Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps 29


__ADS_3

Livya benar benar tertawa kali ini.Perutnya sampai sakit.Sementara Pria itu tetap datar memandanginya.


"Aish, kau ini! Bisa bisanya kau berkelakar disaat begini! Apa kau terlalu banyak minum seperti temanmu tadi sampai bicaramu ngelantur?! Atau saking lamanya kau bekerja sebagai penjaga kamar mayat kau jadi merasa sejenis mereka,begitu?!" Livya terkekeh lagi.


"Kau membuatku sedikit terhibur,Tuan!" Jadi bagaimana? Mau mengantarku?"


Pria itu diam.Tapi kemudian Livya dengan gemas menarik tangannya.Memaksa Pria itu menunjukkan jalan ke ruangan Andrea.


"Jam berapa sih ini,kenapa sepi sekali?" Tanya Livya.Tangannya masih betah mencengkeram lengan Pria itu.


"Tuan, kau bawa jam? atau ponsel? ponselku mati.Aish, aku sangat khawatir pada kakak ku, jangan jangan dia terbangun dan tidak menemukan ku didekatnya,lalu mencariku? Oh Tuhan!! Hantu mana yang iseng mengerjaiku?"


"Sekarang jam satu tepat." Livya menoleh kearah Pria disampingnya.


"Benarkah? Pantas saja sepi.Terakhir aku lihat jam pukul sepuluh sebelum aku tertidur.."


"Siapa?" Tanya Pria itu.


"Akuuu"


"Siapa yang bertanya maksudku!"


"Cih, kau ini!" Livya berdecih.Tapi Pria itu nampak menyunggingkan senyum disalah satu sudut bibirnya.


"Apa itu diwajahmu?" Tunjuk Livya.Membuat Pria itu menautkan alisnya.


"Aku yakin tidak ada apapun."


"Ada. Barusan aku melihat sesuatu disana! Mau kuberitahu?"


"Tidak." Livya berdecak kesal dengan jawaban Pria itu.


"Tidak? apa apaan itu..."


"Memangnya apa yang kau lihat?"


"Aku melihat..." Livya menghentikan langkahnya. Menatap Pria disampingnya. Lalu Livya mendekatkan wajahnya. Satu telunjuknya menyentuh ujung bibir Pria itu.


"..melihat sebuah senyuman disini tadi. Itu kelihatan menarik diwajah datar mu itu kau tau?" Livya tersenyum.Tulus. "Senyum mu boleh juga, mulai sekarang Kau harus banyak senyum seperti aku! Oke?"


Pria itu terdiam menatap Livya. Wajahnya datar tapi hatinya tersenyum lebar saat ini.


"Aaaahhh aku lelah..." Apa masih jauh?" Livya menghentikan langkahnya. Kakinya terasa pegal.Rasanya sudah lama sekali Ia berjalan tapi tak kunjung menemukan ruangan Andrea.


"Sepertinya kita tersesat."


"APA?!" Livya lemas.Ia terduduk disalah satu kursi tunggu dikoridor tempat mereka berada sekarang.


"Aku masih baru,aku juga masih belum paham jalan jalannya"


"Hah?! KENAPA TIDAK BILANG?!"


"Kau memaksaku sebelum aku sempat mengatakan nya." Pria itu ikut duduk disamping Livya.


"Ya Tuhan.. Andrea.. hiks hiks!" Livya menunduk,menangis.Bingung,takut,sedih jadi satu.


"Tunggu saja siapa tau ada perawat atau penjaga yang lewat."


"Kenapa kau sama bodohnya denganku sih? hiks hiks..."


"Aku tersinggung kau mengatakan aku bodoh." Pria itu bangkit dari duduknya. Livya mendongak. "Kau cari saja ruangan kakak mu sendiri."

__ADS_1


Pria itu baru saja ingin melangkah tapi Livya cepat cepat menahan lengannya.


"Tuan,jangan pergi,maafkan aku yang sudah sembarangan bicara..." Jangan meninggalkan ku sendirian aku takut.." Pria itu nampak tersentuh dengan wajah sedih Livya.Ia kembali duduk.


Tanpa mereka sadari dari kejauhan penjaga kamar mayat yang pertama kali menemukan Livya nampak memperhatikan Livya yang menangis.


"Dasar hantu baru,berbuat seenaknya,tadi dia ribut diruang mayat sekarang menangis disana seorang diri.. Apa dia belum punya teman? Aish, Sebaiknya aku lewat jalan lain saja lah,hantu wanita itu pasti akan mengganggu ku nanti!"


Penjaga itu mengambil jalan lain menuju ruang mayat.


Livya masih sesunggukan ditempatnya. Pria itu nampak ragu-ragu mengulurkan tangannya dibelakang punggung Livya.Niatnya ingin menenangkan gadis itu. Tapi belum apa apa, matanya dibuat membulat ketika Livya tiba tiba menyandarkan kepalanya dibahu Pria itu.


"Tuan,aku pinjam bahumu sebentar ya, aku merindukan kakak ku,mudah mudahan saja dia tidak terbangun disana.Dia sedang hamil, aku takut dia khawatir dan mencariku, Kau tau? Kakak ku itu seperti ini.Dia tempat bersandar disaat aku merasa sedih. Dia kakak yang hebat.."


"Tenanglah.Dia baik baik saja." Livya merasakan sentuhan lembut dipunggungnya. Lama mereka dalam posisi ini sampai akhirnya Livya tertidur.


Livya baru terbangun ketika didengarnya suara langkah kaki didekatnya.Perlahan Livya membuka mata.Hari sudah berganti. Matahari sudah terbit dan para petugas rumah sakit nampak lalu lalang didepannya.


"Ooaammmm... Aku ketiduran! Eh, dimana Pria itu? Dia meninggalkan ku? Kapan?" Livya mendapati secarik kertas didekatnya. Membaca tulisan yang ada disana.


Aku harus pergi.Kau sudah berada didepan ruangan kakakmu. jangan sedih lagi.Kau lebih cantik saat tersenyum.


Livya langsung berdiri dan menoleh. Benar saja, itu ruangan Andrea.Livya merasa aneh, rasanya Ia sudah melewati lorong ini tadi malam tapi kenapa tidak menemukan ruangan Andrea. Tapi Ia kemudian memilih untuk menemui Andrea lebih dulu,di masukkannya kertas tadi kedalam tas sandangnya. Lalu segera melangkah menuju pintu.Belum sempat Ia membukanya, handle pintu sudah ditarik dari dalam. Dariel?


"Kau sudah kembali?" Tanya Livya tanpa curiga.


~


"Apa kalian sudah selesai mengobrol?" Dariel nampak masuk.


"Dokter mengizinkan ku pulang kan?" Tanya Andrea.Dariel mengangguk.


"Kenapa?kau masih ingin disini? apa ada seseorang yang ingin kau temui disini?" Goda Andrea.Membuat wajah Livya memanas.


"Ya tidaklah.Aku juga lelah dan ingin pulang."


Dariel menggendong tubuh Andrea ala bridal style.


"Sayang, tidak perlu seperti ini!" Andrea berontak.


"Jangan bergerak nanti kau jatuh! Aku yang ingin melakukannya." Andrea merasa dejavu dengan jawaban Dariel. Teringat saat mereka dihotel waktu itu.


"Tapi aku tidak apa apa, aku bisa berjalan."


"Aku tau. Aku saja yang tidak ingin kau berjalan." Andrea menautkan alisnya, tapi kemudian tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Dariel.


"Kau manis sekali..."


"Aku tau." Tapi aku ingin upah"


"Upah apa?"


"Upah karena sudah menggendong mu"


"Cih, apa apaan itu.. kau yang ingin menggendong ku, kenapa minta upah?"


"Aku menggendong mu karena aku sayang padamu, kalau kau sayang padaku maka berikan aku upahnya,sekarang! jangan banyak protes" Andrea tergelak.


"Sayang.. Ada Livya." Bisik Andrea ditelinga Dariel,mengerti akan makna upah yang dimaksud suaminya. Dariel nampak tak peduli,Secepat kilat Ia mendaratkan bibirnya ke milik Andrea.Membuat Andrea melotot.

__ADS_1


"Terimakasih upahnya Istriku.."


"Cih, kalian ini! hargai lah aku yang masih polos ini,kalian mengotori mata perawanku tauuu" Dariel dan Andrea tertawa ringan melihat kekesalan Livya.


........


Peto dan Maria nampak menyambut kedatangan anak anak mereka didepan pintu begitu Dariel memarkirkan mobilnya dihalaman rumah itu.


"Andrea, kalian pulang?kami baru ingin kesana,apa kau sudah sehat?" Tanya Peto.


"Langsung sehat begitu suaminya kembali!" Livya menyahut. Andrea hanya tersenyum.


"Livya,pergilah mandi dan kuliah,kau harus tetap memprioritaskan pendidikan mu ketimbang hal lain!" Ujar Maria sedikit menyindir Andrea.


"Iya iya..." Livya masuk lebih dulu.Disusul Andrea dan Dariel yang langsung pamit kekamar.


"Nak Dariel tidak sarapan dulu?" Tawar Maria.


"Buatkan saja bubur untuk istriku dan tolong antarkan kekamar!" Ucap Dariel tanpa menoleh.Maria berdecak kesal.


Sampai dikamar,Andrea langsung masuk kekamar mandi diikuti Dariel.


"Eh, Kenapa mengikuti ku?" Tanya Andrea heran.


"Kenapa heran begitu?aku mengikuti istriku bukan mertuaku!" Andrea tertawa.


"Aku ingin mandi Tuan,bisakah kau keluar sebentar?"


"Aku temani ya?"


"Aku bisa sendiri.Aku sudah baikan."


"Tapi aku juga belum mandi!"


"Iya nanti kita gantian, aku dulu, oke?"


"Cih, kau ini,kenapa masih malu malu begitu?"


"Malu malu apa.. Tidak enak kalau Bibi masuk dan kita sedang mandi berdua!"


"Dia juga kan pernah muda,dia pasti maklum dengan kelakuan kita!" Dariel menutup pintu dan mulai membuka kemejanya. Andrea menatap tak percaya sosok didepannya ini.


"Apa? kenapa belum membuka bajumu? Apa perlu aku bantu membukanya,hm?"


"Kenapa otakmu jadi mesum begini sih?" Andrea kesal namun akhirnya ia mengesampingkan rasa malu dan debaran hatinya,mulai melucuti satu persatu pakaiannya.


"Jangan geer,aku hanya ingin..."


Dariel tak kuasa melanjutkan kata katanya ketika Andrea sudah polos didepannya,berdiri dibawah shower.Air mulai turun mengikuti lekuk tubuh seksi Andrea,membasahi ujung rambut hingga ujung kaki nya. Dariel menelan salivanya.


Sementara Andrea acuh saja karena Ia benar benar ingin segera menyelesaikan mandinya. Ia mulai merengek ketika dirasakannya sentuhan tangan Dariel ditubuhnya.


"Sayang, hentikan.. Aku lelah.."


"Kau diam saja, aku yang akan bekerja!" Bisik Dariel ditelinga Andrea membuat wanita itu memutar bola matanya jengah dengan kemesuman suaminya.


Apalagi yang diharapkan kalau suami sudah ingin.Andrea mau tak mau harus ikut andil memuluskan keinginan itu.Lagi lagi Dibawah guyuran shower.


Sementara itu Maria nampak masuk kekamar Andrea.Ia sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban. Ia meletakkan dengan kesal nampan berisi bubur yang diminta Dariel keatas meja didekat ranjang dan cepat cepat keluar begitu telinganya menangkap suara suara dari kamar mandi.


"Dasar anak zaman sekarang tidak tau malu!! sempat sempatnya mereka!!" rutuk nya.

__ADS_1


__ADS_2