Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps 100


__ADS_3

Livya menapaki trotoar dengan sekantung plastik jajanan ringan ditangan kirinya, dengan tangan lainnya sibuk memegang es krim batangan yang nampak lezat dengan hiasan beberapa varian warna yang cantik. Suasana tidak terlalu ramai namun Livya putuskan untuk berjalan kaki keminimarket dekat perumahan. Abaikan ibunya yang mengomel tentang risiko kehilangan calon menantu mereka yang kaya, murah hati dan tampan khas menantu idamannya jika Livya akan teledor bertemu lelaki asing kemudian diculik untuk dijadikan kekasih. Livya pusing dengan tingkah Ibunya yang terlalu memaksa lanjutkan hubungan dengan Ryuga ketahap lebih serius, semisal bertunangan. Livya bergelayut dengan pikirannya tentang Ryuga sepanjang jalan, sedikit abaikan es krim yang meleleh.


Sisi-sisi rambutnya bergerak tersapu angin lalu yang terasa berputaran disekitarnya. Livya menoleh kanan kiri keheranan kemana perginya beberapa kendaraan yang lalu lalang, sadari bahwa dia kini sendirian dijalan yang minim cahaya dan ini bukan jalan yang ia lewati sewaktu keminimarket, tidak dipungkiri bulu kuduk Livya meremang juga sisakan nyali yang mulai mengkerut. Es krim sudah tak menyelerakan ketika mencair dan Livya membuangnya ketepi hempaskan tangan yang berlumuran cairan es sedikit jengkel karena lengket. Masih dengan kesibukan itu sebuah sapu tangan putih dengan motif mawar disatu sisinya terulur alihkan perhatian Livya. Livya menoleh sekejap kemudian dan tersentak mundur selangkah begitu bersitatap dengan wajah lama yang ia kenali.


Pria bersetelan serba hitam yang menyodorkan benda itu tersenyum dengan mimik pucat namun hanya sekali pandang saja tak menutup fakta bahwa dialah salah satu yang tampan dinegeri ini. Netra Livya nyaris tak berkedip tak percaya pada keadaan yang terjadi. Hawa disekitar berubah dingin dengan suasana mencekam. Nyaris kalahkan situasi horor difilm yang Livya benci, itu menakutinya. Dia suka film romansa dan jatuh cinta pada Ryuga karena sangat tampan seperti didrama yang sering ia tonton.


"Kau takut?" Suara itu masih sama. Nada yang dingin dan dalam menggetarkan kalbu. Livya tergagap. Kemudian berdehem sejenak kendalikan diri.


"A, aku cuma kaget." pipinya merona. Livya palingkan muka setelah ambil sapu tangan dan gunakan seperlunya, mengutuk dalam hati ketika matanya menangkap tulisan pemakaman umum diujung jalan. Apa ceritanya sampai ia bisa ada dijalan menuju makam? Livya malas berpikir dan menyimpulkan semua ini pasti ulah pria dihadapannya.


"Apa aku mengagetkanmu?"


"Ya tentu saja! Kalau itu bukan kau aku pasti sudah pulang tinggal nama karena mati jantungan." melipat angkuh tangan didada. Pura pura ngambek.


"Aku merindukanmu." tiba tiba mendekat dan kungkung Livya dengan tangannya yang besar. Biarkan Livya pelajari rindunya dari kontak tubuh ini. Bola mata Livya membulat, gugup mengitari seluruh sendinya hingga ragu untuk membalas. Ya ampun, entah kenapa dengan dirinya Livya tak mengerti, haruskah ia begitu berlebihan sampai ingin melonjak girang menerima pelukan tak terduga? mereka hanya teman lama. Lagipula, dia.. hantu.


"Eros, kau baik-baik saja?" Hanya itu yang bisa Livya keluarkan. Coba usir gugupnya. Balas pelukan pria itu dengan satu tangan mencoba bersikap bersahabat dan tepuk pelan punggung kokoh itu. Pria ini kelihatan menderita.


"Ya, setelah pertemuan ini." jawab Eros setelah lepaskan diri. Tangannya nakal elus kulit pipi Livya yang merona. Livya terpaku.


"Bagaimana jika ada yang lihat,dan,.." Eros terkekeh.

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa lihat aku. Lagipula aku hanya pinjam kau sebentar dan akan kembalikan kau kesana. Maaf tidak minta izinmu dulu."


"Eros, aku,"


"Apa ada masalah? Kau tidak suka bertemu denganku? pacarmu tampan dan kalian cocok, lagipula dia manusia aku tidak, tidak perlu ketakutan. Ada apa denganmu?" Eros menyipit selidiki perasaan Livya.


"Aish, pria ini, hentikan Eros. Jangan menggodaku."


"Apa kau merindukanku juga, Livya?"


Ya,


"Tidak! aku biasa saja."


"Aku mau pulang, kau jahil." Livya berdecak dan berbalik, tapi belum apa apa Eros menarik lengannya hingga buat tubuh Livya terhuyung menabrak dadanya dan tak bisa lakukan pencegahan ketika Eros benamkan bibir secara tiba-tiba dibibirnya. Gerakan ******* yang lembut dan tanpa tuntutan, Livya tersengat aliran listrik cinta sama hebatnya seperti saat pertama kali Ryuga menciumnya.


Ryuga! Oh shit!


Livya dorong pelan tubuh tegap didepannya longgarkan ciuman meski tak bisa longgarkan hasrat Eros kepadanya. Eros sisakan jarak sepersekian senti dari bibirnya buat jantung Livya berdetak kocar kacir.


Berciuman dengan hantu?yang benar saja!

__ADS_1


Livya mengutuki diri sendiri yang plinplan oleh perasaan, pria ini, bagaimana bisa. mengobrak abrik dunianya dalam sekali kemunculan, Livya sudah berjanji untuk setia dan tak sia siakan Ryuga. Sungguh, Livya merasa buruk terkenang kekasihnya.


"Bisakah, aku, pulang sekarang? Bisakah-lepaskan aku?" Eros tak langsung beri keringanan dari dekapannya seolah tak jumpa ribuan tahun dengan gadis cantik didepannya. Blak blakan tunjukkan perasaannya lewat aksi penculikan ini. Eros naikkan satu sudut bibir dapati Livya yang menggemaskan gugup ingin lepaskan diri.


"Aku antar." Eros genggam tangan Livya yang kosong dan menuntun perjalanan, biarkan Livya dibelakangnya tak sembunyikan tatapan mesra. Gadis itu menggigit bibir dengan sedikit pikiran nakal menjalar dikepalanya. Bagaimana ia bisa lakukan ini sementara ia punya kekasih yang sudah ia cintai bertahun-tahun? Ia goyah dalam sekejap begitu temukan mata tajam itu, senyumnya, lesung pipinya.


Aku sudah gila!


Livya tak tau kekuatan apa yang dimiliki para hantu sehingga bisa ubah keadaan begini. Mereka sudah sampai dekat gerbang perumahan, berdiri berhadapan tapi Eros belum lepaskan genggamannya.


"Kau cantik malam ini." Livya mendongak dengar pujian untuknya itu. "Masuklah, jangan selalu tidur larut karena nonton drama romantis, kesehatanmu lebih penting. Maafkan aku ingkar janji bilang tidak akan menemuimu. Rindu memang selalu egois. Aku sudah alami kalah beberapa kali." Eros mengecup buku-buku jemari mungil Livya kemudian melepaskannya. Masukkan kedua tangannya kesaku celana. Mata Livya berkaca-kaca.


"Oya, bagaimana ciumanku tadi? kau suka?" Livya berubah mendelik dengar pertanyaan Eros dan pria itu tergelak pelan. Sedikit hibur Livya karena tak ingin wanitanya yang sedikit cengeng itu jatuhkan airmata.


"Liv, pertemuan ini maupun perasaan didalamnya semua ini rahasia dan selamanya akan menjadi rahasia, aku tak berniat ganggu hubunganmu tapi hanya ingin kau pahami bahwa aku rasakan yang kau rasakan, aku memikirkan yang kau pikirkan, aku minta berhentilah memikirkan aku, aku boleh kau simpan dihatimu tapi jangan siksa aku dengan tunjukkan minatmu padaku. Sudah takdirnya dikehidupan ini jalan kita berbeda, tapi jika masih ada kehidupan lainnya, percayalah, aku yang paling pertama menginginkanmu. So sorry, Livya, andai kita bertemu lebih awal, sebelum," Eros menggantung kalimatnya manakala Livya menubruknya buat ia berhenti bicara. Gadis itu memeluknya erat seakan takut kehilangan. Inginkan Ia lebih lama. Sayang sekali.


"Liv, ibumu pasti sudah menunggu," Eros mengingatkan.


"Bisakah berhenti bicara dan peluk aku saja?" Livya mendongak sebentar lalu benamkan lagi kepalanya didada Eros. Terharu karena pria itu ternyata perhatikan dirinya tanpa ia ketahui, Livya malu sendiri ketika Eros tau ia tak bisa hilangkan begitu saja memori tentangnya walau sudah jujur pada Ryuga pernah cintai pria lain. No, praktik memang kadang tak segampang teori.


"Eros, aku tidak bisa jauh dari Ryuga, tapi sekarang aku berpikir, apa aku masih pantas untuknya? aku juga cintai pria lain dan berselingkuh dengannya saat ini. Apa kau bisa hilangkan ingatanku tentangmu?"

__ADS_1


.......


Sudah larut dan aku kepikiran tentang readers yang kangen Eros. Nulis dapat idenya cuma begini. Semoga suka, ya. Penggemar karakter Eros tinggalkan jejak dongggg


__ADS_2