
"Rea,kau kesini.." Ujar Nyonya Lee begitu pintu ruangan Dariel terbuka dan menampakkan sosok cantik Andrea. "Sudah kukatakan tunggu saja kabar Dariel dirumah.. Kau jangan sering melakukan perjalanan yang bisa membuatmu kelelahan nanti." Andrea tersenyum. Kini berdiri disamping bangsal dimana Dariel berada. menatap wajah tampan yang tengah tertidur itu.
"Nyonya,ada yang ingin bertemu denganmu."
"Oh ya? Siapa?"
"Ibu masuklah.." Nyonya Lee kembali menoleh kearah pintu yang kembali dibuka dari luar. Dua wanita beda usia berhasil membuat Nyonya Lee menautkan alisnya. Pasalnya Ia mengenali siapa sosok yang datang ini,Arumi, seorang desaigner terkenal yang karyanya kerap dilirik para sosialita termasuk dirinya yang pernah mempercayakan perihal fitting baju pengantin Dariel dan Aletta dulu padanya.
"Selamat siang Nyonya Lee,apa kabar anda?" sapa Arumi sopan.
"Aku baik. Apa yang kau lakukan disini? Dan apa hubunganmu dengan menantuku?"
"Maaf sebelumnya jika kedatanganku mengganggumu, Andrea adalah anakku. Aku Ibu kandungnya.." Jelas sekali airmuka kaget terpancar diwajah Nyonya Lee. "..kami terpisah saat Andrea masih kecil, dan baru bertemu beberapa waktu belakangan ini Nyonya." lanjutnya sebelum Nyonya Lee sempat bertanya. "Ini anak keduaku, Nadine.." Nadine mengangguk sopan kearah Nyonya Lee begitu dirinya ditunjuk.
"Kenapa kalian bisa terpisah?"
"Ada masalah dimasalalu yang membuatku harus kehilangan Andrea dan juga suamiku.. Peto yang menemukan Andrea dan merawatnya. Oiya, aku turut sedih atas apa yang menimpa anakmu..."
"Anakku pasti baik baik saja.." tersenyum penuh kekuatan tidak ingin dikasihani. "Darielku pasti hanya kelelahan dan beristirahat sebentar. Dia akan segera kembali.."
"Nyonya, bagaimana Nyonya Aletta? Apa dia sehat? Aku tidak melihatnya.." bola mata Andrea berhenti mengitari ruangan setelah yakin memang tidak ada Aletta disana.
"Kau ini masih saja memikirkan dia bahkan dia sudah memakimu kemarin.."
"Aku memang pantas mendapatkannya.."
"Tidak ada satupun dari kalian yang pantas mendapatkannya. Jika ada orang yang pantas dimaki dalam masalah ini itu adalah anakku sendiri. Dariel yang harusnya menerima semua makian itu. Entahlah, mungkin ini adalah teguran untuknya.." Andrea mengusap bahu Nyonya Lee begitu melihat aura kesedihan kembali menyelimuti bicaranya.
"Ah, aku sampai lupa, aku bawakan Nyonya kepiting saus pedas, aku yang masak sendiri loh! Nyonya makan ya?" Andrea berusaha menghibur. Diraihnya rantang berisi nasi dan menu kesukaan Nyonya Lee itu dari tangan Arumi. Dengan semangat ia menyerahkannya pada mertuanya. Berharap mengusir sendu yang tercipta.
"Kau sedang hamil besar, jangan melakukan pekerjaan berat Rea, atau Dariel akan marah padaku nanti jika kau kenapa-kenapa karena memasak untukku." Andrea tertawa kecil.
__ADS_1
"Ini tidak berat, aku senang hati melakukannya. Karna cucumu ingin makan denganmu Nyonya.." sudut sudut bibir Nyonya Lee terangkat membentuk senyuman haru. Mereka pun kemudian makan bersama menikmati hidangan rumahan bercitarasa restoran ala Andrea.
"Rea, darimana kau belajar masak? Masakanmu selalu lezat! Tinggal denganmu pasti aku akan berubah menjadi doraemon!" ucap Nyonya Lee dibalas tawa oleh ketiga wanita dihadapannya.
"Apa seenak itu?" Nyonya Lee mengangguk.
"Aku rasa bakat memasakmu menurun dari Ayahmu dulu, sayang.. Ayahmu sangat pandai memasak, bahkan aku saja kalah!" Arumi menimpali.
"Wuaa.. Ayahku pasti keren sekali dulu!" Andrea berdecak kagum.
Selesai makan, mereka pun melanjutkan obrolan seputar dunia wanita. Saling bertukar argumen tentang topik yang dibahas, sesekali terdengar mereka terbahak karena salah satu berhasil berkelakar memecah keseriusan. Tak mereka sadari Aletta yang sedang bersandar didinding luar ruangan Dariel, tak jadi masuk setelah tadi matanya lebih dulu melihat keakraban didalam saja sedang terjalin, menghentikan tangannya yang hampir meraih handle pintu.
Aletta menyeka airmatanya yang mengalir turun kepipi. Tersenyum kecut menatap tupperware ditangannya berisi nasi dan lauk yang ia masak untuk mertuanya. Tadi pagi Nyonya Lee datang dan meminta bergantian menjaga Dariel. Tapi apa yang ia lihat sekarang? hanya menambah dalam luka hatinya.
Aletta memutuskan untuk tidak mengganggu. Ia memilih pergi keluar dari rumah sakit entah menuju kemana ia sendiri tak tau. Ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah, dan kini berhenti ditaman rumah sakit. Diduduki nya salah satu kursi disana. Menangis. Tak habis habis air bening itu keluar dari kelopak mata indahnya.
Aletta kaget dan langsung menoleh begitu dirasakannya sentuhan lembut mendarat dibahunya. Seraut wajah manis sutradara Alan kini menghiasi pandangan Aletta.
"Boleh aku ikut menangis bersamamu?"
"Itu tidaklah lucu Alan!" Alan terkekeh.
"Kenapa kau malah disini bukannya menemani Dariel didalam?"
"Ada tamu Mama didalam aku tidak enak mengganggu."
"Dan apa ini? Hmmm.. Dari baunya sepertinya lezat!" Meraih tupperware didekatnya sambil mengendus. Aletta tersenyum.
"Hanya makanan kucing!"
"Boleh aku membukanya?" Aletta menggangguk. Alan nampak tergiur begitu tutupnya dibuka. "Makanan kucing seenak ini?" Alan langsung mencicip dengan tangannya. Membuat Aletta mendelik.
__ADS_1
"Ih.. Kenapa dimakan? Itu bukan untukmu!" merampas kembali tupperware ditangan Alan.
"Buatku saja!" Alan ingin mengambil lagi tapi cepat Aletta menangkis tangannya.
"Jauhkan tanganmu!"
"Tega sekali kau.." Alan cemberut. "Aku lapar.." Aletta iba juga,dengan kesal diserahkannya lagi tupperware itu.
"Makanlah!" Alan berbinar. Ia langsung makan dengan lahap. Melihat itu Aletta tersenyum juga, pikirannya melayang. Andai saja yang bersamanya sekarang adalah Dariel, yang menikmati masakannya adalah Dariel.. Aletta terisak lagi, menyita perhatian Alan,memaksa Alan untuk berhenti makan. Tak disangka sangkanya Aletta merebahkan diri didadanya. Mengadukan kesedihan yang ia rasakan.
"Ale.. Sudahlah.. Ini semua adalah cobaan. Semoga Dariel segera sadar dari komanya." Aletta mengangguk.
"Apa kau sudah makan?" Aletta menggeleng. "Kau tidak makan dengan benar ya, pantas kau terlihat kurusan sekarang... Duduk yang benar biar aku suapi." Aletta menurut. Ia memposisikan duduknya tegap sambil menyeka airmatanya.
"Aaaa!" Alan membuka mulutnya berharap Aletta mengikuti gerakannya.
"Aku makan sendiri saja!"
"Pernah dengar tidak?"
"Apa?"
"Makan dengan tangan orang lain itu lebih enak loh rasanya..." Alan mengerlingkan mata. Aletta tergelak. Akhirnya ia mengangguk dan membiarkan Alan menyuapinya.
"Terimakasih Alan.." ucap Aletta sepenuh hati. Ia sedikit merasa hangat dengan perlakuan ini. Alan mengangguk dan tersenyum.
Bunga-bunga nan indah bermekaran dengan warna warni yang memukau ditaman itu. Sama dengan warna hati Alan disertai bau semerbak cinta terpendamnya untuk Aletta.
Tuhan.. jangan biarkan kesedihan menyelimuti wajah cantiknya. Cerahkan harinya, Berikan dia kebahagiaan yang pantas. Jika tidak bersama Dariel,izinkan Aletta bahagia bersamaku..
"Hey!" Aletta mengusap wajah Alan. "Senyum-senyum sendiri ! apa yang kau lamunkan?" Alan terkekeh.
__ADS_1
"Tidak ada."