku tidak ingin menikah dengan lelaki kasar seperti Edward... Lebih baik aku bersama Arga, batin Rosa.


Tanganmu berkeringat Rosa aku tahu kau mulai ketakutan. Tunggu permainan selanjutnya ketika kita sudah menikah aku akan membuatmu tersiksa. Aku dan Arga tidak bisa melihat perempuan tidak bersalah selalu di tindas apa lagi perempuan itu Ayla. Dia terlihat sangat baik tapi, kau sebagai kakak... sangat di sayangkan, batin Edward*.


" Oh iya silakan ini hanya kudapan yang sering, istriku buat!" ucap Arga menekan kata istri pada Edward yang menatap Zeline di pangkuan Ayla.


"Iya aku tahu jika Ayla istrimu kau ini pencemburu sekali. Ayla bagaiama jika lain waktu kau pergilah ke prancis untuk berkunjung kerumahku... jangan bawa dia aku tidak ingin menerimanya... " Menunjuk Arga dengan tatapan tidak sukanya.


"Hahah Kalian ini.. Bertengkalah semau kalian jangan perlihatkan di depan cucuku atau aku akan membuat kalian menjadi patung hisan di taman."


Suara ayah Arga membuat keduanya terdiam dan Ayla juga lainnya terkekeh tertahan. Beda dengan Rosa yanh hanya diam tanpa ekspresi bahagia hanya ada ketakutan dan rencana untuk bisa lepas dari Edward.


"Baik-baik Tuan Edward aku akan berkunjung jika ada kesempatan," ucap Ayla.

__ADS_1


"Haah.. Ramah sekali dia, Rosa lihatlah betapa baik dan ramahnya adikmu kau ini harus banyak belajar darinya. Hem." Edward menyindir Rosa yang terpaksa tersenyum ketika tatapan Edward seperti ancaman bagi Rosa.


__ADS_2