
"Aku ketoilet sebentar ya" Aletta mengangguk ketika Aurellie pamit, mulutnya sedang terkatup menahan es krim vanila yang lumer didalam sana. Tak sempat lama Aletta fokus pada hidangan manis itu ketika suara keributan mengalihkan perhatiannya.
"Bajuku!!" Aurellie kaget bercampur kesal.
"Maaf, maafkan saya Nona. Saya tidak sengaja, saya bantu bersihkan ya?"
"Kalau jalan gunakan matamu juga! Lihat bajuku kotor semua! Kau tau berapa harganya ini hah? Bahkan harga dirimu tidak cukup untuk membayarnya!!"
Berjarak sekian meter membuat Aletta dapat melihat jelas apa yang kini ada dihadapannya. Nampak seseorang sedang sibuk me-lap pakaian yang dikenakan Aurellie, entah siapa, wajah wanita itu terhalang oleh sosok Aurellie yang mendominasi, entah apa persisnya yang terjadi, yang jelas dari suara tinggi wanita itu Aletta sadar ada yang tidak beres, karena penasaran Aletta pun memutuskan untuk bergabung.
"El, ada apa?" Tanya Aletta.
"Biasalah, wanita kampungan yang tidak tau tata krama ditempat umum. Dia menumpahkan minuman kebajuku," Adu Aurelie. Aletta menoleh kearah wanita yang menunduk sibuk membersihkan sisa noda minuman dengan alat seadanya, bersamaan dengan itu wanita tadi pun mengangkat wajahnya, dua pasang netra itu membulat bersamaan begitu bertemu tatap. Untuk sejenak keduanya terpaku diantara Aurellie yang kini kebingungan menatap dua wanita didekatnya.
"Nyonya Aletta?"
"Andrea?"
"What? Kalian saling kenal?" selidik Aurellie. Aletta memalingkan wajah seiring langkahnya yang menjauh. Melihat itu Andrea dengan kecepatan yang sama menarik lengan Aletta bermaksud menghentikan, Aletta menepis kuat tangan Andrea masih berusaha menghindari.
"Nyonya,"
"Jauhkan tanganmu!"
"Aku ingin bicara.. "
"Tidak ada apapun diantara kita yang perlu dibicarakan,"
__ADS_1
"Nyonya, kumohon.. Sekali ini saja. Setelah ini terserahmu mau mendengarkanku lagi atau tidak. Beri aku kesempatan bicara Nyonya.." Aletta menghembuskan nafas berat, matanya melirik sekeliling. Karna merasa mulai menjadi pusat perhatian akhirnya Aletta menarik tangan Andrea keluar dari bangunan itu masuk kebasement dimana mobilnya berada.
Suasana hening sesaat.
"Kenapa kau menampakkan diri didepanku? Mau menertawakan aku? Selamat Andrea, Dariel memilihmu. Selamat untuk keberhasilanmu merebut suamiku." Aletta berucap disela nafasnya yang memburu menahan luapan emosi. Andrea menatap Aletta dengan sedih. Digenggamnya jemari lentik yang mengepal menahan sakit membuat Aletta menoleh seketika.
"Seandainya bisa diulang, aku lebih memilih tidak menerima tawaran Dariel untuk mengandung anaknya jika berakhir seperti ini. Nyonya, dari awal Dariel melakukan ini karena dia begitu mencintaimu, Wanita sebaik dirimu memang lebih pantas bersama tuan Dariel, aku pun mungkin tidak akan bisa menerima jika suamiku memilih maduku. Aku mengajakmu bicara bukan untuk mengelabuimu untuk memaafkanku, namun jika masih ada pintu maaf dalam hatimu meskipun hanya tersisa satu saja, tolong, maafkan segala kesalahan kami.."
"..Jika harus mencium kakimu pun aku bersedia melakukannya, sungguh, aku mohon maaf, beribu maaf, hidup dalam bayang-bayang kesakitanmu begitu menyesakkanku, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu,Aku," suara Andrea tercekat, sesak didadanya begitu terasa. Dan dititik sebelum kalimatnya habis air bening menetes dari kelopak matanya jatuh tepat diatas jemari Aletta. "Aku bahkan ikhlas jika Tuhan mengambil nyawaku agar kau dan Dariel bisa kembali bersama, aku tau aku adalah penyebab semuanya, maafkan aku.. "
Entah bisikan darimana tapi Aletta merasa tersentuh dengan yang didengarnya. Cepat ia menarik tangannya menjauh untuk mengusir perasaan aneh yang menggelayut tiba-tiba melihat airmata Andrea kali ini.
Kenapa ia jadi lemah begini sekarang?
"Aku sudah membujuk Dariel untuk kembali padamu sebelumnya, percayalah aku pun tidak berpikir ada diposisi ini sekarang, aku tidak pernah bermaksud merebutnya.."
Andrea terpaku. Butuh waktu beberapa saat baginya untuk menelaah kalimat Aletta barusan.
"Apakah.. Apakah itu, berarti Nyonya telah memaafkan aku??" Aletta dengan sedikit malas mengangguk pelan tanpa mau menatap wajah cantik yang kini malah membuat rasa percaya dirinya tertekan seperti pertemuan yang lalu-lalu. Hm, Andrea begitu cantik, Sial sekali.
"Ya, aku memaafkanmu."
Andrea yang begitu girang mendapat maaf Aletta dengan spontan memeluk erat tubuh Aletta membuat Aletta sedikit menegang. Sesuatu yang tak pernah disangka-sangkanya terjadi, Andrea yang lepas kendali entah mengapa bukannya membuat ia marah malah membuatnya jadi bimbang, aneh. Aletta merasa kehangatan menjalari tulang rangkanya setelah menyadari bahwa selama ini setelah sekian lama ia tidak punya seseorang yang memeluknya hangat layaknya saudara seperti cara Andrea memeluk nya. Aletta merasa dibutuhkan. Dan ia senang. Nalurinya tanpa sadar menggerakkan tangannya membalas pelukan Andrea dan mereka larut disuasana yang tak direncanakan itu. Berbaikan.
Suara ponsel akhirnya menengahi dua wanita yang kini sama-sama terkesiap, keduanya menyeka bersamaan sisa-sisa airmata yang menetes tadi. Ada sedikit rona merah ditulang pipi mereka.
"Maaf," Ujar Andrea karena ponsel yang berdering itu miliknya. Nama Livya tertera dilayar membuatnya tersadar betapa ia sudah meninggalkan Livya sekian lama,adiknya itu pasti kebingungan karena saat Andrea meninggal kannya tadi, Livya sedang ke toilet.
__ADS_1
"Hallo?"
"Kakak! Kau dimana? Kau pulang dan meninggalkanku ya?"
"Tidak, aku akan menyusulmu sebentar lagi." Andrea memutuskan panggilan dan menoleh lagi kearah Aletta.
"Nyonya, aku harus pergi sekarang, adikku mencariku." Aletta menipiskan bibir.
"Berhenti memanggilku Nyonya mulai sekarang Rea, aku bukan istri siapapun lagi saat ini. Panggil Aletta saja." Andrea mengangguk patuh.
"Semoga Tuhan selalu menjagamu. Semoga bertemu lagi." Andrea berucap tulus. Aletta mengangguk dan sesaat sebelum Andrea keluar, satu kalimatnya membuat Aletta tertegun.
"Aletta.. jika dimasa depan kau alami hari yang berat, Ingatlah bahwa aku akan menerimamu dengan senang hati. Datanglah kepadaku jika kau membutuhkan seorang teman. Semoga beruntung."
Hingga bayangnya sudah tak kelihatan lagi Aletta masih menatap dimana terakhir kali sosok Andrea menghilang. Aletta menunduk, menumpahkan semuanya, airmatanya, kesedihannya, lukanya, amarahnya. Membuang siksaan yang tersisa. Berharap keadilan dari Tuhan itu benar adanya, berharap bahagia kan datang secepatnya.
_
Aletta meneguk habis minuman digelasnya sekali lagi. Sebentuk wajah bahagia Andrea tadi siang masih membayang dibenaknya, anehnya Aletta malah merasa lebih baik dan tanpa disadarinya pertemuan mereka itu seperti membawa kedamaian yang sulit dimengerti. Inikah rasanya ikhlas itu?
Tapi bagaimana bisa ikhlas bisa begitu mudahnya ia lakukan hari ini karna sebuah kehangatan pelukan dari wanita yang harusnya sangat ia benci, bahkan mungkin wanita lain tak akan sudi bahkan untuk berbicara, alih-alih mereka mencaci, meludah bahkan menyumpahi para perebut itu.
Andrea.. Wanita itu.. Bagaimana bisa begitu?
Setelah berapa lama dua sudut bibir itu akhirnya tertarik, satu senyuman indah terukir disana. Didetik setelah Aletta memutuskan untuk berdamai dengan hatinya didetik itu pula sebuah sentuhan hangat mendarat dibahunya.
"Kau disini juga?"
__ADS_1