
"Nona,bisa tunjukkan buku undangan anda?" Seorang Pria berjas hitam yang berjaga didepan gedung resepsi itu menghadang langkah Livya yang ingin masuk.Livya termenung. Ia tidak memiliki undangan yang dimaksud.
"Emm.. Maaf, tapi aku tidak memiliki nya.Aku kesini atas undangan langsung dari Ryuga.Aku teman nya."
Penjaga itu tergelak.
"Oh ya Ampun.. Harus berapa banyak gadis yang mengaku ngaku teman para anak bangsawan. Ini tuan muda Ryuga lagi. Nyatanya mereka hanya ingin numpang makan dipesta besar para konglomerat seperti ini!"
"Tutup mulutmu,siapa juga yang ingin makan gratis, aku sungguh sungguh teman Ryuga!"
"Maaf Nona,aku tidak bisa mempercayai mu.Silakan pergi!"
"Aku bisa telfon dia kalau kau tidak percaya!"
"Baik,silakan." Livya membuka dompet yang dibawanya,mengobrak abrik isinya tapi tidak menemukan ponselnya disana.
Astaga! Ponselku!! Kenapa aku bisa sampai lupa membawa nya!!
"Ponselku tertinggal..." Gumam Livya dengan suara lemah. Penjaga itu tertawa.
"Sudah cukup aktingmu Nona.Kau hanya membuang buang waktu kami.Silakan pergi!"
"Tapi aku berkata yang sebenarnya Pak!"
"Pergi sana! Jangan sampai aku berbuat kasar!" Livya berdecak kesal. Merutuki kebodohan nya yang menolak tawaran Ryuga untuk menjemput nya,Ia tidak tau begini jadinya. Sebelum berangkat tadi Livya sudah menyuruh Ryuga menunggu didepan,tapi dimana Pria itu? kenapa belum muncul?
"Masih belum mau pergi juga?!" Bentak Pria itu melihat Livya masih berdiri menatap pintu masuk. Penjaga itu mencengkeram lengan Livya dengan kuat, gadis itu sampai meringis.
"Dasar kau tidak tau malu!!" Mendorong kuat tubuh Livya membuat pertahanan gadis itu runtuh.Tubuh Livya limbung dan pasti mendarat dengan sempurna ditangga kalau saja seseorang tidak sigap menopangnya.
Livya bernafas lega.Ia pikir wajahnya akan lecet dan buruk rupa setelah kejadian ini tapi untunglah...
Livya mendongak dan tersenyum ketika mengetahui siapa yang menolongnya.
"Ryu..?"
"Kau baik baik saja?" Livya mengangguk dan memposisikan dirinya berdiri tegak kembali. Penjaga yang tadi mendorong Livya nampak ketakutan ketika menyadari Livya dan Ryuga benar saling mengenal.Belum lagi tatapan membunuh dari Tuan Muda satu itu.
"Berani sekali kau menyentuh kekasihku?!!" Ryuga berang.Ditariknya kerah baju penjaga itu.Melihat kemarahan Ryuga beberapa penjaga lain juga tampak ketakutan. Nasib mereka sungguh diujung tanduk sekarang.
"Tuan, mohon ampuni saya. Saya tidak tau tuan, saya pikir gadis ini hanya mengaku ngaku mengenal tuan saja,ampuni saya Tuan!"
__ADS_1
"Ryu, sudahlah! Aku tidak apa apa..tolong jangan seperti ini,kau akan mengundang perhatian banyak orang, ini acara kakak mu." Livya bicara dengan nada lembut. Mengusap pelan lengan Pria tampan itu agar bisa lebih tenang. Ryuga mendengus kesal dan melepaskan tangannya.
"Kalau saja ini bukan acara kakak ku sudah kupecahkan kepalamu brengsek!!"
Penjaga itu berlutut memegang kaki Ryuga.
"Tuan mohon belas kasihan anda Tuan. Ampuni saya Tuan!"
"Kalau sampai Livya terluka tadi sudah kubunuh kau dengan tanganku!"
"Ampun Tuan.Ampun.. Ampuni saya!" Menangis ketakutan.
"Singkirkan tanganmu!!" Penjaga itu menurut. Ryuga menggenggam tangan Livya.Tangan satunya mengelus pipi gadis itu.
"Sayang,Maafkan aku terlambat menemui mu." Livya tersenyum dan mengangguk.
"Ayo,kita masuk.Kukenalkan kau pada keluargaku." Raut gugup kembali menyelimuti wajah cantik Livya mendengar itu.Mau tidak mau Ia membiarkan Ryuga menggandeng nya.
Livya meremas kuat jemari lentiknya. Dihadapannya kini sudah berada segelintir horang kaya dengan berbagai kelas.Lalu lalang dengan eksistensi yang berusaha saling mendominasi.Saling mengobrol dengan segelas anggur yang mungkin harganya sendiri Livya tak bisa memperkirakan.
Disampingnya Ryuga nampak bangga menggandeng pinggang ramping Livya. Membawanya melangkah menuju singgasana Raja dan Ratu sehari.Disamping kegugupan nya itu Livya berdecak kagum memandang dekorasi ruangan dan pelaminan. Ini adalah kali pertama ia masuk dan bergabung dalam pesta para bangsawan.Sulit dijelaskan. Benar benar memukau.Tapi kemudian Livya memperlambat langkahnya begitu menyadari pernah melihat wanita yang menjadi Ratu satu hari itu.
Loh dia kan wanita yang waktu itu kan?
Livya tersenyum dan menunduk sopan, menyalami kedua mempelai.
"Hallo,perkenalkan namaku Livya."
"Senang bertemu denganmu Livya.Kau cantik sekali!" Puji Nadine.Livya tersenyum.
"Kakak juga sangat cantik.Selamat ya atas pernikahan nya semoga diberi kebahagiaan dan hanya maut yang bisa memisahkan."
"Terimakasih.Kok seperti nya aku pernah melihat mu ya?" Nadine nampak berpikir. "Ahh.. aku ingat,Sore hari dipemakaman waktu itu ya?Benar kan?"
Livya mengembangkan senyum nya dan mengangguk.
*Aku tidak percaya di*a mengenaliku juga! Kenapa orang orang kaya sulit ditebak begini sih kelakuannya? Waktu itu dia langsung memalingkan wajah begitu bersitatap denganku, tapi lihat sekarang,dia berlagak semanis ini...
"Sayang,kau kepemakaman siapa?" Tanya Ryuga heran.Belum sempat Livya menjawab pengantin laki laki langsung menengahi.
"Ryu,nanti saja kalian ngobrolnya.Ayo ambil gambar untuk kita!" Ryuga menurut.Livya sampai dibuat melongo dengan keramahan keluarga satu ini.Bagaimana dengan kedua orangtua nya ya?
__ADS_1
Mereka mengambil posisi masing-masing. Livya berdiri disamping Dave,sipengantin Pria dan Ryuga berdiri disamping Nadine. Kemudian bertukar tempat.
"Cicipi makanan nya ya, jangan malu malu." Ucap Nadine sebelum Livya pamit.Livya merasa lega karena kedatangan nya disambut hangat oleh kedua mempelai. Meskipun kali ini ada yang lebih mendebarkan lagi.Orangtua Ryuga.
Seperti apa ya kira kira wajah calon mertua ku? Aku gugup sekali! Bagaimana kalau aku benaran diusir karena penampilan ku yang tidak memenuhi standar internasional ini?
"Kau gugup?" Tanya Ryuga.Livya mengangguk.
"Aku ingin kabur saja rasanya!" Ryuga terkekeh.Kemudian merengkuh kedua pipi Livya.
"Mommy ku wanita yang baik hati.Kau akan menyukai nya."
Hah? apa tidak terbalik tuh kata katamu? Aku ini cuma sampah kuaci bagaimana bisa kau mengatakan aku yang akan menyukai nya atau tidak!
"Tapi aku tidak melihat Mommy,dimana dia? Apa ketoilet?" Ryuga mengarahkan pandangan nya keseluruh penjuru ruangan.
"Ryu,aku haus.Kita minum dulu ya sambil menunggu Mommy mu?" Ryuga mengangguk setuju. Keduanya pun melangkah menuju meja yang menyediakan berbagai jenis minuman,tinggal pilih!
Livya meneguk minumannya.Tanpa disadari nya sepasang mata memperhatikan nya sejak tadi. Tentu bukan Ryuga.
"Sayang?"
"Ya?"
"Siapa yang mendandani mu?"
"Eh, kenapa? Apa dandanan ku jelek?Bajuku jelek?" Livya sudah panik.
"Kau terlihat cantik dan seksi sekali." Ryuga mengulum senyum menatap mata Livya yang membulat.Pipi Livya seketika merona mendengar pujian itu. Sebenarnya tadi saat masih dirumah,Peto dan Maria juga nampak kagum dengan putrinya yang menurut mereka terlihat luar biasa malam ini.
Tapi selera rakyat jelata macam keluarga Livya tentu jauh berbeda kan dengan para kaum bangsawan? Itu yang membuat nya cukup panik tadi mendengar Ryuga bertanya soal dandanan.
Mata Ryuga menelusuri Livya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sudut sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menyadari betapa cantiknya Livya malam ini. Dengan balutan dress ketat warna merah dengan belahan sampai paha itu Livya kelihatan mempesona dan berkelas. Lekuk tubuhnya yang mirip gitar spanyol itu terlihat seksi dimata Ryuga.
"Aku beruntung mendapatkan mu." Bisik Ryuga.Pipi Livya makin memanas.
Apa apaan sih ini? Ryuga kepalaku sudah pusing jangan menggombal lagi please! Kau pasti tidak mau kan aku pingsan tiba tiba disini? Beruntung mendapatkan ku katanya? Apa karena kau terlalu banyak makan makanan bergizi otakmu jadi geser? Aku lah orang yang beruntung itu! sangat sangat sangat beruntung karena disukai olehmu Tuan Muda! Kalian para Pria tampan bisanya dengan mudah bikin hati wanita meleleh, tidak kau tidak Eros, atau Tuan Dariel! Oh kakak lelakimu itu juga! Dia keren! Haha!
"Senyum saja terus! Senyummu manis sekali!"
"Ryu... hentikan! Berhenti merayu."
__ADS_1
"Aku jadi ingin menikah juga kalau begini!"