Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps 71


__ADS_3

"HARI INI JUGA KITA CERAI!! AKU AKAN URUS SEMUANYA,AKU AKAN MEMBAWA ANDREA BERSAMAKU!" Malik berang dan langsung mengambil keputusan berpisah begitu mengetahui skandal perselingkuhan istrinya Arumi, dengan salah satu temannya. Dimalam hujan deras itu Malik menggendong Andrea kecil yang menangis, sementara adiknya sudah tertidur. Arumi menahan langkah Malik sampai diambang pintu.


"Kemana kau akan membawanya?! Jangan bawa dia, tolong! Dia juga anakku!!" Malik dengan marah menyingkirkan tangan Arumi yang melingkar dilengannya.


"Jangan sentuh aku dasar kau wanita menjijikkan!! Urus saja anak dari hasil selingkuhanmu itu!!" Menunjuk Nadine kecil dengan dagu.


"Tapi Andrea anakku juga!!"


"Mulai saat ini anggap saja kau tidak punya anak selain anak itu! Mulai saat ini Andrea bukanlah anakmu dan dia tidak punya Ibu sepertimu!!"


"Malik,berhenti! Andrea membutuhkanku!"


"Aku bisa mengurusnya!"


"Tidak,jangan bawa dia!" Arumi masih mencoba untuk menghalangi kepergian suami dan anak sulungnya, berlari sekuat yang ia bisa berusaha menggapai mobil yang sudah melaju meninggalkan pekarangan istana kecil mereka, tapi alam semesta tau tidak akan Malik berpaling lagi padanya, semua sia sia. Dibawah guyuran hujan yang sangat deras Arumi terduduk menyerah, menangis.


Dengan langkah pelan penuh keputusasaan Arumi kembali kedalam rumah begitu sayup sayup suara tangisan Nadine kecil terdengar. Ia belum bisa bicara tapi sepertinya sudah mengerti kalau sedang terjadi sesuatu yang tidak beres malam itu. Dengan tubuh basah kuyup Arumi menggendong Nadine, menepuk nepuk punggung sibungsu berusaha menenangkan hatinya.


Sampai pagi menjelang Arumi tidak memejamkan matanya. Yang dilakukannya hanya merenung. Menyesali dan menyesali terus yang sudah terjadi. Ia memang tidak bisa menyalahkan Malik, ia yang kurangajar telah mengkhianati Pria itu. Arumi merasa hina. Pernikahan tanpa cinta yang dilakoninya dengan Malik dulu membuatnya merasa tertekan, Ia tidak mencintai Pria itu bahkan ketika mereka mendapatkan buah cinta mereka, Andrea. Sampai akhirnya seorang teman suaminya datang, dan menariknya dalam jurang perselingkuhan sampai Arumi harus banyak menipu hati yang menyayangi nya, termasuk Malik, Pria sederhana yang memberikan hidupnya untuk keluarga.Hingga lahirlah Nadine yang tak berdosa meski Ia adalah hasil dari dosa Ibunya.


Arumi sudah ingin berhenti dari skandal yang dikerjakannya selama bertahun, namun Ia diancam. Arumi ketakutan. Hingga pasrah menjadi pilihannya.


Benar kata pepatah, Sepandai pandainya kita menutupi bangkai, baunya pasti akan keciuman juga. Inilah hukuman untuk Arumi dan Ia tidak sanggup menerimanya. Ia tidak sanggup membayangkan hidup tanpa Andrea, bagaimana Malik tega memisahkannya dari anaknya yang masih berusia tiga tahun itu.


Suara dering telepon membuat pandangan Arumi beralih. Perlahan ia bangkit dari ranjang setelah memastikan Nadine tidak terganggu dengan gerakannya, dan menuju tempat dimana telepon berada.


"Hallo?"


"Apakah saya bicara dengan keluarga Bapak Malik Adi Pawitra?" Suara perempuan.


"Benar.Saya istrinya."

__ADS_1


"Begini Ibu, kami dari pihak rumah sakit Cahaya Medika ingin memberitahu suami Anda Bapak Malik mengalami kecelakaan dan meninggal dunia."


"APA?! JANGAN BERCANDA!!"


"Ibu bisa mengecek sendiri ya Bu."


"Bagaimana bisa?!"


"Menurut informasi mobil yang dikendarai Bapak Malik menabrak pembatas jalan Bu"


Arumi merasa hancur seketika. Andrea bersama Malik tadi malam kan?


"Anakku bagaimana?!" Panik luar biasa.


"Maaf,tapi kami tidak menemukan pasien lain selain Bapak Malik." Arumi cepat-cepat melepas gagang telepon dan menggendong Nadine yang masih asyik dengan mimpinya, membawa gadis kecilnya itu menuju rumah sakit.


Arumi meraung raung tidak terima dengan kenyataan ketika tidak ditemukannya Andrea kecil disana. Hanya jasad suaminya yang begitu menyayat hati telah terbujur kaku. Tidak ada yang mengetahui perihal keberadaan Andrea. Tidak ada tanda-tanda Malik pergi membawa seorang anak kecil malam itu,sebab tidak sehelai pun pakaian Andrea ia bawa. Tidak ada satupun barang yang ditemukan didalam mobil yang sudah hancur itu untuk membuktikan pernah ada Andrea didalamnya.


"Tolong selamatkan anakku...tolong.."


Peto melirik kearah dimana Malik menunjuk anak perempuan kecil yang kini tengah tak sadarkan diri. Sebisa mungkin Peto berusaha membuka pintu dan menarik keluar tubuh kecil yang terjepit itu. Dibawah derasnya air hujan yang jatuh Peto masih bisa mendengar gumaman pelan suara Malik.


"Tolong..jaga anakku..bawa dia.." Setelah itu menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan perasaan campur aduk Peto segera membawa Andrea menjauh dari sana, mencoba menyelamatkan nya begitu dirasa nadi Andrea masih ada. Meski harus mengalami amnesia ringan diusia balita Andrea berhasil diselamatkan.


Diruang perawatan itu, Peto memandangi penuh rasa Iba gadis kecil yang sangat cantik dimatanya itu. Dilihatnya sebuah kalung perak bertuliskan nama ANDREA menggantung dileher Andrea kecil.


"Jadi namamu Andrea ya?nama yang bagus... Mulai sekarang kau anakku. Aku akan membawamu dan merawatmu.." Mengingat pernikahannya yang sudah masuk usia tiga tahun belum dikaruniai anak, Peto memutuskan untuk membawa Andrea bersamanya. Ia tidak tau keputusan yang ia ambil benar atau tidak, ia Pria miskin yang bodoh, tapi rasa sayang yang timbul dihatinya membuat Peto mengambil keputusan itu. Meski harus menerima omelan dari sang istri yang tidak bisa menerima kehadiran Andrea sepenuh hati.


Arumi menyeka airmatanya yang sudah deras mengalir. Dihadapan Peto dan Maria kini ia mengadu kepiluan hatinya menanggung kerinduan selama lebih dari 20 tahun pada Andrea. Kini mereka dipertemukan setelah Nadine dan Livya mengatur semuanya. Dikediaman Peto mereka saling bertukar cerita dan Andrea yang sejak tadi mendengarkan kini dengan berani menghambur dalam pelukan Ibu kandungnya.


Nadine dan Livya saling melempar senyum bahagia. Pertemuan mereka di supermarket beberapa waktu lalu berbuah manis. Sebuah rahasia lama terbongkar. Nadine merasa bangga pada dirinya sendiri yang berhasil mempertemukan Andrea dan Mamanya kembali setelah lama terpisah. Betapa ia merasai kerinduan yang terpancar diantara keduanya. Setelah hasil DNA yang dilakukannya pada Andrea dan Mamanya keluar tadi dan hasilnya cocok, Nadine langsung memboyong orangtua tunggal nya itu untuk menemui Andrea dikediaman Peto dan syukurlah semua sesuai harapannya.

__ADS_1


"Maafkan Ibu sayang.." ucap Arumi berderai airmata bahagia. Andrea mengangguk.


"Tidak apa apa. Aku bahagia bisa bertemu dengan Ibu..."


"Panggilan Ibu kurang cocok untuk seorang desaigner terkenal seperti Mamaku tauu!" ucap Nadine yang menengahi keduanya. Andrea dan Arumi tergelak.


"Kak, selamat datang kembali..." Ujar Nadine sambil mendekap Andrea penuh kehangatan. "Liv,sini!" Panggil Nadine. Livya menurut mereka bertiga berpelukan.


"Kami berdua sedang hamil semoga cepat nular padamu!" Nadine mengosok pelan perutnya lalu perut Livya. Membuat Livya mendelik.


"Ih..Kak Nadine! Amit amit deh! Aku masih kuliah!" Nadine dan Andrea terkekeh.


"Aku tidak menyangka punya dua adik yang sama cantiknya sekarang.." ucap Andrea memandangi kedua wajah didepannya.


"Jadi siapa ayah dari anak ini,sayang? Tidakkah kau ingin mengenalkannya pada Ibu?" tanya Arumi sambil mengelus perut Andrea. Mendengar itu Andrea terdiam sesaat.


"Ibu aku minta maaf padamu.." jawab Andrea dengan tatapan kembali sendu. Arumi menautkan alisnya.


"Kenapa sayang?" Andrea melirik livya,Peto dan Maria.


"Aku..Aku menikahi suami orang Bu." Mata Arumi membulat. Jelas sekali ia kaget. "Kami akan bercerai setelah aku melahirkan nanti.."


"Apa? tapi kenapa?"


Andrea pun menceritakan semuanya..


".. dan saat ini suamiku terbaring koma,Bu, hiks hiks.." Arumi merengkuh tubuh Andrea untuk ia peluk.


"Tenanglah sayang, tenang.. Ibu akan selalu bersamamu."


Ya Tuhan..Mungkinkah ini karmaku dimasa silam? batin Arumi.

__ADS_1


__ADS_2