Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps. 94


__ADS_3

"Kau sudah bangun? Aku baru saja akan membangunkanmu." Andrea masuk dan langsung mendapati suaminya yang juga baru keluar dari kamar mandi, Dariel tak menjawab, sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Melihat itu Andrea segera duduk ditepi ranjang dan menepuk sisi sebelahnya.


"Kemarilah, aku bantu keringkan rambutmu." Dariel menurut, disodorkannya handuk tadi dan membiarkan Andrea mengambil alih. Belakangan Dariel memang lebih suka mengeringkan rambut dengan cara manual ketimbang menggunakan hairdryer. Alasan utamanya karena Andrea nantinya akan dengan sukarela memainkan jari-jarinya dikulit kepala pria itu, memberikan bonus pijatan dan menimbulkan sensasi nyaman tersendiri yang cukup bisa membuat Dariel ketagihan.


"Sudah. Aku akan mengambilkanmu pakaian." Dariel tak menjawab, ekor matanya hanya mengikuti gerak tubuh istrinya. Andrea membuka lemari raksasa berlapis emas diseberang ruangan dimana segala pilihan busana tersedia disana, setelah memilih-milih, Senyumnya mengembang mendapati satu setelan jas kemeja warna grey yang ia yakini akan membuat suaminya makin menawan setelah memakainya.


"Ini pakaianmu." ujar Andrea menaruh barang itu disamping Dariel. "Sarapan sudah siap, segera bersiap aku akan menunggumu dibawah." berkata sambil mengusap lembut tulang rahang yang menggoda itu. Tapi tidak segampang itu untuk melenggang setelah semuanya.


"Ehh.." Dariel menarik pelan lengan istrinya sambil tangan satu lagi meraih pinggang. Berusaha merapatkan tubuh mereka sebagai undangan untuk keintiman yang disukainya. Sementara Andrea yang diperlakukan dengan mesra langsung sigap menahan tubuh Dariel dengan kedua telapak tangannya yang mungil, membuat jarak tak berarti berharap suaminya tidak mengulah diawal hari begini. "Jangan pergi dulu,"


"Tuan,." Andrea meronta dengan gerakan pelan begitu Dariel menyesakkan tubuhnya. "Tuan, masih pagi. "


"Memang ada larangan bagi seorang suami memeluk istrinya dipagi hari?"


"Tapi, nanti kau pasti-"


"Ssstt... Diamlah. Aku hanya ingin memelukmu." Dariel berucap sambil melabuhkan kepalanya dikelembutan rambut milik Andrea. Andrea mendengus.


"Hanya?? Cih, Jangan bercanda, kau sudah memelukku semalaman tadi."


"Kurang," jawab Dariel asal. "Kau tau? tubuhmu terasa begitu menggemaskan untuk dilewatkan, sering aku merasa ingin meremasmu saking gemasnya, tapi takut kau remuk!" Dariel terkekeh sendiri mengungkap isi hatinya. Andrea langsung mengerucutkan bibirnya mendengar itu. Untung saja Dariel tidak melihat, atau ia akan terlambat karena tak tahan melihat bagaimana bibir itu terlihat begitu menggoda. Menantang untuk dilumat.


"Kau harum sekali.." mulai mengendus ceruk leher Andrea. "..Sayang sekali aku ada pertemuan pagi ini, kalau tidak kau tidak akan lolos Nyonya!"


"Baguslah! Biar saja kau kerja, kalau tidak aku tidak akan bisa bermain dengan anakku karna menemanimu main terus!"

__ADS_1


"Oh begitu ya? Jadi kau setengah hati menemaniku?" menggigit kecil leher Andrea menyalurkan sensasi indah keseluruh penjuru syaraf.


"Hentikan sayang, Aku, tidak menutup pintu, nanti ada yang lihat.." bisik Andrea sambil sedikit-sedikit melirik kearah pintu yang terbuka.


"Kalau begitu aku akan menutup pintu. Aku ingin menggigit lagi, boleh ya?"


"Hem? No! Tidak boleh! Kau harus kekantor kan? Ayo sekarang bersiap, nanti kau terlambat!" Andrea bersikeras menjauhkan diri, menyodorkan kemeja yang tadi diletakkannya. Berusaha acuh dengan Dariel yang menatap kesal kearahnya. Namun tak urung diraihnya jua kemeja yang telah disiapkan istrinya itu.


"Anak baik. Aku akan menunggumu dibawah. Jangan berdandan terlalu tampan ya,.. Honey." Dariel yang sudah hampir masuk keruang ganti langsung bergerak merubah haluan dan berbalik begitu mendengar godaan nakal Andrea barusan. Andrea menggaruk kepalanya yang tak gatal mendapati Dariel menatapnya seolah meminta penjelasan. "Hehe, maaf. Tidak bermaksud menggoda kok. Aku akan keluar. Jangan terlalu lama, oke?" setelah melambai sesaat Andrea langsung ambil langkah seribu menghindari suaminya yang kelihatan sudah sangat ingin menerkamnya tadi. Sambil menutup pintu kamar Andrea menghela nafas lega. Sementara didalam sana Dariel masih tertegun beberapa saat menatap pada daun pintu yang ditutup melenyapkan sosok Andrea dari jajahan netranya. Sudut-sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman.


"Honey? Akh.. Istri nakal."


"Dimana Dariel?" tanya Nyonya besar begitu melihat Andrea menyusul keruang makan seorang diri.


"Cepat sekali?" tanyanya melihat Dariel sudah bergabung, menarik kursi tepat disampingnya.


"Sudah selesai, untuk apa aku berlama-lama kau juga sudah tidak dikamar, kan?" Andrea menepuk pelan lengan Dariel membuat pria itu tergelak.


"Ada Mama jangan bercanda!" omel Andrea dengan pipi memerah malu.


-


Suara kain horden yang ditarik mengusik alam bawah sadar Alan. Selanjutnya hangat sinar matahari pagi masuk menerkam wajahnya melalui celah-celah jendela kaca yang penghalangnya sudah disampirkan barusan. Alan berdecak sambil menggeliat merenggangkan otot tubuhnya yang dirasa bergulung-gulung tak karuan didalam sana. Posisinya berubah membelakangi jendela. Alan ingin melanjutkan tidur sebelum ia tertegun sesaat dan mulai menyadari ada yang terlupakan, bahwa didalam kamarnya tidak mungkin pembantunya berani masuk dan membuka horden kamar. Lalu siapa?


Alan membalikkan tubuh dengan spontan dan langsung mendapati satu sosok didekat jendela sedang berdiri membelakanginya. Begitu menawan dengan selimut yang menutup tubuhnya.

__ADS_1


"Aletta?" Panggil Alan memastikan. Bagaimana dia bisa lupa ada Aletta disini. Aletta tak menoleh.


"Yang semalam itu hanyalah ****. Aku tidak bermaksud lebih kepadamu." dengan bibir bergetar Aletta berucap. Alan turun dari ranjang dan meraih celananya yang berserakan dilantai. Kemudian menyusul Aletta berdiri didekatnya.


"Aletta, perlu kau ketahui aku tidak menyesali melakukan itu apapun alasannya. Aku bahagia melakukannya denganmu."


"Aku yang menyesalinya, Alan. Sangat menyesalinya!" Airmata Aletta bergulir. "Lupakan yang terjadi kemarin, anggap saja kita tidak pernah melakukan apapun, juga jangan menemuiku lagi." Aletta sudah ingin beranjak tapi Alan cepat menahannya.


"Aletta, tolong. Aku menerimamu. Aku tau kau pasti merasa rendah diri karena melakukan hal itu dengan lelaki yang bukan suamimu, kau mabuk dan menciumku adalah diluar kesadaranmu, tidak tau apa yang ada dalam bayanganmu saat melakukannya tapi aku bahagia, didalam sini hatiku berdebar hebat saat kau menciumku," menaruh telapak tangan Aletta ke dadanya. "Munafik jika aku katakan aku khilaf meladenimu bukannya menghentikanmu, itu karna aku menginginkanmu Aletta.."


PLAK!


Aletta berhasil membuat wajah Alan berpaling.


"Oh, jadi kau mendekatiku karena kau punya maksud tidak senonoh kepadaku?! memanfaatkan Wanita lemah dan mabuk demi kepuasanmu?! Brengsek!"


"Tidak, tidak seperti itu. Dengarkan aku." Alan ingin meraih Aletta tapi cepat Aletta menjauh.


"Jangan sentuh aku!! ********!"


"Maafkan aku, Aletta."


"Kenapa kau meniduriku? hiks hiks.. kenapa.. Wanita macam apa aku ini hiks hiks..." Aletta terduduk lemah, tersedu meratapi kecerobohannya. Entah apa yang dipikirkannya sampai harus berujung tidur diranjang yang sama dengan Alan tanpa sehelai pakaian lagi. Sungguh Aletta merasa hina.


"Aletta, berhenti menangis. Jangan menangis.." Alan meraup tubuh Aletta masuk dalam dekapannya. "Maafkan aku..." Aletta menggeleng dalam tangisnya. Alan menggigit bibir, sesal memenuhi rongga dadanya. Tadi malam Aletta begitu kuat mendorong pertahanannya jatuh hingga kedasar, membuat mereka lupa diri. Ia yang salah, ego ingin memilikinya begitu kuat, melambungkan rasa percaya diri yang entah darimana hanya karna mendengar Aletta telah sendiri. Bukannya menahan diri, ia malah meladeni wanita itu. Bahkan tanpa peduli Aletta meracau menyebut nama siapa..

__ADS_1


__ADS_2