
"Kuantar kau pulang ya?" Alan menawarkan.
"Sudah kubilang jangan mengasihaniku, pak sutradara..."
"Kau mabuk. Kau minum terlalu banyak tadi." Aletta mengangguk membenarkan.
"Aku merasa lebih baik sekarang. Aku akan pakai jasa grab saja, tidak usah repot-repot mengantarku, rumah kita berlawanan arah."
"Tidak, aku tetap akan mengantarmu. Ayo, aku bantu kau berjalan." Aletta tak membantah lagi, mengikuti intruksi Alan sampai masuk kedalam mobil.
Disaat bersamaan dimana mobil yang dikendarai Alan meninggalkan basement, sebuah mercedez hitam menggantikan tempatnya. Suara decitan rem terdengar nyaring diantara kesunyian menginterupsi sepasang lebah jantan dan betina sedang bercumbu disalah satu mobil disana. Detik berikutnya dua lelaki keluar dengan terburu-buru menuju satu-satunya tempat yang semakin malam justru semakin ramai pengunjung itu.
Keempat pemuda beserta Sheril dan Livya yang masih bercanda ria diantara dentuman musik disco tak menyadari keberadaan dua pemangsa yang kini sudah siap melahap mereka. Bahkan Sheril sudah mabuk karena terlalu bersemangat.
"Beraninya pergi ketempat seperti ini dengan pria lain!" Cekalan dilengannya membuat Livya refleks mengaduh. Tubuh mungilnya yang sedang terduduk manis terangkat hingga berdiri tegak dengan sekali sentakan, menghadapkannya pada sosok Ryuga yang sedang menatapnya marah.
"Hey, apa apaan kau! Lepaskan dia!" Erick ikut berdiri, ingin mendekat tapi Ryuga lebih dulu memberikan isyarat dengan tangannya untuk berhenti.
"Berhenti disitu." Ryuga menoleh kearah Erick yang nampak khawatir pada Livya. Sepasang mata lelaki itu memancarkan aura permusuhan yang kental ketika kembali melabuhkan tatapannya pada Livya. Livya menelan ludah, tubuhnya menegang, bahkan netranya tak sanggup bahkan untuk bergerak lari dari pandangan menikam Ryuga.
"Dia kekasihku.." bicara pada Erick untuk memperingatkan tetapi pandangannya masih lekat pada Livya. "..Pulang." Ryuga bicara dengan gigi beradu menahan geram.
"Ryu, sakit, lepaskan dulu!" rengek Livya namun Ryuga tak memperdulikan.
Dion dibelakangnya langsung mengambil alih peran, mendekati Sheril untuk merangkul dan membawanya juga, Sheril yang baru menyadari kedatangan para kekasih yang tak diundang itu bisa bersikap jauh lebih santai, ditepisnya tangan Dion yang menyentuh kulitnya.
"Jauhkan tanganmu!kenapa kau kesini hah? Kalian itu mengganggu saja!"
__ADS_1
"Kau mabuk?Berapa banyak yang kau minum?"
"Hemm,banyak.. kami bersenang-senang barusan!."
"Aku pernah bilang kan kalau kau mabuk-mabukan lagi aku akan menciummu?"
"Aish, dasar kau, kalau mau cium ya cium saja!Apa kau tidak mengerti kemarin aku tidak mau dicium karena sedang main tehnik jual mahal, eh? Tapi kau bahkan tidak bekerja keras.." Dion menatap tak percaya gadis dihadapannya itu.
"Sudah cukup, kita pulang. Ayo!" putus Dion berusaha menghindari kalau-kalau Sheril akan mengatakan hal aneh lainnya jika lebih lama disini, digandengnya tangan Sheril tapi lagi-lagi harus menelan kepahitan karena penolakan terang-terangan dari wanita pujaannya itu.
"Lepaskan aku, jangan sok peduli padaku!Aku tidak mau pulang denganmu, tidak mau bersamamu! Pulang saja sana sendiri! Aku akan pulang bersama teman-temanku, Thomas, Darius, dan Erick! Oke? Pulanglah sana! Ganggu saja," Sheril bersungut-sungut sambil kembali merebahkan diri disofa. Dion menahan jengkel, tapi bagaimana pun ia juga salah disini. Karena bertengkar dengan dirinya Sheril menghilang dan menenangkan diri dengan mabuk-mabukan. Parahnya Sheril membawa Livya juga bersamanya, jelas membuat Ryuga hampir gila menahan emosi. Hal yang membuat Dion muak adalah pemuda-pemuda yang menemani kekasihnya minum harus menyaksikan tubuh indah Sheril juga, Diperhatikannya tubuh Sheril dari ujung rambut hingga ujung kaki, gadis ini pasti sengaja mengenakan gaun malam ketat yang mengekspos beberapa bagian menggiurkan dirinya.
Hufff, Dion tak tahan lagi. Dibukanya jaket yang melekat dibadannya, melepas dan meletakkannya diatas paha Sheril. Sheril menoleh merasakan kulit bawahnya ditutupi. Kemudian menoleh pada Dion yang kini duduk disampingnya. Dion berdehem, sejenak menjeda kalimat yang ingin disuarakannya.
"Maaf bro, aku ada urusan sedikit dengan pacarku, bisa tinggalkan kami?" Keempat pemuda disana saling pandang kemudian tanpa basa basi merasa paham situasinya mereka bangkit bersamaan.
"Maafkan aku." Ucap Dion lembut setelah hanya tinggal mereka berdua saja. "Jangan marah lagi padaku ya? Sudah ya?Aku hanya mengerjaimu dan kau semarah ini padaku, yasudah aku tidak begitu lagi, Aku mencintaimu Sheril, kau tau itu."
"Kau cemburuan sekali sayang," Dion tersenyum sambil mengusap pipi mulus Sheril. "..Aku akan menghukummu!" Dion menghadiahi bibir merah sensual itu sebuah kecupan hangat yang cukup lama, mencuatkan rasa tagih bagi keduanya hingga melakukannya dengan lebih berani dan membakar.
"Banyak sekali kau menghukumku! Dasar pria rabun mesum! Aku akan menghajarmu jika aku sudah sadar besok!" Sheril berucap pelan begitu tautan bibir mereka terlepas, kemudian tumbang dipelukan Dion.
Satu sudut bibir Dion melengkung. Mereka telah berhasil melewati sesi berciuman untuk pertama kalinya dengan cukup baik meskipun Sheril tak sepenuhnya sadar.
"Terimakasih untuk ciumanmu, sayang. Tidurlah, biar aku yang hadapi orangtuamu."
"Ryu, sakit! Lepas dulu! Sheril dan Dion bagaimana? Ryu, kenapa kita tidak menunggu mereka? Sakit Ryu.. Lepaskan aku!" Livya masih meronta hingga Ryuga membuka pintu mobil dan mendorong tubuhnya masuk dan memasangkan safebelt secepat kilat. Livya meringis memegangi pergelangan tangannya yang memerah menyisakan perih, kulitnya hampir terkoyak rasanya. Ryuga belum membuka suara lagi sampai mereka meninggalkan tempat dan berbaur dengan transportasi lain dijalan yang membelah kota.
__ADS_1
Livya membuang pandangan keluar jendela, menyembunyikan airmatanya yang sudah bergerak turun tanpa suara. Ryuga akhirnya sadar betapa ia terlalu keras pada Livya setelah lama mereka mengaktifkan mode hening. Betapa ia merasa ada yang kurang jika tidak mendengar cerewetnya gadis itu disampingnya. Ryuga melirik tangan yang ia genggam tadi, seketika rasa bersalah menggelayutinya melihat kulit putih itu berubah kemerahan. Ryuga menghentikan laju mobilnya, menatap Livya yang menjauhkan diri. Tak kunjung mendapatkan balasan, Ryuga menarik tubuh mungil itu menghadapkannya kearahnya, tapi bulir airmata Livya seperti tamparan keras baginya.
"Kau, kau menangis?" Livya diam, kembali ingin membuang muka tapi Ryuga menahannya. "Maafkan aku.." Livya masih diam. "Kita kedokter dulu untuk mengobati tanganmu ya?" Ryuga kembali mengemudikan mobilnya mencari rumah sakit terdekat, satu tangannya ia gunakan untuk menggenggam jemari Livya. Rasa takut, rasa bersalah, penyesalan bercampur jadi satu. Dalam hati mengutuk diri.
Sebenarnya Livya tidak ingin bicara, tapi mengingat kondisinya yang akan terlalu berlebihan jika harus didiagnosa dokter langsung membuatnya harus menekan harga diri.
"Aku ingin pulang saja." Ryuga menoleh.
"Ya, sayang. Segera setelah kau diberikan obat oleh dokter nanti."
"Aku tidak mau ke dokter. Kau dengar? Aku tidak mau. Kalau kau ingin kedokter datangi saja dia sendiri, aku turun disini saja." Ryuga menginjak rem dengan kesal.
"Liv, berhenti kekanakan, lihat tanganmu!"
"Siapa yang kekanakan disini?! Kau bahkan tidak mau mendengarkan aku saat aku kesakitan tadi! Aku bahkan tidak melakukan hal diluar batas tapi kau menyakiti aku!!" Livya tak menahan-nahan lagi, terisak sebebas bebasnya. Ryuga meninju kemudi sepenuh emosi, lalu mengusap wajahnya kasar. Ditariknya tubuh Livya merapat padanya, menenggelamkan kepalanya kedada, memeluk erat penuh rasa takut kehilangan.
"Maaf, maaf sayang.. Tidak akan kuulangi. Aku begitu emosi karna cemburu.. Kau pergi tanpa memberitahuku dan menonaktifkan ponselmu, aku khawatir, Jangan berkumpul dengan pria-pria lain seperti tadi kau mengerti? Aku tidak tahan melihatnya, Aku mencintaimu, kau hanya milikku." Ryuga mengecup lembut sela-sela rambut Livya.
"Kita kedokter, oke?" Livya melepaskan diri.
"Mau pulang saja.." suara Livya melemah diantara isak tangisnya yang mereda. "Ini sudah hampir tengah malam dan akan mengganggu kalau kita datang hanya untuk memeriksa tanganku, besok saja kalau memang belum membaik. Ini juga sakitnya sudah berkurang."
Ryuga mengangguk. "Yasudah aku akan mengantarmu pulang." Livya tersenyum. Ada kelegaan dihati Ryuga melihat itu, tadi ia memang sangat marah menyaksikan kekasihnya berbagi tawa dengan pria lain. Gadis manisnya ini bisa-bisanya melakukan itu, Ryuga mengusap pipi Livya, kalut oleh pikirannya sendiri.
Cup!
Ryuga terpaku sejenak begitu sentuhan manis nan hangat dibibirnya barusan melintas. Matanya menatap Livya yang kini tersenyum malu-malu menutupi rona merah yang tergaris ditulang pipinya.
__ADS_1
"Ayo pulang." ucap Livya. Ryuga sekali lagi mengusap wajahnya.
"Hey, bagaimana aku bisa berkonsentrasi mengemudi kalau kau mengoda begini,hm?" Livya terkekeh. "Harusnya sedikit lebih lama lagi!" Livya melotot, kemudian menghadiahkan satu tinju manja dilengan Ryuga. Ryuga hanya tertawa kecil. "Oke baiklah, kita pulang."