Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps 92


__ADS_3

Malam sudah bergerak naik ketika Livya dan Sheril memasuki salah satu night club terbaik dikota itu, musik yang menghentak langsung menyambut awal mereka menapakkan kaki dan berhasil membuat Livya terkagum karena lantai itu terbuat dari kaca asli yang sangat tebal.


"Wuaaaaa bagusnyaaa, indah!" Livya menggesek gesekkan alas sepatunya kelantai.


"Ssttt jaga sikapmu, dasar kau ini, pacarmu adalah salah satu dari pewaris terkaya dinegara ini, buang jauh-jauh naluri miskinmu dan biasakan dirimu untuk melihat hal-hal mewah! Jangan membuatku malu ya karena membawamu!" Sheril memperingatkan. Livya yang disampingnya nampak memonyongkan bibir.


"Lihat, pria pria disana," menunjuk empat lelaki yang kelihatan berkelas tengah bercakap santai dikursi VIP. "..itu teman-temanku, ayo, kuajak kau berkenalan!" Sheril sudah hampir menarik tangan Livya ketika gadis itu menarik diri.


"Kau tidak bilang sebelumnya kita kesini untuk bergabung dengan teman lelakimu, loh!"


"Come on, Liv. Kalau aku jujur kau tidak akan mau menemaniku, lagipula apa kau tidak bosan setiap hari hanya melihat wajah Ryuga terus? kita cari suasana dan kenalan baru untukmu."


"Tidak, tidak, kau saja! bisa gawat kalau Ryu tau. Kau ingin kami bertengkar dan putus ya?"


"Huss sembarangan! Aku bukan wanita rendahan dengan cara rendahan seperti itu ya? Enak saja. Lagian hanya berkenalan apa salahnya sih? Kita sudah sampai sini juga" Ayo!" Belum sempat Livya menyela Sheril sudah menarik paksa lengannya membawa tubuhnya mengikuti langkah anggun Sheril menuju beberapa pria seusia mereka yang sedang asyik berbincang entah membicarakan apa.


"Hi, apa aku terlambat?" Sikap ceria Sheril dengan sekejap mata mampu mengalihkan empat pria disana. Mereka tersenyum bersamaan lalu melakukan penyambutan kecil ciuman dipipi ala ala anak bangsawan.


Salah seorang dari mereka yang berambut sedikit gondrong melirik Livya.


"Sher, siapa dia?" tanyanya sambil mengedikkan dagu menunjukkan keberadaan Livya, yang lainnya ikut menoleh kali ini.


"Oh hampir lupa, jadi, teman-teman, aku tidak sendirian kali ini. Kenalkan, ini Livya." Sheril merangkul Livya seolah bangga dengan sosok gadis disampingnya. "jangan takut, mereka orang-orang baik kok." Bisik Sheril menyadari kegugupan Livya.

__ADS_1


"Hi, Livya, Aku Thomas." Livya mulai menyalami satu persatu dari mereka.


"Darius." Kata yang berkaca mata.


"Aku James."


"Erick. Silakan duduk." terakhir, yang paling tampan diantara semuanya. Livya mengangguk pelan dan menurut duduk disusul Sheril.


"Jadi, siapa yang traktir kali ini?" tanya Sheril antusias. Semua menunjuk Erick. Erick tertawa kecil.


"Lagi? Baiklah, ayo kita habiskan sedikit uangmu!" Sheril mengangkat gelasnya tinggi-tinggi setelah menuang minuman untuk Livya juga. "Untuk merayakan 10 tahun pertemanan kita, mari bersulang dan menikmati malam ini!"


"Bersulang!!" Sahut mereka kompak lalu meneguk habis minuman digelas mereka.


Setelah berdebat lama dengan bhatin, Alan mengacuhkan segala risiko yang mungkin terjadi. Meskipun hidup yang mereka pilih ini memang tidak akan bisa lepas dari koar-koar publik, tapi Alan tetap berharap semoga saja tidak ada paparazzi dalam bentuk apapun yang akan mengecoh sampai merugikan nantinya, lagipula Alan meyakinkan diri ia hanya ingin menyapa, ketika dirinya sedang didera rindu berat dan penawarnya ada didepan mata disaat bersaman, Lelaki manapun tak akan sanggup menahan diri kalau begini.


"Kau disini juga?" Alan menyentuh lembut pundak Aletta dan mata mereka seketika langsung beradu begitu Aletta menoleh.


"Kau?" Aletta nampak tak yakin juga siapa yang menemuinya.


"Ya, aku. Kau sendiri?" Alan menengok sana sini memastikan.


"Duduklah," Aletta menyentuh lengan Alan bermaksud menghentikan pergerakan lelaki itu. "..Aku sendiri."

__ADS_1


"Aku temani ya?" Alan sudah mengambil posisi disamping Aletta. "Aku pikir tadi akan pulang dengan tangan kosong seperti biasanya, tapi sepertinya malam ini pengecualian.." Alan melempar senyum, dan berhasil menulari Aletta.


"Sudah kubilang jangan terlalu pemilih, aku tau sebanyak apa wanita yang menggilaimu, tuan sutradara!" Alan terkekeh menanggapi kalimat Aletta barusan.


"Aku sedang menunggu seseorang.."


"Oya? Cukup membuatku penasaran, masalahnya selama bertahun mengenalmu aku tidak melihat ada wanita yang berani menggandeng mesra dirimu dihadapan publik, apa kau menyembunyikannya selama ini?"


"Yaa bisa dibilang begitu.."


"Ah,. Pantas saat aku mengenalkanmu dengan Aurellie kau tidak melanjutkan mengencaninya" Alan menipiskan bibir.


"Aku menyukainya sejak lama,"


"Benarkah? Ternyata dibalik sikap dinginmu sebagai sutradara kau menyimpan perasaanmu sangat dalam untuk seseorang, lalu, siapa wanita beruntung itu?" Alan menatap lekat Aletta sebelum ia bersuara menjawab.


"Kau membenci wartawan tapi sekarang kau malah menjadi mereka!" tuduh Alan. Aletta tergelak menyadari sikapnya yang berlebihan.


"Benarkah? oh maaf pak sutradara, aku berlebihan ya?"


"Tidak masalah, kau, dimana Dariel? Kenapa kau sendirian kesini? Aku hampir berpikir sedang salah melihat orang tadi.." Pertanyaan Alan itu menjeda niat Aletta yang ingin menuang sampanye miliknya, tapi kemudian setelah memastikan perasaannya akan baik-baik saja Aletta meneruskan menuangkan minuman anggur dengan warna kuning mengkilau menyelerakan itu kegelas, menimbulkan gelembung yang disebabkan karena campuran gula dan ragi ketika proses fermentasi kedua dan bereaksi ketika bertemu karbon dioksida saat dituangkan. Begitu nikmat ketika itu melintas ditenggorokannya.


"Alan, aku dan Dariel, sudah berpisah." jawabnya kemudian. Alan tertegun. Berusaha mencari kebohongan dimata Aletta, tapi senyum sendu yang dipamerkan kepadanya kini meledakkan segala ketidakpercayaan itu. "Aku tidak bohong. Kami bercerai beberapa hari lalu. Tapi tidak apa-apa, aku baik-baik saja, jangan khawatir. Kami sudah bicara baik-baik. Wajahmu jangan tegang begitu!" Aletta tertawa ringan menutupi lukanya, meleburkan ekspresi terkejut diwajah Alan berganti dengan keterpanaan.

__ADS_1


"Eh, kuingatkan, jangan mengasihaniku." Titah Aletta pasti, merubah suasana menjadi canda. Alan tersenyum, mengangguk. Dia tidak bisa membohongi diri sendiri, setelah bertahun-tahun diam-diam jatuh cinta pada istri orang baru kali ini Alan bahagia dengan aibnya itu. Alan tau dia sedang berdosa karena hatinya menari diatas penderitaan Aletta. Maka dari itu sebagai rasa simpatik dari seorang teman, Alan memberanikan diri meraup tubuh Aletta masuk dalam pelukannya. Aletta nampak tak menolak meski tak juga menyambut. Tapi begini saja untuk saat ini sudah merupakan sesuatu yang luar biasa bagi Alan. Dia kini mengerti, perasaan yang salah pun bisa menjadi benar jika Tuhan berkehendak. Semoga saja.


__ADS_2