
"Sudah tiga kali kau memperingatkanku tentang rapat, kau mau mati?" Dariel nampak menghembuskan nafas kesal menyahuti lawan bicaranya ditelepon.
"Sorry bung. Aku sengaja melakukannya. senang mengganggumu." terdengar kekehan suara Jonathan diujung sana. Dariel memutuskan panggilan dan melemparkan benda pipih dalam genggamannya tadi keranjang. Matanya bersirobok dengan sebuah siluet dibalik tirai yang menghubungkannya dengan ruang balkon. Dariel lebih dulu memeriksa keadaan putranya yang sudah terlelap baru kemudian mendatangi apa yang menarik perhatiannya barusan.
"Disini dingin, pakaianmu tipis, kau bisa sakit kalau tidak pakai sesuatu yang hangat." Andrea tersenyum lembut begitu suara Dariel menggema diudara, tangan besarnya sudah sigap menggesek kulit pundak Andrea yang terbuka. Sebentar saja lalu berpindah memeluk. Tidak tahan untuk membiarkan tubuh mungil kesayangannya menata jarak lebih lama walau sejengkal saja.
"Kenapa? Ada yang kau pikirkan? Ceritakan padaku." kepala Andrea yang bersandar didada Dariel nampak menggeleng pelan.
"Aku hanya belum mengantuk. David sudah tidur dan kau masih bekerja tadi jadi aku memutuskan cari angin segar disini. Kalau aku berjalan-jalan kehalaman atau kemana, aku takut tidak mendengar jika tiba-tiba anak kita terbangun.."
"Begitukah?" Dariel menempelkan hidung mancungnya diantara kelebatan rambut yang tumbuh dikepala istrinya. Menghirup aroma harum yang menguar dari sana, terasa seperti aromaterapi yang menenangkan bagi Dariel hingga pria itu menutup mata menikmati.
"Sayang," tubuh Andrea tiba-tiba berbalik arah, memaksa Dariel membuka mata dan keluar dari zona relaksasi dadakannya barusan. "Sayang," Andrea menyuarakan panggilan dengan nada manja yang kental, dua lengan mungilnya tanpa aba-aba sudah melingkar dipinggang Dariel.
__ADS_1
"Hm?" ibu jari Dariel mengusap pelan sisi pipi mulus Andrea ketika mereka berhadapan, ia tau Andrea akan menyampaikan sesuatu kali ini, wanita ini sangat jarang bergelayut manja kepadanya jika bukan karna suatu maksud. Ah perempuan!
"Soal uangmu yang kami belanjakan.., aku minta maaf, kami memang tidak tau diri karna menghabiskan terlalu banyak, apa, apa kau akan marah? Kalau kau ingin marah, marahi aku saja ya? jika ingin menghukum, hukum aku saja!"
Dariel menyunggingkan sudut bibirnya membentuk seringaian tipis.
"30 juta bukanlah apa-apa. Aku bahkan tak menyinggungnya, kenapa kau ketakutan? Dasar kau ini..." mencubit pelan telinga Andrea. "Belajarlah untuk tidak merasa sungkan kepadaku, apa yang aku miliki sudah menjadi hakmu juga menikmatinya. Selagi aku masih bisa memberimu, maka gunakanlah dan penuhi semua yang kau inginkan, jangan menahan diri karna kau merasa tidak enak kepadaku. Membahagiakan pasangan dalah keinginan terbesar seseorang, terkhusus pria limited edition sepertiku, tidak mungkin akan membuat istriku sendiri merasa punya batasan kepadaku. Jadi..., berperilakulah layaknya istri, Rea, aku mengorbankan banyak hal untukmu maka jangan permalukan aku dengan membahas hal sepele seperti ini lagi..." diujung kalimatnya Dariel menghadiahi kecupan singkat bibir Andrea. Andrea menunduk sedikit malu.
"Hey... Jangan menunduk begitu, apa kau sedang terharu? Kata-kataku barusan membuatmu tersanjungkah? Benar? Oh, maafkan aku.." Andrea mengerucutkan bibirnya dan langsung disambut gelak ringan Dariel. Andrea kemudian memeluk Dariel erat. Menempelkan pipinya kedada pria itu dan mengucap syukur dalam hati. Hatinya tersentuh, tentu saja. Wanita manapun tak akan mampu -bahkan untuk berpikir sedikit saja- untuk melepaskan pria semacam ini. Tentu saja akan menyakitkan jika harus melepasnya, dan Aletta harus melakukan itu.
"Kau bertemu Aletta saat di Mall?" suara Dariel membuyarkan pintu mimpi yang hampir tercipta dialam sadar Andrea. Andrea mengerutkan dahi dan kepalanya langsung terangkat menatap manik mata indah suaminya.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Andrea heran. "Kau menyewa orang untuk memata-mataiku dan Livya?!" tebak Andrea sudah setengah kesal. Pria selalu saja melakukan ini, setelah melayangkan wanita setinggi langit lalu sepersekian detik menghempaskan mereka hingga menghantam tanah. Andrea menahan gemuruh didadanya melihat Dariel tak langsung memjawab atau sekedar untuk menyanggah, dan entah kenapa rasanya gemuruh didadanya itu kian terbentuk begitu tersadar kalau prasangkanya memang benar membuat Andrea melepaskan diri dan ingin menjauhi Dariel secepatnya.
__ADS_1
"Tidak seperti yang kau pikirkan, Rea..." Dariel mencekal pergelangan tangan Andrea membuat langkahnya tertahan. "Aku menyuruh beberapa orang kepercayaanku untuk menjagamu dan Livya secara sembunyi-sembunyi, aku tau kau tak akan suka jika aku melakukannya terang-terangan kan? Aku hanya ingin tetap bisa mengawasimu dan bekerja dengan tenang, mereka melaporkan pertemuan tak sengajamu dengan Aletta tadi. Aku penasaran apa yang kalian bicarakan.. Apa benar kalian berpelukan?"
Bahu Andrea yang tegang melunglai. Pertanda emosinya yang tadi sempat naik kini mulai menurun. Dalam hati menyesali pikiran buruknya barusan, kini dengan kepala dingin Andrea bisa mengambil kesimpulan dari sisi positif, bahwa betapa Dariel memperdulikan dirinya hingga saat tak bersamanya pun pria itu masih menjaganya.
Dari arah belakang dirasakannya tubuh Dariel merapat. Melingkarkan dua tangan kokoh yang bahkan sangat panjang jika untuk dijalinkan mengitari pinggang Andrea yang ramping.
"Maafkan aku." Dariel berbisik sendu. "Lupakan saja, tidak masalah jika kau tidak ingin membahasnya, aku bisa mengambil jawaban sendiri bahwa keberadaanmu disisiku adalah bukti tidak ada yang terjadi antara kau dan Aletta tadi, aku, aku hanya khawatir kau,.. pergi." Andrea memejamkan matanya yang mulai terasa panas. Perkataan Dariel bagai menyayat hatinya, menorehkan perih sampai mengeluarkan air bening itu dari kantong matanya. "Rea, aku mencintaimu... sangat, sepenuhnya, sungguh."
Andrea ingin kembali membalas pelukan suaminya tapi suara rengekan anak mereka menginterupsi segala suasana. Andrea melepaskan diri dan berlari kecil kearah box dimana buah hati mereka berada. Dariel menyusul setelah menutup pintu balkon rapat-rapat.
"Harusnya kau tidur dengan Oma saja pengganggu kecil," Dariel mencubit gemas pipi montok anak mereka.
"Dia hanya haus, sebentar lagi dia akan tidur lagi. Ya kan sayang?" Andrea menyahuti. Benar saja, sepasang mata indah yang diwariskan Dariel itu tak lama mengatup lagi setelah Andrea menyumpalkan ****** botol susu dimulutnya. "Anak baik, jangan membuat ayahmu marah lagi karna berebut ibu ya?" Andrea terkekeh sendiri mengingat bagaimana semalam David bangun dan mengulah tidak ingin ditidurkan kembali disaat Dariel sedang berhasrat mencumbuinya, berujung dengan kekesalan Dariel yang harus mengalah berendam tengah malam.
__ADS_1
"Jangan mengacaukan malam kami lagi, kau mengerti? tidurlah yang nyenyak dan bangun dengan kepandaian yang baru." Mengecup pipi David kecil sebelum membiarkan Andrea meletakkan lagi tubuh mungil itu kedalam box. Dariel sedikit membungkuk untuk menyelimuti tubuh mungil itu, lalu sebelum ia kembali menegakkan tubuh disempatkannya berbisik, "Kami akan membuatkanmu adik, mari bekerjasama dan jangan mengacau.." Andrea terkekeh geli ketika telinganya berhasil mencuri dengar apa yang dikatakan Dariel tadi. Sebuah cubitan manja mencapit kulit perut Dariel yang masih terbungkus baju. Dariel merangkul Andrea bersama menatap wajah damai yang tertidur itu, guratan kepuasan terpancar diwajah keduanya meskipun mereka sadar sepenuhnya sampai dititik ini belumlah apa-apa, peran mereka sebagai orangtua masih akan berlangsung sangat panjang kedepannya.
"Aaa!" Andrea memekik kaget ketika dirasa tubuhnya melayang begitu Dariel dengan tiba-tiba meraupnya kedalam gendongan. Dengan tawa yang membuatnya makin tampan itu Dariel memboyong tubuh mungil Andrea masuk kearea keramat disana. Menghempaskan dengan lembut, dan tanpa mau memberi jeda sedetikpun langsung menyusul menindih.