
Dariel sudah berdiri didepan pintu apartemen, Ia mengatur nafas sebentar,entah kenapa tiba tiba Ia jadi gugup,sudut sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman melihat setangkai mawar merah segar ditangannya dan ketika membayangkan ekspresi bahagia Andrea nanti saat menerimanya.
Tadi saat diperjalanan pulang sebuah toko bunga menarik perhatiannya.Tiba tiba Ia teringat Istri mudanya itu.Ia tidak tau Andrea suka bunga jenis apa, tapi mawar merah pasti disukai wanita manapun kan? Akh, Andrea benar benar membuatnya merasakan kasmaran lagi.
Dariel menggaruk pelan pelipisnya,Sadar kalau tingkahnya ini aneh untuk ukuran Pria seusianya.
Bahkan Dariel sempat sempatnya berlatih cara memberikan mawar itu secara romantis pada Andrea.
"Rea,aku membelikan bunga mawar untukmu, apakah kau suka? Aish, itu kelihatan biasa. "Rea sayang lihat aku bawa apa.. Taddaaa! Kau suka,hm? Akh! Masa bodohlah, aku akan menerkamnya kalau dia tidak menerima ini!"
Dariel mengomel sendiri,frustasi dengan tingkah konyolnya. Tangannya menyentuh tombol-tombol sandi Apartemen.Dan Klek,
Senyum ceria yang sudah dipersiapkan Dariel diwajahnya seketika buyar begitu dia masuk.Dariel terpaku dan seketika bunga mawar dalam genggaman itu terlepas begitu saja jatuh kelantai saat kedua mata Indah Dariel bersitatap dengan seorang wanita di Apartemen.
"Dariel?" Kau sudah kembali?"
"Mama?"
~•~
"Dariel itu anakku!" Andrea merasa lututnya lemas mendengar kata-kata wanita paruh baya dihadapannya.
"Kau Rea kan? Teman Dariel? Benar?" Perlahan Rea mengangguk.Rasa ingin pipis hilang sudah.Rea merasa ingin kabur saja sekarang.
"Kenalkan," Wanita yang tidak lain adalah Nyonya besar keluarga Lee mengulurkan tangan. "Aku Mama Dariel"
Andrea menatap uluran tangan dan wajah itu bergantian. Gugup setengah mati Andrea menyambut uluran tangan itu.Andrea merasa tangannya dingin.
"Salam kenal,Nyonya.Aku Rea."
"Kau bersama siapa?Apa bersama Dariel?" Tersenyum kearah Andrea,entah apa makna senyuman itu sebenarnya.
"Tidak Nyonya.Aku bersama adikku."
"Apa aku boleh bergabung?"
"Hah?tapi,"
__ADS_1
"Aku traktir!" Sikap bersahabat Mama Dariel membuat Andrea semakin canggung.
Livya yang sudah lama menunggu nampak mengerutkan dahi melihat Andrea berjalan kearahnya tidak seorang diri, ada seorang wanita lain bersamanya. Wanita yang nampak berkelas dan anggun.Jelas sekali tidak bisa dianggap orang biasa.
Livya menunduk sopan begitu kedua wanita itu sudah berada dihadapannya.
"Livya, ini adalah Mama Dariel.." Andrea sedikit canggung menyebutkan langsung nama suaminya tanpa embel embel 'Tuan'. Livya sempat terkejut tapi secepat kilat berusaha menetralkan ekspresi nya kembali.
"Hallo Nyonya,aku Livya."
"Silakan duduk Nyonya.." Ujar Andrea menarik kursi sedikit kebelakang,Nyonya Lee dudul dikursi yang sudah disiapkan Andrea.
"Terimakasih." Matanya kini menatap lapar hidangan dimeja. "Rea? Apa kau yang pesan kepiting saus pedas ini?" Andrea mengangguk.
"Selera kita tak jauh beda ternyata! Aku juga suka kepiting!"
"Nyonya boleh memakannya kalau suka, silakan Nyonya.."
"Oke, kita bagi dua ya?" Andrea dan Livya saling pandang.
Kenapa mertua kakak ku semanis ini sih? jauh sekali dari yang pernah aku bayangkan!
Andrea bahkan tidak bisa lagi mengecap rasa dengan sempurna sekarang,padahal tadi Ia amat berselera dengan menu ini setelah lama tidak mencicipi nya,bahkan tenggorokan nya mulai sakit jika menelan.
Kenapa Nyonya besar bisa mengenali ku? Apa tuan Dariel yang memberitahunya? Atau Dira? Katanya aku lebih cantik kalau dilihat langsung? memang kapan dia tidak melihat ku secara langsung? Sikap Nyonya besar sangat bersahabat,apa karna dia tidak tau hubungan ku dengan tuan Dariel sebenarnya? Aish, apa yang harus aku lakukan sekarang?!
Selesai makan,Livya mendapat sebuah panggilan mendadak dari teman kampus nya untuk mengerjakan tugas kelompok,Andrea melepas kepergian Livya dengan berat hati. Mau tidak mau ia harus menghadapi Nyonya besar sendirian.
"Rea?"
"Ya Nyonya?"
"Kau dan Dariel, sudah lama kenal?"
"Belum terlalu lama Nyonya."
"Kau tau kan, anakku sudah beristri?" Andrea mengangguk lemah.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu?Benar kau tidak punya kekasih seperti yang dikatakan Dira?"
Apa Nyonya besar sedang menginterogasi ku? Ya Tuhan Dira! Apa saja yang sudah kau katakan pada Nyonya besar?
"Tidak Nyonya, saya tidak punya kekasih." Tersenyum getir berusaha untuk tidak gugup tapi sulit.
"Selama ini Dariel sangat menjaga jarak dengan wanita lain karna Dia sangat mencintai Istrinya, tapi kau membuat Anakku begitu peduli sampai membawakan pembantu dari rumah kami untuk membantumu, jujur aku penasaran .. Dariel ku tidak pernah seperti itu.. Benarkah hubungan kalian hanya sebatas teman?"
Tanpa sengaja Andrea menjatuhkan sendok ditangannya mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa kau gugup sekali? Ada sesuatu yang kau tutupi?" Skakmat. Andrea terdiam. Bingung.
"Maaf Nyonya,saya hanya gugup karena Nyonya begitu ramah."
"Aku ingin berkunjung ke Apartemen mu, apakah boleh?"
~•~
Dariel jelas tak bisa menutupi keterkejutan nya dengan kehadiran Mamanya di Apartemen Andrea. Kenapa bisa ada Mamanya disini? Pertanyaan itu kini mengerubungi otaknya.
Andrea yang nampak baru keluar dari dapur langsung berhenti dan memperlambat langkah kakinya begitu melihat kedatangan Dariel. Sama dengannya, sorot mata Dariel juga menjelaskan kalau Ia sedang tidak tenang, dengan membawa nampan berisi secangkir teh dan sepiring roti Andrea bergabung dengan Nyonya besar keluarga Lee diruang tamu, meletakkan dengan sopan minuman yang ia buat sendiri itu, Andrea sengaja tidak ingin menyuruh pembantunya karena Ia sendiri butuh pelarian untuk kegugupan nya.
"Silakan diminum,Nyonya.Maaf aku tidak bisa menyediakan yang lebih baik daripada ini" Nyonya Lee nampak tersenyum puas dengan sikap Andrea.
"Ini saja sudah lebih dari cukup untuk ku." Nyonya Lee mengesap teh itu sedikit.
Dariel melangkah gontai mendekati dua wanita diruangan itu.Ia memilih duduk disamping Andrea. Melirik Andrea sebentar lalu menoleh kearah Mamanya.
"Jadi hubungan kalian tidak hanya teman biasa bukan?" Satu kata pembuka yang cukup pas digunakan untuk menggambarkan yang terjadi sekarang. Tentu Nyonya Lee bisa membaca situasinya.Dariel masuk seenaknya kedalam Apartemen wanita yang bukan siapa siapanya, dan apa itu tadi, bunga mawar? Nyonya Lee tertawa dalam hati, tidak menyangka Dariel bisa melakukan hal ini. Tapi sejujurnya Andrea bukanlah gadis yang buruk,wajar saja kalau anaknya tertarik, toh Andrea memiliki paras yang sangat cantik, Sikapnya juga sopan. Belum lagi Nyonya Lee sudah sempat terkontaminasi oleh cerita Dira tentang Andrea.
Ini potret Nyonya Rea yang Nyonya minta,Dia lebih cantik saat dilihat langsung.Dia sangat baik dan berjiwa kekeluargaan,bahkan dia menganggap ku adik! masakannya juga enak .
Begitulah yang dikatakan Dira saat Nyonya Lee meminta nya memfoto Andrea karena penasaran. Ia pernah datang keApartemen ini sebelumnya setelah Dira tidak lagi diperintahkan Dariel untuk bekerja, tapi saat itu tidak ada siapa siapa. Keinginan nya untuk memiliki cucu sampai membuatnya serepot ini mencari tau Andrea,Ia berniat ingin menjodohkan Andrea dengan Dariel.
"Jenis hubungan apa yang kalian sembunyikan ini? Apa kalian sudah tidur bersama?"
"Ma," Dariel pasrah. Mungkin ini sudah saatnya Ibunya ini tau, pikir Dariel. "Sebenarnya kami sudah menikah,dan Rea sedang hamil anakku!"
__ADS_1
Mata Nyonya Lee membulat,jelas sekali Ia kaget .Ia menatap lekat Andrea yang kini hanya sanggup menunduk.
"Aku melakukan ini untuk Mama, Mama menginginkan cucu dari darah dagingku bukan? Mama yang menyuruh ku menikah lagi.Sebenarnya Ini belum waktunya aku untuk jujur tapi sudah kepalang basah,jadi aku minta,tolong Mama jangan mengatakan apapun pada Ale.Biar anak ini lahir dulu"