Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps 98


__ADS_3

Shower yang dibuka itu menumpahkan air jernih nan dingin yang dalam sekejap membentuk pancuran dengan ritme teratur. Dariel yang dibawahnya nampak pasrah manakala tidak sesentipun lagi kulit tubuhnya lolos dari basah. Ia berdiam sambil menatap dinding, tiba-tiba tangannya bergerak menyentuh meraba lapisan kaca itu seolah ada sesuatu disana.


"Kau kelihatan begitu seksi.." gumam Dariel, Ia tersenyum sendiri dengan pikirannya tentang Andrea yang merengek ketika ia ajak bercinta dibawah shower tempo hari, lalu seperti menyadari tindakan anehnya itu Dariel menjauhkan tangannya. Mulai fokus untuk membersihkan diri.


Aroma citrus langsung menguar keseluruh penjuru begitu Dariel menapak santai keluar dari bilik mandi. Langkahnya redup termakan karpet lembut terbuat dari bulu domba asli yang dipesannya khusus dari negara kangguru. Dariel duduk ditepi ranjangnya sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil, curi-curi pandang kearah pintu kamar yang masih tertutup rapat sejak Andrea keluar dari sana, sambil menimbang-nimbang, apakah ia akan keluar mencari istrinya atau tidak sementara anak mereka masih tidur dengan pulasnya.


Jonathan sudah menghubunginya tadi setelah menemukan beberapa petunjuk tentang siapa dalang dibalik munculnya foto-foto istrinya dan Damian, dan lagi-lagi Dariel harus mengakui kesalahan karena sempat meragukan pendampingnya itu.


"Sudah lebih dari satu jam, kenapa dia belum kembali bahkan sekadar untuk mandi? Dia tidak kabur kan? Awas saja kalau berani kabur lagi.. Lagipula harusnya dia itu minta maaf karena makan dengan pria lain tanpa izin dari suaminya! harusnya bersikeras merayuku agar tidak marah lagi, bukan malah marah gantian! Dasar menyebalkan!" Dariel mengomel sendiri. Kemudian meraih tablet diatas nakas dan berencana memeriksa sisa-sisa pekerjaannya hari ini. Tidak sampai lima menit, Dariel meletakkan lagi benda itu kesampingnya, melirik kearah pintu lagi.


"Cih, wanita ini benar-benar mengujiku.." Dariel berpindah didekat David kecil, dengan posisi bersimpuh ia menoel-noel pipi putih gembul yang menggemaskan itu. "Boy, bangunlah, ayo kita cari Ibumu." Sikecil hanya menggeliat sesaat menerima gangguan Ayahnya lalu rebah lagi kealam mimpi dengan posisi berubah menyamping. "Cih, anak ini, sama saja seperti Ibumu, tukang tidur! Baiklah, tidurlah, jangan bangun sampai aku membawa Ibumu yang sok cantik itu kembali kesini, mengerti?" Dariel melabuhkan satu kecupan hangat dikepala anaknya sebelum menyusul Andrea yang entah dimana.


Pertama-tama ia memilih perpustakaan sebagai tujuan utama, sialnya istrinya itu meninggalkan ponsel hingga Dariel harus bekerja keras mencari sendiri, Dariel menutup kembali pintu ruangan itu ketika tak dilihatnya bahkan seekor makhluk pun berada didalamnya, sudah kesal ketika membawa diri ketaman juga tak menemukan wanita itu. Kolam renang juga tidak, bukankah para wanita suka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan diarea udara bebas? Tapi kenapa tidak juga membuahkan hasil?


"Bagaimana? Sudah pas?" suara Andrea sayup-sayup terdengar begitu Dariel kembali dari taman belakang melewati jalan lain yang terhubung dengan dapur. Ah. Ia terlupa. Istrinya ini sangat senang memasak. Kenapa tak terpikirkan olehnya tadi. Dariel masuk dengan perlahan, dan benar saja, makhluk indah diujung pantri itu adalah sosok yang dicarinya, begitu memikat dengan rambut yang sudah dikucir kuda menampakkan leher putihnya.

__ADS_1


"Dandanan seperti itu membuat dia jadi seperti gadis SMA, tapi aku juga belum terlalu tua untuk seorang gadis SMA, bukan?" Dariel berucap sendiri. Utari lah yang pertama kali melihat majikannya itu berdiri diambang pintu, lalu sebelum wanita setengah baya itu sempat membuka suara, Dariel menyuruhnya diam dengan bahasa isyarat. Kemudian mengibaskan tangannya keudara pertanda meminta mereka semua pergi. Utari kemudian melakukan tugasnya sesuai yang diharapkan, membimbing bawahannya untuk meninggalkan Andrea sendiri secara mengendap yang teratur hingga wanita itu tidak menyadari setitikpun pergerakan mereka.


Dariel tersenyum ketika diruangan itu hanya tinggal mereka berdua. Kemudian melangkah mendekat menyesakkan diri dibelakang istrinya yang nampak sedang memotong wortel. Leher dan dahi yang berkeringat itu tak lolos dari mata tajam Dariel, ia cukup merasa bersalah. Yang ia pikirkan Andrea memasak tentu untuk meluluhkan hatinya,kan?


"Aku akan membantu memotong wortelnya, berikan.." Andrea menoleh begitu suara yang familiar mengisi suasana dapur. Ia terkejut begitu mendapati Dariel sudah berada tepat disisi sebelahnya, bahkan wajah mereka dekat sekali sekarang. Pandangan Andrea beralih menjajah seluruh dapur dan anehnya tak lagi menemukan seorangpun pelayan disana.


Kemana mereka?


"Mencari siapa?" Dariel mengikuti arah pandang Istrinya. Andrea tak menjawab, kembali kepekerjaan semula meski kini fokusnya terbagi. "Ada banyak pelayan yang bisa kau perintah jika butuh sesuatu, kenapa malah terlalu memporsir diri memasak begitu banyak? Lagi berusaha merayuku ya?" Andrea masih diam. Dariel yang iseng menusuk nusuk kulit lengan Andrea dengan jarinya. Tapi wanita itu masih acuh.


"Apa aku harus memecat mereka supaya kau sadar kalau mengabaikan suami setampan aku juga adalah kesalahan?" Andrea meletakkan pisau dengan kasar lalu berbalik ingin meninggalkan Dariel, tapi sia-sia saja karena Dariel dengan gerakan cepat menggendongnya dan mendudukkannya diatas pantri. Memasung tubuh mungil Andrea diantara kedua lengannya yang kokoh.


"Tidak!"


"Berhenti bermain-main, lepaskan aku bilang!"

__ADS_1


"Kalau aku tidak mau? Kenapa? Mau marah? Mau ngamuk? Kalau mau dilepaskan singkirkan dulu wajah masammu itu, aku tidak suka melihatnya.." Diminta seperti itu emosi yang hampir padam tersulut kembali.


"Kalau tidak suka jangan lihat! Sana dikamar saja, berkubang dengan semua tuduhanmu itu! Minggir!"


Dariel menggeleng, dan Andrea makin kesal dibuatnya karena Dariel tetap bersikeras tak melepasnya meski ia kini meronta, Dariel tega membiarkan energinya terkuras sia-sia, lalu seringaian bak srigala memindai mangsa muncul ketika Andrea sudah menyerah lunglai dengan nafas terengah. Kehabisan tenaga untuk melawan. Dariel tak kuasa juga untuk tidak terkekeh dengan aksi penolakan istrinya itu, lalu dengan lembut diusapnya keringat yang kian bermunculan didahi Andrea.


"Maafkan aku," ucap Dariel setelah dirasa Andrea lebih tenang. Andrea menggeleng pasti. "Aku mengaku salah, emm..begini saja, kau mau aku melakukan apa sebagai permintaan maaf,hm?"


"Aku ingin dilepaskan, tidak ingin yang lain. Terserah kau mau minta maaf atau tidak, aku tidak peduli."


"Jangan jadi berbeda seperti ini Rea, aku tidak suka.."


"Sudah kukatakan, aku tidak peduli!"


"Sikapmu jangan berlebihan,"

__ADS_1


"Harusnya kata-kata itu untukmu, berkacalah!" Dariel menaikkan alis mendengar kecaman dari Andrea itu, ia menatap sinis Andrea hingga tak sadar pertahanannya yang mulai lengah malah dimanfaatkan wanita itu untuk melepaskan diri hingga ia bisa turun dan bebas. Lalu Andrea kembali berujar, "Kalau aku tidak seperti ini kau akan selalu bersikap seperti tadi, seenakmu sendiri, silakan tidak percaya padaku, silakan! Dasar kau menyebalkan, aku tidak mau denganmu!" Andrea sudah ingin pergi dari tempat itu ketika ia harus kalah lagi oleh sosok pencemburu disana. Dariel menggenggam kuat pergelangan tangan Andrea tak membiarkan wanita itu lolos dengan mudah setelah membuatnya tersungkur oleh balas dendam yang nyata. Tidak semudah itu.


"Berani sekali.." tegur Dariel dingin, "..berani sekali bibir ini memaki suamimu.." sambil mengusap kulit bibir Andrea yang lembut dengan ibu jari.


__ADS_2