
Pagi telah berulang datang dan pergi sekian kali tapi Dariel masih kaku ditempatnya. Membiarkan Andrea berjuang sendiri diruang persalinan rumah sakit itu melahirkan buah cinta mereka. Teriakan kesakitan pilu tersentuh telinga, hingga setelah memakan waktu lama, berganti dengan tangisan bayi yang mengundang senyum lega diwajah Nyonya Lee. Iba menyelimuti hatinya menatap Andrea yang lemah tak berdaya setelah berjuang tadi.
Setelah Andrea dipindahkan keruang perawatan dan bidan yang membantu persalinan Andrea selesai membedong anak laki laki dengan berat 3,5 kg itu, Ia memberikannya pada Nyonya Lee.
"Cucu Anda Nyonya, selamat, bayi laki laki yang sehat dan tampan!" Nyonya Lee menerima dengan hati riang gembira.
"Dariel junior..." Nyonya Lee tersenyum senang. "Akhirnya aku memiliki cucu! Sayang, maafkan Ayahmu ya,dia belum bisa menggendong mu, nanti kita temui ayahmu, aku jamin dia akan segera sadar begitu mendengar suara tangisanmu didekatnya! Menangislah yang kuat seperti tadi, oke?"
Andrea yang mendengar itu menarik dua sudut bibirnya sedikit. Ia juga berharap demikian. Rasa sakit sudah hilang berganti dengan rasa sayang yang membuncah melihat wajah mungil tanpa dosa dalam gendongan Nyonya Lee. Mungkin akan lebih bahagia jika yang pertama kali melihat anak mereka adalah suaminya. Tanpa terasa sudah dua bulan Dariel tertidur. Ia sudah sangat merindukan senyuman dan tawa Pria itu. Setidaknya Ia ingin melihat itu sebelum benar benar pergi nanti.
"Kau ingin menggendong nya?" Tanya Nyonya Lee. Andrea mengangguk. Hati hati sekali Nyonya Lee menaruh bayi dalam gendongan Andrea. Airmata Andrea menetes menatap wajah mungil anaknya.
"Persis Dariel sekali kan?"
"Hu'um. Jelek!" Nyonya Lee tertawa.
"Rea.. Jangan pergi..." bisik Nyonya Lee setelah mengamati rasa sayang yang coba disalurkan Andrea pada darah dagingnya itu. Andrea menggeleng.
"Biarkan aku menyenangkan hati Nyonya Aletta.. Aku akan memberinya ruang untuk bersama Dariel lagi. Aku akan ikut bersama keluarga ku Nyonya.."
"Bagaimana nanti jika Dariel bangun dan tidak menemukanmu? Aku jamin dia akan marah besar Rea.. Tolong pikirkan lagi keputusanmu! Demi Dariel dan anakmu!" Andrea terdiam. Bayangan wajah Aletta menghantuinya menjelang persalinan, Ia selalu memimpikan wanita itu akhir akhir ini, seolah menagih janji Andrea.
"Tunggulah sampai Dariel sadar dari koma nya, biar dia yang memutuskan akan memilih siapa..."
"Aku sudah berjanji." jawab Andrea lemah.
Belum sempat Nyonya Lee menjawab lagi, suara pintu dibuka diruang perawatan Andrea membuat keduanya menoleh. Sudut sudut bibir Andrea terangkat membentuk senyuman begitu raut raut bahagia keluarganya hadir. Semua nampak bahagia menyaksikan Andrea telah melahirkan bayinya dengan selamat. Livya dan Nadine berlomba saling mendekat ingin secepatnya melihat wajah keponakan mereka.
"Uh.. Gemasnya..Tampan sekali kau son?" Ucap Livya menoel noel pipi sibayi.
"Jangan terlalu keras, nanti dia bangun..." bisik Andrea. Lalu mereka saling bergantian menggendong. Terakhir yang mendapat kesempatan adalah Ryuga. Pemuda tampan itu kini sudah cukup akrab dengan keluarga Livya semenjak diketahuinya hubungan Nadine dan kekasihnya itu.
"Kau mau yang seperti ini?" bisik Ryuga mengundang kenakalan. Livya menepuk bahunya pelan sambil terkekeh.
"Gendong saja yang benar paman!"
__ADS_1
"Hey lihat, aku sudah bisa menggendong bayi! Jadi katakan, kapan kita akan punya bayi kita sendiri?" masih berbisik.
"Ryu... Hentikan!!" melotot. Ryuga tertawa.
Sementara itu diloby rumah sakit, Sheril yang baru saja tiba nampak melangkah dengan terburu buru diikuti Dion dari belakang. Mereka sudah mendapat kabar dari Livya tentang keponakan baru dan tentu saja mereka juga ingin melihatnya. Hubungan mereka maju dengan pesat belakangan ini semenjak Dion yang membantu tugas Sheril waktu itu, dan masih berlanjut hingga kini. Gadis itu dengan suara manjanya akan dengan sangat mudah meluluhkan hati seorang Dion untuk membantunya mengerjakan tugas kuliah.
"Santai saja jalannya!" ujar Dion menahan lengan Sheril. "Heelsmu tinggi sekali aku ngeri melihatnya, kalau tergelincir aku tidak yakin kaki bagusmu masih bisa berfungsi dengan baik!"
Sheril menatap kedua heelsnya bergantian.
"Aku membawamu supaya kau berguna! Kalau kakiku sakit ya gendong aku!" Sheril melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Dion beberapa meter dibelakang, dan tiba tiba,
Klek,
AHH!
Dion dengan langkah lebarnya bergerak cepat berusaha menumpu tubuh Sheril yang limbung. Sheril memegang lengan Pria itu begitu dirasakannya tubuh mereka menempel. Sesaat keduanya sempat bersitatap..
"Lepaskan aku! Akh!" Sheril meringis ketika menggerakkan kakinya berniat menjauh.
"Buka saja heelsmu, yang kanan patah!" Sheril menurut ketika Dion membantunya membuka alas kaki dengan harga jutaan itu, disaat begini Dion terlihat gentleman dimatanya. Saat kulit jemari Dion menyentuh kulit kakinya rasanya sulit dimengerti.
Sheril meremas bahu Dion ketika Dion memijit bagian kakinya yang tadi sakit.
"Kalau tidak bisa jangan lakukan! jangan patahkan kakiku, sialan!" omelnya. Dion bangkit. "Panggil saja Dokter!"
"Aku bisa! Kita cari tempat duduk yang nyaman untukmu agar aku bisa mengurut kakimu dengan benar!"
"Sakit sekali aku tidak mau!" menolak ketika Dion meyatukan jemari mereka.
"Tidak mau diobati, Kau ingin pincang?" Sheril menggeleng. "Menurutlah!"
"Tapi sakit kalau berjalan!" bermaksud agar Dion mencarikan kursi roda.
"Baiklah!" Sheril terkesiap dan meronta ketika Dion malah menggendong tubuhnya ala bridal style.
__ADS_1
"Apa apaan kau?! Turunkan aku!"
"Kau bilang tadi kalau kakimu sakit aku harus menggendongmu kan?" Sheril terdiam sesaat, berpikir. Apa iya tadi ia bilang seperti itu?
"Pokoknya turunkan aku! Aku mau jalan saja! Bisa rusak image ku digendong Pria rabun sepertimu!" masih jual mahal. Dion tak mendengarkan dan membiarkan Sheril mengomel sampai ia menemukan salah satu kursi tunggu dikoridor. Mendudukkan Sheril disana.
"Tahan sedikit ya..." Dion mulai menunjukkan kebolehannya. Belum juga mulai Sheril sudah menjerit.
"Jangan sentuh, sakit sekali pasti! Jangan sampai tangan amatirmu mematahkannya ya!" Dion mendengus kesal.
"Kau gila ya? Mana mungkin aku mematahkan kaki indahmu yang selalu membuatku semangat saat melihatnya!"
"Apa kau bilang? Aish, dasar kau Pria rabun mesum!" Dion terkekeh.
"Ini tidak akan lama, kakimu akan segera baikan, percaya padaku..." Sheril tertegun. Tanpa menunggu persetujuan Dion mulai mengurut bagian yang sakit. Dibiarkan nya Sheril menggebukinya dengan tas begitu rasa sakit yang hebat dirasakannya dari pijatan Dion pada kakinya. Tapi anehnya begitu selesai Sheril tak merasakan sakit lagi. Ia bangkit dari duduknya, menggerak gerakkan kaki.
"Sudah tidak sakit kan?"
"Hu'um!" kemudian melayangkan satu tendangan dikaki Dion membuat Pria itu mengaduh. Sheril tergelak dengan kelakuannya sendiri.
"Sakit?" tanya Sheril tanpa dosa.
"Tidak. Lebih sakit mencintai tanpa balasan!" Dion mengerling nakal. Sheril mengerucutkan bibirnya.
"Terus saja kau menyindirku!"
"Maka terima cintaku! Kau juga menyukaiku kan?"
"Eh, sembarangan kau!"
"Kau yakin?" Sheril mengangguk.
"Ahh.. Sakit sekali bagian sini!" menyentuh dadanya. Sheril tergelak, lalu bergerak memeluk lengan Dion. Bola mata mereka bertemu.
"Kenapa menatapku?" Sheril menggeleng. "Aku tau kalau sudah begini kau ada maunya, jadi katakan..." Sheril mengeluarkan senyum terbaiknya dan mengangguk.
__ADS_1
"Maukah kau membelikan aku sendal?"