
"Sayang, bangunlah. Kita sudah sampai." Suara itu pelan namun dengan mudahnya membuyarkan semua mimpi Andrea. Perlahan matanya membuka. Rasa kantuk masih menguasainya terbukti ketika ia mencoba menegakkan tubuh mulutnya menguap beberapa kali. Melihat itu Dariel sedikit menyunggingkan bibirnya.
"Ayo," Dariel meraih jemari lentik Andrea keluar dari pesawat pribadi miliknya dan mereka langsung disambut oleh supir suruhan Jonathan. Sementara pria itu sibuk untuk rapat para direksi menggantikan Dariel sementara ini.
"Kau banyak diam sejak kita berangkat tadi, ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Dariel ketika mereka sudah berada didalam mobil kepunyaan Dariel Lee yang melaju membelah jalan kota. Andrea yang semula memilih menatap jalanan dengan gedung-gedung pencakar langit yang kokoh berdiri itu kini beralih menatap suaminya. Tersenyum.
"Aku hanya lelah. Jangan khawatir."
"Benar?" Andrea mengangguk cepat. Dariel menarik pinggangnya membuat tubuh mereka merapat. "Karna itu kau membuat duduk kita sekarang sangat berjarak? Jangan begitu lagi, kita akan terlihat seperti sedang bertengkar nanti. Dimanapun, tetaplah seperti ini," merangkul mesra Andrea.
"Ya, baiklah.. Aku sedang senang sekarang karena sebentar lagi akan bisa memeluk anak kita, jadi aku tidak akan membantahmu, Tuan suami." Mereka tertawa ringan bersamaan. Andrea merebahkan kepalanya didada Dariel, meresapi kehangatan yang muncul dari tubuh perkasa itu.
"Jangan gugup. Tidak akan ada yang membullymu selama aku disampingmu. Tidak akan kubiarkan. Tenanglah, cukup temani aku dan jangan pergi tanpa seizinku lagi, semua akan baik-baik saja, aku akan menjaga apa yang sudah kudapat." meski nadanya pelan dan datar tapi kata-kata Dariel itu terdengar mantap dan menyentuh. Hati Andrea menghangat mendengar penuturan dari suaminya itu. Bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis, pria ini, selalu saja mengerti apa yang tak terucap sekalipun. Andrea makin merapatkan pelukannya. Setelah beberapa bulan meninggalkan negaranya, jujur, Andrea memang gugup, rasa takut ketika nanti akan dikucilkan tentu sempat menggerayangi hatinya.
"Terimakasih." bisik Andrea tak kalah pelan. "Emm, sayang, bisakah kita membeli sesuatu untuk Nyonya besar? Akan sangat canggung bagiku tidak membawa apapun untuknya"
Dariel terlihat menghela napas.
"Pertama tama, biasakanlah dirimu untuk tidak menyebut mertuamu sendiri dengan panggilan 'Nyonya besar' lagi,Rea.. itu sangat mengganggu telingaku sekarang." Andrea terkekeh menutup mulut kecilnya.
"Maaf.Akan aku biasakan."
"Memang kau ingin membeli apa untuk Mama?"
"Emmmm.." Andrea nampak berpikir. "Sebenarnya aku tidak tau apa yang Nyonya, eh.. Maksudku yang Mama sukai."
"Lagipula sebenarnya Mama tidak membutuhkan apapun, dia sudah punya semuanya. Kembalilah kerumah dan jadilah menantu yang baik dengan memberikan banyak cucu, kupikir itu hadiah paling sempurna untuk Mama."
__ADS_1
"Kau ini!" Andrea mencubit pelan lengan Dariel yang melingkar dipinggulnya. Dariel hanya tertawa pelan penuh kepuasan. Mereka kembali berpelukan.
"Rea?"
"Ada apa?"
"Tidak ada. Hanya ingin memanggilmu saja."
**
"Nyonya, Tuan Dariel dan Nyonya Andrea sudah tiba." Utari nampak tergesa tega menyampaikan apa yang dilihatnya. Nafasnya masih agak tersengal begitu sampai diambang pintu kamar Nyonya besar keluarga Lee.
"Kau dengar sayang? Orangtua mu sudah kembali. Ayahmu yang dimabuk cinta itu sudah berhasil membawa Ibumu. Ayo kita sambut mereka." Nyonya Lee berjalan anggun menuruni anak tangga yang menghubungkannya dengan lantai bawah sambil membawa Davidson dalam buaiannya, dua pasang kaki nampak memasuki mansion mewah itu, pandangan keduanya bertemu dengan Nyonya Lee. Andrea yang pertama menghambur kearah Nyonya Lee, memeluknya.
"Bagaimana kabar Mama?" ada rasa sungkan ketika lidah Andrea mengucapkan itu.
"Sayang..." Andrea mengusap pipi anaknya pelan dengan satu jari. Bayi tampan nan montok itu nampak menggeliat dalam gendongan Ibunya.
"Maafkan Ibu ya," Andrea menyeka airmatanya. Dariel bergabung dengan Andrea. Menatap penuh cinta putra mereka yang kini nampak tertawa.
"Kau bahagia melihat Ibumu lagi,hm?" tanya Dariel. "Berterimakasihlah padaku setelah kau bisa bicara nanti, oke?" Andrea dan Nyonya Lee tergelak mendengar kata-kata Dariel itu.
"Rea, aku mengundang keluargamu untuk makan malam bersama nanti malam. Istirahatlah agar kau segar ketika menyambut mereka. Kalian berdua istirahatlah, aku akan menjaga cucuku." Nyonya Lee kembali mengambil David kecil dari Ibunya. Ada perasaan tak rela di diri Andrea ketika rasa rindunya belum tercurah penuh karena baru sebentar menggendong. Tapi ia tak membantah.
"Ah.. Sepertinya akan cocok kalau kami menambah momongan lagi, David bukan seperti anak kami, dia seperti milik Mama." protes Dariel, Nyonya Lee hanya tersenyum.
"Tentu saja dia milikku. Kalian berdua buatlah lagi, sebanyak banyaknya! ya ampun, membayangkannya saja sudah membuatku senang, lagipula David tidak akan kesepian nanti jika memiliki adik. Berusahalah lagi!" sedikit tertawa Nyonya Lee mengatakan itu membuat Andrea melongo tak percaya.
__ADS_1
"Tentu saja Ma, aku akan berdiskusi nanti dengan Rea harus mencetak berapa banyak lagi." Tambah Dariel semakin membuat pipi Andrea panas.
Oh Astaga!! Ibu dan anak ini! kenapa mereka segamblang itu, membuat anak kan tidak semudah membuat omlet!
Sesuai perintah mertuanya, Andrea dan Dariel masuk kekamar milik Dariel untuk kali pertama. Begitu menginjakkan kaki diambang pintu, Andrea tertegun. Matanya menyapu seluruh isi ruangan tanpa sisa. Sungguh luas bahkan berkali-kali lipat luasnya dari kamar apartemen mereka dulu.
Apa ini kamar Dariel dan Aletta dulu? Kenapa aku merasa tidak nyaman ya? bisik hati Andrea.
"Rea, apa yang kau lakukan, kenapa berdiri disitu terus, kemarilah, jangan membuatku menunggu. Duduk sini." Dariel menepuk nepuk sisi sebelah sofa yang ia duduki. Andrea menurut, melangkah pelan. Tiba tiba, sebuah bayangan Aletta muncul didepannya, kilasan-kilasan balik ketika wanita itu memulai aktivitasnya dikamar ini. Nampak bahagia ketika menyiapkan pakaian untuk Dariel, ketika mereka bercengkerama dan saling tertawa, ketika Dariel menciumnya. Andrea memalingkan wajahnya. Tanpa sadar gelagatnya itu mengundang kerutan dalam didahi Dariel Lee.
Kenapa dia?
Dariel bangkit dari duduknya. Meraih kedua sisi pipi istrinya. "Ada apa? Kau gemetar." Dariel tak menutupi kecemasannya.
"Tidak, tidak.. Aku hanya belum terbiasa. Kamar ini,"
"Oh, akan kupinta pelayan menyiapkan kamar yang lain untuk kita, maafkan aku. Kenapa aku tidak memikirkan itu!" Dariel kesal pada dirinya sendiri. Andrea pasti risih sekarang karna ini adalah kamar pribadinya dan Aletta dulu.
"Tidak apa apa, jangan merepotkan pelayan, mereka sedang sibuk untuk makan malam kita, besok saja, biar aku tidur disini malam ini."
"Kau yakin?" Andrea mengangguk. Andrea mencoba menguatkan hati, ia melepaskan diri dari Dariel dan berniat duduk ditempat yang tadi suaminya inginkan. Dariel mengikutinya.
"Kau yakin tidak apa apa?" sekali lagi Dariel memastikan. Andrea tersenyum berusaha meyakinkan pria ini. Dariel menggenggam jemari Andrea erat.
"Jangan paksaan dirimu, Rea."
"Mungkin karna aku masih dikuasai rasa bersalah.." ucap Andrea lirih. "Aku mengambil tempatnya dihidupmu.Sebenarnya aku sering menyesali tindakanku dimasa lalu, tindakanku memintamu menikahiku, semuanya jadi seperti ini. Kadang aku berpikir, bisakah dia memaafkanku?"
__ADS_1