Istri Muda Miliarder Tampan

Istri Muda Miliarder Tampan
IMMT Eps 74


__ADS_3

Perlahan pintu ruangan kamar mewah itu dibuka. Dalam kesunyian malam terdengar nyaring sekali suaranya. Bunyi tapak sendal berbentur ubin memecah keheningan. Seorang wanita dengan langkah pelan berjalan mendekat ke ranjang dimana terdapat satu sosok Pria sempurna diatas sana terbaring. Tidak ada seorang pun didalam. Wanita yang tidak lain adalah Andrea itu berdiri tepat disamping pembaringan suaminya. Dariel Lee.


Dariel sudah dipindahkan ke mansion atas perintah Nyonya besar keluarga Lee. Ia memutuskan untuk merawat Dariel dirumah setelah lebih dari tiga bulan anak semata wayangnya itu belum juga sadarkan diri.


Setelah meminta izin pada Nyonya Lee dan Aletta, Andrea masuk kekamar utama dimana Dariel berada, besok pagi ia akan melakukan penerbangan keluar negeri bersama Arumi.Untuk menemani Ibundanya itu melakukan pekerjaan disana. Mungkin lama. Sebulan? Dua bulan? Andrea tidak tau dan tidak mau tau. Cepat atau lambat memang ia harus segera angkat kaki.Ia duduk ditepi ranjang.


"Hey..bangun!" dengan suara yang gemetar ia bicara. "Tuan, Kau bukan putri tidur! kenapa kau tidur lama sekali? Buka matamu dan lihat aku! tatap aku seperti biasa kau suka menatapku,lakukan lagi! Aku ingin melihat mata indahmu lagi Tuan!" menunduk sebentar dan mulai terisak. Lalu menatap wajah Dariel lagi. "Bukankah kau tidak suka aku menangis? Kenapa membuatku menangis? Suami jahat!" isakannya makin jelas, kemudian mengecup lama kening Pria itu. "Suamiku Sayang, selamat ulang tahun.. Cepatlah sadar dan lihat anak kita! Kau sudah lama menunggu kehadirannya kan? Lalu kenapa seperti ini? Apa ada yang lebih menarik dialam mimpi? Sudah tiga bulan, Kembalilah dan ucapkan selamat tinggal dengan benar padaku.."


Andrea merebahkan diri juga disamping tubuh Dariel.Memeluk mencari kehangatan yang lama ia rindukan. Mulai bicara lagi seolah olah disampingnya Dariel mendengarkan.


"Tuan, masih ingat tidak soal gambar-gambarku? Sebenarnya aku ingin memberikannya dihari ini.. maukah kau melihatnya nanti setelah sadar? Aku menitipkannya pada Nyonya besar. Aku harus pergi, aku titip anak kita, aku sudah memberinya nama, semoga kau suka. Jangan mencariku dan jangan membenciku ya? Mungkin garis jodoh kita memang sampai disini. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu dan anak kita. Kalian dua Pria tampanku! Aku mencintai kalian berdua, aku mencintaimu..." mengecup pipi Dariel.


"Semoga setelah kau sadar nanti kau bisa menerima dengan besar hati keputusanku. Percayalah ini tidak mudah untukku juga untuk Nyonya Aletta. Dia sangat setia, dia lebih pantas untukmu. Jangan meninggalkannya kumohon.." memeluk lagi. Beberapa saat hening.


Andrea memejamkan matanya. Meresapi kehangatan yang berasal dari tubuh kaku itu. Bermaksud menghabiskan beberapa saat untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuat Andrea kembali tersadar. Belum sempat ia membuka pintu, pintu telah lebih dulu dibuka dari luar dan menampakkan wajah cantik Aletta.


"Mau berapa lama kau didalam?" Sinis. Tatapan tak suka langsung terpancar ketika melihat posisi Andrea yang seranjang dengan suaminya. Andrea turun. Baru saja ia berdiri Aletta dengan kasar melempar map yang sedari tadi ia pegang tepat kewajah Andrea.


"Tanda tangani itu dan segera angkat kakimu dari sini!" Andrea membuka isi map dan matanya membulat.


"Tanda tangani!" memberikan sebuah bolpoin pada Andrea. "Kau yang bilang sendiri akan meninggalkan Dariel setelah anakmu lahir kan? Maka lakukan! Jangan membuat keluarga mu malu karena kau seorang penggoda suami orang yang tidak mau menepati janji!" Andrea menatap tak percaya Aletta. Kasar sekali wanita itu bicara.


"Kenapa?kau mau marah?apa aku salah bicara?" menantang. Andrea berusaha menahan emosinya. Diraihnya bolpoin ditangan Aletta, sesaat sebelum menandatangani isi map itu yang tak lain adalah surat gugatan cerai untuk Dariel, ia sempatkan menatap wajah tenang suaminya, berusaha menyampaikan sejuta maaf atas hal ini.


"Terimakasih." ucap Aletta begitu Andrea selesai membubuhkan tandatangan nya. Aletta ingin keluar tapi secepat kilat Andrea berusaha menahan lengan wanita itu.


"Jangan menasehatiku!!" bentak Aletta. Sejak kejadian malam kecelakaan Dariel itu ia jadi sangat kesal pada Andrea, padahal mulanya ia sudah berniat akan memperlakukan Andrea dengan baik setidaknya sampai bayi yang dikandungnya lahir demi Dariel. Demi cintanya. Nyatanya ia tak tahan. Mereka bahkan baru saling bicara lagi saat ini setelah pertengkaran dirumah sakit. "Seharusnya kau berkaca sebelum menasehatiku, Lihat dirimu apakah kau pantas bicara begitu padaku? Kau penyebab semua lukaku! Aku masih sanggup melihat wajah mu saja itu sudah kekuatan luar biasa yang aku punya!"


"Aku minta maaf. Aku memang bersalah. Tapi sungguh aku tidak berniat merebut Dia! Aku bahkan ikhlas memberikan anakku untuk penguat hubungan kalian berdua! tolong jangan berpikir buruk padaku..."

__ADS_1


"Kalau kau tidak mau aku berpikir buruk padamu maka cepatlah menghilang dari hidupku, hidup Dariel dan hidup kami semua Rea!! jangan menunjukkan wajahmu lagi! Aku doakan semoga kau bahagia!" usai berkata begitu Aletta pergi. Andrea menyeka airmata nya yang sudah keluar tanpa suara.


Nyonya Lee menatap sendu Andrea yang melangkah turun melewati tangga penghubung lantai bawah dan atas. Digendongannya Dariel junior menangis. Seolah tau Ibunya ingin pergi meninggalkannya.


"Yakin Kau tidak mau menginap?" tanya Nyonya Lee. Andrea menggeleng dengan senyum dipaksakan. Andrea mengambil alih anaknya dari Nyonya Lee. Berusaha menenangkan bayi yang baru berusia satu bulan itu.


"Sayang...tenanglah.. Kita akan sering video call nanti oke? Kau tinggallah bersama Ayah dan Oma. Jangan menangis cup cup cup..." Seolah mengerti, perlahan tangis Dariel junior mereda. Lama-lama terlelap dalam gendongan Ibunya.


"Nyonya, aku mohon maaf atas segala kesalahanku.." ucap Andrea pamit setelah meletakkan anaknya dalam gendongan Nyonya Lee kembali. "Titip anakku.." Nyonya Lee mengangguk.


"Berbahagialah, sayang.. Sering-sering menghubungiku.." Andrea balas mengangguk. Arumi yang menemani anaknya saat itu hanya bisa diam. Tidak tau harus berkata apa. Ia sudah pernah membujuk Andrea untuk membawa saja anaknya pergi. Toh Dariel juga belum sadarkan diri. Tapi dasar, entah kenapa Andrea lebih banyak mewarisi sifat ayahnya ketimbang dirinya, Andrea tumbuh menjadi wanita yang suka mementingkan orang lain sama seperti Malik dulu. Masih terngiang jelas jawaban Andrea ketika Arumi membahas soal ingin membawa anaknya.


"Ini bukan hanya semata soal janjiku. Ini juga soal baktiku sebagai wanita, sebagai Istri dan sebagai anak menantu. Jika aku membawa anak ini maka akan lebih banyak hati yang patah karena keegoisanku. Itu tidak boleh, mereka yang baik pantas mendapatkan kebaikan juga, hanya ini yang bisa kulakukan, Aku tidak punya apa-apa lagi untuk kuberikan sebagai gantinya jika aku membawa anak ini pergi. Nyonya Lee dan Nyonya Aletta sudah kehilangan separuh hidup mereka saat Dariel dinyatakan koma, aku akan sangat merasa kurang ajar jika membawa separuh lagi sisa hidup mereka, yaitu darah daging Dariel... Anak ini milik mereka, bukan milikku Bu. Tenanglah,aku bisa menghubungi Nyonya Lee nanti diam diam jika merindukan anakku. Nyonya Lee sendiri yang mengatakan aku boleh menghubunginya."


Setelah mereka berdua pamit, Andrea masih menyempatkan melihat anaknya lewat jendela mobil Arumi. Melambai tak rela. Nyonya Lee tersenyum sedih menatap kepergian menantu keduanya itu. Ia masih berdiri diteras sampai mobil yang Andrea tunggangi hilang dari pandangan, sama seperti Aletta yang berdiam dibalkon kamar menyaksikan perpisahan Andrea dengan bayinya. Sesungguhnya ia merasa bersalah juga pada wanita itu. Tadi itu seperti bukanlah dirinya. Apa ia sangat kasar tadi? Tapi salahkah yang ia lakukan? Ia hanya ingin melindungi cintanya. Aletta menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


........


Bang Dariel perlu dibangunin lagi nggak ya?😂


__ADS_2