
Andrea melepas kepergian Dariel dengan senyum ceria,melambai sampai mobil mewah Dariel hilang dari pandangan nya. Livya yang sedari tadi mengintip kegiatan pelepasan 'suami berangkat kerja' itu dari balik jendela kini sudah berani menampakkan diri.
"Ehem! senangnya tuuu dicium" Ledek Livya. Wajah Andrea merona.
"Kau sudah ingin pergi?" Tanya Andrea. Livya mengangguk.Gadis itu lalu menghidupkan mesin motornya,lalu setelah pamit pada Andrea ia mengemudikan motor barunya itu menuju kampus.
Puluhan pasang mata nampak memperhatikan Livya yang kini sudah memarkirkan motornya dihalaman parkir kampus.Livya melenggang tak perduli dengan mulut mulut yang sibuk membicarakan nya.
A:Motor baru!
B:Dia kan miskin, darimana dia mendapatkan uang ya?
A:Aish,bukankah menjual tubuh pada Pria tua hidung belang sedang ngetrend?
B:Tubuhnya sih memang kelihatan lumayan kalau untuk pekerjaan macam itu!
Dihina, direndahkan, sudah menjadi makanan harian bagi Livya.Dikampus ini memang tidak ada mahasiswa yang semiskin dirinya.Ini adalah kampus mahal dan berakreditasi tinggi,hanya orang orang dengan otak cerdas, kaya,atau sekedar beruntung yang bisa masuk kesini.Dan Livya adalah pemilik opsi ketiga itu.
Yang ada dipikirannya saat punya motor baru hanyalah, bagaimana Ia cepat sampai kampus tanpa berdesakan didalam angkutan umum.Sejujurnya Ia merasa sedikit bersalah pada Andrea, mungkin Livya terkesan menjadikan kakaknya itu umpan untuk memenuhi kebutuhan nya. Tapi sesungguhnya Ia lebih percaya kepada Dariel untuk melindungi Andrea,bukankah uang dan kekuasaan adalah pemegang semua kendali?Apa yang tidak bisa dilakukan jika banyak uang. Toh,Dariel juga kelihatan mencintai Andrea, begitu yang ditangkap mata Livya.
"Livya!" Sebuah suara membuat Livya menghentikan langkahnya.Ia berbalik. Matanya membesar melihat Ryuga berjalan mendekatinya.Sudah beberapa hari Ia tidak melihat wajah tampan Ryuga.
"Baru datang?" Tanya Ryuga ramah. Livya mengangguk dengan senyum.
"Aku ingin mengobrol, bisa?"
Mengobrol? Aaaaaa!
"K, kau ma, mau me, mengobrol denganku?"
Ryuga mengangguk. "Tapi soal apa?"
Ryuga menarik tangan Livya membuat gadis itu mau tak mau mengikutinya meski harus melewati berpasang pasang mata yang menatap mereka intens.Bagaimana tidak, Ryuga yang seorang Pangeran tampan bin Populer sedang menggandeng kaleng bekas. Ganjil dilihat.
Ryuga membawa Livya ke taman kampus. Suasana cukup sepi. Mereka lalu duduk berdampingan disebuah kursi kayu disana.
Livya menunduk, menatap corak sepatunya yang sudah sedikit pudar itu,tidak berani menatap Pria disampingnya.
"Aku,"
Livya dan Ryuga saling pandang kemudian tertawa ringan ketika setelah beberapa menit saling diam, begitu ingin bicara,mereka mengeluarkan suara bersamaan.
"Kau duluan" Ujar Livya.
"Kau saja"
"Tidak apa apa, kau saja"
"Ladies first?"
"Cih, bukannya kau yang ingin mengobrol?"
__ADS_1
Ryuga tersenyum dan mengalah.
"Livya?"
"Heemm?"
"Beberapa waktu lalu,kau menemui seseorang didalam mobil didepan kampus,Siapa dia? Habis menemui nya kau bahkan kelihatan sedih, apa aku boleh tau?"
Dia melihatku?
"Ah itu, itu mobil kakak iparku! Ada yang ingin dibahas jadi aku menemuinya!"
Ryuga manggut manggut.Dalam hati berteriak girang karena ternyata itu bukan kekasih Livya seperti dugaannya.
"Kenapa kau sampai menangis? Bahkan jadi gila seperti itu!" Livya melotot mendengar kata kata Ryuga.
"Gila katamu?Sembarangan!"
"Saking sedihnya kau bahkan tidak sadar sedang memeluk seorang Pria, bagaimana kalau itu bukan aku? Cih, membayangkan nya saja aku kesal!"
Livya tertegun menatap Pria disampingnya itu.
Apa sih maksud kata katanya itu? Tuhan jangan mempermainkan aku yang sudah kegeeran ini! huhuhu..
"A,aku,aku minta maaf" Bahkan Livya tidak tau untuk apa dia mengucapkan kata maaf itu.
"Kau bisa cerita padaku kalau ada masalah, jangan seperti kemarin,Oke?" Mengusap kepala Livya. "Meskipun kau tetap lucu walaupun tingkahmu aneh begitu.."
*J*angan senyum, jangan senyum, harus elegan Livya... tenang,jangan sampai kau bertingkah konyol saking senangnya! Aaaaa kenapa susah sekali menjadi wanita elegan itu?? ini lebih susah dari menahan kencing!
Livya memalingkan wajahnya.Menggigit kuat tali tas sandang yang dibawanya.
"Livya?"
"Heemm?" Livya menoleh kearah Ryuga lagi. Senyum semanis mangga muda ia tunjukkan membuat Ryuga terkekeh dengan ekspresi nya.
Jangan mengatakan apapun lagi Ryu, kumohon.. kau tidak mau melihat aku pingsan kan?
"Kau cantik."
Aduh, duh, duh, kepalaku... kenapa pandanganku ini... tolong jangan pingsan sekarang,jangaaaaannn...
Bruk!!
Tubuh Livya lunglai hampir menyentuh tanah kalau saja Ryuga tidak sigap menampungnya.
"Livya! Livya! Hey," Mengggoyang goyangkan bahu dan pipi Livya.Ryuga cemas.Bagai membawa kardus gampangnya Ia menggendong tubuh Livya ala bridal style menuju ruang kesehatan.
Sampai disana Ia langsung menidurkan Livya diatas bangsal.Seorang mahasiswi yang stay didalam ruangan kesehatan itu nampak terkejut melihat kedatangan Ryuga, terlebih lagi Ryuga membawa seorang gadis.
"Apa yang kau lihat?! Cepat periksa dia!" Ryuga berteriak kesal karena Mahasiswi yang tidak Ia kenali namanya itu nampak hanya terdiam memandanginya. Meski gugup karena berdekatan dengan Lelaki setampan Ryuga mahasiswi itu tetap melakukan yang diperintahkan Ryuga.Ia memeriksa denyut nadi Livya, kemudian memeriksa tekanan darahnya.Dia sendiri tak yakin sudah melakukan hal yang benar atau belum dengan tangan yang bergetar karena diperhatikan oleh Ryuga.
__ADS_1
"Kenapa dia? Apa yang terjadi?" Tanya Ryuga cemas.
"Di,Di,Dia,hanya,hanya pingsan! Se,sebentar lagi juga,juga dia akan sadarkan diri,a,aku akan, akan ambilkan minyak,"
"Cepat lakukan!!" Mahasiswi itu refleks menutup mata mendengar bentakan Ryuga yang tak sabaran,bahkan Ia belum selesai dengan bicaranya.
Begitu mahasiswi itu mengolesi minyak angin didahi dan mendekatkan benda itu dihidung Livya,Livya perlahan tersadar.
"Ouh...Dimana aku..?" Livya berusaha bangkit dari duduknya dan Ryuga langsung sigap membantu.
"Kau sudah sadar? Apa yang kau rasakan,hm? Kau sakit? kita kedokter ya?"
Begitu manisnya sikap Ryuga dimata Mahasiswi itu.Ia masih setia berdiri disisi yang bersebrangan dengan Ryuga menatap dua anak manusia itu.
Ryuga kelihatan sangat mengkhawatirkan gadis ini, apa dia kekasihnya? mereka pacaran?
Livya menggeleng.Rasa pusing nya berganti dengan perasaan malu menyadari alasan kenapa Ia sampai pingsan tadi.
"Kenapa membawaku kesini? Aku tidak apa apa."
"Tidak apa apa bagaimana?! Kau hampir membuatku mati cemas karena pingsan begitu! Sekarang kuantar kau pulang,kau tidak usah kuliah kalau sakit!"
Livya cepat menepis pelan tangan Ryuga yang ingin menggendong nya lagi.
"Ryu, kurasa kau yang sakit..." gumam Livya. Ryuga menautkan alisnya.
"Kenapa bicara begitu?"
"Kau aneh..." Livya bicara dengan takut takut. Ia takut ini semua hanya ilusi nya. Ryuga mengatakan hal hal yang sangat manis kedengaran ditelinganya,memperlakukan nya seperti seorang kekasih.Bahkan selama mengenal Ryuga, Livya tidak pernah melihat Pria itu begitu manisnya berbicara pada orang lain,bahkan terkesan cuek dengan keberadaan makhluk Tuhan yang bernama wanita.
"Kau baik baik saja?" Livya bertanya lagi. Ryuga menatapnya heran.
"Apa aku kelihatan tidak seperti biasanya?" Tanya Ryuga. Livya mengangguk.
"Akhir akhir ini kau baik padaku, apa otakmu tidak sedang ada gangguan?"
Ryuga tergelak.
"Kau ingin aku yang bagaimana?"Goda Ryuga.
"Aku senang kau baik padaku,tapi Sheril akan marah kalau tau kau baik pada rakyat jelata seperti ku.."
"Aku permisi..." Mahasiswi yang tadi membantu menyadarkan Livya berangsur menjauh karena merasa matanya sedikit panas dengan dua orang didepannya.Ia keluar meninggalkan Ryuga dan Livya berdua.
Tanpa aba aba Ryuga menggenggam jemari lentik Livya.Membuat gadis itu melongo tak percaya.
"Sheril bukan kekasihku.." Ujar Ryuga dengan nada pelan, seperti menghembuskan angin segar ketelinga Livya. "Kami hanya berteman baik karena orangtua kami juga bersahabat. Siapa yang pantas bersamaku bukan ditentukan oleh Sheril, tapi aku sendiri. Aku yang memilih ingin dekat dengan siapa, dan sekarang aku ingin dekat denganmu.."
Ibuuuuuuuu!!! Ayaaaahhhh!! Reaaaaa!! Tolong akuuu! Pria ini mencabik cabik hatikuuu!!! huhuhu
Livya menunduk, wajahnya memanas.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pacaran?"