
Siang yang cerah diakhir pekan dan sinar ultraviolet masuk diantara celah-celah jendela dapur usik sosok cantik Andrea yang berkutat disana. Sibuk dengan potongan bawang abaikan matanya yang mulai perih. Tak bisa keberatan ketika suaminya bebaskan semua pelayan dimansion dari dapur dan sisakan ia dengan satu asisten koki amatiran pencinta nasi goreng.
Dariel diujung ruangan sibuk pasang celemek, singkirkan kaos polosnya kedipkan sebelah mata ketika dapati Andrea menengok kepadanya. Pria itu besar kepala dan jadi banyak senyum belakangan, tau kalau cintanya berbalas dan wanitanya kagumi ia sama seperti yang dia rasakan.
"Apa yang akan aku lakukan, chef? menontonmu?" Dariel tiba-tiba sudah dibelakang istrinya, mengecup pipi Andrea. Mereka sepakat untuk masak bersama tapi Dariel paksa Andrea soal memasak sambil pacaran didapur. Ia ingin terapkan adegan drama dari negeri ginseng yang mereka tonton tadi pagi, drama romantis dimana pemeran utama pria dan wanita adalah dua sosok yang suka memasak dan saling jatuh cinta dan mulai buat sistem, 'memasak sambil pacaran'.
"Kau bisa mulai cuci sayuran itu, pastikan bersih ya!" tunjuk sayuran segar organik kualitas terbaik teronggok diwashtafel. Dariel anggukkan kepala. Berangkat kesana dan nyalakan water faucet, kelihatan menikmati perannya sebagai asisten koki. Lengan-lengan seksi dengan otot-otot yang sedikit mencuat bikin Andrea menggigit bibir. Dia ketahuan sukai bagian sana karna ciumi itu setiap malam.
Dariel serahkan semangkuk sayuran pada Andrea yang mulai nyalakan kompor. Ada beberapa menu yang ingin ia masak dan Dariel bantu siapkan bumbu. Benar-benar menakjubkan ketika suamimu yang seorang bos eksekutif berubah seratus delapan puluh derajat jadi asisten koki tanpa atasan dan mengupas rempah. Andrea mabuk kepayang siang ini, dalam diam cenat-cenut curi-curi pandang kearah perut dan lengan Dariel yang terekspos seakan memanggil minta disentuh.
Dariel bersiul bubarkan pikiran liar Andrea. Senandungkan satu lagu yang Andrea tak bisa tebak tapi bisa rasakan bait-bait romantis dari iramanya. Dariel tak pandai kuasai lagu dan ia terlihat berpikir ketika lupakan nada, mengulang siulan dan kesal sendiri tak dapati nada yang benar. Andrea tersenyum sembunyikan wajahnya belakangi Dariel.
Lima belas menit telah berlalu tenggelamkan dua anak manusia yang mulai kelaparan. Dariel sibukkan diri dengan tunggui sayur rebus, sementara Andrea pegang kendali dua kompor, lincah masukkan udang berlumur tepung kedalam penggorengan sementara aroma ayam saus yang mendidih pengapkan indera penciuman.
"Baunya enak!" Pria itu singkirkan anak rambut yang mengganggu dileher Andrea dan kecup bagian sana lampiaskan rasa lapar.
"Apa kau sudah tak sabaran?"
"Ya, cacing didalam susah mengeroyokku."
"Matikan kompormu, sayur tidak bagus terlalu lama dalam air mendidih."
"Baiklah." Dariel menurut matikan kompor. Kemudian ambil mangkuk yang disodorkan Andrea isi sayur rebus kedalamnya sedikit demi sedikit.
"Tuan?" Dariel menoleh sekilas dapati Andrea menatapnya, tapi ia cepat alihkan lagi pandangan kepanci panas.
"Bicaralah, Aku tak sesakti itu tatap matamu sambil menyendok kuah panas, panci bisa tumpah karena asisten koki yang tampan ini pasti terbuai kalau berlama-lama perhatikan kokinya yang cantik. Bicara saja, aku akan dengarkan." Senyum sekilas. Andrea matikan kompor dan bersandar dimeja pantri, buka celemek, dan lipat kedua tangan didada.
"Hanya aku pria yang boleh kau perhatikan terang-terangan sayang, jangan lakukan itu dengan orang lain atau kau akan dihukum!" ancam Dariel.
__ADS_1
"Kau tak lihat aku tapi tau aku memperhatikan dirimu?"
"Kau tak jarang lakukan itu, diam-diam perhatikan aku, pandangi aku, honey kau ketauan meyimpan minat yang sangat besar padaku, loh!"
"Astaga, narsis sekali! Aku perhatikan dirimu karna kau jelek!"
"Oh ya? Kukira aku sangat cocok jadi model saat ini."
"Persis, model celemek!" Dariel melirik tajam tapi biarkan Andrea tertawa ditempatnya.
"Kepalaku sakit sekarang." Dariel menoleh cepat. Letakkan sendok sayur dan bergerak merengkuh Andrea. Tangkup rahang tirus yang cantik dengan kedua tangan kokohnya.
"Kau serius?" tanya Dariel cemas. Andrea mengangguk lemah. Pasang ekspresi menahan sakit yang bisa runtuhkan pertahanan, gunung es sekalipun.
"Apa kau kelelahan? Kenapa tak bilang sejak awal? Kau tak perlu turun kedapur kalau tidak enak badan," Dariel bicara dengan nada khawatir yang nyata. Peluk istrinya beri kecupan hangat diubun-ubun. Andrea tertawa tanpa suara, sembunyikan wajahnya didada Dariel, aroma maskulin yang memabukkan menguar dari pori pori goda Andrea untuk melakukan lebih. Andrea elus-elus lengan Dariel, akui terpesona penuh pada sosok macho ini, jatuh cinta berkali-kali setelah dirinya lalui masa-masa insecure tentang dicap sebagai pelakor dan tak harapkan Dariel pilih dirinya sebagai pendamping disisa-sisa kehidupan mereka.
"Ayo kekamar dan biarkan pelayan yang bereskan sisanya, kau harus segera makan dan beristirahat.. Aku akan panggil dokter kemari," Hampir menggendong ketika Andrea menahannya, tarik leher prianya dengan ritme pelan tapi pasti, secepat yang ia bisa kaitkan bibir mereka. Buat sebuah jalinan perlahan namun sensual biarkan sinar mentari yang menyelubungi sejak tadi memekik iri. Detik-detik terakhir ketika Andrea renggangkan ciuman dan tersenyum manja kearah Dariel, pria itu mendesis gemas sadar telah dikelabui.
"Yaa tadi sakit, sedikit," beri contoh dengan jari. "..sekarang aku sudah makan obatnya dan sembuh." Dariel berdecak.
"Ciuman kau bilang obat?"
"Aku tak sengaja baca artikel, katanya ciuman bisa redakan sakit kepala. Aku hanya ingin buktikan itu." berkata tanpa dosa. Acuh dengan Dariel yang gemas setengah mati.
"Berhentilah mengguruiku seperti tadi, Rea! Kau ingin dicium tapi gengsian! pria tampan ini sudah milikmu, tidak perlu sungkan untuk memintanya. Seperti ini!"
Dariel serbu daging kenyal yang manis itu sekali lagi. Dendamnya pada gairah yang selalu bangkit buat Dariel berikan tekanan-tekanan sedikit kuat ketika ******* dan jelajahi dengan kasar nikmat duniawi yang dimiliki Andrea. Lebih sensual bahkan jauh lebih lama dari yang tadi, dan diakhir jalan Dariel kedapatan frustrasi. Bicara dengan nafas memburu menahan hasrat.
"Jangan nakal lagi! Kau bikin aku cemas serius! mungkin tak lama lagi aku kena serangan jantung dan mati karna keseringan berdebar oleh ulahmu." Dariel menyipit, pandangi Andrea yang terang-terangan tertawa. Masih kalungkan kedua tangannya dileher pria itu.
__ADS_1
"Kemarin aku mendadak jadi istri, masa secepat itu aku mendadak jadi janda? Sayang, maafkan aku, jangan sepasrah itu pada kematian, kalau David minta ayah baru bagaimana?" Dariel sekonyong-konyong menjentik dahi Andrea bikin wanita itu meringis.
"Ini sakit!" rengeknya. "Ini sudah termasuk kekerasan dalam rumah tangga, aku bisa ajukan perpisahan kepihak berwajib!"
"Awas saja kalau berani!"
"Daripada dahiku bolong!" Andrea bersungut kesal, punggungi Dariel tapi tetap biarkan pria itu memeluknya dari belakang.
"Kalau pihak berwajib menyetujui keinginanmu aku akan membunuh mereka semua, bawa kabur kau dan David ketempat terpencil sampai kau tak akan merasa lengkap tanpa aku, berpikir seratus kali untuk nakal dan ancam aku dengan perpisahan." Dariel rendahkan suaranya buat Andrea terpaku kehabisan kata. Haru biru ketika untuk kesekian kalinya Dariel buat ia merasa sangat dipuja.
"Rea?"
"Ya?"
"Hanya memanggilmu saja."
"Kau ini!" menyikut Dariel.
"Kau tau, aku merasa jadi pria yang paling romantis saat denganmu, salah-salah kalau ada produser lewat dia akan tawari aku main drama romantis kalahkan aktor S*ng K*ng yang sedang naik daun." Andrea mengulum senyum dengarkan celotehan suaminya.
"Tapi aku tak bisa romantis seperti pemeran wanita,"
"Kita bisa romantis dengan cara kita sendiri, Rea. Lagipula aku sudah cukup puas dengan pelayananmu."
"Pria mesum!" Dariel tergelak.
"Ternyata cukup menyenangkan pacaran didapur, apakah kita harus lakukan ini sering-sering?" Andrea bertanya biarkan Dariel kembangkan senyuman disisinya.
"Berhentilah menggoda, atau aku tidak bisa kendalikan diri dan kita akan bercinta diatas kompor!"
__ADS_1
......
Siapa lagi disini yang pernah coba pacaran didapur? Wkwk.