
Kembang api malam ini luar biasa indah menghiasi kota paris. Diatas sebuah jembatan diatas danau kecil sepasang anak manusia sedang betah betahnya memandangi langit sambil berdecak kagum.
"Kau senang?" Andrea menoleh sekilas pada Damian sebelum mengangguk,kembali menikmati pesona warna warni diatasnya. Sejujurnya perasaannya dilanda was was sejak pagi. Entah kenapa, hatinya tidak tenang.
"Aku senang melihatmu senang" Sudut sudut bibir Andrea tertarik menciptakan senyuman mendengar ungkapan hati Damian itu.
"Sudah malam, aku lelah, bisakah kita kembali sekarang?" tanya Rea dan Damian langsung setuju. Meski sedikit risih tapi Andrea membiarkan Damian menggenggam tangannya sampai mereka menuruni jembatan. Tidak menolak juga ketika Pria itu mengantarkan sampai apartemen.
Andrea membuka pintu begitu Damian pamit. Langkah kaki yang sudah polos tanpa sepatu itu senyap tak kedengaran menimbulkan suara. Andrea meletakkan tasnya sembarangan kesofa diruang tamu. Andrea menuju dapur dan menuang air kegelas. Andrea menepuk pelan dadanya beberapa kali setelah selesai meneguk air yang membasahi dahaga.
"Kenapa aku berdebar seperti ini sih?"
Ketika masih sibuk dengan prasangka tak terduganya listrik apartemen padam, membuat Andrea sontak menjerit kaget. "Astaga, Kenapa listriknya mati? Tidak biasanya.." Kini Andrea mulai meraba, mencari cari dimana kiranya mereka menyimpan lilin untuk dijadikan penerangan sementara.
Andrea masih sibuk membuka tutup laci ketika telinganya jelas mendengar suara sepatu bersentuhan dengan lantai dari arah belakang. Tuk, tuk, tuk... Andrea tertegun sesaat. Darahnya berdesir seketika teracuni oleh rasa takut, jantungnya berpacu, siapa yang datang? Hantu kah? Makin mendekat..
Tanpa bisa melihat keadaan yang memang gelap gulita Andrea teriak. Berharap dengan itu ada sesuatu yang bisa menyelamatkan nya dari suasana mencekam sekarang ini.
"Aaaaaaa! Mmbbbmmp!" Andrea tak kuasa ketika mulutnya dibekap. Jelas saja itu membuatnya meronta. Apalagi yang bisa dilakukannya, airmata ketakutan sudah menetes. Jelas dirasakannya tangan itu hangat menutup mulut mungilnya, bukan hantu seperti yang sempat melintas dibenaknya. Ini manusia! Tapi siapa? Kenapa bisa masuk? Rentetan pertanyaan itu muncul diantara udara yang mulai sedikit masuk ke paru-parunya.
"Kau takut?"
Deg. Andrea terdiam kaku ketika suara itu muncul dekat sekali. Suara yang tidak asing ditelinganya. Dengan keberanian bercampur penasaran perlahan Andrea melepaskan tangan hangat nan kekar itu, berbalik.
Andrea mendorong tubuh kekar dihadapannya sedikit menjauh, dibantu sinar rembulan yang masuk merayap melalui celah jendela Andrea kini terbelalak dan langsung merasa kedua lututnya lemas ketika netra mereka bertemu. Lidahnya kaku.
__ADS_1
"Ini aku, Rea, Jangan takut, maaf aku mengagetkanmu" Tidak lain dan tidak bukan, pengusaha kaya, Alexander Dariel Lee kini dihadapannya, Airmata Andrea malah semakin deras ketika tubuh itu kini mendekat dan mendekapnya erat. Menyalurkan kerinduan disetiap sendi yang lama tak terjamah. Sampai pelukan itu dilepas Andrea masih sama, masih kaku seluruh organnya. Andrea kini paham alasan hatinya berdebar tak tenang seharian ini..
"Hey.." Kedua tangan itu sigap menangkup kedua pipi Andrea ketika wanita itu makin terisak. Entah keberanian darimana Andrea mengangkat kedua tangannya dan mulai memukuli dada orang didepannya. Memukul terus sambil menangis, ia kesal sekali dengan manusia dihadapannya ini, kesal karena menakutinya, kesal tapi juga rindu.
"Rea, hentikan! Aku baru sembuh dan kau malah memukuliku!" protes. Membuat Andrea seketika menghentikan aksi kriminalnya. Tersadar ia mungkin telah menyakiti.
"Maaf, maafkan aku, apakah sakit, hm?" Andrea meraba bagian dada yang ia tinju tadi. "Maafkan aku, biar kulihat, mungkin kau terluka!" Tangisnya sudah hilang entah kemana berubah menjadi kekhawatiran, dan itu membuat Dariel Lee tergelak dalam hati, meski belum mendapat izin resmi wanita itu membuka dua kancing kemeja lawannya dan meraba lagi.
"Rea, sudah hentikan, belum apa apa sudah memancingku ya" mengambil kedua tangan Andrea dan menggenggamnya erat.
"Aku merindukanmu," ucap Dariel jujur. Karna itu ia sampai disini.
"Tu, tuan, aku,"
"Jangan pergi lagi, kau hanya milikku" gumam Dariel separuh sadar. Wajah cantik dalam balutan cahaya bulan itu membongkar hasrat kelelakiannya. Rembulan menjadi saksi dalam pertemuan kembali dua insan manusia yang saling memendam cinta itu. Andrea dan Dariel, mereka berpagut mesra dihiasi cahaya indah sang bulan malam.
"Tuan, hentikan," Andrea berusaha menahan diri ketika Dariel dirasa mulai bersemangat. Ia juga sebenarnya mulai terbakar tapi masih banyak hal yang mengganjal dibenaknya.
"Kenapa kau datang? Kenapa kau bisa ada didalam sini?"
"Rea, bisa kan tidak menanyakan itu sekarang? jangan menghentikanku"
"Tidak mau, aku tidak mau!" Andrea melepaskan diri dari rengkuhan Dariel. Bergerak sedikit menjauh dari Pria itu. Membuat Dariel lagi-lagi harus mengacak rambut bentuk frustasinya atas penolakan Andrea.
"Aku kesini untuk menjemputmu, memang apalagi? Aku meminta pin kode apartemen pada Ibumu." Andrea sedikit kaget dengan jawaban Dariel. Pria itu menjawab dengan sedikit kekesalan karena Andrea menghambat keinginannya.
__ADS_1
"K, kau, kau sudah bertemu ibu?"
"Heemm, Aku juga sudah meminta restunya sebelum kesini, dia merestui kita." Usai berkata begitu Dariel kembali menggapai tubuh mungil istrinya, ada hasrat yang belum terpecahkan dan hanya dengan Andrea ia ingin menyelesaikan misinya. Andrea meronta lagi tapi tenaga pria selalunya lebih kuat kan? tubuh indahnya harus pasrah terjerembab diatas ranjang kali ini.
"Tuan, jangan gila!" gelisah ketika Dariel mulai melepas satu persatu kancing kemejanya, menampakkan perut roti sobek itu. Dariel mencubit dagu Andrea.
"Kenapa? aku hanya meminta hakku, masih syukur aku tidak mengamuk padamu karena meninggalkanku saat aku sekarat, huh, istri macam apa kau ini?" Andrea terdiam. Cemberut. "Jadi sayang," jarinya sudah mulai nakal menelusuri lekuk wajah cantik wanitanya. "..lakukan tugasmu dengan baik, dendamu sudah sangat banyak, kau tau?"
"Kau menceraikan nyonya Aletta?" pertanyaan Andrea membuat aksi Dariel terhenti. Dua bola mata indah itu menatap lekat Andrea.
"Jadi benar, kau menceraikannya?" melihat Dariel diam tak menjawab. "Aku ini sungguh wanita yang jahat, perebut suami orang, gara gara aku kau tega mencampakkan istrimu! Nyonya Aletta wanita yang sangat baik tuan, dia yang harusnya kau pertahankan bukan diriku, aku meninggalkanmu, aku sudah minta cerai darimu, kenapa kau malah menceraikan Aletta?"
"Tapi aku mencintaimu, Rea."
"Bohong, jangan-jangan ini hanya nafsumu saja kan? jangan jangan suatu hari aku akan mengalami hal yang sama dengan nyonya Aletta?"
"Syuttt," Dariel merangkum wajah Andrea dengan tangan. "Jangan bicara begitu, aku tidak melihat siapapun dimasa depan selain dirimu, aku hanya membutuhkanmu."
"Hubungan kita ini salah,"
"Aku sudah membenarkannya dengan memilihmu, tidak lagi menjerat kalian berdua, jangan khawatirkan apapun, tatap aku, lihat aku baik baik, aku cinta padamu. Aku sudah pernah bilang kan, aku tidak akan menganggapmu buruk meskipun orang lain menganggapmu begitu,kembalilah padaku dan anak kita, kita mulai semuanya dari awal lagi, kumohon.."
........
PLEASE JANGAN DIHUJAT YA READERS, EMANG GAJE SIH😁
__ADS_1