
Andrea mendongak dan bibirnya tak bisa menahan untuk tidak tersenyum meski terasa getir manakala seraut wajah pria tampan berstatus suaminya itu muncul. Meski sadar Dariel telah menyiratkan kemarahan yang nyata tak urung juga ia berdiri dan menyesakkan diri pada lelaki itu.
"Sayang? Kau disini? Kejutan sekali.." ujar Andrea berusaha seceria seperti biasanya. Dariel belum menjawab, malah sorot matanya lekat menembus alam sadar Damian, Damian juga nampak tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya menyaksikan kehadiran Dariel Lee disisi mereka. "..Suamiku, jangan salah paham," Andrea cepat menengahi kala gelagat tak beres dihaturkan suaminya pada mantannya itu. "..kami hanya kebetulan bertemu tadi, bagaimana kalau kalian kenalan dulu? Sayang, ini temanku Damian, Damian perkenalkan, ini suamiku, Dariel Lee."
"Dia? Suamimu? Kau serius?" Damian seolah belum yakin padahal jelas ia tak akan salah dengar. Reaksi Damian membuat Andrea terheran. Tapi tak urung jua ia mengangguk.
"Tidak mungkin," bantah Damian.
"Kenapa tidak mungkin?" Kali ini Alexander Dariel Lee yang menjawab. "..Andrea Istriku dan aku suaminya. Sah dimata negara, lalu kenapa?kenapa kau sepertinya keberatan?" tuduh Dariel. Situasi jadi mencekam ketika Andrea untuk sesaat harus membiarkan dua srigala didekatnya ini saling pandang penuh ketidaksukaan.
"Bahkan Andrea masih kekasihku saat kau menikahi seorang aktris lima tahun lalu, hem...rupanya aku terlalu sibuk sendiri selama ini dan melewatkan kabarmu." Damian tertawa kecil yang justru membuatnya kelihatan menyeramkan dimata Andrea. Dariel menyeringai. Menyembunyikan hatinya yang terbakar ketika mendengar pengakuan Damian. Kekasihnya katanya? Mereka pernah menjalin kasih?
Dariel merapatkan tubuhnya sedikit pada Damian dan berbisik,
"Intinya apapun yang kau rencanakan, percayalah, semua itu tidak akan pernah terjadi, Aku tidak akan membiarkannya, Andrea milikku. Jangan berurusan denganku lagi karena kali ini jika aku marah, aku tidak akan membiarkanmu hidup. Jauhi istriku." desis Dariel kasar ditelinga Damian. Kemudian kembali keposisi semula. Tak bisa berkata lebih banyak, sadar kini percakapan mereka mengundang perhatian dari khalayak direstoran itu, Dariel terpaksa mengesampingkan emosinya, padahal ia sudah sangat geram ingin melayangkan tinju kewajah Damian tadi, dengan gerakan lembut beralih mengambil David kecil dari gendongan Andrea tanpa wanita itu bisa mencegah.
"Kita pulang," tegas Dariel sambil tangan yang lain meraih lengan Andrea. Suara dingin itu membuat Andrea terpaksa mengubur dalam senyum yang sempat ia tampilkan tadi, membekukan hatinya yang selalu menghangat jika berdekatan dengan Prianya. Kemudian dengan ego kepemilikannya yang super tinggi, menarik Andrea setengah menyeret untuk segera keluar dari sana, meninggalkan Damian yang terpaku takjub bahwa dunia memanglah sesempit ini. Takdir membawanya berurusan dengan Dariel Lee lagi.
"Masuk!" Sambil sedikit mendorong, Dariel memerintah Andrea memasuki mobil yang sudah terparkir sesaat sebelum mereka keluar dari pintu restoran itu. Kemudian setelah memastikan Andrea duduk ia menyusul juga dibangku penumpang yang sama, tetap menjaga keseimbangan diri agar anak dalam buaiannya tidak terbangun. Andrea hanya diam memperhatikan suaminya menepuk pelan bokong anak mereka yang terlelap. Ia menggigit bibir, tak berani berucap meski sangat ingin.
"Kita akan bicara setelah dirumah nanti." Ucap Dariel masih dengan nada dingin yang sama, tanpa menoleh kearah Andrea yang hanya bisa menahan kepahitan karena sikapnya.
Waktu jadi terasa sangat lambat mengitari mereka, dan Dariel hampir kalah oleh perasaan, hampir tak bisa menunggu lebih lama untuk merenggangkan diri seperti ini dari wanita cantik disisinya, rasanya begitu menyiksa ketika mereka duduk bersama tapi harus menahan suara, duduk berjarak ini bahkan tidak seberapa, hanya sesingkat perjalanan pulang saja, lalu bagaimana jika mereka benar-benar harus menjaga jarak selamanya jika pikiran buruknya ternyata menang dan Andrea benar ada main api dibekalangnya? Dariel menggeleng pelan mengusir semua pikiran jelek itu.
__ADS_1
Andrea membiarkan Dariel menaruh David kecil didalam box begitu mereka telah sampai dikediaman keluarga Lee.
"Kau mau mandi? Aku siapkan air hangat ya?" tawar Andrea sedikit sungkan begitu dilihatnya Dariel melepas jas kantornya, harap-harap cemas emosi Dariel segera mereda seiring pelayanannya. Padahal hari-hari sebelumnya wanita itu tanpa bertanya langsung menyiapkan segala. Karena Dariel tak menjawab juga, Andrea menghampiri Dariel dan membantu melepaskan kancing kemejanya.
"Biarkan," ucap Dariel menghentikan jari-jari lentik itu didadanya.
"Tidak ingin mandi?" tanya Andrea lagi. Dariel hanya menatap Andrea selintas lalu menjauhkan diri tanpa menjawab, bergerak menuju jendela kaca yang menampakkan suasana halaman depan mansion, berdiri disana sambil tangan ia masukkan kesaku celana, menyembunyikan rasa gatal ingin menyentuh sisi demi sisi diri Andrea, anehnya bisa-bisanya ia masih merasa ingin menyentuh bahkan saat sedang sangat kesal begini. Tidak boleh! wanita itu bisa besar kepala jika ia terlalu kelihatan bertekuk lutut.
Sial! Sial! Sial! Marah Dariel! Marah! Ayo, Jangan lemah!
"Aku mungkin tidak mengenalmu dengan baik,,," raut wajah Dariel berubah sedih ketika mengatakan itu. "..Atau mungkin, kau yang sengaja mempermainkan aku, apakah saat ini kau sedang berlakon seolah mencintai aku?kenapa kau melakukan ini Rea?"
Andrea mendekat, meraih lengan kokoh itu untuk ia rangkul.
"Wajar jika aku meragukanmu, kau bahkan tidak pernah cerita ada pria lain yang akrab denganmu selain aku! Kalian mantan kekasih, bahkan kalian berkencan saat di Paris kan?"
"Berkencan apanya, aku tidak merasa berkencan dengan Damian." Andrea membela diri. Dariel meraih jas yang tadi ia kenakan lalu mengeluarkan amplop coklat dari sakunya. Melempar begitu saja benda itu kelantai hingga beberapa lembar foto didalamnya mencuat keluar. Menampakkan pose tidak disengaja Andrea dan Damian dibeberapa tempat.
"Lalu apa ini?!" bentak Dariel frustasi. Jelas Andrea kaget. Diraihnya benda itu.
"Darimana kau mendapatkan semua ini?"
"Darimana aku dapatkan tidak penting," geram Dariel. "Yang terpenting adalah apakah yang kupikirkan saat ini benar?"
__ADS_1
"Kau menuduhku?"
"Rea, jujur saja padaku. Oh! Aku lupa, pantas saja ya kemarin kau melenggang dengan senang hati setelah menyetujui bercerai dariku, jadi kemarin kau sudah ada niatan kembali dengan mantan kekasihmu itu? Apa dia lebih baik dariku? Katakan!" Dariel meremas kedua bahu Andrea, membuat lenguhan kesakitan muncul dari bibir ranum kemerahan yang sialnya malah menoel-noel akal sehat Dariel. Segera dilepaskannya lagi tubuh Andrea, kembali menatap sejauh mata memandang dari tempatnya tadi. Ia hampir menyakiti istrinya.
"Aku mungkin bukan pria yang baik, aku sadar kesalahanku dimasa lalu. Tapi Aku benar-benar tidak bisa maklum jika ada sesuatu antara kalian berdua." ujar Dariel kemudian setelah beberapa saat hening diantara mereka. "Aku mengorbankan segala hal penting tidak untuk melihatmu bersama orang lain, kenapa kau tega sekali membuat aku terbakar cemburu? Apakah kau tidak tau rasanya?Sakit sekali. lagipula kenapa harus Damian?" kali ini Dariel bergumam dalam hati.
"Terserah kau saja mau percaya atau tidak! Tapi jika sampai kau lebih percaya orang lain daripada aku, maka baiklah, kita sudahi saja." Dibelakang Dariel, Andrea sudah menitikkan bulir airmata meski cepat ia menghapusnya, ia tersinggung, jelas saja, Dariel begitu angkuh dengan pemikirannya sendiri. Tidakkah ia berpikir selama ini bagaimana posisinya sejak awal menikah? Mengapa ia selalu menjadi pihak yang bersalah? Andrea juga bisa marah dan ia akan menunjukkannya.
Dariel meninju dinding didepannya sampai buku-buku tangannya memerah. Tidak seperti yang diharapkan pria itu rupanya, Andrea malah memilih meninggalkan ia sendiri setelah menghantam dadanya dengan godam yang menyakitkan, kata-katanya barusan itu, apa yang wanita itu inginkan hingga berani menjawapinya dengan pemikiran sejauh itu. Apakah tadi ia yang keterlaluan? Kali ini Dariel mengacak rambutnya frustasi. Padahal tanpa diketahui Andrea betapa pria itu sangat ingin ia peluk tadi sambil meyakinkannya dengan senandung kata-kata cinta yang khas. Menghiburnya agar tak tertekan oleh pikiran buruk yang sedang bergelayut.
Sementara Andrea melangkah menuju dapur, mencari-cari beberapa bahan didalam kulkas untuk ia olah menjadi makanan nikmat pengisi perut. Beberapa pelayan yang kebetulan tidak berada didapur kaget begitu mereka ingin memasak Andrea sudah menunggui kompor. Bahkan wanita itu lupa mengenakan celemek. Mereka tidak tau bahwa semua ini hanyalah pelarian untuknya. Sebagai penghiburan untuk hati dan jiwanya yang sedih.
"Nyonya muda, apa yang anda lakukan? Silakan kembali kekamar, kami akan menyelesaikan semuanya." Utari sang kepala pelayan lebih dulu ambil tindakan, menjauhkan tangan Andrea yang sedang mengaduk diatas wajan.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin. Biarkan saja."
"Nyonya maafkan kami, kami lalai dengan tugas kami, apakah anda lapar, kami akan menyiapkannya segera, mohon Nyonya kembali kekamar, tuan Dariel akan marah kalau melihat ini semua, tolong Nyonya.." masih tidak mau menyerah untuk menyadarkan tindakan Andrea yang bisa menjadi cambukan bagi mereka. Andrea tersenyum ramah.
"Aku sedang ingin memasak, tolong biarkan aku melakukannya. Oh, bagaimana kalau kalian membantuku saja, ada beberapa menu yang ingin kumasak, jika memasak bersama akan terasa lebih menyenangkan. Ayo," tanpa diperintah dua kali pelayan-pelayan itu mengangguk patuh dan bergerak mengemban tugas masing-masing. Sangat cekatan hingga dalam sekejap mereka hampir menyelesaikan semuanya.
"Aku akan membantu memotong wortelnya, berikan.." Andrea menoleh begitu suara yang familiar mengisi suasana dapur. Ia terkejut begitu mendapati Dariel sudah berada tepat disisi sebelahnya, bahkan wajah mereka dekat sekali sekarang. Pandangan Andrea beralih menjajah seluruh dapur dan anehnya tak lagi menemukan seorangpun pelayan disana.
Kemana mereka?
__ADS_1