
Sesakit itu kenyataan bagi dua wanita yang memiliki kecantikan luar dalam itu. Selepas lakalantas yang menyebabkan Dariel Lee kini koma, Aletta dan Andrea sama-sama tak merasakan gairah hidup lagi.
Malam itu keterkejutan menjalar kehati semua orang yang baru mengetahui status Andrea selama ini. Dirumah sakit milik keluarga Lee, Andrea dengan perut buncitnya harus merasakan perihnya begitu tangan kasar Maria mendarat keras dipipi mulusnya. Ia datang begitu supir suruhan Mama Dariel menjemputnya di apartemen, disana ternyata sudah berkumpul juga Peto,Maria dan Livya. Didepan ruang rawat Dariel semua mata memandanginya dengan tatapan tak terbaca. Livya merangkul Andrea begitu dilihatnya Ibunya mulai bertindak kasar.
"Ibu, hentikan! Kenapa menampar kakak?"
"Lalu harus kuapakan dia?! Dasar anak tidak tau diuntung kau! Bisanya hanya membuatku malu! Kenapa kau murahan sekali menikahi suami orang hah?!"
"Istriku sudah.." Peto menenangkan. Mereka memang sampai lebih dulu setelah Nyonya Lee menghubungi Livya mengabarkan berita buruk yang menimpa anaknya. Jujur Peto juga sangat kecewa dengan kebohongan yang telah dibangun anak dan menantunya, tapi ia berusaha menerima dengan ikhlas segala takdir Tuhan. Tidak ada gunanya saling menyalahkan. Disudut yang lain Aletta dan Jonathan diam terduduk. Nyonya Lee meraih tubuh Andrea untuk Ia peluk begitu dilihatnya wanita itu sudah terisak.
Ia merasa bersalah dengan keputusan nya ini. Tepat atau tidak tepat Ia ingin semua keadaan ini diperjelas begitu tadi Aletta jujur mengatakan Ia sudah mengetahui soal Dariel dan Andrea.
"Meskipun kau yang membesarkan nya tapi tolong jaga sikapmu, Jangan menyakiti menantuku." ucap Nyonya Lee dengan suara dingin membuat Maria seketika ciut. Ia mendengus melipat tangan didada dan memilih duduk dikursi tunggu yang lain.
Menantuku? Hah, Mama kau segitu menyayangi nya rupanya.. Miris sekali...
Aletta cemburu dalam diamnya. Jonathan sendiri yang duduk disampingnya tertegun, dalam hati memuji kecantikan istri muda sahabatnya, munafik sekali kalau Ia tidak terpesona. Dipoles sedikit saja maka Andrea bisa seperti jajaran putri-putri bangsawan.
Beruntung, meskipun miskin wajahmu sangat cantik, Ya, dengan kecantikan mu kau jerat Dia, membuat Dariel jatuh cinta padamu dan kini hampir meninggalkan Aletta, Cih, Sial sekali! Harusnya tidak kubiarkan Dariel melakukan hal itu dulu hingga akhirnya dia bertemu dirimu. Tingkahmu melebihi batasan! Seharusnya tidak perlu seperti ini, Aku merasa berdosa melihat Aletta di sisihkan...
Jonathan tersenyum kecut.
"Duduklah," ajak Nyonya Lee. Andrea menggeleng.
"Tuan Dariel bagaimana Nyonya?" Andrea sudah tak dapat menangkis serangan airmata kepipinya, ia tidak memperdulikan apapun saat ini, hanya Dariel. Ia ingin melihat Dariel.
"Dariel koma." Mata Andrea membulat mendengar jawaban dari mertuanya. Tubuhnya lemas dan hampir ambruk kalau saja Livya dan Peto tidak sigap menolong, mereka mendudukkan Andrea dengan pelan.
"Kenapa ini bisa terjadi padanya, hiks hiks.." Andrea bangkit lagi dan melangkah menuju pintu ruang inap Dariel, melihat tubuh sempurna itu dari balik kaca, sedang terbaring lemah tak bergerak. Hening didalam sana hanya terdengar suara alat alat yang terhubung dengan tubuh Dariel.
__ADS_1
Tuan, apa kau kesakitan? Apa kau akan pergi? jangan pergi, kumohon, bertahanlah, bangunlah... Demi anak kita.
Teringat ia kata kata Dariel tadi pagi.
Aku ingin melihatmu. Manatau aku tidak punya kesempatan lagi setelah ini...
Andrea terisak tanpa malu.
Jika adapun orang yang harus pergi itu adalah aku. Tuhan sembuhkan dia, sadarkan dia, aku rela menggantikan nya... Sembuhkan dia.
"Andrea biar menjadi tanggung jawabku sampai anakku kembali sadar dari koma, izinkan aku mengurusnya." ucap Nyonya Lee yang dimaksudkan untuk Peto dan Maria.
"Terimakasih atas kebaikan hati anda Nyonya, biar Andrea bersama kami saja." Balas Peto.
"Yasudah kalau begitu." Nyonya Lee menghampiri Andrea.
"Rea, sebaiknya kau pulang,kau juga harus istirahat,ikutlah dengan pamanmu." Andrea menggeleng.
"TUTUP MULUTMU!" Aletta berteriak kesal membuat kekagetan. Telinganya panas mendengar Andrea menyebut Dariel 'suami'. Cih!
"Kau menikah dengan Dariel hanya untuk melahirkan darah dagingnya! Dia suamiku, bukan suamimu!" Andrea terdiam. "Apa kau tidak memikirkan perasaanku saat menyebutkan kata itu? Pikir sedikit! Kurang baik apa aku bicara saat kita bertemu tadi? Semua wanita ingin bisa menyenangkan suaminya termasuk aku! aku tidak bisa punya anak itu bukan kemauanku! tolong jaga batasanmu, jangan karna Dariel ku menikahi mu kau merasa istri sesungguhnya! Seharusnya kau minta izin padaku bukan pada Mama, aku istrinya! Hanya aku!"
"Ale, tenanglah!" Jonathan merengkuh tubuh Aletta,membawanya kembali duduk, Aletta menangis lagi.
"Lihat kan bikin malu saja!" Gerutu Maria.
"Setelah anak ini lahir aku akan menceraikan Dariel aku janji." Andrea memberanikan diri bicara. "Tapi jangan salahkan aku jika Dariel juga tidak memilihmu." Aletta menatap nanar kearah Andrea. Didekatinya Andrea.
"Berani sekali kau bicara begitu padaku?! Apa kau pikir Dariel akan melepaskanku? Kau pikir dirimu itu siapa? Salah besar aku sempat mengira dirimu baik, nyatanya memang semua pelakor tidak ada yang berhati baik, kalian kotor!!"
__ADS_1
Plak!
Andrea berhasil membuat wajah Aletta berpaling.
"Aku bukan pelakor meski aku juga bukan wanita yang suci Nyonya! Tolong jaga juga bicaramu. Dariel suamiku yang sah sampai saat ini, kalau kuberitahu dia sebenarnya berniat menceraikan mu daripada aku apa kau siap? Dia bilang dia memilihku, aku menolak karena memikirkanmu, tanya Dia setelah dia sadar!! Jangan hanya menyalahkan ku!" Gantian Aletta yang terdiam. Andrea beranjak pergi. Disusul Livya, Peto dan Maria. Nyonya Lee mengelus pundak Aletta.
"Ale, aku tau kau terpukul dengan semua ini. Jangan salahkan Andrea, Ini pyur kesalahan anakku.Dia salah mengambil langkah. Seharusnya dia jujur padamu saat mengambil keputusan ini, tapi nyatanya tidak, dia menutupi semuanya karena tidak ingin membuatmu bersedih, tapi dia juga ingin menyenangkan aku dengan memberikan ku cucu, dan sekarang kalian harus terjebak dalam cinta rumit ini. Ale, Tolong maafkan Dariel, jika kau ingin marah, marah saja padaku..."
Aletta menghambur kepelukan Nyonya Lee. Menangis tersedu sedu. Mana mungkin ia sanggup memarahi orangtua sendiri.
"Lapangkan hatimu, kadang kala ada masanya takdir tidak berpihak pada kita, jangan berpikir aku tidak menyayangimu lagi, sampai kapanpun kau tetaplah anakku, hanya saja perasaan terkadang tidak bisa ditebak maunya kemana."
Sungguh Aletta merasa kacau. Merelakan Dariel? Aletta menggeleng.
"Ma, aku akan menunggu Dariel, aku tidak mau melepasnya begitu saja, ini tidak adil bagiku, perempuan itu bisa saja mengarang cerita kan Ma..."
Jonathan yang duduk disebelah Aletta memijit pelipisnya.
Dariel cepatlah sadar! Kelakuanmu membuat aku stress! Akh!! Andai saja kau tau Ale, bahwa semua itu benar adanya...
Andrea memilih untuk tinggal bersama Pamannya lagi. Membawa Lila serta bersamanya. Meninggalkan apartemen dengan segala kenangan manis disana. Menjalani hari hari tanpa semangat menunggu kelahiran anak pertamanya. Andrea berusaha menguatkan hati menunggu Tuhan menjawab doa doanya untuk kesadaran Dariel.
Dan Aletta yang juga masih setia disisi Dariel menunggu suaminya kembali. Dengan harapan kalau Dariel masih akan menjadi miliknya setelah itu. Meski ia pesimis Ia tidak akan mundur begitu saja.
Entah cinta siapa yang lebih kuat.
..........
Holla readers! 😁
__ADS_1
Sampe sini gimana buk ibuk? Wkwk ngakak aku tu baca koment kalian yang part sebelumnya, pada nggak mau ya bang Dariel ilang ingatan. Hadeh, Walaupun novelku gaje tapi kalian perhatian sekali, terimakasih ❤