
Perlahan tapi pasti jari jemari Dariel bergerak. Aletta yang baru saja kembali keruangan Dariel setelah tadi mencari angin segar dibalkon terkesiap, disentuh nya jemari yang bergerak itu, bukan main bahagianya Aletta begitu mendapat balasan pada sentuhan tangannya.
"Sayang,kau sudah sadar?" ditangkupnya kedua pipi Dariel. "Aku akan panggilkan Dokter!" Aletta tersenyum bahagia. Segera Ia menghubungi Dokter keluarga Lee untuk menangani Dariel. Nyonya Lee dan seluruh pelayan mansion keluarga Lee nampak berbahagia mendapat kabar ini. Dariel sudah siuman! Itu berkah yang sangat luar biasa bagi mereka. Bagaimana tidak, setelah mengalami kecelakaan tunggal waktu itu Dariel koma selama empat bulan lamanya!
Aletta tak henti hentinya bersyukur.
"Selamat Nyonya, suami anda sudah sadar dari koma. Entah mukjizat dari mana tapi saya ikut senang dengan ini. Mudah mudahan setelah ini semua baik baik saja dan Tuan Dariel bisa segera kembali berkumpul bersama keluarga." ucap Dokter begitu selesai memeriksa keadaan Dariel.
"Terimakasih Dok."
"Emm.." gumam pelan terdengar dari bibir pucat Dariel. Rupanya Pria itu mulai menunjukkan eksistensi nya lagi, Aletta dengan sigap memposisikan tubuhnya disamping Dariel, menggenggam erat tangan suaminya.
"Sayang, aku disini..terimakasih sudah kembali..." bisiknya. Tak terdengar suara lagi. Dua butir air bening mengalir di pipi Aletta, ingin rasanya memeluk erat tubuh Dariel yang kini terlihat kurus itu.
Sekitar setengah jam kemudian, setelah berhasil dihubungi oleh Aletta, Jonathan juga datang melihat kondisi Dariel. Malam sudah beranjak larut tapi ia tidak peduli. Ia juga merindukan sahabatnya itu.
"Dariel..." Nyonya Lee menangis. "Ini Mama sayang.." Tetesan airmata Nyonya Lee diatas kulit pipinya membuat mata sayu Dariel terbuka perlahan.
"Sayang,ini Mama..." Nyonya Lee tersenyum bahagia bisa menatap dua bola mata indah anaknya lagi setelah lama terpejam. Dariel masih diam,pandangan nya mengitari seluruh ruangan.
"Apa yang terjadi Ma?" pelan sekali suara itu terdengar. Dariel ingin bangkit tapi kepalanya terasa begitu berat. Seluruh tubuhnya serasa kaku.
"Tenanglah dulu,kau baru siuman Nak. Kecelakaan waktu itu membuatmu mengalami cedera otak dan koma!"
"Koma?!" Dariel shock sendiri dengan yang didengarnya.Nyonya Lee mengangguk.
"Sayang, kami merindukanmu.." ucap Aletta lirih. Memeluk erat tubuh suaminya sebentar.
"Sudah berapa lama aku tak sadar?" mendapat pertanyaan itu ketiga orang yang ada disana saling pandang. Wajah Dariel berubah cemas. Teringat Andrea dan anak yang dikandungnya. Apa mereka baik baik saja selama Ia tidak sadarkan diri?
__ADS_1
"Kau tidak sadar selama empat bulan!" akhirnya Mama Dariel yang memilih menjawab.
"APA?!" EMPAT BULAN?!"
"Benar Nak."
Shit!
Dariel memaksakan bangkit. Menyibak selimut tanpa perduli sakit dikepalanya yang masih menjalar setelah lama tertidur. Kacau balau sudah perasaannya mendengar empat bulan. Empat bulan? Berarti Andrea seharusnya sudah melahirkan dan Ia tidak ada disamping Istrinya disaat itu? Anak mereka bagaimana?
"Anakmu baik baik saja. Dia ada bersama kita disini." ujar Nyonya Lee menahan tubuh Dariel yang ingin turun dari bangsal. Ia mengetahui apa yang ada dipikiran anaknya sekarang.
"Apa Rea baik baik saja?" pertanyaan keramat terlontar. Dariel sudah tidak peduli lagi dengan keberadaan Aletta disisinya. Saat ini yang lebih penting adalah keadaan Andrea. Ia tidak tau bahwa Aletta sudah tau lebih dulu. Nyonya Lee mengangguk untuk menenangkan Dariel.
"Aku ingin melihat mereka sekarang!!"
"Kau baru sadar sebaiknya jangan banyak bergerak dulu Dariel, anakmu sudah tidur, besok saja kau melihat anakmu, ya?"
Aletta melirik Jonathan yang juga meliriknya. Seolah memberi isyarat AKU INI MASIH DIANGGAP TIDAK SIH?
"Dia sudah pergi!" Aletta mengambil alih. Berusaha tetap tenang meski reaksi Dariel setelah sadar cukup mengecewakan. "Wanita yang kau minta melahirkan anakmu sudah pergi, Dia sudah meninggalkanmu jauh sebelum kau sadarkan diri Dariel!" tambahnya. Jelas sekali raut kaget sekaligus tak suka bercampur diwajah Dariel. "Aku sudah tau semuanya.. tidak apa, aku bisa menerima anak itu. Kita bisa membesarkannya bersama sama."
"Kenapa dia pergi? Apa kau menyuruhnya pergi dariku?!" Aletta kecewa berat dengan pertanyaan ini. Setidak penting itukah dirinya lagi dimata Dariel? Kenapa dia segitunya mengkhawatirkan Andrea?
"Dariel berhenti bersikap bodoh!" Kali ini Jonathan yang bicara. " Lihat siapa yang ada disaat saat terburukmu, Aletta! Dia yang setia menemanimu selama kau sakit, sampai kau sadar pun Dia yang pertama kau lihat bukan perempuan itu kan? Kenapa masih memikirkannya sampai menuduh Ale?! Kau keterlaluan!"
"Rea sudah pergi Dariel. Dia sudah melanjutkan hidupnya." Nyonya Lee mengelus pundak anaknya. "Dia menitipkan anak kalian sesuai kesepakatan awal..." Dariel kecewa. Benar benar kecewa.
Butuh waktu lama untuk Dariel mencerna semuanya. Saat ini yang bisa ia ditangkap memori otaknya hanya Andrea pergi dan meninggalkannya beserta anak mereka. Tangannya mengepal. Rasanya ingin sekali ia bangkit dan mencari wanita itu sekarang juga tapi kondisi nya belum memungkinkan.
__ADS_1
Dimana kau? Kenapa kau pergi?! aku sudah menuruti kemauanmu tidak menceraikan Aletta, kenapa kau masih meninggalkanku juga? Awas saja jika aku menemukanmu nanti! Kau harus membayar semua pengkhianatanmu ini Rea!
"Makanlah. Aku suapi." ucap Aletta tulus. Malam sudah berganti pagi. Dariel kelihatan sudah lebih tenang tidak menggebu seperti semalam. Pria itu menurut ketika Aletta mengarahkan sendok kemulutnya. Beberapa saat hanya terdengar dentingan sendok.
"Sudah." Dariel menolak setelah menghabiskan tiga sendok makanannya.
"Kenapa makanmu sedikit sekali? Tiga sendok lagi ya?" Dariel menggeleng. Aletta menurut, dengan sabar disuguhkannya segelas air untuk pria itu.
"Ale, setelah mengetahui semuanya kau tidak marah padaku?" Aletta tersenyum.
"Tentu saja aku marah. Tapi cintaku lebih besar daripada amarahku. Aku sadar kau melakukannya demi kita berdua kan? Kau kembali dari koma saja aku sudah sangat bahagia, aku tidak memikirkan apapun lagi. Tidak pantas untuk marah disituasi seperti ini, Sekarang yang terpenting hidup kita kedepannya!"
"Aku ingin melihat anakku." Aletta mengangguk. Dibantunya Dariel bangkit dan mendudukkannya dikursi koda. Mendorong dari belakang benda itu menuju kamar anak mereka. Anak mereka? Tentu saja. Dia juga berhak sekarang atas anak itu.
Perlahan pintu dibuka dan pandangan mereka bertemu dengan sepasang mata Nyonya Lee yang sedang menimang cucunya sambil memberi susu.
"Dariel? Mama baru saja akan membawanya padamu.. Dia masih minum susu.." Dariel tak menjawab. Mata dan pikirannya lekat mengarah ke bayi laki laki yang menggemaskan itu. Matanya seketika berkaca kaca. Nyonya Lee mengangkat tubuh cucunya dari pembaringan dan meletakkannya dalam gendongan Pria itu. Dariel menerimanya dengan tangan gemetar.
"Benar ini anakku Ma?"
"Tentu saja! Andrea melahirkannya untukmu. Kau tau? Dia lahap sekali minum susu!"
Apa Ibumu tidak tau kalau ASI nya lebih penting dari susu formula? Kenapa dia tega sekali? setidaknya dia memikirkanmu.. Tenanglah sayang, aku akan menyeret dia kembali kesini, tidak ada yang bisa lari dariku jika bukan aku yang menyuruhnya!
"Dia tampan sekali kan?Lihat matanya indah seperti matamu.." Dariel mengangguk pelan. Senyum haru bisa memiliki putra terukir dibibirnya.
"Rea sudah memberikan nama untuknya.." Dariel menoleh ke Nyonya Lee. Ia tidak bertanya apa, tapi Nyonya Lee tau anaknya menantikan kelanjutan kata katanya.
"..Namanya Abraham Davidson Lee."
__ADS_1
...........
Rela akutuh bangun tidur langsung nulis demi pembaca semua karna aku liat koment kalian pada nunggu Babang Dariel,kangen babang Dariel!! Hmmmm...sejujurnya bukan nggak mau up guys, aku ada sedikit kendala sama kesehatan jadi sebisa aku aja. Semoga kalian suka ya sama part ini. Ada yang mau disampaikan?