Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps 86


__ADS_3

Suara pintu yang dibuka membuat si Milyarder tampan menoleh. Nampak Andrea telah selesai dengan segala ritual pembersihan dirinya. Perempuan itu kelihatan jauh lebih segar dari sebelumnya, rambutnya yang basah masih dibiarkan terurai sebelum kemudian tangannya cekatan meraih handuk kecil didalam lemari dan mengaplikasikan benda itu kerambutnya sebagai pengering. Beberapa saat mengacuhkan Dariel yang menatapnya penuh dendam. Andrea tak menyadari itu.


Dendam untuk membuat Andrea nantinya tak akan berpikir untuk mengerjainya setelah semua strategi yang disusun otaknya beberapa saat lalu.


Tapi, apa ini?


Mata indah Dariel hampir tak berkedip begitu dipaksa menyaksikan pemandangan indah yang telah lama hilang dari peredaran itu. Seorang wanita dengan hanya berbalut handuk yang menutupi batas dada sampai lutut menyajikan kulit putih segar bak susu pelepas dahaga bagi bayi yang sedang kehausan. Bagaimana mungkin Dariel Lee tak meronta ronta dalam hatinya ketika Andrea menggodanya tanpa sengaja begitu?


Dariel berdehem sebelum akhirnya berusaha mengembalikan pikiran warasnya. Ia sudah berniat tadi saat Istrinya masih dibilik mandi, ia tak akan menyentuh Andrea sampai wanita itu sendiri yang menginginkannya. Ah, kenapa jadi sesulit ini saat Andrea sudah didepan matanya. Perempuan itu bahkan tanpa rasa bersalah keluar dengan membawa hidangan menggoda.


"Kau tidak mandi?" Suara Andrea membuyarkan pikiran mesum Dariel. Dariel mengerjap ketika menyadari tatapannya intens kearah istrinya itu. "Aku sudah menyiapkan air hangat supaya tubuhmu segar. Cepatlah mandi aku akan membuat sarapan setelah ini." Andrea memerintah sambil tangannya mencari-cari pakaian apa yang ingin dipakainya pagi ini.


Dariel diam tapi dalam hati mengutuk kecantikan dalam balutan wajah polos Andrea yang mendebarkan itu. Perempuan satu ini benar-benar ujian untuknya.


"Tidak udah memasak, aku sudah memesan sarapan untuk kita. Lagipula siang ini kita akan kembali." Andrea menoleh kearah Dariel yang duduk santai bersandar disandaran ranjang beberapa meter darinya.


"Aku sudah mengurus apa yang perlu saat kau mandi tadi, kita hanya tinggal mempersiapkan diri sebelum berangkat." Andrea menampilkan senyum terbaiknya lalu mengangguk. Kembali fokus pada benda dihadapannya.


"Kau sedang apa?" Andrea terkesiap ketika dua tangan kekar itu sudah melingkari pinggangnya. Dengan manja Dariel meletakkan wajahnya dilekukan antara leher dan pundak menggiurkan milik Andrea. Suaranya kental akan niatan mesum ketika bertanya.


"Aku akan berganti pakaian..." Andrea menggigit bibirnya pelan begitu kecupan demi kecupan dihadiahkan Dariel disana.


"Kau harum." Nafas Dariel terasa hangat menerpa kulit leher Andrea ketika ia mengucapkan yang dihidu nya barusan. "Kau selalu menggodaku." Andrea terkekeh.


"Sentuh saja aku semaumu, aku tidak akan menolak." kata kata bagai percikan bensin diatas api itu tentu saja langsung mengundang dentuman besar diseluruh penjuru sendi Dariel.


"Tuan!!"

__ADS_1


Dariel terkesiap begitu suara keras Andrea menggema. Ia mengerutkan dahi ketika menyadari Andrea sudah berdiri dihadapannya dengan tubuh sudah berbalut potongan gaun indah berwarna kuning yang membuatnya semakin bersinar.


Andrea mengguncang bahu Dariel pelan. Memaksa Dariel menatap kematanya.


"Kau baik baik saja? Kau melamun...Apa ada masalah?"


"Aku melamun?" Dariel membeo. Andrea mengangguk yakin. Seketika Dariel menggaruk kepalanya yang tak gatal menyadari pikiran vulgarnya barusan.


Ah.. untunglah hanya lamunan, Rea bisa besar kepala kalau tau aku sebegitu ingin menyentuhnya! Harus kuat, harus kuat, harus kuat! Rapal Dariel dalam hati.


"Apa kau merasa tidak enak badan?" Dariel menggeleng.


"Aku akan mandi." Dariel bangkit dengan kondisi tubuh masih telanjang dan spontan membuat Andrea memekik sambil menutup mata menghindari pandangan mengerikan yang terpampang nyata didepan wajahnya.


"Kenapa?" tanpa dosa Dariel menyuarakan pertanyaan.


"Kau sangat tak tau malu, Tuan!" masih sambil menutup mata Andrea menjawab. Tingkahnya itu membuat Dariel gemas dan semakin iseng. Diraihnya tubuh mungil Andrea. Merapatkan dua raga yang sangat cocok secara keseluruhan itu. Tangannya meraih kedua tangan Andrea, melepaskannya dari wajah cantiknya menampakkan semburat rona merah dipipi perempuan itu. Dariel berdecak.


"Tapi kita sudah lama tidak bersama, kau begitu gamblang menunjukkan tubuhmu." Dariel menyeringai.


"Aku tau kau menyukai tubuhku, apa kau sedang berhasrat setelah melihat...." Dariel melirik kebawah.


"Kau ini!!" Andrea mendorong tubuh Dariel menjauh, tapi usahanya sia sia ketika Dariel sudah mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya membuat tubuh mereka malah semakin merapat.


"Tuan..." Andrea merengek ketika Dariel mengecup bibirnya. Dariel sendiri sudah kalut oleh gairah. Matanya sudah berkabut ketika menyentuhkan bibir mereka barusan. Lupa dengan rencananya.


Dia telah kalah karena tergila gila.

__ADS_1


"Apa,hmm?"


"Berhentilah mesum, atau kita akan ketinggalan pesawat dan menunda kepulangan ini." Dariel tersenyum. Menggesek gesekkan ujung hidung mereka seperti yang dilakukan Andrea tadi.


"David akan mengerti, bahkan dia sudah mengerti sejak dalam kandungan betapa Ayahnya tergila gila pada Ibunya.."


Kalimat itu jelas terucap dan Dariel penuh ketulusan mengutarakannya. Ia sudah melupakan rencananya membuat Andrea menginginkannya, toh ia sendiri tidak bisa barang sedetik saja mengalihkan pandangan pada pesona wanita satu ini. Ia jatuh cinta pada Andrea jiwa dan raga.


"Kau belum memberiku hadiah.." Andrea memejamkan mata ketika Dariel menyatukan bibir mereka dengan cara begitu sensual. Ciuman panas penuh tuntutan. Ia tak kuasa menolak, sentuhan Dariel selalu berhasil membangkitkan rasa yang sempat terkubur lama diraganya. Bahkan ia sudah kehilangan separuh kesadarannya ketika gaunnya dilepas dan tertonggok begitu saja dilantai.


Dariel tersenyum begitu sebuah erangan kecil keluar dari bibir Istrinya. Tanpa pikir panjang Dariel membungkuk sebentar dan menggendong tubuh telanjang mereka kepembaringan. Baru saja Dariel akan memuluskan niatnya kembali suara bel pintu apartemen terdengar menjengkelkan. Kemungkinan itu adalah petugas delivery makanan yang tadi dipesan Dariel.


"Buka dulu," Andrea mencoba mengeluarkan suara diantara nafasnya yang belum beraturan. Meski kesal Dariel menurut juga, ia yang membuat gangguan ini sendiri. Setelah melilitkan handuk ketubuhnya ia bergerak cepat menuju pintu.


Dua netra bersirobok begitu penghalang itu terbuka, seorang gadis yang memang bertugas sebagai deliver yang sudah bersiap siap dengan senyum penuh sopan seperti biasa saat menghantar pesanan langsung menenggelamkan senyum manisnya tadi berganti dengan mulut terbuka karna terperangkap dalam pesona dan kharisma seorang Dariel Lee.


"Apa kau akan memandangiku terus dan membiarkan makanan itu dingin?" Suara bariton milik si tampan membuat gadis itu mengerjap.


"Eh, maaf Tuan. Maafkan atas kelancangan saya," jawab gadis itu menahan malu. "Ini pesanan Anda. silakan dicheck terlebih dahulu." Dariel menerima bungkusan yang dibawa gadis dihadapannya. Tanpa menurut memeriksa Dariel mengeluarkan beberapa lembar uang cash dan memberikannya pada gadis itu.


"Untukmu," Jelas Dariel begitu menangkap mimik heran diwajah kurir berwajah manis tersebut. Cepat gadis itu menolak.


"Tidak usah tuan, terimakasih."


"Ambillah, meskipun kau mengantarkan makanan tak tepat waktu aku tetap harus menghargai kinerjamu."


"Tak tepat waktu?" Gadis itu terbelalak. Ia melirik jam tangannya. Setengah jam tepat ia sampai sesuai permintaan pelanggan. Tapi kenapa pelanggan mengatakan ia tak tepat waktu, gadis itu nampak kebingungan. Dariel berdehem menyadari ia salah bicara. Gadis ini mengantarkan pesanan tepat sesuai permintaannya tadi mengingat Andrea sudah lapar tapi tidak tepat ketika ia dan Istrinya sedang...

__ADS_1


"Ambil ini dan pergilah." Dariel mengalihkan pikiran gadis didepannya. Belum sempat gadis itu menerima, suara Andrea menengahi mereka.


"Lisa?"


__ADS_2