
Gubrak!!
Andrea kaget ketika dilihatnya Dariel membuka pintu kamar secara paksa.Ia baru saja akan mengganti pakaian nya yang terkena muntah dibantu Lila.Raut cemas Pria itu tergambar jelas diwajahnya.
"Keluar!!" Perintah Dariel.Lila menunduk dan langsung keluar. Pikirannya sudah macam-macam tentang dua orang ini.Dariel menatap sendu Andrea yang bersandar disandaran kasur.Nampak Andrea menarik selimutnya menutupi dada. Ia sudah sempat membuka bajunya tadi tapi belum sempat mengenakan yang baru dan Dariel keburu datang.
Pelan tapi pasti Dariel melangkahkan kaki nya mendekati Andrea.Ia ingin sekali langsung menerkam wanita didepannya ini setelah tiga hari tidak bertemu,tapi tentu Dariel harus menahan rindunya yang menggebu,Andrea sedang sakit.Sedih sekali rasanya melihat wajah cantik yang kelihatan pucat itu.
Andrea menundukkan kepalanya begitu Dariel duduk disampingnya. Takut Dariel memarahinya karena tidak menjaga kesehatan,Andrea juga was was kalau sakitnya berpengaruh pada anak dalam kandungannya.
"Tatap aku..." Andrea menggigit bibirnya mendengar suara pelan tapi penuh penekanan milik Dariel. "Tidak mau menatapku?" Tanya Dariel melihat Andrea masih menunduk.Perlahan Andrea mengangkat lagi wajahnya. Ia tidak mau Dariel semakin marah karena Ia tidak menurut.
Tangan Dariel terulur mengusap pipi Andrea.
"Jangan takut.Aku tidak marah padamu." Dariel kemudian merengkuh tubuh Andrea masuk kedalam pelukannya.Lama. "Aku merindukan mu, sangat merindukan mu..."
Aku lebih lebih merindukan mu Tuan, terimakasih kau sudah datang...
Dariel menciumi rambut halus nan wangi itu. Sementara Andrea saking bahagianya sampai meneteskan airmata terharu akhirnya bisa mendekap tubuh yang ia rindukan beberapa hari ini.Ia pikir Dariel akan marah tapi nyatanya Pria itu memeluknya penuh rasa sayang.
"Kenapa kau bisa sakit?" Tanya Dariel.
"Kenapa tidak bisa? Aku bukan robot Tuan." Dariel menggigit pelan daun telinga Istrinya. Membuat siempunya telinga menjerit kecil.
"Yang benar kalau ditanya istri nakal! Apa Baby rewel?" Andrea terkekeh dan menggeleng.
"Darimana kau tau aku sakit? Apa Bu Lila yang memberitahu mu?" Dariel mengangguk. Andrea Lalu melonggarkan diri dari Dariel setelah puas membasahi kemeja suaminya dengan airmata tadi. Kini mendongak menatap kedalam manik mata indah milik Dariel dengan tubuh yang masih saling menempel.
"Tuan,maafkan aku ya? Aku tidak bermaksud membuat mu marah kemarin.." Ucap Andrea pelan dengan suara yang bagai sihir itu.
Dariel mengangguk.Andrea tersenyum. Tangannya menangkup kedua pipi Dariel. Mengecup sekilas bibir yang memabukkan itu. Dariel lepas kendali juga.Wajah yang terlihat imut seperti anak kecil yang habis menangis itu membuatnya gemas. Ia membalas. Dikecupnya lama bibir Andrea,menyalurkan rasa rindu yang ia pendam.
"Aku bantu pakaikan bajumu.Kita kedokter." Kata Dariel setelah melepaskan bibirnya.
"Tuan,aku sudah minum obat dari Bu Lila."
"Kau harus kedokter juga! Jangan membantah!" Andrea kini menurut ketika Dariel membantu memasangkan bajunya. Senyumnya mengembang merasakan perhatian yang begitu besar dari Dariel untuknya. Sesungguhnya Andrea sudah merasa jauh lebih sehat setelah berpelukan tadi.Mungkin sebenarnya penyakit sekaligus penawarnya adalah suaminya sendiri.
__ADS_1
Lila yang menunggu diluar kamar nampak tersenyum malu melihat Dariel keluar dengan menggendong Andrea.
"Aku akan membawa Rea kerumah sakit." Lila mengangguk.
~
"Nyonya tidak apa apa.Hanya demam biasa Tuan." Ucap seorang Dokter wanita yang menangani Andrea. "Saya akan berikan obat dengan dosis ringan saja, ditambah istirahat yang cukup Nyonya pasti cepat sembuh." Dariel mengangguk.
"Terimakasih Dok."
"Bagaimana dengan anak kami Dok?" Tanya Andrea.
"Janinnya sehat.Tidak berpengaruh kok. Tapi usahakan Nyonya jangan sampai stress ya, juga jangan melakukan pekerjaan berat."
Andrea mengangguk patuh.Ia menarik pelan lengan Dariel membuat tubuh Pria itu sedikit menunduk. Kemudian Andrea berbisik.
"Kau dengar? Dokter tidak memperbolehkan aku melakukan pekerjaan berat,jangan mengajakku bekerja rodi lagi Tuan!" Dariel tergelak. Kemudian membalas bisikan Andrea.
"Kita lakukan dengan pelan!" Andrea tersenyum.Berbisik lagi.
Tingkah kedua sejoli itu tak luput dari lirikan mata dokter yang sedang menulis resep.Ia pun ikut tersenyum menyadari kemesraan suami istri didepannya.
Setelah selesai memeriksakan keadaan Andrea,Dariel melajukan mobilnya menuju apartemen kembali.
"Suamiku,jangan pulang dulu,aku mau es krim!"
"Rea kau masih sakit,es krim tidak bagus untukmu.Yang lain saja."
"Aku sudah baik baik saja Tuan.Belikan aku es krim yaaaaa? Please.." Dariel menghela nafas kemudian mengangguk mengalah.
Mobil berhenti didepan sebuah kedai es krim. Ia keluar lebih dulu kemudian mengitari mobil bermaksud membuka pintu untuk Andrea.
"Eh, aku jalan saja!" Andrea menghentikan tangan Dariel yang kembali ingin menggendong nya.
"Baiklah,pelan pelan." Dariel memapah Andrea. Wanita itu terkekeh.
"Aku baik baik saja Sayang... Kenapa kau memperlakukan ku melebihi nenek tua yang sekarat sih?" Dariel menggaruk pelipisnya. Andrea menggandeng lengan Dariel. "Aku lebih suka seperti ini." Tersenyum. Dariel mencium sekilas pipi Andrea.
__ADS_1
"Awas kalau kau tambah sakit! Tidak akan kuberi istirahat kau saat bekerja!" Andrea terkekeh dan mengangguk setuju. Mereka masuk kedalam kedai es krim itu.
Setelah berdebat lama dengan Dariel dan berujung meneteskan airmata, Lagi lagi Dariel terpaksa mengalah dan membiarkan Andrea memesan es krim dengan cup besar sesuai keinginan nya,dengan wajah masam Dariel menemani Andrea duduk disudut ruangan. Andrea kelihatan sangat bernafsu dengan es lembut dan manis dengan berbagai varian rasa itu.
"Emmm...Manis sekali!" Andrea bergidik merasakan es krim yang lumer dimulutnya. Dariel masih memperhatikan Istrinya itu dengan tatapan kesal.Ia khawatir jika kondisi Andrea jadi memburuk karena makan banyak es krim tapi Andrea tidak mau menurut. Lama kelamaan menatap wajah cantik yang menikmati es krim itu membuatnya mengulum senyum juga.
Kenapa kau cantik sekali? Lihat betapa imutnya dirimu saat makan itu! Lama lama kau seperti es krim,Manis dan bikin ketagihan! Bisa bisanya Joe mengatakan kau wanita yang tidak jelas! Hampir kusumpal mulutnya dengan komputer tadi. Dia tidak tau saja seindah apa dirimu..Mendengar kau demam saja hampir membuat aku sesak nafas. Aku bahkan tidak merasa kan sakit lagi pada tubuh ku setelah melihat mu.Betapa aku merasa bersalah,karna kau masih memikir kan kemarahan ku.Bukan kau yang marah padaku karna aku tidak menghubungi mu sama sekali...
"Tuan,kau mau?" Andrea menggantung kan satu sendok es krim diudara.Dariel mengangguk.
"Tapi aku tidak ingin makan pakai sendok." Andrea menautkan alisnya.
"Kau ingin makan pakai apa? sekop?" Andrea terbahak sendiri dengan guyonan yang dibuatnya.
"Yasudah kalau tidak mau membaginya!" Dariel pura pura marah.
"Eh.. Kenapa merajuk sih? Aku rasa Pengusaha lain tidak ada yang seperti dirimu ini Tuan,Yasudah Maafkan aku..." Memasang wajah manja andalannya. "Sayang, maaf..." Menoel noel pipi Dariel.
"Kenapa tidak dicium sekalian?"
"Kalau aku cium apa kau akan berhenti merajuk?" Dariel mengangguk semangat.
"Huuuu suami mesum dasar!" Andrea mengecup pipi Dariel sekilas.
"Sudah tuh!" Dariel terkekeh.
"Terimakasih Istri nakal! Ayo suapi aku,aku juga ingin,sepertinya enak!"
"Enak sekali Sayang.Buka mulutmu dan cobalah!" Andrea mengambil sesendok eskrim dan mengarahkannya kemulut Dariel.
"Rea, aku kan sudah bilang tidak ingin makan pakai sendok!"
"Dasar aneh! Lalu mau nya bagaimana Tuan?"
Dariel berdehem dan mendekatkan wajahnya.
"Aku ingin makan langsung dari mulutmu."
__ADS_1