
"Tapi aku takut itu terjadi. Oh Ayla apa Arga.. jangan-jangan ... belum memberi tahumu tentang dirinya."
Terserah.. aku saja tahu dengan sendirinya. batin Ayla.
"Arga sangat suka sekali dengan wanita yang pintar diranjang tidak manja tidak penyakitan tidak lemah tidak Bodoh. Dan yang paling Arga sukai yang penting masakan seorang wanita dan jika kau bisa semuanya kau pasti sudah mendapatkannya ya selama tinggal dengannya, ku harap kamu memang seperti itu."
"Amiin semoga saja," ucap Ayla dengan senyum mengembang di wajahnya. Sebenarnya dalam hati Ayla ingin mencakar wajahnya.
"Oh iyaa.. Gimana calon anak tiriku keliatannya aku dengar-dengar menangis ya.. apa dia enggak..."
"Baik sekali.. mereka sangat baik sekarang sedang di kamar, mereka bersama ayahnya. Jika ingin melihat mereka tunggu mereka bangun." Sahut Ayla cepat.
Ayla tersenyum dengan terpaksa.
"Oh.. baiklah Aku akan beristirahat selamat menikmati," ucap Rihana sebelum pergi.
Ayla kembali menatap mangkoknya dan menggenggam sendok dengan erat menekannya di mangkok dan seketika menatap bibi pengasuh dengan lemah.
Terang-terangan sekali mereka mengajak anakku menjadi anak tiriku. Tidak bisakah mereka bicara di belakangku. Menyebalkan... Akh.. lihat saja jika aku tidak berpikir Rihana sebagai akan aku.... Batin Ayla.
Menghembuskan nafasnya kasar.Melihat Bibi pengasuh berdiri didepan Ayla dengan tatapan sedikiy heran ada juga sedikit takut.
"Bibi aku minta air putih."
"Ini Non silakan."
"Maaf ya non bibi enggak bisa manggil Nyonya kayak kebiasaannya Nona..."
"Bibi ini kayak siapa aja... kan Ayla udah bilang bibi bisa anggap Ayla keluarga. Jangan sungkan. kalo bibi mau panggil Ayla nama juga gak apa-apa. Bibi yang selama ini selalu sama Ayla sampe Ayla pergi dari rumah dengan cara aneh. Dan sekarang Bibi sama Ayla lagi." Seketika Bibi pengasuh menangis.
"Terimakasih non. Terimakasih."
__ADS_1
"Ih bibi jangan nagis lah Ayla juga sedih."
"Jam berapa ini bi. Ayla harus ke atas sebentar."
"Mau bibi bantu." Segera menghampiri Ayla tapi, isyarat tangan Ayla membuat Bibi pengasuh menghentikan langkahnya.
"Ah engga bi." Ayla tersenyum.
"Oiya bibi jangan sungkan sama Bibi lisa juga ya bi. Bibi lisa kadang bilang ke Ayla karena bibi paling tua dia agak kurang enak nyuruh jadi Bibi sama bibi lisa jangan kaku-kakuan ya." Bibi pengasung langsung mengangguk dan tersenyum.
Ayla pergi ke kamarnya dengan lngkah pelan Sampai di kamar Ayla melihat tiga orang masih tertidur.
Sudah jam tiga sore. Ayla langsung membangunkan mereka dan mengajak mereka untuk segera mandi.
"Sayang bangun. udah sore mandi yuk." Ayla melihat Zeline terduduk dengan wajah mengantuk yang lucu tak lama Angga yang hanya membuka mata dan kembali memejamkan mata memeluk ayahnya.
"Sayang."
"Hem."
Arga tersenyum jahil tapi, Ayla seketika menatapnya tajam dan dan berdehem.
"Angga Bangun kita mandi." Arga membangunkan Erlangga yang tidurnya sama seperti Arga, sulit di bangunkan.
Ayla menggeleng. Setelah membuka semua pakaian Zeline dan menyisakan popoknya. Kini Ayla yang membuka pakaian Angga dan menyisakan popoknya.
Di kamar mandi sekarang Zeline dengan tawa senangnya memainkan busa dan bebek karetnya dan Angga yang mandi di betap bersama Arga.
Ayla yang masih mengurus Zeline seketika selesai dan membilasnya lalu meminta Zeline untuk tenang di atas karpet. Tidak lama Angga juga sudah selesi di bilas dan menggunakan handuk di pinggangnya. Ayla meletakan Angga bersama Zeline di atas karpet. Lalu mengambil semua barang yang sudah Ayla siapkan ketika meninggalkan Angga dan Zeline bersama Arga di kamar mandi.
Beberapa menit kemudian mereka sudah cantik dan tampan dengan pakaian bersih mereka dan bau bayi juga minyak bayi yang selalu Ayla pakaiakan supaya mereka hangat dan tidak di hampiri serangga nakal.
__ADS_1
Kini Arga dan kedua anak kembarnya sudah bersih giliran Ayla yang membersihkan dirinya.
Arga membawa ke dua anak kembar itu untuk bermain di ruang kerjanya. Menggendong dengan satu tangan masing-masing.
Sampai di lantai bawah Arga segera masuk keruang kerjanya untuk mengurus laporan yang belum selesai atau dokumen.
Menurunkan si kembar di tempat bermainnya dan membiarkan mereka bermain. Seketika Angga mengambil mainan pistol karetnya dan memukul Zeline. Seketika Zelin mewarnai Angga dengan sepidol yang aman untuk bayi bila terkena kulit atau di makan itu aman karena semua mainan si kembar selalu di cek dan di pastikan jika semua aman sampai Arga menyuruh Dokter memberi tahu mainan apa saja yang aman di mainkan. Ada juga mainan sikembar yang sampai puluhan juta dan itu seperti permainan yang banyak di temukan di pasar biasa. Lagi-lagi kualitasnya yang berbeda sangat jauh Arga utamakan.
****
Pagi kembali menyapa kini Ayla dan si kembar berolah raga bersama di kamar mereka dan Arga juga tidak mengizinkan mereka turun sebelum jam dua belas siang.
Ayla bingung sekaligus penasaran. Sekarang Ayla menyimpan rasa penasaran itu untuk nanti.
Jika untuk Rihana, sebangunnya dia hingga bertemu Ayla didapur bersama pelayan dia hanya bisa menikmati dengan santai seperti seorang ratu. Ayla diam saja. Setelah selesai Ayla langsung pergi kekamar dan membangunkan Arga juga si kembar yang sekarang tidur di kamar Ayla.
Seketika Zeline tertawa dan Angga tersenyum melihat Ayla terengah-engah kelelahan berolahraga.
Di lantai bawah saat ini.
Arga yang baru datang dari kantor bersama ayahnya dan kedua orang tua Rihana seketika membuat seorang perempuan yang sedang bersantai di depan televisi terkejut.
"Mama.. Papa.. kenapa.. mama?"
"Sekarang kamu pulang atau Mama akan membuatkamu tidak bisa bebas lagi. Mama percaya jika kamu anak yang baik tapi, hanya di depan kami tidak di luar sana. Kamu juga punya pekerjaan Haram. Mafia. Rihana kamu itu yaa.. sebenarnya ingin seperti apa. Mama bebaskan kamu sudah mama biarkan kamu untuk berbisnis sudah." Mama Rihana sudah sangat kesal. Belum duduk atau tenang masih posisi berdiri.
Rihana menatap Ayah tapi, hanya bisa di tatap tajam. Meminta bantuan Arga dan ayahnya Arga. Mereka semua hanya berpura-pura tidak melihat.
Sekarang semua sudah duduk tenang. Ibu Rihana juga sudah menghabiskan dua gelas air putih. Semua diam membiarkan ibu Rihana memarahi putrinya.
"Ingat Rihana mama akan mencari tahu siapa yang telah tidur denganmu. Dan juga mempunyai hubungan dekat denganmu. Kau juga.. Astaga.. Rihana Mama itu membesarkan kamu dengan kasih sayang dan sopan santun. Lalu maksud kamu datang kerumah Arga untuk apa.. dan dengan terang-terangan kamu ingin menyingkirkan Istri sah Arga. Dimana hati nurani kamu. Kamu tidak melihat. Kamu tidak berpikir jika anak-anak itu mengetahui dan tahu dengan sendirinya. Jika kamu membunuh ibunya walaupun kamu menyembunyikannya dengan sangat rapi. Ingat karma Rihana. Astaga.. anak ini.."
__ADS_1
"Sudah.. Mama sudah bicaranya.. Mama sekarang dengarkan Rihana. Rihana juga ingin bicara."
Seketika Ayahnya dan Ibu Rihana menatap putrinya dengan tatapan bingung dan sedikit marah karena Rihana sudah mulai bertindak sedikit lebih jauh.