Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps 44


__ADS_3

Seperti hari hari biasanya, Sheril tiba dikampus dengan gaya nya yang menyihir. Ia selalu mendominasi gadis gadis lain disekitarnya.Merebut hampir seluruh perhatian kaum Pria yang kebetulan berpapasan, Dengan balutan rok mini hitam dan atasan membuat Sheril nampak menggiurkan.Ia melenggang penuh keangkuhan menuruti kemana kaki jenjang nan indah miliknya melangkah.


Ia berhenti didepan sebuah tempat yang hampir belum pernah Ia datangi sebelum nya. PERPUSTAKAAN. Membaca nya saja membuat Sheril jengah, apalagi masuk kedalamnya.Ini semua karena Dosen yang menghukum nya untuk mengerjakan tugas remedial, Biasanya ia akan membayar Livya untuk itu tapi Livya mulai bertingkah sombong karena sudah menjadi kekasih Ryuga. Gadis itu bahkan tidak mau membantunya memilih buku yang cocok untuk tugasnya.


"Matamu ingin kucongkel?" Sheril berang karena seorang mahasiswa lelaki nampak memandangi nya sampai berliur ketika Sheril sudah memasuki area perpustakaan itu. "Dasar kau menjijikkan!"


"Maaf!" Mahasiswa itu menunduk malu.


Sheril berdecak kesal karena bingung harus mulai dari mana. Sejak dahulu tugas-tugas menghitung amat menyulitkan bagi otaknya. Sheril melihat satu buku yang Ia butuhkan. Tapi karna posisi nya agak tinggi membuat Sheril kesusahan menggapainya. Ia berjinjit, tapi malah menampakkan perut mulusnya karena baju yang ia kenakan pendek hingga tertarik keatas.


"Kenapa susah sekali..." Sheril terus mencoba. Belum berhasil, seorang Pria membantunya mengambil buku yang ia mau.Sheril gembira sekali menerima nya. Raut cantiknya tersenyum menatap buku yang kini ada ditangannya.


"Terima ka," Sheril tidak jadi melanjutkan kata-kata nya begitu melihat siapa Pria yang membantunya mengambil buku.Ia mendengus.


"Kau lagi!" Ucapnya malas.Pria itu tersenyum.


"Berapa rupiah aku harus membayar modusmu kali ini, hm?"


"Kapan aku minta uang?"


"Wajahmu kelihatan sedang lapar,nih terima saja! untuk beli makanan!" Sheril menyodorkan uang dengan nominal yang cukup besar pada Pria itu. "Jangan membuatku merasa berhutang budi!" Pria itu menggaruk pelipisnya.


"Harus berapa kali aku katakan aku tidak butuh uangmu. Ya Iya sih, aku memang sedang lapar..." Maju selangkah kedepan,membuat Sheril mau tidak mau mundur selangkah kebelakang. Maju lagi,Sheril mundur lagi.


"Apa sih kau ini!" Sheril mulai kesal.Tapi Pria itu nampak tidak peduli.Ia terus maju dan kini menyudutkan Sheril kedinding.Sheril menutupi dadanya dengan buku ditangannya.


"Kau mau mati ya? Enyah dari hadapanku!"


"Kenapa? Kau takut?"


"Tidak, kenapa aku harus takut!" -Bohong- "ini kan tempat umum, kau tidak akan mungkin melakukan hal hal aneh padaku!"


"Mungkin saja kalau aku mau, lagipula disini sedang sepi.." Mata Sheril membulat.


"Dasar kurang ajar!! Aaaaa tolong!!" Pria itu menutup mulut Sheril dengan tangannya.


"Kenapa kau berteriak? Aku hanya ingin makan." Sheril menautkan alisnya tak mengerti. "Aku memang lapar,dan aku ingin makan,memakan mu!" Diakhir kalimat Pria itu berbisik ditelinga Sheril.Membuat Sheril melotot. Ia langsung mendorong tubuh tinggi besar itu menjauh.


"Dasar mesum!!!" Menjijikkan!!"


"Hahahahaa!"

__ADS_1


Sheril berniat pergi tapi Pria itu menahan lengannya.


"Jauhkan tanganmu!"


"Tidak mau! Kau belum bilang terimakasih padaku!"


"Cih, Dasar!"


"Ayo!" Meskipun terpaksa Sheril mengucapkan nya juga, plus dengan senyuman manis yang dibuat buat.


"Terima kasih sudah membantuku..." Pria itu melepaskan tangannya. "Pria rabun mesum!" Omel Sheril sambil melangkah pergi.


Aish, gadis ini benar benar.. tapi Dia menggemaskan sekali saat marah marah begitu!


Pria rabun mesum yang dijuluki Sheril tidak lain adalah Dion. Orang yang sama yang juga pernah tak sengaja menciumnya.


Sejujurnya Ia sejak tadi menunggu kedatangan Sheril, Ia membuntuti gadis itu sampai ke perpustakaan.Dan sedikit gerah ketika tak sengaja melihat perut rata itu tersingkap. Karna tak ingin sampai ada yang melihat selain dirinya, Dion memutuskan untuk membantu mengambil buku yang ingin diraih Sheril.


Sudut sudut bibir Dion terangkat membentuk senyuman menyadari perasaannya ini. Kali pertama seorang gadis mengobrak abrik pertahanan nya. Membuat Dion membayangkan nya setiap malam. Memeluk erat guling seolah olah itu adalah gadis seksi pujaannya. Dion sering merutuki sikap bodohnya yang kelewatan itu,Hingga Ia harus mendekati Livya untuk mengorek informasi tentang Sheril. Livya terlihat sangat mendukung, bahkan Ia yang membocorkan pada Dion bahwa Sheril ada tugas tambahan dan pasti perlu bantuan seseorang,alih alih ingin mendekatkan,Dion sudah lebih dulu menawarkan diri untuk membantu Sheril.Livya senang sekali sampai menepuk nepuk bahu Dion dan mengundang kecemburuan seseorang semalam.


Manisnya jatuh cinta itu kawan!


Sheril nampak sibuk dengan gadgetnya sekarang, Ia duduk dikursi paling sudut diruangan itu.Ia berniat ingin menghubungi Livya, membujuk gadis itu lagi agar mau mengerjakan bersama sama.Kalau Sheril tidak tau Livya jago hitung menghitung Ia takkan sudi memohon.Sama sekali bukan gayanya.Tapi nilainya jelek, dan orangtuanya mengancam akan menutup fasilitas untuknya kalau nilai semester kali ini jelek lagi. Hufff


"Kenapa kau duduk disini? Pergi sana masih banyak kursi yang lain! jangan mengganggu ku!" Bukannya menurut.Dion mengambil paksa gadget ditangan Sheril.


"Hey kembali kan!"


"Tidak!"


"Kau ini kenapa menyebalkan begini sih?! Mau kusuruh Papaku merobohkan rumahmu? Kembalikan!"


"Kerjakan dulu tugas mu!"


"Itu bukan urusan mu!"


"Sekarang jadi urusanku!"


"Dasar gila!"


"Aku sudah bilang pada Livya akan membantumu mengerjakannya."

__ADS_1


"What? Kau mengenal Livya?"


"Aku harus mengenal semua temanmu untuk dekat denganmu!"


"Apa?!"


"Tidak, jadi mana yang akan dikerjakan?"


Anak ini menyebalkan! tapi aku butuh nilai huhuhu,, Livya kau juga menyebalkan! Jadi kalian bersekongkol ya, Awas kau Liv!


Meski kesal, Sheril menunjukkan juga bagian mana yang menjadi tugasnya. Dan Dion dengan sabar mengajari cara caranya meskipun mulut Sheril terkadang memaki nya karena kesal tidak kunjung mengerti dengan penjelasan Dion.


"Susah sekali! Aku membenci angka angka ini! " Omelnya setelah lama duduk tugasnya baru selesai sebagian.


"Tapi ada angka yang tidak boleh kau benci!"


"Diamlah!"


"Tidak mau tau?" Sheril memutar bola matanya jengah.


"Ya baiklah katakan!"


"Angka seberapa besar perasaan ku padamu!"


"Cih, apa itu. Menggelikan!" Tapi Ia tertawa juga. Membuat Dion terpana. "Jadi ini bagaimana? tugasku harus selesai besok! Kalau bodoh bilang saja terus terang jangan membuang waktuku! Kau lebih payah dari Livya!" Dion malah tergelak. Ia suka,eh ralat, benar benar suka wajah marah yang menggemaskan itu.


"Berikan padaku, akan kuselesaikan!"


Aku tidak fokus kalau mengerjakan nya bersamamu!! Wangi tubuhmu membuat konsentrasi ku pecah!


"Eh, kau yakin?" Dion mengangguk.


"Yakin." Ia mulai membereskan buku buku dimeja. Sheril diam membiarkan.Matanya sedikit melirik Dion.


Dia lumayan tampan juga ternyata!


"Katakan padaku berapa aku harus membayar untuk ini?"


"Kau mulai lagi! Sekali lagi kau menghargai segala sesuatu yang kulakukan dengan uang, kucium kau didepan Papamu! .."


Tak disangka sangka Sheril tergelak.

__ADS_1


"..Tapi bukan berarti semua ini gratis ya" Lanjutnya.


__ADS_2