
"Sayang bagaiama kabarmu?" ucap Rosa ketika baru datang dan melihat Edward duduk di kursi dekat jendela dan ikut duduk di hadapannya.
"Cafenya nyaman ya," ucap Rosa sambil duduk dan meminta pelayan untuk membuatkan pesanannya. Setelah pelayan pergi Rosa menatap Edward.
"Rosa aku sudah mengatakan padamu jika ku mendekati Ayla hanya untuk berbuat buruk aku akan membuat keluarga dan juga membuat hubungan kita hancur."
"Hem.. Edward.. dari mana kamu tahu itu.. aku bahkan tidak membuat Ayla menjadi sengsara aku hanya, ya hanya menyapa ketika bertemu."
Sialan Thalita pasti sudah mengatakannya, batin Rosa.
"Rosa aku ini teman Arga dan kau adalah orang yang pernah dekat dengan Thalita."
Seperti diberi kejut listrik, Rosa membungkam mulut dan suaranya ketika Edward tahu jika dirinya pernah dekat dengan Thalita.
"Yaa.. Aku tahu sayang. Tahlita pasti sudah memberitahumu bukan." Edward menatap Rosa dengan tatapan yang sulit di artikan dan menyeringai.
Rosa mulai gugup. Seketika tangan Edward menyentuh tangan Rosa dan menggenggamnya.
"Apa kau terkejut?" ucap Edward lembut tapi, seperti ucapan ancaman di telinga Rosa.
"Eh.. Ti-tidak. A-aku hanya sedikit lelah karena baru sehari bristiharat di rumah." Gugup Rosa menjawab ucapan Edward.
"Aku tahu Rosa kau kakak yang baik untuk Ayla tapi, jika sampai kau membuat Arga bersedih aku akan membuatmu tidak bisa merasakan indahnya dunia lagi." Edward tersenyum dengan manis sambil mengusap punggung tangan Rosa dengan ibu jarinya.
"Tidak.. aku tidak akan melakukannya... jangan, jangan kamu buat hidupku hancur lagi. Kumohon. Aku akan berusaha berubah untuk kamu."
Seringai aneh Edward muncul di wajahnya. Rosa sudah di tekannya sedikit.
"Kau tahu aku sudah mengetahui dari anak buahku jika kau merencanakan pembunuhan untuk kedua anak Arga yang baru lahir kemarin. Jika rencana itu terjadi.. maka, detik itu juga kau akan merasakan apa yang kedua keponakanku rasakan."
"Hem.. Baik Aku setuju. Aku akan menurut dan tidak akan melakukan apapun yang membuat hubungan kita hancur." Rosa sudah sedikit ketkutan tapi, belum tentu Rosa akan menghentikan rencananya.
"Apa aku harus percaya sayangku! hem."
Mencium punggung tangan Rosa yang masih bergetar ketakutan.
Edward melihat jika Rosa seperti orang ketakutan dan juga takut jika rahasianya terbongkar.
"Aku tidak di beritahu mantan istriku hanya untuk mengetahui tentangmu. Dan juga, aku ini sudah tidak memiliki hubungan dengannya."
Rosa perlahan mengangkat wajahnya dan menatap wajah Edward yang tampan dan ketika tersenyum lebar Edward juga terlihat lebih manis.
"Sekarang ayo kita menggunakan waktu ini dengan baik." Rosa mengangguk dengan ajakan Edward.
Keluar dari Cafe Rosa langsung mengikuti Edward memasuki mobil.
__ADS_1
Melaju meninggalkan Cafe tersebut.
"Bagaimana dengan Edward dan Rosa?" ucap Arga pada Dafa yang baru saja menyelesaikan tugasnya dan baru memasuki ruangan Arga.
"Sudah Tuan. Tuan Edward mengatakan akan membuat nona Rosa tidak berkutik karena bisnis yang sekarang di bawah kepemimpinan Tuan Edward membuat Rosa sedikit tertekan. Dan juga perusahaan yang lama yang masih bekerja sama dengan perusahaan kita. Nona Rosa yang memimpinnya." Arga memgangguk.
"Lebih baik Edward dengan Rosa dari pada Thalita." Gumam Arga sambil menatap dokumen di depannya.
Bagaiamana Anda tahu jika Tuan Edward memang bekerja sama dengan Nona Rosa tapi, bukan hubungan yang.. tapi, hubungan kekasih, batin Dafa.
"Jika Aku tahu aku sudah mencari tahunya. Edward sendiri yang mengatakannya dan mereka baru saja menjadi pasangan ketika Rosa kembali ke tanah Air." Menoleh menatap Dafa. Seketika Dafa meneguk ludahnya kasar dan kembali bekerja.
"Lain kali bicaralah dengan benar, jangan dengan batin," ucap Arga. Tersenyum.
Seketika Dafa langsung mengangguk dan berpamitan keluar. Arga yang tersenyum seperti itu berarti Dafa sedang dalam bahaya karena membantin Arga.
Beberapa jam berlalu hingga sekarang waktu makan siang tiba Arga baru saja selesai dengan mettingnya dan melihat seorang wanita tengah duduk di sofa ruangannya sambil menghapalkan sesuatu.
"Eh.. Arga kamu udah balik." Ayla langsung bangkit dan menyimpan leptopnya dan menyiapkan makan siangnya.
"Kamu ingin berlatih bela diri?" Menatap Ayla.
"Ah tidak, sudah makan saja. Aku akan menunggumu."
Aku harus melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Jangan sampai Arga tahu. Hanya untuk berjaga-jaga dan juga aku harus bisa belajar banyak bahasa, batin Ayla.
"Arga apa aku harus menggunakan dres panjang ini. Kita akan kemana lagi. Kamu tahu Arga aku tidak suka datang ke pesta mewah mereka selalu menunjukan sisi mewah mereka dan aku merasa minder. Aku tidak datang saja ya.. ya Arga Hemmpp." Seketika Ayla di bungkam dengan bibir Arga.
"Aku bersama mu Ayla kamu harus terbiasa dengan ini. Sebenarnya aku juga malas tapi, ini hanya sebentar. Jika kamu menolaknya aku kan membuat mu.. "
"Iya.. Iya aku mau Ayo kita berangkat sekarang." Menuntup mulut Arga dengan tangannya sebelum kalimat aneh dari mulut Arga keluar.
"Tapi tunggu aku akan mengenyangkan perut mereka ini sudah waktunya." Ayla menunjuk jam di dinding menunjukan pukul setengah tujuh malam.
Setelah beberapa menit Ayla selesai dan juga sudah menyiapkan Asi untuk berjaga-jaga.
Berangkat meninggalkan Mansion. Arga yang duduk di bangku penumpang dengan Ayla dan Dafa yang mengemudikan mobilnya.
Beberapa menit kemudian Ayla dan Arga sampai di tempat Acara.
Sorot kamera dan jepretan kelip kamera membuat Ayla sedikit risih. Gedung yang mewah seperti istana negara dan juga beberapa pengawal dan petugas keamanan
"Arga kita.." Lelaki berkaca mata datang dan menghentikan ucapan Ayla tiba-tiba.
"Selamat datang Tuan Marvelino dan."
__ADS_1
"Dia istriku," ucap Arga dengan menatap lelaki berkaca mata itu.
"Dan Nyonya Marvelino. Silakan." Pria berkaca mata itu mempersilahkan Ayla dan Arga juga Dafa masuk ke dalam.
Acara yang meriah di hadiri orang-orang penting yang sangat berpengaruh dan ada juga tamu dari kedutaan.
"Selamat malam Tuan Marvelino bagaimana kabar anda dan siapa dia.. ehm biar aku tebak dia adalah Istrimu bukan," ucap lelaki paruh baya itu dengan bahasa prancis.
"Malam Tuan, Anda datang sendirian bagaimana kabar anda sejauh ini?" jawab Arga dengan bahasa prancis.
"Cukup baik semuanya itu juga berkat bantuan anda, terimakasih," ucapnya dengan bahasa prancis.
"Nyonya apa anda baik-baik saja?" ucap pria paruh baya itu dengan bahasa prancis. Melihat Ayla hanya dia dan seperti tidak nyaman.
"Saya baik Tuan. Senang bertemu dengan anda," ucap Ayla dengan bahasa prancis yang sangat lancar. Tahu itu Ayla langsung menjelaskan jika dia baik-baik saja.
Seketika Arga menoleh sebentar, tersenyum dan kembali menatap lawan bicaranya, pria paruh baya tersebut.
"Istri anda sangat cantik Tuan. Saya jadi merindukan istri saya di rumah. Tadinya saya kira jika istri anda tidak mengerti apa yang kita ucapkan ternyata dia lebih pintar dari perkiraan saya," jelas pria paruh baya itu dengan bahasa Prancis.
"Terimakasih," sahut Ayla ramah dengan bahasa prancis.
Ayla dan Arga berjalan berpindah mencari tempat yang nyaman untuk mereka duduk.
"Akhirnya kita duduk." Ayla dengan perlahan mendudukan dirinya dengan sangat tenang.
Arga sejak tadi terkejut dengan sikap Ayla yang terlihat berbeda sekali.
Tidak lama datang Petter dan istrinya bersama Calysta.
Arga dan Petter langsung menyapa dan berjabat tangan. Ayla juga berdiri dan menganggukan kepalannya pada kedua orang tua Calysta.
"Wanita aneh kampungan," ucap Calysta dengan wajah ramah dengan bahasa inggis di samping Ayla.
Seketika Ayla tersenyum menoleh kearah Calysta dan mengangguk.
"Saya tidak terlalu kampungan karena saya masih tahu tentang etika dan sopan," jawab Ayla dengan bahasa inggris.
Seketika Calysta membulatkan matanya dan ibu Calysta tersenyum menoleh melihat Ayla dan Calysta.
"Cepat sekali kamu mempelajarinya kami kira kamu akan tetap berbahasa Indonesia di acara seperti ini," ucap ibu Calysta dengan wajah ramah tatapan yang lembut menatap Ayla.
"Terimakasih Saya sudah berusaha supaya terlihat lebih baik," sahut Ayla dengan bahasa Inggris.
"Dengar Calysta jangan mempermalukan," ucap ibunya berbisik dan menatap Calysta tajam.
__ADS_1
Calysta berdecak kesal pergi dari sana. Niatnya ingin membuat Ayla ke bingungan dengan bahasanya malah dia yang di omeli ibunya.