
Lampu merah pertama ketika Aletta baru keluar dari sarang persembunyian, perhatikan beberapa pengamen cilik yang mendekat kemobil didepannya siapkan sesuatu yang menghibur coba dapatkan hati pendengar lalu berikan mereka upah beberapa koin yang buat mereka kegirangan. Ia mengurung diri berhari-hari kemudian setelah One night stand dengan sutradaranya beberapa waktu silam. Aletta susah tidur belakangan dan jadi insomnia dadakan, batalkan semua job yang lambungkan namanya semakin tinggi dan habiskan waktu dirumah. Dapat kabar Aurelli kecelakaan pagi tadi dan Aletta tak bisa acuhkan sahabatnya itu.
Aletta alihkan pandangan kearah lain dan malah dapati sosok Alan disebrang bersama beberapa anak-anak beberapa detik sebelum lampu merah berakhir. Kelihatan raut wajahnya bahagia bercanda dengan bocah-bocah lusuh disana setelah bagikan mereka banyak makanan, Aletta mengucek kasar matanya dan sadari semua hanya halusinasi, pria itu orang lain. Aletta buang muka. Alan sudah merambah masuk dalam pikirannya seperti akar yang menjalar dan Aletta mulai kewalahan. Ia mengganti nomor ponsel dan pindah alamat setelah kebersamaan mereka malam itu dan tak pernah ingin bertemu Alan lagi.
Aletta sampai dirumah sakit dan temukan Aurelli diruang VVIP sedang rebahan diranjangnya.
"Maaf aku terlambat." Ucap Aletta menyesal letakkan sekeranjang buahan segar diatas nakas kemudian duduk dipinggir bangsal. Pandangi kondisi Aurelli yang diperban dibagian kepala.
"Its oke. Aku baik-baik saja, sungguh."
"Ya, kau kelihatan tidak seperti orang sakit, wajahmu segar bugar."
"Eh?" Aurelli berdehem. Memutar otak alihkan pembicaraan. "Apa kau makan dengan benar? Kau nampak kurus."
"Benarkah? Apa penampilanku kelihatan berantakan? aku tidak perawatan apapun berhari-hari ini, apa aku kusam?" Aurelli mengangguk bohong.
"Lupakan Dariel dan jalani hidupmu dengan semestinya Ale, masih banyak yang inginkanmu didunia ini. Jadilah cantik dan ceria seperti Ale yang kukenal dulu. Bagilah kesedihanmu denganku, kita bukan baru dua hari berteman." Aletta manggut-manggut.
"Aku sedang mencoba, lagipula aku tidak patah hati. Benar kok, aku cuma sedang malas."
"Apa kau sedang belajar menjadi ibu rumah tangga dimasa depan? kudengar kau batalkan semua kontrak kerja."
"Ya, sedikit ganti rugi tapi aku hanya sedang ingin dirumah saja sekarang, aku butuh tenangkan diri."
"Dia mencarimu." Kata Aurelli buat alis Aletta mengerut.
"Siapa?"
"Kejutan!" Aurelli senyum-senyum bikin Aletta makin bingung. Detik berikutnya pintu diketuk dan setelah izin dari Aurelli akhirnya pintu dibuka dari luar, nampakkan sosok tinggi ramping itu dengan bouquet krisan ditangannya.
"Alan?" Aletta merasa pening lihat pria itu muncul.
"Hai Ale. Kau disini?Senang bertemu denganmu." Alan menyapa dengan bahasa kaku, tak tampak terkejut tatap dengan berani wajah cantik yang dirindukannya. Singkirkan harga diri karena status janda Aletta sudah gerogoti semua itu. Aletta diam mematung. Bingung harus bagaimana. "Hai Ell!" Beralih pada Aurelli.
"Hai! kau tampan hari ini boss!" puji Aurelli buat Alan tersenyum sumringah. Letakkan bunga krisan dipangkuan wanita itu dan beri pelukan simpati.
__ADS_1
"Cepat sembuh."
"Thanks. Tapi kau buat aku macam pasien sekarat. Aku tak suka krisan. Aletta yang suka. Kau jangan buat Aletta cemburu padaku karena berikan bunga yang dia suka pada wanita lain!" pukul pelan pundak Alan dengan bouquet nya. Aletta melotot kearah Aurelli.
"Ale, kalian kelihatan cocok. Bagaimana kalau kau terima Alan jadi kekasih? kita balikkan keadaan."
"Ell, please jangan bicara omong kosong, kepalamu pasti terbentur cukup keras ya? mau aku tambah?" Aletta memerah. Aurelli terkikik. "Bicaralah berdua sana. Aku tak butuh dikunjungi lama-lama. Senang lihat kalian bertemu." Aurelli pandangi dua makhluk yang juga saling pandang. Alan kedapatan malu-malu macam siswa SMA baru belajar pacaran, sementara Aletta disebrangnya langsung alihkan pandangan dan kikuk.
"Hey, what's wrong? apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui selain sutradara yang jatuh hati pada artisnya?" Selidik Aurelli. Aletta memandang Alan inginkan penjelasan dari kata-kata sahabatnya. Pastilah pria itu yang memberitahu.
"Kami akan bicara diluar." Alan ambil langkah lewati bangsal dan genggam pergelangan tangan Aletta lembut, Aletta bukan tak lakukan perlawanan tetapi urungkan niat menarik diri ketika dirasa genggaman Alan berubah kuat dan menekan. Tak ingin lepaskan dirinya. Mereka pamitan dan Aurelli tersenyum bahagia melambai melepas keduanya.
Pintu ditutup dan Aurelli menunggu beberapa detik sampai situasi benar-benar aman lalu tertawa sendiri, mencopot perban dikepalanya dan lemparkan benda itu ditong sampah samping ranjang rumah sakit. Menatap geli pada bouquet krisan ditangannya. Suster masuk dan kagetkan Aurelli hingga buat tubuhnya sedikit terperanjat.
"Miss?"
"Kau hampir buat aku jantungan, suster."
"Apa rencanamu berhasil?"
FLASHBACK..
Aurelli menarik selimutnya makin keatas rapatkan sampai keleher ketika dirasa hawa semakin buat ia menggigil. Tidak tau sekarang jam berapa ketika ditengah hantaman kantuk luar biasa itu telinganya terganggu oleh bunyi bel diluar rumah.
"Siapa yang bertamu tengah malam begini? apakah hantu? oh ya Tuhan aku sangat jarang bisa dapat jam tidur berkualitas, kenapa kau kirimkan hantu kerumahku? Dia pasti arwah Albert Einstein yang kesepian, dia tau aku wanita single?" Aurelli meracau sendiri namun tak urung bukakan pintu, melendet didaun pintu dan longokkan kepala.
"Siapa?"
Alan balikkan badan begitu suara tuan rumah kedengaran, tak sia-sia mencoba beberapa kali tekan bel apartemen Aurelli.
"Alan, kau ternyata.."
"Apa aku mengganggumu?"
"Ini sudah lewat tengah malam, apa yang terjadi?" Aurelli buka lebar pintu.
__ADS_1
"Bisa bicara sebentar?" Alan kelihatan gelisah. Pria itu tampan malam ini dengan setelan kaos dengan kesan vintage yang pas dibadan bikin pangling. Tapi sepertinya wajah maskulin nan rupawan itu sedang kelabu.
"Alan, kau bisa telepon aku besok dan kita bisa bicara santai sambil makan siang atau apa, aku wanita lajang dan tinggal tanpa orangtua." Aurelli tak marah, tentu saja, berhadapan dengan pria bukanlah hal baru baginya. Sedikit banyak pahami mana jenis pria cabul atau bukan, Alan nampak tak ada niat jahat sedikitpun dikepalanya meski gadis itu kenakan baju tidur kurang bahan.
"Menunggu itu sedikit, menyiksa."
"Wuaa apa kau tersiksa karena merindukan aku?" goda Aurelli mengulum senyum. Alan menggaruk kepalanya yang tak gatal sadari Aurelli salah sangka.
"Aku memang sedang merindukan seseorang, tapi sayangnya bukan dirimu, Ell, Aku kesini untuk minta bantuanmu." Aurelli mengerucutkan bibir. Melipat tangan didada.
"Bantuan macam apa itu?" to the point.
"Aku ingin nikahi sahabatmu. Aku ingin Aletta. Bantu aku dapatkan hatinya." Aurelli tercengang dan kantuknya hilang seketika.
"Aletta?! yang benar saja?! Oh ya ampun aku salah menilaimu tuan sutradara, kukira kau laki-laki terhormat tapi apa ini? Dia baru bercerai dan kau manfaatkan situasi?" Memicing kearah Alan berubah sinis.
"Apapun yang kau pikirkan aku tak peduli, aku jatuh cinta padanya bahkan saat dia masih bersuami. Lupakan itu, dan kami sama-sama single sekarang, apa yang salah? Aku perlu bicara untuk yakinkan dia, tapi Ale ganti nomor ponsel dan pindah, bahkan keluar dari industri perfilman. dia menghilang tanpa jejak dan jauhi aku, Ell."
"Yakin itu semua karena dirimu? Alan, dia sangat mencintai mantan suaminya jadi kupikir dia butuh tenangkan diri. Pulanglah, aku tak tau dimana dia."
"Berikan aku nomor ponselnya yang baru. Kau pasti punya kendatipun kau juga tidak diberitahu kemana dia pindah. Ya kan?" Aurelli menghela nafas berat. Mereka dicomblangi oleh Aletta tapi Pria didepannya ini diam-diam tergila gila pada si mak comblang. Aurelli mengurut dahi.
"Kau kemana saja? Dia sudah melakukan itu hampir seminggu."
"Swiss. Acara keluarga. Aku langsung kembali begitu dapat kabar dia putuskan kerjasama dengan beberapa film produksi."
"Aku ragu dia akan terima pria baru secepat ini tapi wajah tampanmu yang memelas buat jiwa baikku meronta ronta, baiklah, kita akan coba. Aku akan aturkan rencana untuk pertemuan kalian. Serahkan saja semua padaku. Sekarang pulanglah dulu, kukabari kau besok rencananya. Standby saja, oke?"
Dan begitulah akhirnya, Aurelli sewa satu kamar VVIP dirumah sakit ternama dan biarkan pihak rumah sakit menghubungi Aletta kabarkan dia kecelakaan. Meski tak ikut jadi saksi pergoki wajah berbinar campur gugup Alan yang telah berjam-jam sembunyi ketika mengetahui dari cctv rumah sakit dikamar Aurelli lihat Aletta masuk kedalamnya.
.....
Aletta-Alan kalo jadi laki-bini so sweet kali yeee...
Masih otw bikin part yang menggebu-gebu coba kalahkan romansa tokoh utama hihihiiii
__ADS_1