
Dariel memijit pelipisnya pelan berusaha menghilangkan pikirannya tentang Andrea. Sejak Ia pulih dari koma semangat hidupnya seperti ikut hilang bersama waktu yang berlalu.
Dariel baru saja bangun dari tidur palsunya. Semalaman ia kesusahan untuk terlelap. Sejak Mamanya menyerahkan kotak berisi gambar-gambar milik Andrea untuknya Dariel semakin dirundung rindu berselimut api kemarahan.
"Andrea menitipkan ini pada Mama, untukmu. Katanya dia ingin memberikannya dihari ulang tahunmu tapi kau saat itu masih koma.." ucap Nyonya Lee sambil tangannya menyodorkan titipan Andrea pada Dariel malam tadi saat anaknya itu sedang berada didalam kamarnya ingin menemani David, Aletta sedang pergi tidak tau kemana. Dariel menerimanya. Membuka isinya.
Sudut-sudut bibir Dariel terangkat membentuk senyuman manakala lembar pertama dibuka menampakkan gambar sepasang anak muda yang sedang menatap bintang, Dariel ingat sekali moment ini, itu adalah saat dimana Ia menemui Andrea malam itu sekaligus meminta restu Paman Peto untuk menikahinya. Mereka bercengkrama sebentar diluar. Menikmati malam. Lembar kedua dibuka, Dariel masih tersenyum. Moment saat Ia memeluk tubuh Andrea dari belakang setelah selesai dengan kegiatan bercinta mereka hari pertama diapartement. Dalam hati Dariel memuji bakat menggambar istrinya, wajahnya digambar sangat persis dengan asli.
Nyonya Lee yang sesekali melirik Dariel ikut tersenyum. Dia sadar anaknya telah terpikat oleh wanita selain Aletta sejak lama. Tapi ia juga tidak ingin mengusulkan apa apa, Aletta juga tersakiti disini. Terlebih lagi pesan Andrea yang tidak membolehkannya memberi tahu keberadaannya pada Dariel. Nyonya Lee sendiri sakit kepala dengan kisah cinta tiga segi ini. Ia menyerahkan semuanya pada sang pencipta.Mengikuti alur.
Lembar selanjutnya menampakkan gambar saat mereka menonton bioskop, saat Andrea sakit dan Dariel memijitnya, saat dipantai, bermain air dan membangun istana pasir, saat Dariel terbaring tak sadarkan diri dirumah sakit, semuanya adalah kisah yang dituangkan Andrea kedalam gambar. Dariel menyukai semuanya. Dilembar terakhir ditemukannya sebuah surat tulisan tangan Andrea.
Meskipun hubungan kita pendek aku akan selalu mengingat semua yang pernah kita lewati, Sampai kapanpun. Terimakasih untuk waktumu. Selamat ulang tahun suami tampanku!
Hati dariel berdesir. Jika bukan karena ada Mamanya kemungkinan ia akan meneteskan airmata sekarang. Sial sekali, kenapa wanita satu itu bisa dengan mudah seenak hati membolak balikkan perasaannya. Berlagak seolah mencintai tapi meninggalkannya juga.
Akh, Aku merindukanmu istri nakal!!
Berlanjut sampai pagi ini. Dariel melirik kesebelah, tempat disampingnya sudah kosong, Aletta sudah leibih dulu angkat kaki dari pembaringan. Rintik hujan diluar sana semakin tak terhitung berapa banyak jatuhnya. Lewat indra pendengaran nya Dariel tau sudah kelewat deras air-air itu membasahi bumi. Dariel melamun.
Suara jendela dibuka membuat Dariel menoleh, mata indah nya menangkap satu sosok wanita tercantik yang pernah mengisi hidupnya. Wanita yang berhasil mengambil semangatnya. Andrea. Dikaca jendela itu dilihatnya Andrea berdiri merentangkan tangan membiarkan wajah penuh magnet itu tersapu air hujan.
__ADS_1
Dariel mengucek matanya berkali kali. Ragu apakah ia benar melihat Andrea atau hanya ilusinya semata.
"Rea.." gumam Dariel seakan yakin ini adalah nyata setelah dirasa Andrea tak kunjung menghilang. Andrea menoleh, tersenyum.
"Kau disini..?" Dariel sontak bangkit dari duduknya. Tidak ada kendala apapun padahal sebelumnya kakinya masih sedikit kaku, tidak berfungsi dengan baik semenjak sadar dari koma. Andrea mengangguk pelan.
"Merindukanku?" Andrea mengerling nakal. Sialnya terlihat begitu memikat dimata Dariel. Gaun putih transparan yang dikenakannya membuat mata Pria itu panas. Untuk sesaat Dariel terpaku. Andrea dengan gerakan menggoda menjentikkan jari menyuruh Dariel mendekat padanya, tidak pakai berpikir dua kali Dariel melangkah pasti mendekat ke istri mudanya. Andrea mengalungkan dua tangannya kepinggang Dariel begitu mereka sudah saling berhadapan.
"Apa yang kau lakukan istri nakal, wajahmu jadi basah!" Dariel mengusap sisa-sisa air diwajah Andrea dengan ibu jarinya. Sesaat ia merasa dejavu. "dan pakaian apa yang kau pakai ini, membuat aku ingin segera merobeknya!" Andrea tertawa kecil tak langsung menjawab. Dipeluknya tubuh perkasa itu. Dariel membalasnya tak kalah erat. Menciumi puncak kepala Andrea, merasakan lagi harum rambut istrinya.
"Aku tau kau akan kembali padaku, kau mencintai aku juga kan?" Andrea mengangguk dalam pelukan Dariel. Membuat hati suaminya berbunga bunga.
"Tuan, kenapa tidak makan dengan benar, kau kelihatan kurus tauu!"
"Kau tidak marah padaku?" mendongak. Dariel menggeleng, dengan mudahnya Dariel berkhianat dengan pikirannya. Dariel benci mengakui ini tapi Ia memang telah kalah oleh hatinya, Ia sangat marah sebelumnya, Andrea meninggalkannya dan anak mereka tanpa persetujuannya, tapi setelah melihat wajah Andrea lagi rasa marah yang semula menguasai pikirannya seolah hilang berganti dengan rasa rindu yang juga sama berkuasanya, rasa sayang, rasa ingin memiliki. Dariel tak mengerti. Ia tidak bisa marah dengan benar sekarang. Dielusnya pipi mulus Andrea dengan jari.
"David mirip sekali denganmu, kan? aku iri..." satu tangan Andrea sudah bergerak memainkan kancing piyama Dariel. "Tuan, jika David memihakmu, maka aku ingin anak perempuan yang mirip denganku.." tersenyum menggoda. Tentu Dariel paham apa maksudnya. Pria itu menarik satu sudut bibirnya. Ditangkupnya wajah Andrea dengan kedua tangan.
"Kau memang istri nakalku! Aku merindukanmu, berikan aku milikku." dan secepat kilat mengecap liar bibir kemerahan penuh godaan milik Andrea. Seperti sungai yang kering baru tersiram hujan lagi, begitulah kini dahaganya sudah basah lagi oleh cinta. Dariel merajai, tidak ingin melepaskan.
"Sayang! Kenapa berdiri disitu?" Suara Aletta seketika menyadarkan Dariel. Pria itu terkesiap dan bola matanya mengitari sekelilingnya, membuat Aletta mengerutkan dahi. Aletta yang baru selesai mandi mendekat ke suaminya yang berdiri didekat jendela.
__ADS_1
"Kenapa membuka jendelanya? Airnya masuk!" Aletta menutup lagi jendela yang terbuka. Tapi sesaat ia tertegun. Sepertinya ada yang aneh. Aletta melirik Dariel yang masih kebingungan. Bola mata wanita itu menatap lekat suaminya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Sayang, kau, kau sudah bisa berjalan? Kakimu tidak kaku lagi?! Aaaaaa!" Aletta memekik senang dan langsung menghambur kepelukan Dariel.
"Ya Tuhan.. Kau membuat aku terkejut! Terimakasih sayang..." mengecup pipi Dariel. "Aku beritahukan dulu hal baik ini pada Mama!" Aletta berlari kecil keluar kamar. Meninggalkan Dariel yang terpaku ditempatnya. Tubuhnya disini tapi pikirannya melanglang buana mencari Andrea. Tadi Andrea bersamanya kan? Jadi itu hanya halusinasinya semata? Dariel kesal, dilayangkannya sekian tinju kedinding. Menyisakan darah segar yang berasal dari kulit tangannya yang terkoyak.
"Aaakkhhhh!!!" Dariel mengacak rambutnya frustasi. "Dimana kau?!! Beraninya menpermainkanku!! Kenapa membuatku gila?! Tidak akan kubiarkan kau lari Rea! Keujung dunia pun aku akan mengejarmu! Aku berjanji, aku sendiri yang akan menarikmu! akh!" menendangkan kaki keudara.
Aletta yang baru kembali dari lantai bawah menemui mertuanya heran sekaligus kaget menemukan Dariel yang terlihat menahan marah duduk dibibir ranjang dengan tangannya yang terluka.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa tanganmu?" Dariel diam tak menjawab. Aletta cepat-cepat mencari kotak obat untuk mengobati luka tangan Dariel. Dengan hati-hati ia melakukannya. Dariel menatap lekat Aletta yang duduk bersimpuh dibawahnya. Tangan wanita itu masih sibuk membalutkan perban ketika tiba tiba Dariel menggenggam jemari lentiknya menghentikan aktivitas Aletta, membuat Aletta menoleh heran.
"Kenapa? Aku belum selesai.."
"Maafkan aku Ale," Aletta menautkan alisnya.
"Kau kenapa,hm? Ada sesuatu yang terjadi?" Dariel mengangguk pelan. "Apa? Katakan padaku.. Aku akan bantu menyelesaikannya"
"Sesuatu terjadi..." Dariel menggantung kalimatnya. Ia bersiap dengan konsekuensinya jika nanti Aletta mendengar. Setelah satu tarikan nafas lolos, ia melanjutkan. "...Aku tidak lagi mencintaimu."
............
__ADS_1
Maaf kalo gaje ya. Hehe. Jangan sampe berantem juga ya gara gara belain kubu masing2 😁