Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT EPS 89


__ADS_3

"Kakak!" suara manja Livya langsung terdengar bahkan meskipun mobil belum berhenti dengan sempurna. Sekonyong konyong ia turun dengan cara yang sangat tidak anggun dan berlari kecil ingin secepatnya meraih tubuh kakaknya untuk ia peluk. Andrea sudah menyambut diambang pintu bersama Dariel dan Nyonya Lee. Senyumnya tak henti mengembang.


"Ah akhirnya kau kembali, kenapa kau semakin kurus sih?" mengamati tubuh Andrea yang terbalut gaun selutut berwarna pastel.


"Lalu kenapa kau terlihat gendut sekarang? Bahkan terakhir kali kita video call kau masih langsing!" Livya terkekeh.


"Ryuga yang akan bertanggung jawab nanti soal kenaikan berat badanku. Oiya kak, ada yang mau kuberitahu nanti," sedikit berbisik sambil melirik kearah Dariel. Masih dendam dengan tingkah Dariel beberapa waktu lalu padanya.


Andrea kemudian memberi salam pada Paman dan Bibinya juga Ibunya yang ikut serta.


"Nadine belum terlalu sehat untuk bisa keluar rumah, Jadi hanya kami yang pergi Nyonya Lee." ucap Arumi.


"Aku mengerti, mari masuk, makanan sudah disiapkan." jawab Nyonya Lee ramah. Semua menurut masuk. Memposisikan diri dikursi masing-masing. Livya baru saja akan meraih kursi tepat disebelah Andrea ketika tangannya dihentikan oleh yang paling berkuasa disana, siapa lagi kalau bukan Dariel.


"Duduklah ditempat lain." Ujar Dariel datar.


"Tidak, kau saja yang cari kursi lain, aku mau dekat kakakku." menjawab dengan nada tak suka.


"Istri lebih perlu duduk disamping suaminya."


"Aturan macam apa itu"


"Enyahlah!"


"Tidak mau, aku duluan yang ingin disini."


"Kau hanya tamu, biar aku yang atur dimana seharusnya kau duduk."


"Kau bisa duduk didepan kakakku, masih bisa menatap kakakku, jangan cari masalah Tuan, tidak malu bertengkar dengan wanita?"


"Apa kalian bisa lebih dewasa sedikit? Aku tidak mau diantara kalian berdua." Andrea pusing dengan kelakuan Suami dan adiknya ini, ia segera pindah ketengah antara Nyonya Lee dan Ibunya. Yang lain hanya geleng-geleng kepala. Maria sendiri sudah hampir keluar bola matanya memperingati Livya supaya sadar meraka ada dimana sekarang.


"Kalian masih mau berdiri terus? Orangtua kita sudah lapar!" Ucap Andrea lagi. Dariel dan Livya saling mendengus dan akhirnya mengambil posisi masing-masing.


Makan malam berjalan dengan hangat.


Andrea sedang berusaha menidurkan David ketika Livya mengetuk pintu kamarnya yang tak terkunci itu.


"Kakak, kau didalam? Apa aku boleh masuk?" tanya Livya hati-hati. Dariel sedang mengobrol dengan para orangtua diruang keluarga dan Livya yang bosan menangkap kesempatan emas ini untuk mengadu pada kakaknya.


"Masuklah, tidak dikunci." begitu terdengar balasan Livya baru berani memutar handle pintu. Ia memasukkan kepalanya lebih dulu untuk memastikan, tapi kemudian matanya melebar dan tanpa segan lagi langsung menjelajahi kamar itu. Terpesona dengan kemewahan fasilitas sebuah kamar.

__ADS_1


"Kamarnya bagus sekali kak!" Andrea hanya tersenyum.


"Mintalah Ryu membuatkan yang seperti ini kalau kalian berjodoh nanti." canda Andrea. "Duduklah sini, tadi kau ingin memberitahu apa padaku?"


Pikiran Livya langsung teralihkan lagi pada sosok wanita satu anak didekatnya. Segera Livya mendekati Andrea dan duduk ditepi ranjang.


"Emmm suamimu ituuuu.." Livya menggantung kalimatnya. Mengamati sesaat ekspresi Andrea yang nampak menanti. "Kau harus menghukumnya kak!" Livya merubah mimik wajahnya menjadi kesal, tangan mungilnya ia lipat didada. Cemberut. Membuat Andrea mengerutkan dahi.


"Kenapa harus menghukumnya? Apa dia berbuat kesalahan?" tanya Andrea jadi penasaran. Tiba tiba Andrea teringat perihal perebutan kursi saat hendak makan malam tadi, sontak ia menggelengkan kepala pelan dan tersenyum lucu pada Livya.


"Hanya karna masalah sepele begitu kau menyuruhku menghukumnya?" Gantian Livya yang dibuat harus menautkan alisnya kali ini.


"Kau sudah tau?" tebaknya. Andrea masih dengan senyum manisnya mengangguk.


"Tentu saja. Sudahlah itu bukanlah masalah jangan dibesar-besarkan.." Livya menatap tak percaya kakaknya yang kini sibuk meletakkan David kedalam box karna sudah cukup terlelap tadi dalam gendongannya. Tangan Andrea juga sudah terasa pegal.


"Kenapa kau malah membela kelakuannya yang seperti itu sih? Dia itu walaupun sangat tampan tapi ternyata kasar tauu! Aku kurang menyukainya sekarang!" Andrea tertawa ringan.


"Jangan lupakan dia juga pernah baik padamu. Lagian itu hanya masalah tempat duduk, kalian benar-benar kekanakan"


"Eh, bukan soal itu! Kau salah paham!"


"Bukan? Lalu?" Andrea kembali duduk dibibir ranjang samping Livya. Livya pun menceritakan landasan kekesalannya pada Andrea, berharap kakaknya itu bisa memberi pelajaran pada iparnya.


Suara pintu dibuka mengalihkan perhatian keduanya. Seraut wajah tampan Dariel lee menghiasi pandangan kedua perempuan itu sekarang.


"Sudah mengadunya?" tanya Dariel lee santai. Tanpa menunggu jawaban Livya ia melenggang masuk, dua tangannya ia masukkan disaku celana, memilih duduk disingle sofa dikamar itu.


"Sudah, aku sudah puas. Sekarang kakakku akan menghukum kelakuanmu tempo hari, ya kan kak?"


"Kau niat sekali membuat kami bertengkar sepertinya?"


"Biar kau tau rasa Tuan!"


"Aku minta maaf soal kemarin, aku terlalu emosional padamu." suara Dariel lee melembut. "Sudah, keluar sana, kami ingin berduaan.." Ucap Dariel tanpa malu, acuh dengan raut kesal adik iparnya. Livya sudah hendak keluar sebelum suara Dariel kembali berkumandang dan menginterupsi langkahnya.


"..Belanjalah dengan Andrea besok. Pilihlah barang apapun yang kau sukai, pakaian, tas, sepatu,perhiasan,bahkan mobil, terserah, Aku yang akan membayar sebagai permintaan maafku padamu.."


Apa? Dia bilang apa? aku tidak salah dengar kan?


Bukan hanya Livya, Andrea yang mendengar itupun sontak kaget, baru saja ia ingin menyuarakan protes, Dariel cepat memberi isyarat agar Andrea menahan suaranya.

__ADS_1


"..Kalau itu belum cukup, bagaimana dengan keliling eropa setelah akhir semester? Adik kecil kami pasti membutuhkan refreshing setelah ujian yang melelahkan, ya kan?"


Aaaaaa ipar kau sungguh manis!


Livya tak dapat membendung lagi keinginannya untuk menghambur kepelukan Dariel, Dariel sampai terkekeh ketika dengan paksa Livya menerkamnya. Andrea ikut tersenyum. Dariel mengusap kepala Livya lembut.


"Kau yang terbaik kakak ipar! sangat paham bagaimana menyenangkan kami." Livya melebarkan senyum.


"Tentu saja, tidak ada didunia ini yang seperti aku. Tapi Liv," Dariel berdehem sejenak. "Kakakmu bisa cemburu kalau kau begitu lama memelukku seperti ini, Pergilah, ini sudah giliran kakakmu untuk mendapat pelukanku!" Andrea dan Livya tertawa kecil. Livya bangkit dan melambai kearah Andrea.


"Baiklah, aku keluar dulu. Selamat malam."


"Kau tidak menginap disini?" tanya Andrea. Livya cepat menggeleng.


"Oiya kak, aku menarik kata-kataku yang tadi, jangan menghukumnya, oke? Kasih suamimu pelayan terbaik karena sudah membuatku senang, awas kalau tidak dan Tuan Dariel sampai bad mood dan tidak jadi mentraktirku shopping, aku akan menghukummu! Baiklah, Sampai ketemu besok kakak! Aku sayang kalian hehe!" pintu kemudian tertutup rapat. Andrea terkekeh melihat tingkah Livya. Beberapa detik suasana hening.


"Kenapa kau memandangiku seperti itu Tuan? Apa aku jelek malam ini?" Andrea menatap bingung pada suaminya yang hanya menatapnya setelah tinggal mereka saja disana. Dariel nampak menggeleng. Tentu saja tidak. Tidak akan pernah ada kata jelek dalam diri Andrea baginya.


"Tidak jelek, justru kau cantik sekali, emm, seksi juga seperti biasanya, katakan Rea, bagaimana caranya bisa begitu memikat siang dan malam seperti ini?" Andrea tergelak mendengar pertanyaan yang dirasanya konyol itu. Ia bangkit dan melangkah menuju pintu, melihat itu tentu saja Dariel menautkan alisnya. "Mau kemana?" Ia kira Andrea akan meninggalkannya.


Andrea tak menjawab, jemarinya bergerak mengunci pintu.Lalu berbalik dengan tangan bersidekap didada menatap suaminya. Duduk disana dengan cool penuh berkharisma. Tatapan matanya itu seakan bisa menembus jantung dan memecah peredaran darah, Andrea menikmati semuanya.


"Tidak lelah berdiri? Kau tidak sadar sudah menyia-nyiakan seorang pria disini?" Andrea tersenyum. Dia tau Dariel tidak sabaran dan itu memancing jiwa nakalnya keluar.


"Aku ingin tidur." Andrea melangkah pasti menuju ranjang. Memposisikan diri senyaman mungkin diatas sana dengan selimut yang sudah menutupi sampai kepinggangnya. Matanya belum terpejam saat itu, seulas senyum terukir dibibirnya ketika membayangkan bagaimana ekpresi suaminya yang sedang ia punggungi sekarang.


"Kau sungguh akan tidur?" suara Dariel kedengaran kesal.


"Heemm.." Balas Andrea. Tapi detik berikutnya cukup membuat Andrea terpekik karena tubuh keras itu tiba-tiba sudah menelusuk dibalik selimutnya juga, memeluk tubuhnya dari belakang. Mencegah perlawanan yang mungkin terjadi dengan menahan pergerakan kaki mungil Andrea dengan hanya sebelah kakinya menimpa diatasnya. Tapi kemudian Andrea telah menguasai diri dan tertawa, mengelus pelan rambut halus prianya.


"Jangan tidur dibelakangku, nanti kau jatuh!" Ujar Andrea khawatir mengingat hanya sedikit ruang yang ia sisakan diarea belakangnya tadi, tentu tidak akan cukup kalau Dariel menelentangkan badannya jika nanti terlelap.


"Siapa bilang aku akan tidur?" bisik Dariel tepat ditelinga Andrea. Membuat perempuan itu bergidik karena dideru nafas hangat suaminya yang menyiratkan tetesan sensual kedalam suaranya.


"Kau selalu menggodaku istri nakal, kenapa pura-pura padahal kau juga inginnya seperti ini?" Andrea diam tak menjawab. Tersenyum dalam diamnya.


"Kau jangan pura-pura lupa juga, Livya menyuruhmu memberiku pelayanan terbaik tadi, aku benaran bisa bad mood loh kalau kau tidak maksimal!" Andrea tergelak.


"Aku tidak mau menuruti Livya untuk memberimu servis terbaik, "


"Dan kau akan dihukum!"

__ADS_1


"..Aku akan melakukannya karena memang aku mau melakukannya."


.......


__ADS_2