Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps 20


__ADS_3

Angkutan umum itu nampak berhenti didepan sebuah perumahan elite,dari sana Peto beserta anak dan istrinya turun sambil membawa beberapa tas berisi baju baju mereka.


"Ayah, kenapa kita kesini?"


"Aish, aku curiga ayahmu mengajak kita bekerja dirumah orang kaya! Astaga suamiku, Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran mu itu, kau berhenti berjualan kue dan memilih bekerja sebagai pembantu begini, Cukuplah masa gadis ku kuhabiskan mengurusi rumah orang!"


"Ibu,coba lihat wajah Ayah! " Perintah Livya.


"Kenapa?!" Melotot kearah anaknya.


"Lihat kewajah ayah aku bilang!" Maria menurut,kini menoleh sinis kearah suaminya yang pasang wajah datar itu.


"Lihat, apa Ayah kelihatan peduli?" Livya terbahak.Maria langsung menarik gemas telinga anaknya itu.


"Aw aw aw!! Sakit Bu..!"


"Dasar anak kurang ajar!"


"Sudah sudah,kalian ini..." Peto menengahi. "Ayo kita masuk"


Seorang satpam nampak mendekati mereka ketika sampai digerbang.


"Permisi,cari siapa?"


"Kami kesini atas perintah Tuan Dariel." Mendengar nama Tuan Dariel Satpam itu mengangguk.


"Baiklah,silakan." Satpam itu kembali ke pos penjaga.Peto beserta anak dan istrinya kembali melanjutkan langkah.


"Apa Tuan Dariel ada di dalam sana yah?" Tanya Livya mendengar nama Dariel disebut sebut.


"Mungkin saja iya, mungkin saja tidak." Jawab Peto.


"Hey, Suamiku, berhenti bersikap sok keren begitu didepan kami! Katakan yang jelas!"


Peto hanya tersenyum. Setelah agak jauh berjalan mereka sampai didepan sebuah rumah model kluster yang didominasi warna coklat muda.


"Kurasa ini rumahnya." Ucap Peto ketika melihat ada dua buah sepeda motor yang nampak masih baru terparkir diteras rumah.


Livya dan Maria nampak tercengang.


"Wuaaaaa, bagusnyaaaa, seandainya saja ini rumah kita ya Bu?" Livya berdecak kagum.


Maria mengangguk. "Kapan hidupku tidak dihantui kata 'seandainya' lagi..."


"Ini memang rumah kita sekarang,Tuan Dariel yang memberikan nya!" Ucap Peto santai.


"APA?!" Maria dan Livya saling pandang.


Seorang Pria dengan setelan rapi nampak keluar dari dalam rumah. Kemudian menyalami Peto beserta anak istrinya.


"Maaf, Apakah anda tuan Peto?"


"Ya, saya sendiri tuan."


"Mari silakan masuk, saya sudah menunggu sejak tadi.. Silakan menikmati rumah baru kalian, mengenai surat surat sudah diurus oleh Tuan Dariel,semoga kalian betah tuan!" Kata Pria itu.


"Terimakasih atas bantuannya Tuan."


"Ayah, jadi benar ini rumah kita sekarang?!" Melihat Ayahnya mengangguk membenarkan Livya histeris.


"Aaaaaaaa rumah baru ku!!" Ayah apa itu motor kita?!" Kembali Peto mengangguk.

__ADS_1


"Aaaaaa motor baruuu!!" Livya berlari kearah dua motor yang terparkir.Memeluknya dengan sayang.


"Kalau begitu saya permisi Tuan! Ini kuncinya!" Ucap Pria itu sambil mengulurkan kunci rumah.Peto menyambut dengan senyum ramah.


"Sekali lagi terimakasih"


Setelah Pria itu pergi,Maria yang sejak tadi menahan spot jantung nya kini ambruk ketanah. Peto dan Livya kaget setengah mati melihat wanita itu terkapar.


"Istriku!"


"Ibu!"


......


Dariel sibuk memainkan surai istrinya dari arah belakang,sementara Rea duduk didepannya memotong kuku tangan suaminya.


"Rea?"


"Heemm"


"Sepertinya aku menyukaimu..."


Andrea terdiam. Sejujurnya hatinya terkejut. Tapi Ia cepat menetralkan diri.


Menyukai ku? Menyukai kan banyak artinya kan...


"Kau mendengar ku kan?" Andrea mengangguk.


"Lalu apa jawabanmu?" masih memainkan surai lembut Andrea.


"Jawaban? Apa yang harus aku jawab?"


"Kau merasakan hal yang sama atau tidak?" Andrea menggeleng. Berbohong. Padahal setiap sentuhan Dariel membuat jantungnya ingin meledak.


"Tidak?" Bisik Dariel sambil merapatkan tubuhnya ketubuh Andrea.Mulai menciumi lagi bahu dan leher yang membuatnya candu itu.


"Kenapa tidak?Aku kan tampan! "


Andrea tergelak. "Kau tau memuji diri sendiri itu matinya jadi apa?"


Dariel menggeleng.


"Sama, aku juga tidak tau, hehe" Dariel ikut terkekeh.


"Sudah selesai." Katanya sambil melepaskan tangan Dariel.Meletakkan kembali potongan kuku diatas nakas disamping ranjang. Dariel kembali memeluk erat tubuh Andrea. Baru saja Dariel ingin melancarkan aksinya, sebuah dering ponsel Andrea mengganggu.


"Aish, mengganggu saja, seharusnya kubiarkan kau silent saja ponsel mu seperti waktu itu!!" Kesal Dariel.


"Dan membiarkan mu memecahkan vas bunga lagi? Biar kulihat!"


"Biar saja!" Ucap Dariel menahan tangan Andrea yang ingin mengambil ponselnya diatas nakas.


"Biar ku lihat dulu, siapa tau penting!"


"Tidak ada yang lebih penting daripada aku sekarang!"


"Cih, kau ini,berhenti nakal! Sebentar saja aku ingin lihat!"


"Yasudah, loudspeaker!"


Akhirnya Dariel membiarkan Andrea mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Livya?" Sapa Andrea begitu menggeser tombol jawab. Dibelakangnya Dariel ikut mendengarkan.


"Andreaaaaaa!!! Cepatlah kemari dan peluk aku!"


"Pelan pelan saja bicara nya aku tidak tuli! Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?"


"Kau dimana?!"


"Di Apartemen."


"Apa Tuan Dariel bersamamu?"


"Iya, kenapa mencarinya? Kalian berselingkuh?"


Dariel menggigit pelan bahu Andrea,membuat istrinya itu menjerit kecil.


"Selingkuh apanya, suamimu itu sepertinya Sangat mencintai mu..." Andrea menautkan alisnya. " ..kau tau? Dia membelikan kami rumah baru, indah dan sangat besar! Juga dua motor baru! Aaaaa aku menyayangi mu Andrea! Kau kakak terbaik, sampai kan salamku untuk suami mu ya? Oiya, ayah menyuruh mu dan Tuan Dariel datang malam ini untuk makan malam bersama merayakan rumah baru kita!!! Tunda dulu acara mencetak keponakan untukku, Oke? Kami tunggu yaaa! "


Sambungan diputus. Andrea terpaku.


"Kau baik baik saja?" Beberapa menit melihat tidak ada pergerakan dari istrinya setelah berbicara dengan Livya,Dariel memutar tubuh Andrea menghadapnya. Nampak dua butir air bening sudah mengalir dipipi Andrea.


"Hey.. Kau menangis?"


Dariel menangkup wajah cantik Andrea, menyeka air mata itu dengan ibu jari nya. Mata yang berair itu menatap sendu mata indah Dariel.


"Kenapa? Kenapa melakukannya? Aku sudah bilang kan padamu.."


"Rea, sudahlah,Aku melakukan nya karena tidak ingin melihat keluarga mu susah,keluargamu juga keluarga ku sekarang, itu hanya hadiah kecil dariku saja untuk paman mu"


Andrea menundukkan kepalanya, menangis.


"Hey, come on..." Andrea menepis tangan Dariel yang ingin mengangkat wajahnya.


"Rea jangan menangis, aku tidak bisa melihat mu seperti ini!" Membenamkan kepala Andrea kedadanya.


"Berhentilah menangis Rea, atau aku akan marah..." Andrea menggeleng.


"Tidak mau berhenti? Aku yang akan menghentikanmu kalau begitu!" Dariel ingin menciumi tubuh Istrinya lagi tapi Andrea menahan bibirnya dengan satu tangan.


"Hentikan! Iya aku berhenti menangis!" Andrea mengalah.Kini beralih merebahkan diri memunggungi suaminya.Dariel memutar tubuh Andrea menghadapnya.Keduanya kini berbaring saling berhadapan. Jemari Dariel masih setia menghapus sisa sisa airmata dipipi Istrinya.


"Kau istriku,Selama kau menjadi istriku apapun yang mengangkut keluarga mu adalah urusan ku juga, jangan buat aku mengulangi kata kataku lagi,Rea. Aku tidak akan pernah mengganggapmu buruk meskipun semua orang menganggapmu buruk,kau mengerti? Aku yang memilihmu. Aku yang mau menikahimu.Jadi apapun yang kulakukan untuk keluarga mu adalah kemauanku,rasa terimakasihku pada pamanmu yang telah memberikan restunya padaku,tidak ada maksud lain.Jadi untuk kedepannya, apapun yang kulakukan terima saja, jangan bereaksi berlebihan begini,aku tidak suka... Aku tau aku telah menarikmu kehidupku dan terkesan menyembunyikan mu dari orang orang, tapi bukan berarti kau boleh menganggap dirimu istri simpanan,aku berterimakasih kau mau membantu ku, meskipun aku tidak tau kedepannya bisa atau tidak aku melepaskan mu..."


Deg! Tuan kumohon jangan terlalu bersikap manis begini padaku, aku yang takut tidak siap meninggalkan mu dan statusku nanti!


"Terimakasih." Membantu Dariel menyeka airmata nya, lalu membalikkan badan lagi.


"Eh... Kenapa suka sekali memunggungi ku sih?" Membalikkan Andrea lagi menghadap nya. "Apa wajahku mengerikan sampai kau tidak mau melihat ku?"


Mengerikan?Tentu saja! Wajahmu bikin darahku mendidih setiap melihatnya. Cuma wajahmu yang punya efek mengerikan macam itu! Dasar Tampan! Berhenti mencolek hidungku!


"Kau jelek sekali kalau menangis," Hidung mu jadi merah seperti badut!"


"Apa sejelek itu?" Dariel mengangguk. Andrea merapatkan tubuhnya ketubuh Dariel,tempat paling nyaman untuknya sekarang. Mengecup mesra dada bidang yang memabukkan itu.


"Terimakasih untuk kebaikan mu"


"Heemm,Jangan membuang air matamu lagi, Apa stoknya sangat banyak sehingga kau sering mengeluarkan nya?" Awas kalau aku melihatnya lagi"


"Kenapa tidak suka melihat ku menangis?"

__ADS_1


"Hatiku sakit melihatnya" Jawab Dariel enteng.


__ADS_2